Api Yang Tak Pernah Di Undang

1073 Kata
Langit Malaca menghitam total. Hujan belum turun, tapi udara sudah berat oleh petir yang menggantung di langit. Rumah utama Hadisaputra sunyi seperti menahan napas. Di lantai dua, salah satu ruang kerja pribadi menyala temaram. Arkhana Hadisaputra berdiri membelakangi pintu, jas masih melekat di tubuhnya yang tegap, dasi longgar tergantung di leher, dan kemeja bagian atas terbuka dua kancing. Tangannya menggenggam segelas air. Diam. Tak bergerak. Tapi matanya dingin dan tajam menatap keluar jendela kaca yang membentang dari lantai ke langit-langit. Bayangan pepohonan bergoyang tertiup angin, namun pikirannya jauh lebih liar dari itu. Suara ketukan dua kali di pintu memecah kesunyian. Lalu suara engsel pintu yang dibuka dari luar. “Masuk,” ucapnya tanpa menoleh. Langkah sepatu pelan-pelan masuk. Dani memberi isyarat dengan dagunya ke arah gadis di belakangnya. Riana, gadis muda yang wajahnya sudah tak asing di rumah ini karena ia tumbuh besar di dalamnya. Tapi malam ini, wajah itu pucat. Matanya sembab. Tubuhnya gemetar. Arkha tak menoleh. Ia meneguk air, perlahan, menunggu. Lalu dengan nada dingin yang begitu menghantam, ia berkata, “Duduk.” Riana duduk. Kaku. Napasnya tak teratur. “Aku tidak suka basa-basi.” Arkha akhirnya membalikkan badan. Sorot matanya tajam, menusuk, dan tidak memberi ruang untuk pembelaan. “Kamu tahu kenapa kamu di sini. Jadi jangan buang waktuku.” Riana mulai menangis. Air mata meleleh turun. “Aku… aku cuma mau minta maaf.” Arkha mendengus pelan. Dia berjalan ke meja, meletakkan gelas dengan bunyi tak! lalu bersandar dengan kedua tangan di atas permukaan kayu. “Minta maaf untuk yang mana? Teh yang kamu kasih malam itu? Atau fotoku yang viral karena kamu jebak, dan saat aku tidak melirikmu sama sekali?” Tubuh Riana semakin gemetar. “Aku… aku hanya ingin Mas lihat aku. Sekali saja. Aku cuma… cinta Mas sejak dulu.” Arkha tertawa pendek. Dingin. Kosong. “Kamu racuni aku supaya aku lihat kamu?” Tatapannya tajam. “Kamu hilangkan kendaliku dengan zat bius ringan, lalu kamu pikir aku akan jatuh cinta? Menikah karena terpaksa? Itu rencanamu?” Riana menggeleng keras. “Aku nggak bermaksud begitu… Aku panik. Aku nggak tahu harus gimana lagi buat Mas sadar kalau aku ada…” Langkah Arkha menghantam lantai kayu keras. Ia mendekat. Satu langkah, dua langkah hingga hanya berjarak satu meter darinya. “Kamu dengar ini baik-baik.” Suaranya dalam, menekan. “Aku tidak pernah mencintai kamu. Bahkan tidak pernah melihat kamu lebih dari anak asuhan ibuku. Kamu tinggal di rumah ini karena rasa iba ibuku. Bukan karena kamu pantas.” Riana terisak. “Aku tahu kamu yang sebar lokasi Almira. Kamu pikir aku bodoh?” “Bukan aku!” Riana nyaris berteriak. “Aku memang salah soal minuman itu... tapi aku nggak akan pernah mencelakai Almira! Aku nggak tahu siapa yang foto, aku kaget sendiri waktu lihat kabarnya!” Arkha menarik napas dalam. Lalu menoleh pada Dani yang berdiri tegak di pojok ruangan. “Cari tahu siapa yang kasih izin fotografer masuk. Bongkar sampai ke dasarnya. Termasuk siapa yang kirim paket kalung tempo hari ke kamar Almira. Aku nggak mau ada yang main kotor di rumah ini.” “Siap, Tuan.” Dani menjawab cepat. Arkha menatap Riana lagi. Kali ini, wajahnya seperti dinding es. “Mulai malam ini, kamu nggak lagi punya akses bebas di rumah utama. Kalau kamu butuh sesuatu, bilang ke Dani. Dan jangan pernah, aku ulangi, jangan pernah mendekat ke kamar atau ruang pribadi Almira.” Riana menggeleng. “Mas, tolong… aku mohon…” Arkha menunduk sedikit, suaranya rendah dan mengancam, “Aku bukan orang yang bisa kau ikat paksa dengan drama dan air mata. Kau ingin dicintai? Cari tempat lain. Tapi bukan di hidupku.” Ia berbalik, kembali berdiri di depan jendela kaca. Bahunya tegang, rahangnya mengeras. Tak ada ruang untuk kompromi. “Dani. Antar dia keluar. Dan pastikan kamarku steril malam ini dari semua gangguan.” “Baik, Tuan.” Dani menyentuh lengan Riana pelan, membimbingnya keluar ruangan. Isakannya semakin lirih, tubuhnya lemas, tapi pintu akhirnya tertutup kembali. Arkha berdiri sendirian di tengah ruangan. Tangannya mengepal. --- Matahari belum tinggi, tapi tekanan dari langit seakan sudah menumpuk di pundak Almira. Tas rotan kecil tergantung di bahu, isinya hanya dompet, syal tipis, dan sedikit harapan bahwa hari ini akan lebih baik daripada kemarin. Tentu saja tidak. Di pasar kecil yang mulai ramai, suara-suara tetap membuntuti seperti bayangan yang tak bisa dihapus. Nama Pratama terlalu besar untuk dilupakan. Terlalu dalam meninggalkan luka di kota kecil yang hidupnya bergantung pada industri. Dan sekarang, darah dari keluarga itu berjalan bebas di antara mereka, mengenakan rok panjang yang terlalu sopan, senyum yang terlalu tenang. “Dia kira bisa beli simpati?” “Lihat senyumnya. Dasar munafik.” Almira menggenggam tangkai bayam yang baru saja ia beli. Tangannya diam, tapi buku jarinya memucat. Ia menatap ibu penjual yang menerima uangnya dengan kikuk antara ingin ramah dan takut dikucilkan tetangga. “Terima kasih, Bu. Semoga dagangannya cepat habis hari ini,” ucap Almira dengan suara yang lembut dan tak ada setitik pun getaran. Lalu ia berbalik. Melanjutkan langkah. Ia tahu siapa yang memulai semua ini. Siapa yang menyulut api di tengah jerami kering reputasi keluarganya. Arkhana Hadisaputra. Tentu saja. Mobil hitam itu terlalu mencolok untuk luput dari pandangannya. Apalagi jika menyala diam di sudut jalan dengan lampu mati dan bayangan pria jangkung di balik kaca gelapnya. Almira berhenti. Menghadap langsung ke arah mobil. Sesaat hening. Jalanan tetap riuh, tapi untuknya, waktu seperti menahan napas. Kemudian senyum. Bukan senyum tulus. Tapi bukan juga senyum sinis. Sebuah lengkungan tipis yang cukup untuk menusuk balik. Senyum seorang wanita yang tahu bahwa ia sedang diuji, dan memilih tidak tumbang. Lalu ia menunduk. Pelan. Penuh hormat. Tapi jelas, itu bukan tunduk karena kalah. Itu tunduk dari seseorang yang tahu dirinya kuat… dan tahu lawannya sedang mulai goyah. Almira lalu melangkah pergi. Membelakangi mobil hitam itu, membiarkan hujan bisik-bisik tadi hanyut oleh gemericik langkahnya di trotoar. --- Di dalam mobil, Arkha memukul setir satu kali. Suara keras memantul di kabin. Tangannya mengepal, rahangnya menegang. Kaca matanya tak mampu menyembunyikan kilatan frustrasi. Dia tidak menyangka reaksi itu. Seharusnya Almira marah. Seharusnya dia menangis, menelepon Bu Dewi dan merengek minta dijemput. Seharusnya dia menyerah. Tapi gadis itu justru beradaptasi. Cepat. Terlalu cepat. Dan itu berbahaya. Arkha bersandar ke jok kursinya. Mata tertutup. Napas berat. Tapi pikirannya berdenyut. Karena, entah kenapa, saat Almira menatap langsung ke arahnya tadi—tak ada rasa bangga. Tak ada puas. Yang ada hanya… rasa ingin tahu yang makin lama makin sulit dia bunuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN