Rencana Mama

1056 Kata
Selama perjalanan Alya hanya bisa berserah diri pada yang maha kuasa. Karena melihat Rangga mengendarai motornya seperti sedang di kejar depkolektor. Sepanjang jalan Alya memejamkan matanya, Rangga tidak kira-kira menjalankan motornya bak Valentino Rossi. "Ga, lu gila apa jalanin motornya? Bisa pelanin dikit gak?" teriak Alya yang terus memeluk Rangga. "Makanya lu jangan bangun kesiangan, maha ileran lagi!" tawa Rangga sambil tetap fokus menatap jalan. "Sialan emang lo!" kesal Alya sambil menyembunyikan wajahnya di balik pundak Rangga. "Udah lu diem aja, pegangan aja yang erat!" titahnya. "Gua udah pegangan yang bener, mana gua belum kawin lagi!" "Makanya ayo kawin aja sama gua! Win win solution buat kita berdua!" ajak Rangga lagi tidak mau menyerah. "Win win solution mulut lo! Udah ah lu fokus ke depan sana!" Rangga hanya bisa mengulumkan senyumnya. Dia benar-benar tidak akan menyerah, sampai Alya setuju dengan rencananya. Dia tidak mau sampai membayar wanita lain untuk di jadikan kekasihnya, lebih baik dia membayar mahal Alya saja. Toh kalau terjadi sesuatu dia luar perkiraannya, orangnya adalah Alya. Akhirnya mereka sampai di kantor Alya, dengan wajah Alya yang tampak pucat. Saat Rangga menoleh ke belakang, ia pun terkejut melihat wajah Alya dan juga rambutnya yang terlihat acak-acakan. "Astaga Al, lu kenapa?" tanya Rangga. "Lu kaya abis ketemu malaikat pencabut nyawa aja!" "Nyaris, nyawa gua melayang emang di buat lo! Sialan emang lo ya! Kalau lu gak ikhlas antar gua mending jangan deh, dari pada setengah nyawa gua ikut di bawa angin!" cibir Alya menggerutu. Rangga tertawa pelan melihat wajah dan juga reaksinya. "Salah lu sendiri kenapa kesiangan? Besok-besok jangan kesiangan lagi kalau bangun!" "Serah gua, dah sana lu pergi ke kantor, mentang-mentang wakil CEO. Seenaknya dateng!" "Bukan seenaknya, demi lo! Nanti pulang gua jemput ya, jangan ada penolakan!" ucap Rangga. "Bye calon pacar!" Rangga langsung menancapkan pedal gasnya dan pergi meninggalkan Alya. "Dia kenapa sih? Tiba-tiba banget anter jemput gua!" gumamnya "Alya..." Alya menoleh ke arah suara yang memanggilnya, tampak teman kerjanya bernama Fares datang menghampirinya. "Tadi siapa yang anterin lu? Pacar lu ya?" tanya Fares. Alya langsung menggelengkan kepalanya, menolak keras kalau yang mengantarnya adalah pacarnya. "Bukan, bukan pacar gua. Dia ojek langganan gua!" papar Alya. Fares menautkan ke dua alisnya, merasa tidak percaya kalau yang barusan mengantar Alya adalah ojek langganan. Pasalnya dari pakaian dan motornya saja tidak seperti ojek pangkalan. "Hah ojek langganan? Tapi kok setelannya kaya orang kantoran gitu?" tanya Fares. "Ah biasa biar viral aja itu si mang ojek! Dah masuk yuk, nanti telat lagi kita absennya." Fares pun mengikuti Alya sambil menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. --- Rangga membuka helm full facenya, ia menyugarkan rambutnya, memancarkan ketampanan yang dia miliki sejak lahir. Beberapa pasang mata pun terus menatapi dirinya. Tentu saja itu karyawan wanitanya yang selalu terpesona pada ketampanan Rangga. Hanya saja, Rangga di kenal cuek dan dingin menjadi bos, entah berapa kali dia mengganti sekretarisnya. Karena tidak kuat dengan sikap Rangga yang sedikit kejam. Padahal alasan utama kenapa dia berganti sekretaris, karena mereka yang menggodanya. Rangga yang merasa risih pun segera memecat mereka. Pada akhirnya dia meminta kalau sekertarisnya adalah pria. Dan timbul-lah rumor kalau Rangga itu menyukai sesama. Rangga tidak pernah menggubris gosip yang menyangkutnya, selama dia tidak melakukan, dia akan bersikap tidak peduli dengan rumor yang beredar. Berbeda dengan ibunya, rumor itu sudah sampai ke telinganya, makanya Amina sibuk mencari jodoh untuk Rangga, agar di jauhkan dari rumor tersebut. Tapi apa? Rangga tetao saja selalu menolak perjodohan itu! "Pagi pak Rangga!" ucap manager keuangan. Rangga hanya mengangguk pelan, untuk membalas sapaannya. Wajahnya terlihat amat datar dan juga dingin. Saat Rangga memasuki kantor suasana pun sedikit berubah mencekam. Semua karyawan saat bertemu dengan Rangga langsung sedikit menundukkan kepalanya, menandakan hormat padanya. Tapi sikap Rangga di kantor tidak berlaku di hadapan Alya. Pria itu akan berubah manis dan menyebalkan saat bersama denga Alya. Tanpa Rangga sadari, dirinya akan menjadi dirinya sendiri tanpa pembatas apapun saat bersama Alya. Dan itu tidak berlaku di hadapan kekasihnya dulu, semua itu hanya Alya lah yang tahu bagaimana sikap asli Rangga. Rangga masuk ke dalam ruangannya, ia segera membuka jaket kulitnya, dan ia gantungkan di dekat pintu ruang kerjanya, yang terdapat gantungan besi berwarna hitam. Rangga duduk di kursi kerjanya, membuka laptop miliknya dan langsung melihat gambar grafik yang terus menaik. Sudut bibirnya pun tertarik membentuk senyuman, saat dia berhasil menaikkan performa pendapatan perusahaannya. Tidak lama pintu terketuk, "Masuk!" Tatapan Rangga langsung tertuju pada pintu tersebut. Menampakkan ibunyalah yang masuk, sambil membawakan makanan untuk Rangga. Baru saja dia mendapatkan kabar bahagia karena grafik perusahaannya yang terus naik ke atas. Kini dia sedang di hadapkan oleh nenek sihir yang terus menuntutnya menikah. "Rangga, kamu tadi pagi sekali ke mana sih? Kamu gak sempat sarapan jadinya kan. Ini mama bawakan makanan buat kamu!" ucap Amina yang meletakkan sebuah tempat makan yang bertingkat, dan sialnya itu berwarna pink. Rangga membuang napasnya dalam-dalam, ingin rasanya dia mengusir wanita paruh baya yang di depannya, andaikan saja dia bukan ibunya, pasti itu semua sudah Rangga lakukan sejak tadi. "Hmm!" Rangga hanya berdehem, dia kembali fokus pada laptopnya kembali. "Angga mama lagi ngobrol sama kamu loh!" "Apa sih mah? Terus emang kenapa kalau Angga pergi pagi?" tanyanya. "Kamu pergi pagi tapi kenapa baru jam segini sampainya, sedangkan mama sudah sampai lebih dulu!" "Siapa suruh datang lebih dulu?" tanya Angga yang memainkan kursor laptopnya. Amina memutar bola matanya jengah, bisa-bisanya anaknya mengabaikan dirinya yang sedang duduk di hadapannya. "Ya mana mama tahu, kamu sebenarnya ke mana sih tadi pagi? Kamu serius punya pacar?" Rangga menarik napasnya dalam-dalam, kali ini dia menatap ibunya. "Mah umur segini udah gak pacar-pacaran lagi. Umur segini ya jalani aja dulu, kalau nyaman ya lanjut!" jelas Rangga dengan santainya. Amina menautkan ke dua alisnya, emang benar apa yang di katakan oleh Rangga. Umur seperti anaknya itu sudah tidak harus ada status pacaran, kalau nyaman ya udah lanjutkan hingga ke jenjang pernikahan. "Tapi Angga, tetap saja wanita itu butuh kepastian!" papar Amina. "Angga sudah memastikannya mah, justru Angga yang sedang menunggu kepastian darinya!" jawab Rangga. Amina ternganga mendengarnya, "Hah, jadi kamu yang di gantung? Wanita macam apa seperti itu? Udah pokonya kamu lebih baik pilih, pilihan mama aja. Jangan lupa besok di resto Elite Epicure, jam 19.00 malam ok! Jangan menolak, mama yakin kamu akan menyukai wanita yang mama jodohkan kali ini!" ucap Amina yang langsung beranjak dari tempat duduknya dak sedikit membanting pintu kerja Rangga. "Oh, s**t!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN