*** Jesika menutup pintu apartemen Elang secara pelan dari luar. Air matanya masih saja jatuh membasahi pipi. Ia tak menyangka, Elang yang tanpa kabar selama dua hari ini ternyata sedang menyelidiki masa lalu mereka yang selama ini selalu dirinya dan suami tutupi. Wanita parubaya yang masih sangat cantik itu terisak sedih. Demi apapun dirinya tak akan pernah sanggup kehilangan Elang. Dua puluh lima tahun bukan waktu yang singkat dalam kebersamaan mereka. Setiap detik Jesika selalu mendoakan kebaikan Elang hingga putranya itu dewasa. Jesika sungguh-sungguh dalam menyayangi Elang. Tak sekalipun ia menganggap Elang hanya sebagai anak angkat saja. Bagi Jesika, Elang adalah anugrah yang teramat sangat ia syukuri. Tak seharipun senyum Jesika hilang sejak ia mendapatkan Elang. Dan sekarang,

