Usaha Rangga

1229 Kata
Rangga meneguk kopi yang ada di genggaman tangannya. Kepalanya terasa begitu sakit saat mengingat permintaan ibunya. Besok adalah hari pertemuannya dengan gadis yang akan di jodohkan dengannya lagi dan sampai detik ini hati Alya pun belum juga luluh. Rangga membuang napasnya kasar, sambil menghisap rokok yang di apit disela jarinya. Otak Rangga terus berpikir bagaimana caranya menggagalkan rencana ibunya itu. Rangga benar-benar di buat pusing oleh sikap ibunya. Kenapa dia tidak menyerahkan saja semuanya tentang calon istrinya pada dirinya sendiri. "Argh sial!" geramnya sambil mematikan rokok yang ada di tangannya dengan cara menginjak rokok tersebut. "Kamu kenapa? Seperti orang setres saja hah?" Terdengar suara pria paruh baya yang berjalan mendekatinya—Damar, ayah dari Rangga. "Papa..." Rangga sedikit menoleh ke belakang melihat kedatangan ayahnya di rooftop. "Ngapain kamu di sini? Kaya orang lagi setres aja?" tanya Damar yang kini berdiri sejajar dengannya. Rangga menghelakan napasnya panjang. "Mama pah, Angga pusing sama rencana mama yang terus mau menjodohkan Angga dengan anak temannya." Mendengar rengekan anaknya, Damar terkekeh pelan, mentertawakan Rangga. "Kok papa malah ketawa sih? Bukannya bantuin Angga!" "Ya habisnya kamu, masih aja gagal move on sama mantan kamu yang dulu siapa namanya itu?" tanya Damar sedikit meledek. Rangga berdecak kesal mendengar Damar pura-pura menanyakan nama mantan kekasihnya. Dia pun kembali menyalakan rokok barunya, dan mengepulkan asal ke langit. Rangga menawarkan sebatang rokok pada ayahnya, Damar pun tidak menolak dan mengambil satu. Kini ayah dan anak itu pun saling mengepulkan asap putih ke langit. Rasanya sedikit begitu tenang dengan hamparan angin yang menerpa wajah merek berdua. "Angga, mama mu bilang katanya kamu sedang dekat dengan seorang wanita?" tanya Damar. Rangga tidak langsung menjawabnya. Dia terdiam sejenak. Hingga akhir Rangga menganggukkan kepalanya. "Hmm Angga sedang mengusahakan satu wanita yang Angga inginkan!" jawabnya dengan sorot mata yang begitu tenang. Damar menganggukkan kepalanya, sambil menghisap rokok yang ada di antara dua jarinya. "Siapa dia, kalau papa boleh tahu?" tanyanya. "Nanti juga, jika sudah waktunya papa akan tahu. Untuk saat ini Angga gak bisa bilang dia siapa!" jawabnya. "Kenapa?" "Kata Angga, wanita itu masih Angga perjuangkan pah. Setelah Angga mendapatkannya, baru Angga akan kenalin!" jelasnya. Damar menyipitkan matanya menatap ke arah Rangga. "Sepertinya dia bukan gadis biasa? Anak siapa dia? Bilang saja kalau kamu ini wakil CEO, biasanya wanita akan suka dengan harta!" saran Damar. Rangga terkekeh pelan, dia menggelengkan kepalanya pelan sambil menghisap rokoknya kembali. "Dia bukan gadis yang seperti itu pah, dia tahu aku ini wakil CEO, tapi tetap saja tidak pengaruh, sekalipun aku CEO. Sepertinya dia tidak tertarik!" ujarnya. Damar menatap ke arah Rangga. "Wah, gadis seperti ini langka, Ga. Kamu harus mendapatkannya bagaimana pun caranya, apa dia dari keluarga kaya raya? Siapa tahu papa tahu orang tuanya!" Rangga menggelengkan kepalanya, "Sekali lagi papa salah, dia lahir dari keluarga yang sederhana tapi tidak gila harta. Makanya Angga suka!" timpal Rangga. "Mama kamu harus tahu ini, kalau kamu sedang memperjuangkan seorang wanita yang berbeda. Papa dukung keputusanmu!" ucap Damar. "Kalau begitu papa bantu aku, buat stop bikin mama terus jodohin aku sama anak temennya!" Damar membuang napasnya kasar. "Kalau ini papa gak janji ya, soalnya kamu tahu sendiri mama kamu ini gimana? Papa saja tidak bisa berkutik, sampai kamu pada akhirnya mengenalkan gadis itu!" Rangga hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah percuma saja ngobrol sama papa!" --- Rangga melihat jam yang ada di ponselnya, kenapa waktu berjalan begitu cepat. Dia keluar sejak jam 12.00 siang kini sudah pukul 14.00 siang. Rangga terus menunggu di depan rumah teman Alya. Sebelum bertemu dengan wanita yang akan di jodohkan dengannya. Rangga ingin membujuk Alya untuk ikut dengannya, menunjukkan pada gadis itu, kalau dirinya sudah memiliki pasangan. Namun, sejak awal Alya sudah menolaknya. Dia benar-benar tidak mau ikut campur dengan urusan Rangga. "Ish, dia bener kaya gini sama aku?" gumam Rangga, dengan tatapan sendu. Nasibnya hari ini sepertinya tidak beruntung, Alya benar-benar mengabaikannya. Bahkan ponselnya saja sudah tidak aktif, Rangga menarik napasnya dalam-dalam, dia tidak akan ke mana-mana. Rangga akan menunggu hingga jam lima sore. "Gua bakal nungguin lu, Al. Lu pikir gua bakal nyerah? Gak akan!" gumamnya, dengan nada tidak akan menyerah. Sedangkan di dalam teman Alya menatap mobil Rangga dari jendela kamarnya. "Al, lu serius mau diemin tuh cowo?" tanya Zeta. Alya menganggukan kepalanya cepat, "Iya sorry ya Ta, lu jadi ikut repot juga gara-gara gua!" paparnya. "Gak sih santai aja kali, gua cuman kasian sama tuh cowo nungguin lu sampai segitunya. Siapa sih dia? Pacar baru lo?" tanya Zeta Alya menggelengkan kepalanya cepat, "Bukan dia si Angga, masih inget kan lu?" "Temen kecil lu itu? Ngapain dia nunggu di depan rumah gua?" Zeta menjadi penasaran dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua. Pasalnya Alya dan Rangga terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Alya pun menceritakan masalah mereka berdua, Zeta menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. "Jadi lu di mintain jadi pacar bohongan dia doang? Astaga Al, gua kira apa. Bantuin aja kali kasian, lagian siapa tahu emang dia belum mau nikah, udah lu bantuin aja sana!" Alya mengernyitkan keningnya heran, "Kenapa lu tatap gua kaya gitu?" "Lu serius dengan saran lu? Gua harus tolongin dia gitu?" tanyanya lagi, untuk memastikan. Zeta menganggukan kepalanya dengan mantap. "Iya, ngapain juga lu ragu, cuman bohongan doang. Udah bantuin aja, kasian tahu dia dari tadi di sana nungguin lu!" paparnya. Alya membuang napasnya kasar, dia menatap mobil yang terus terparkir di rumah Zeta. Tatapan Alya berubah menjadi sayu. "Apa gua bantuin dia aja? Tapi gua takut ada yang berubah setelah itu!" Gumamnya. --- Rangga meneguk minumannya, dia sudah berada sepuluh menit lebih dulu dari wanita yang akan dia temui saat ini. Rangga menghela napasnya pelan, dia selalu sengaja datang lebih dulu untuk memberikan alasan kalau dia tidak suka wanita yang lelet. Jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, di mana wanita itu memang belum datang. Sebelah sudut bibir Rangga tertarik membentuk senyuman tipis. Dia masih duduk santai sambil menyeruput minuman miliknya. Rangga membuang napasnya kasar, sudah setengah jam lebih dia menunggu. Pada akhirnya Rangga beranjak dari tempat duduknya yang akan pergi dari sana. Saat Rangga akan pergi, tiba-tiba seorang wanita cantik berjalan menghampirinya. "Rangga?" Rangga terdiam sejenak, melihat wanita itu dari atas sampai bawah. Sialan ternyata dia mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya. Istia, gadis yang dulu pernah Rangga tembak. Tapi ternyata dia di tolak mentah-mentah, dan sekarang ternyata dia di jodohkan dengan perempuan yang pernah menolaknya. Sebelah alis Rangga naik ke atas, sambil tersenyum tipis. "Kamu anak tante Devi?" Rangga menyebutkan nama teman dari ibunya. Istia menganggukan senyumnya yang merekah, dia tidak menyangka ternyata Rangga-lah pria yang akan di jodohkan. "Iya, jadi kamu yang bakal di jodohin sama aku?" ucap Istia dengan antusias. Rangga hanya mengangguk kepalanya, "Hmm, saya orangnya. Dunia ternyata benar-benar sempit ya..." balas Rangga dengan nada lembut. Istia menganggukan kepalanya, dia tidak merasa bersalah sudah membuat Rangga menunggu lama. "Kalau tahu cowonya itu kamu, aku pasti udah datang dari tadi!" kekehnya. Rangga masih memasang wajah datar. "Jadi, kamu sengaja bikin aku nunggu setengah jam lebih?" Istia tersenyum tipis, dirinya menjadi tidak enak. "Bukan gitu juga sih, aku gak mau di jodohin. Tapi kalau cowoknya kamu, boleh deh!" Rangga tersenyum miring mendengarnya. "Lagi pula, dulu kamu pernah suka sama aku kan, jadi gak susah buat kita jalin hubungan dari awal!" "Sayangnya saya sudah tidak minat, dan itu sudah masa lalu. Maaf, saya menolak perjodohan ini, saya tidak suka wanita yang lelet, saya permisi pulang..." Istia ternganga mendengar penolakan dari Rangga. "Cowok b******k!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN