Alya berjalan keluar rumahnya, menuju supermarket terdekat untuk membeli minuman. Dengan jaket Hoodie berwarna hitam, dan celana tidurnya
Alya melangkahkan kakinya dengan santai, saat pagar rumahnya di buka. Ia melihat sosok yang tidak asing di matanya, sedang berdiri di bawah lampu jalan.
Sontak Alya menyipitkan matanya, memastikan kalau dia tidak salah lihat. "Angga?"
Alya langsung berjalan menghampiri Rangga, yang sedang berdiri menyandar dekat lampu jalan sambil menghisap rokoknya. Pakaiannya terkesan santai tapi formal, memakai kemeja abu tua, dengan lengan bajunya yang ia gulung sampai siku.
Tampan? Tentu. Penampilan Rangga selalu sukses menarik perhatian Alya. Dengan gaya casualnya, Rangga selalu berpenampilan sederhana, namun terkesan mahal.
"Lu ngapain berdiri di sini? Jadi penjaga lampu jalan lu?" tanya Alya.
Rangga langsung mematikan rokoknya, saat gadis itu berjalan menghampirinya. "Bisa di bilang gitu, karena gua gabut!" jawabnya asal.
Alya mengibaskan tangannya di depan wajah. Bau rokok itu masih bisa di cium, "Kebiasaan banget sih lu, ngerokok. Lu lagi kacau ya?"
Rangga hanya menganggukkan kepalanya pelan. "Kacau kenapa? Kerjaan?"
Rangga segera menggelengkan kepalanya. "Bukan."
Alya mengernyitkan keningnya bingung. Ia tahu kenapa Rangga tampak kusut, pasti tidak jauh dari perjodohan itu.
"Rencana nyokap lu? Gimana udah nemu yang cocok?" tanya Alya iseng.
Kepala Rangga mengangguk, dan itu sukses membuat Alya terkejut. Mulutnya sedikit terbuka mendengar jawabannya. Namun, Alya langsung memasang ekspresi wajah yang kembali biasa.
"Baguslah kalau gitu, lu akhirnya ada yang cocok juga, sama cewe yang nyokap lu jodohin!" ucap Alya sambil mengulurkan tangannya ke arah Rangga.
Rangga menaikkan alisnya sebelah, "Lu kenapa nyimpulin kaya gitu? Kan gue gak ngomong apa-apa!"
Kali ini Alya yang mengernyitkan keningnya bingung. "Lah tadi kan lu ngangguk pas gua tanya!"
"Pertanyaan yang mana? Lu tadi ngasih gua dua pertanyaan, emang lu tahu gua jawab yang mana?"
Alya berdecak kesal, temannya ini memang benar menyebalkan. "Terus lu ngangguk jawab yang mana astaga?" Alya berdecih kesal dengan sikap Rangga.
Sedangkan pria tersebut tertawa pelan sambil merangkul Alya agar lebih mendekat. "Don't touch me!" cibir Alya sambil menepis tangan Rangga.
"Halah, sok banget lu nolak gua, biasanya juga kalau lu lagi sedih atau apa Angga hug me please!" ledek Rangga dengan bibir di majukan.
"Ngeselin banget lu sumpah, sana pulang ah!" titah Alya.
"Ogah, emang lu gak mau apa dengerin cerita gua pas tadi ketemu itu cewe?" tanya Rangga yang kembali mendekat sambil ke dua tangannya masuk ke dalam saku jaketnya.
"Gua gak kepo!" Alya menjulurkan lidahnya ke arah Rangga.
Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Namun, dia tetap bersikukuh akan menceritakan siapa wanita yang baru saja dia temui.
Alya yang sudah berjalan lebih dulu pun segera di susul oleh Rangga. Pria itu kembali merangkul pundak Alya lebih dekat. Saat Alya akan menolak, Rangga menahannya.
"Udah sih, biasanya juga kita kaya gini kan?!" cibir Rangga dengan tatapan memaksa.
Mau tidak mau Alya menurut pada temannya yang satu itu. Mereka berjalan berdampingan bagaikan pasangan kekasih.
"Nongkrong dulu yuk?" ajak Rangga.
"Di mana?" Alya menoleh ke arah Rangga, pria tersebut menunjuk sebuah cafe kecil yang berada di teras rumah warga sekitar.
"Tuh di sana! Kayanya baru deh, coba menunya yuk?" ajak Rangga sambil menaik turunkan alisnya.
"Lu yang bayar?"
Rangga berdecak kesal, tapi langsung menganggukkan kepalanya. "Ayo, emang tiap nongkrong gua yang bayar kan? Jarang banget lu yang bayar!" ledek Rangga sambil mengacak-acak rambut Alya.
"Ih Rangga kebiasaan banget sih lu ngacak rambut gua!" kesalnya.
"Abisnya gemes! Ayo buruan!" Rangga memegang tangan Alya dengan lembut, menariknya agar langkahnya lebih cepat.
Tanpa Alya sadari pipinya berubah merona karena satu kata yang Rangga lontarkan. Kelihatannya sederhana tapi bagi Alya kata itu sukses membuat jantungnya berdegup dengan kencang.
Alya mengikuti langkah lebar Rangga, dengan membiarkan tangannya di genggam oleh Rangga. Kini mereka sudah berada di depan cafe tersebut, tempat nyaman, dengan hiasan lampu dan gaya cafe itu cukup aesthetic.
Rangga menoleh ke arah Alya yang ternyata sedang menatapnya. "Lu kenapa liatin gue kaya gitu?" tanya Rangga.
Alya mengedipkan ke dua matanya, seolah tersadar kalau dia sedang memperhatikan Rangga. "Lu udah mulai naksir sama gua ya?" kekehnya.
"Kepedean banget lu, noh ada kotoran di mata lu!" tunjuk Alya dan ia langsung masuk ke dalam cafenya.
Spontan Rangga langsung membersihkan matanya, ternyata dia tertipu oleh Alya. "Sialan tuh cewe!"
Alya memilih duduk di dekat dinding, yang hanya untuk dua orang. Rangga langsung mengikuti Alya duduk di hadapannya, sambil membawa menu yang pelayannya kasih.
"Nih lu mau pesen apaan?" tanya Rangga yang menyodorkan lebih dulu ke arah Alya.
"Apa ya?" tanyanya. "Ini aja deh, pisang Krispi coklat, sama minumnya milkshake strawberry sama kentang goreng juga deh!" ucapnya.
"Udah itu aja? Gak ada lagi?" tanya Rangga meyakinkan.
Alya menggelengkan kepalanya. "Gak ah, udah malem, nanti kiloan gua naik!" keluh Alya.
Rangga memutar bola matanya, "Yaelah Al, walaupun lu gendut, gua tetep bakal terima lu apa adanya kok!" ucap Rangga mengedipkan sebelah matanya.
"Terserah lu aja, gua gak mau denger!" balas Alya mendelikkan matanya.
Rangga terkekeh pelan, "Ya udah gua pesen dulu ya. Jangan kangen!" goda Rangga yang semakin menjadi.
Alya berdecih kesal, dia memilih untuk membuka ponselnya. Saat ia menatap layar ponselnya, terdapat beberapa pesan yang muncul. Alya menautkan ke dua alisnya, saat nama yang sudah lama Alya lupakan itu kembali muncul di layar ponsel.
Rangga sudah selesai memesan pesanan mereka, dan segera duduk di hadapan Alya. Melihat ekspresi Alya yang terheran tersebut membuat Rangga penasaran.
"Al lu kenapa? Dapat pesan dari pinjol ya? Lu belum bayar?" tawanya.
"Mulut lu Astaga, bener-bener harus di ruqiyah kayanya, saking frustasinya lu di jodohin kan?" balas Alya.
"Nah itu lu tahu, makanya bantuin gua!" Rangga kembali merengek pada Alya.
"Berisik lu ah! Ini mantan gue chat gua lagi!" tunjuk Alya pada Rangga.
Rangga langsung membaca pesan yang Alya berikan padanya. Matanya melebar sempurna saat membacanya.
"Hah, dia sakit apa gimana sih? Kok gak tau malu banget?! Dulu lu di sia-siain kan? Lah sekarang gampang banget minta balikan kaya gak ada apa-apa!" ucapnya.
Alya membuang napas pelan, dia pun merasa kesal saat membaca pesan dari sang mantan. Moodnya menjadi tidak baik.
"Jangan lu tanggapi, bilang aja lu udah punya pacar!" ucap Rangga.
"Gampang banget lu ngomong! Nanti kalau dia tanya siapa pacar gua gimana?" tanya Alya.
"Gampang, lu tinggal bilang aja gua. Selesaikan?" ucap Rangga sambil menaik turunkan alisnya.
Alya berdecak kembali, dia menopang wajahnya dengan sebelah tangan yang ada di atas meja.
"Yang ada gua malah terjerat masalah baru, kalau gua ngaku lu jadi pacar gua!" jelas Alya.
Rangga menautkan ke dua alisnya bingung. "Loh kok masalah baru sih? Bukannya gua itu adalah solusi hidup lu?"
"Solusi hidup gua dari mana? Yang ada lo itu cabang masalah gua!" cibir Alya.
Rangga mendengus kesal, "jadi yakin lu nolak gua?"
"Yakin dengan 100%! Udah sih ah, lu mau ngomong apa?" tanya Alya.
"Lu gak mau bales dulu chat mantan lu itu? Mumpung ada gua di sini siapa tau lu berubah pikiran terus butuh bantuan gue!"
Alya langsung menggelengkan kepalanya. Tidak lama ponselnya berbunyi tampak nama kontak mantan tertera di sana.
Rangga langsung ikut menoleh ke arah layar ponselnya. "Dia nelpon?" tanyanya.
Alya hanya menganggukkan kepalanya, "Iya dia nelpon!"
"Sini biar gue yang angkat!" Rangga langsung mengambil ponsel Alya, tapi untung saja Alya segera merebut ponselnya kembali.
Rangga menautkan ke dua alisnya bingung, menatap ke arah Alya. "Lu masih suka sama dia?"
Alya membuang napasnya pelan, "Gak lah, ngapain juga gua masih suka sama dia. Lu lupa gimana dia nyakitin gue?" tanya Alya.
"Ya terus kenapa gue gak boleh angkat?"
Alya mendengus kembali, untung saja cafe itu tidak terlalu ramai, hingga cekcok di antara mereka tidak terlalu menjadi pusat perhatian.
"Gua gak mau lu ikut campur di hidup gue!" cibir Alya.
"Tapi Al—" Akhirnya pesanan mereka datang, ucapan Rangga pun terpotong.
Rangga menunggu pelayan itu pergi dari mejanya. Setelah pelayan itu pergi, Rangga akan kembali mengoceh. Namun, Alya segera memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Udah lu diem aja, mending makan aja sih! Biar dia jadi urusan gue!" ucap Alya sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
Alya sudah menatap Rangga untuk diam. Pada akhirnya pria itu memilih diam, dan membiarkan Alya membereskan masalahnya.
"Kalau ada apa-apa lu kasih tau gue! Jangan ngerasa paling sok bisa!" peringat Rangga.
Mendengar Rangga yang begitu peduli padanya membuat Alya merasa berdebar. Dia hanya mengangguk pelan, sambil terus mengunyah makanannya.
Beberapa saat mereka berdua hany terdiam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sesekali Alya menoleh ke arah Rangga yang terus menatap ponselnya sambil mengunyah makanan yang ada di depannya.
Tentu saja Alya penasaran dengan isi ponselnya, sampai Rangga mendiamkan Alya dan memilih untuk bermain ponselnya. Beberapa kali rangka terlihat senyum senyum, Alya memicingkan matanya, menatap ke arah Rangga.
Rangga yang sedang menatap ponselnya pun, merasa jika ada sesuatu yang menatapnya. Hingga akhirnya Rangga menoleh ke arah Alya, ternyata dia sedang menatapnya tajam.
Rangga melihat ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan orang yang sedang di tatap oleh Alya.
"Lu liat gua?" tanya Rangga.
"Lu pikir gua liat siapa?" tanya Alya.
"Lu kenapa liatin gua sampai kaya begitu?" tanya Rangga yang penasaran.
Alya memutar bola matanya kesal, "Ya abis lu ngapain sih main hp? Gua malah di diemin!" ucap Alya kesal.
Rangga terkekeh pelan mendengarnya. "Oh jadi lu pengen gua perhatiin? Ok, gua simpen hpnya kalau gitu!"