*** Tak ada yang lebih menyakitkan bagi Elang selain melihat Ana menangis tersedu. Elang menyesal tak menyadari rencana yang Ana lakukan hari ini. Entah bagaimana jadinya jika Cici tidak menghubunginya, mungkin Ana tak akan pernah menceritakan kejadian hari ini padanya. Elang menghela napasnya dengan berat. Lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tak ingin terlalu lama berada di jalan raya agar bisa mendekap Ana dan menenangkannya. Tak kurang dari Satu jam mobil Elang sudah kembali terparkir rapi di basement apartemen tempatnya tinggal. Lelaki itu segera membuka pintu mobilnya, berkeliling untuk membukakan pintu untuk Ana. Lalu ia langsung memeluk Ana dengan erat. "Sudah Sayang," lirihnya membujuk agar Ana berhenti menangis. Namun, Ana menggeleng lemah. Sepanjang jalan air mata

