Tidak seperti kemarin, hari ini berjalan dengan baik. Bukan hanya karena Yasmin udah memahami tugas-tugasnya sebagai sekretaris, tapi juga karena Paul tidak marah-marah seperti kemarin. Yasmin yang sedang bersiap-siap untuk pulang, didekati oleh Paul. "Ikut aku dulu ya." Mata Yasmin melebar. "Ke mana?" "Ke seorang desainer yang nanti akan membuat pakaian pengantin kita." Yasmin terhenyak. "Membuat pakaian pengantin? Memang kapan kita menikahnya hari gini sudah mau buat pakaian pengantin?" "Begitu masa iddah kamu selesai, kita akan langsung menikah tanpa menunggu lama-lama lagi." Yasmin hanya bisa menipiskan bibir mendengar perkataan Paul. Terserahlah. Dia tidak peduli lagi akan hidupnya. Sebab melepaskan diri dari Paul pun tak bisa. Dia hanya berharap Paul bisa menjadi suami yang bai

