Apakah aku harus menunggumu? Atau membuka hati untuk nama baru? Lidya menatap nanar pada sebuah benda dalam genggamannya. Sebuah kunci berwarna merah muda. Entah apa arti Abi melakukan hal itu. Meninggalkan kunci itu disana dan mengambil gembok miliknya. Kenapa ia tidak menemui Lidya saja? Lidya membuang nafas berat. Ia mengepalkan tangannya. Andai saja Tuhan mengijinkan, Lidya ingin bertemu Abi sekali saja. Tapi apakah laki-laki itu masih mau menemuinya? "Assalamualaikum!" suara lembut itu terucap dari bibir seorang laki-laki dengan baju koko melekat ditubuhnya dan sebuah peci hitam menutupi sebagian rambutnya. "Wa'alaikumsalam, Ustadz!" sahut Lidya cepat saat mengetahui siapa laki-laki yang menyapanya. Lidya bangkit dari tempat duduknya saat laki-laki itu berjalan menghampirinya. L

