Bab 9

1259 Kata
“Tapi aku juga mau membeli barang-barang yang dipakai oleh Yasmin tadi mas? Aku mau dipegangi kartu seperti Yasmin.” Nia terus saja protes. “Aku akan memegangimu kartu. Tapi tidak sekarang.” Darius mencoba untuk menghibur Nia. “Kapan? Tiga hari lagi?” tanya Nia sembari mengacungkan tiga jarinya. “Tidak dalam bulan ini.” Mata Nia langsung membelalak. “Apa?!” *** Yasmin sedang merapikan barang-barang yang dibelinya ke tempatnya. Pakaian ke dalam lemari, tas dan sepatu ke dalam rak, lalu perhiasan ke dalam laci. “Akhirnya selesai!” ucap Yasmin beberapa menit kemudian. Dia lalu membaringkan dirinya ke atas tempat tidur. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian beraktivitas. Tapi belum juga rasa lelah itu hilang, seseorang telah mengetuk pintu kamarnya. Yasmin mengarahkan pandang ke arah pintu. “Siapa?” serunya. “Aku, sayang. Suamimu.” Yasmin tercekat. “Mas Darius? Mau apa dia datang ke sini?” tanyanya pada sendiri. Namun, tentu dia akan mendapatkan jawabannya dengan bertanya langsung pada si pemilik nama. Maka, Yasmin pun bangun dari baringnya dan membukakan pintu kamar. Benar saja. Darius berdiri di hadapannya. “Ada apa, mas?” “Kenapa tidak disuruh masuk dulu sih?” tanya Darius. “Bicara di sini saja, mas. Soalnya kamar ini kecil dan sumpek. Mas tidak akan betah berada di kamar ini. Mas kan terbiasa berada di kamar yang luas,” jawab Yasmin dengan sedikit menyinggung Darius. Pandangan Darius mengarah ke dalam. Seperti pengakuan Yasmin, kamar ini memang sempit. Meskipun sudah mengetahui keadaan itu, tidak ada sedikitpun rasa kasian terlihat di wajah Darius atas keputusan ibunya yang memindahkan Yasmin ke kamar kecil ini dari kamar yang besar yang selama ini ditempati oleh Yasmin. “Tidak apa-apa. Kalau hanya sesekali tidur di kamar kecil tidak masalah.” Dengan tidak ada hatinya Darius malah menjawab seperti itu. Seolah tahu kalau kamar ini memang tidak layak untuk ditempati oleh Yasmin sebagai istri pertama tapi Darius tidak mengambil tindakan pada ketidakadilan ini. Yasmin yang mendengar perkataan Darius menyipitkan pandang. “Mas mau tidur di sini?” Darius mengangguk. “Iya mau tidur di sini.” Karena melihat Yasmin pulang dengan penampilan yang sangat cantik, hasrat pada istri pertamanya itu langsung muncul. Tanpa sepengetahuan Yasmin dan Darius, di balik dinding, Nia yang mengikuti Darius diam-diam mendengarkan percakapan pasangan suami istri itu. Wanita itu tampak marah dan kesal. Bagaimana tidak, baru juga jadi istri Darius dua hari, yang harusnya sedang hot-hotnya, Darius malah mencari istri pertamanya. Nia merasa ini adalah sebuah ancaman untuknya yang tidak bisa dibiarkan. “Tapi mas, maaf sekali. Aku sedang capek. Aku ingin tidur sendiri tanpa ada yang mengganggu,” jawab Yasmin. Entah mengapa, dia jadi muak melihat Darius. Tidur sendiri rasanya lebih menyenangkan baginya sekarang. “Lagian, ini kan malam kedua pernikahan mas dan Nia. Jadi lebih baik mas tidak meninggalkan Nia.” “E… tapi malam ini aku sedang tidak berselera padanya." “Kenapa begitu? Rasa perawan pasti lebih enak.” Darius terdiam. Meskipun dia tidak mengetahui yang sebenarnya, dia merasa kalau Nia sudah tidak perawan setelah dia unboxing tadi malam. Jadi dia tidak merasa keistimewaannya. Karena seperti menikahi janda. Saat Darius terdiam, saat itulah dipakai Nia untuk membawa pria itu ke dalam pelukannya. Maka, Nia pun keluar dari persembunyiannya dan menggamit tangan Darius. “Aku cariin ternyata kamu ada di sini. Ayo kita kembali ke kamar.” Darius mendengkus pelan. “Kenapa juga harus dicari-cari? Aku ini bukan anak kecil lagi. Aku tidak akan tersesat. Kembalilah ke kamar duluan. Aku sedang ingin mengobrol dengan Yasmin.” “Tidak mau.” Nia semakin mengeratkan pelukannya pada tangan Darius. Nia adalah wanita yang serakah. Jika sudah mendapatkan sesuatu yang diinginkan, dia tidak akan mau berbagi dengan orang lain. Oleh karena itu, dia juga tidak akan memberikan Darius pada Yasmin lagi. Kalau perlu dia bisa menyingkirkan Yasmin dari hidup Darius selamanya, agar kelak dia tidak akan berbagi uang dan kekayaan Darius dengan wanita lain. Jadi miliknya sepenuhnya. “Pokoknya kalau kamu tidak mau ikut aku ke kamar sekarang, aku tidak akan kembali ke kamar juga. Aku akan tetap di sini.” Darius menatap Nia kesal. “Ya sudah. Ayo kita kembali ke kamar.” Dengan berat hati, dia pun melangkah meninggalkan Nia. Begitu Darius menghilang dari pandangannya, Yasmin menghela nafas lega. Hampir saja dia tidur dengan Darius. Untungnya, Tuhan membantunya. Eh, tapi tunggu dulu. Kenapa dia jadi anti pada Darius? Yasmin menutup pintu kamar dan menguncinya. Dia kembali membaringkan tubuhnya yang lelah di atas tempat tidur. Lalu dia tercenung memikirkan dirinya yang berubah. Setahunya, Yasmin yang dulu begitu mencintai dan menghormati Darius. Dia melayani Darius seperti pelayanan seorang pelayan pada majikannya. Sedikit pun tidak berani membantah apalagi menolak seperti barusan. Tapi sekarang? “Apakah hatiku begitu terluka sampai aku bersikap seperti tadi?” *** Nia melirik Darius yang terbaring di sampingnya. Pria itu tampak tidur begitu nyenyak. Hal itu dapat diketahui dari suara dengkur halusnya. Meskipun malam ini dia kembali bisa menguasai Darius, tapi sungguh hatinya sangat tidak tenang. Dia khawatir hati Darius akan cenderung pada Yasmin lagi dan kemudian mengabaikan dirinya. ‘Aku harus melakukan sesuatu,’ ucap Nia dalam hati. ‘Aku harus menyingkirkan Yasmin dengan cara yang masuk akal. Yasmin tidak boleh ada dalam rumah tanggaku bersama Darius. Tidak boleh. Aku harus melakukan sesuatu secepatnya. Harus.’ Malam itu, Nia terus berpikir cara untuk menyingkirkan Yasmin. Sampai-sampai dia baru tidur menjelang dini hari. *** “Nia. Nia. Bangunlah.” Sebuah tepukan ringan dipinggul, membuat Nia membuka matanya. Dia mendapati Darius hanya mengenakan handuk di pinggang tanpa pakaian dan tubuhnya basah. Itu karena Darius baru selesai mandi. “Ada apa?” tanya Nia dengan mata yang sulit membuka. “Siapkan sarapan buatku. Aku mau berangkat kerja.” Nia tersentak kaget. Dia sampai bangun dari rebahannya. “Lho, kok yang membuatkan sarapan kamu aku sih? Kan ada Yasmin?” “Aku memberi Yasmin libur seminggu. Jadi selama seminggu itu dia tidak punya kewajiban mengurus aku dan rumah. So, selama seminggu ini kamulah yang mengerjakan pekerjaan yang biasa Yasmin kerjakan. Oya, bereskan juga kamar ini. Sudah dua hari tidak dibereskan, penampakannya seperti kapal pecah. Herannya kamu betah sekali dengan ruangan yang berantakan seperti ini. Harap kamu tau bahwa selama ini Yasmin selalu menjaga kebersihan kamar ini.” “Tapi aku masih ngantuk, Dar,” Nia sungguh tidak mau meninggalkan tempat tidur yang empuk dan nyaman. Apalagi dia memang merasa sangat mengantuk. “Nanti kamu bisa tidur lagi kalau aku sudah berangkat kerja. Jadi sekarang masakkan dulu aku makanan untuk sarapan.” “Iya iya.” Dengan mata yang masih setengah mengatup, Nia bergerak bangun. Dia langsung menuju dapur menyiapkan makanan. Begitu dia melirik pintu kamar Yasmin yang tertutup, hatinya bergemuruh. Membayangkan Yasmin masih tidur dengan nyaman di balik selimut tebalnya, sungguh dia tidak bisa terima. “Enak sekali dia jadi ratu selama seminggu. Padahal harusnya kan yang merasakan itu aku karena aku adalah pengantin baru.” “Lho, kenapa Mbak Nia ada di sini?” tanya Desy yang baru tiba di dapur untuk sarapan. “Mau membuatkan Darius sarapan.” “Membuatkan Mas Darius sarapan? Memang Mbak Yasmin kemana?” “Mungkin masih tidur.” “Masih tidur? Bagaimana ceritanya dia tidur dan Mbak Nia membuatkannya sarapan?” “Kata Darius dia memberi waktu Yasmin libur selama satu minggu. Jadi selama seminggu dia tidak ngapa-ngapain.” Mata Desy melebar. “Oya? Ini tidak bener nih. Semalam dia sudah berbelanja banyak sekali dan sekarang diberi libur seminggu? Bisa-bisa besok-besok dia menjadi penguasa rumah ini.” Mendengar itu, Nia langsung mendekat apa Desy dan berbisik. “Itu sebabnya aku ingin menyingkirkan dia. Apakah kamu punya ide yang bagus?” Bersambung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN