Bab 10. Ancaman

1416 Kata

*** Ana kesal sekali. "Pergi kamu! Aku nggak menerima tamu malam-malam begini." ucapnya. Elang melihat jam tangannya. "Baru juga setengah sembilan," balasnya. Ana memutar bola matanya dengan jenuh. "Terse..rah," decakan sebal terdengar setelah itu. Ana tak sempat melarang Elang masuk ke apartemennya karena lelaki itu sudah lebih dulu menjejalkan kakinya ke dalam. Mendadak Ana menyesal membuka pintu. "Keluar kamu!" ujar Ana dengan kesal. Namun, Elang seolah tak mendengar. Dia sibuk memperhatikan isi apartemen Ana. "Kasar banget sama tunangan sendiri," sahut lelaki itu. "Dalam mimpimu! Aku nggak pernah anggap diriku sebagai tunanganmu." ucap Ana sambil bersedekap. Elang menoleh pada Ana. "Sekarang kamu sudah jadi seorang yang ingkar ya?" sindirnya. Ana berdecak sebal. Dia tak bisa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN