Paul mendengkus keras mendengar ucapan Yasmin. “Kamu selalu saja berkata seperti itu. Merendahkan diri sendiri. Jika diri kamu saja tidak menghargai diri kamu sendiri, bagaimana orang lain bisa menghargai kamu. Kamu bisa tidak sih bersikap yang lebih percaya diri? Anggap diri kamu adalah wanita yang sempurna sehingga orang lain pun segan untuk merendahkan kamu.” “Mengapa aku harus bersikap seperti itu meskipun nyatanya aku bukan wanita yang seperti itu?” Yasmin menolak untuk bersikap yang tidak sesuai dengan hati nurani. “Karena apa yang kamu pikirkan dan ucapkan adalah doa. Suatu hari kamu akan menjadi seperti diri kamu yang kamu pikirkan.” Deg. Yasmin merasa tertohok. Benarkah begitu? “Contoh kecil dari perkataanku barusan adalah selama ini kamu merasa bahwa mengurus rumah dan masak

