Jadi Sekretaris Gue?

1561 Kata
Warna pipi Alya sontak memerah, saat kini Rangga hanya memandangi Alya, dengan menopang wajahnya dengan sebelah tangan, Rangga kini terus menatap Alya. Hingga perempuan itu menjadi salah tingkah. Bola matanya terlihat bergerak ke sana ke mari, dan itu sukses membuat Rangga semakin ingin menggoda Alya. Pada akhirnya Alya tidak tahan dengan tatapan Rangga, yang terus menatapnya sambil senyum tipis. "Lu ngapain liatin gua sih Ngga?" cibir Alya. "Mata fungsinya untuk apa?" Rangga balik bertanya. Alya berdecih kesal, "Iya gua tahu kalau mata itu buat liat, tapi kan gak gua juga yang harus lu liat!" protes Alya. "Ini mata-mata siapa?" Alya mendelikkan matanya kesal, lagi-lagi sepertinya dia kalah argumen dengan Rangga. "Iye, iye itu mata lu!" cibir Alya sambil menyeruput minumannya. Sedangkan Rangga tertawa pelan "Al, lu mau tau cerita gua gak?" tanya Rangga yang langsung mengubah posisinya, dengan ke dua tangan yang terlipat di atas meja. Alya menoleh ke arah Rangga, menatapnya curiga. "Gak usah natap gua kayak gitu, lu curigaan banget sih sama gua!" kata Rangga sambil mencubit hidung Alya. "Ngga nanti hidung gua pesek tahu!" "Yang ada hidung lu tuh mancung, mana ada hidung dicubit tapi malah pesek. Kalau ditekan kayak gini baru pesek!" ucap Rangga. Alya langsung memundurkan wajahnya menjauh dari tangan Rangga, dan menepisnya. "Awasin nggak tangan lo itu! Bau upil tahu!" Rangga langsung tertawa mendengar ucapan dari Alya. "Gua baru tahu kalau upil itu bau? Berarti lu suka nyium upil sendiri ya?" "Kan upil itu di dalam hidung, teruskan kita napas ya pasti kecium lah!" Rangga langsung menghirup udara dalam-dalam, kalau dia hembuskan secara perlahan. "Berarti cuman upil doang yang bau, upil gua kagak bau kok!" Tawa Rangga, dengan tatapan meledek. "Ih, Rangga lo ngeselin banget sih ah! Udah buruan lo mau ngomong apa?" Rangga masih tertawa sambil memegang perutnya, "Aduh, kenapa gua punya temen bloon banget sih?" Alya berdecak kesal, "lu mau cerita apa kagak? Kalau kagak gua mau balik nih!" ancam Alya, sambil beranjak dari tempat duduknya. Namun segera ditahan oleh Rangga. "Iya iya gue cerita, lu sensian amat sih? Lagi datang bulan ya?" tanya Rangga. Alya menggelengkan kepalanya dan duduk kembali. "Nggak usah sotoy lu!" "Ya kan habisnya rata-rata begitu, kalau cewek lagi sensi itu lagi datang bulan!" katanya, sambil terus memegang tangan Alya agar tidak pergi. "Gua mah nggak datang bulan juga emang sensi ke lu bawaannya!" cetus Alya. Bukannya tersinggung ataupun merasa heran Rangga malah tertawa pelan melihat sikap Alya. Entah kenapa semakin Alya seperti ini kepadanya, semakin Rangga ingin menggoda Alya. "Lu gitu banget sih Al, nanti kalau gua gak ada, jamin lu bakal kangen ke gua!" cibir Rangga dengan percaya dirinya. "Gua jamin, gak bakalan! Yang ada gua bahagia, gak ada yang ganggu gua lagi!" ucap Alya sambil menjulurkan lidahnya. Rangga menaikkan sebelah alisnya, sambil memasang wajah tidak percaya. "Tapi kok gua nggak yakin ya? Kayaknya lu amnesia ya, waktu gua pergi ke London aja buat kuliah, pas gua pulang lu langsung meluk gua! Bilang Rangga gua kangen banget sama lo!" kekeh Rangga. Alya benar-benar terdiam, ia mencuatkan bibirnya ke depan, karena sejak tadi terus diledek oleh Rangga. "Berisik lu ah, udah gua mau balik aja. Males dengerin lu cerita!" Alya berusaha beranjak dari tempat duduknya dan menepis genggaman Rangga. Tapi tenaganya tidak cukup besar untuk menghalau genggaman Rangga. "Bercanda doang yaelah, lu sensian banget sih. Dengerin dulu gue mau cerita si Istia ya!" Alya langsung menoleh ke arah Rangga, mendengar nama Istia tentu saja dia ingat, waktu Rangga sangat tergila-gila kepada kakak kelasnya itu. Alya menautkan kedua alisnya, dia langsung menatap ke arah Rangga dan duduk dengan tenang. "Nah gini dong Lu jangan tantruman." "Buruan ceritain itu Istia, Kenapa lu bisa ketemu sama dia? Dia cewek yang lu gila-gilain itu kan? Apa sekarang juga masih?" tebak Alya, membuat Rangga jengkel. Rangga berdecak kesal, mendengar tutur kata Alya. "Berisik lu ah, itu dulu. Sekarang gua ogah banget sama dia, dandanan sekarang aja dia kayak tante-tante. Nanti gue disangka nikah sama janda lagi!" Alya ternganga mendengar penjelasan dari Rangga. "Maksud lo?" "Cewek yang mau dijodohin sama gua itu, si Istia! Dan lu tahu? Dia sengaja dong bikin gua nunggu setengah jam lebih kalau nggak salah, terus pas datang tanpa ada rasa bersalah gitu. Pas tahu gue cowoknya dia terima dong perjodohan itu!" Jelas Rangga panjang lebar. Alya menompang wajahnya dengan sebelah tangan. "Bagus dong kalau dia terima, Jadi lu sekarang udah nggak jomblo lagi?" Rangga mendelikan matanya kesal, "Ya kali gua terima cewek yang udah dulu nolak gua mentah-mentah. Ya gue tolak balik lah, lu pikir temen lo ini, cowok gampangan apa!" papar Rangga sambil menyugarkan rambutnya. Alya malah tertawa pelan mendengar Rangga. "Iya, iya cowok gampangan eh cowok nggak gampangan!" tawanya. "Lu kenapa malah ketawa? Emang apanya yang lucu?" tanya Rangga. Alya masih tertawa pelan sambil menutup mulutnya. Dia jadi teringat bagaimana dulu saat Rangga ditolak oleh Istia. "Nggak apa-apa gue jadi keingat aja lu ditolak sama kakak kelas lo!" kekehnya. Rangga membuang nafasnya kasar, dia memilih diam dan membiarkan Alya tertawa hingga berhenti. Melihat wajah Rangga yang terlihat bad mood, Alya pun mulai menghentikan tawanya. "Sorry, sorry, habisnya lucu banget. Terus sekarang gimana dong? Lu tetep nerima perjodohan itu, kan Istia terima!" Rangga menggelengkan kepalanya, sambil memasukkan cemilan yang ada di depan matanya. "Ogah banget gua punya istri kayak dia, mending gua punya istri kaya lo!" ucap Rangga sambil menaik turunkan alisnya. "Gua yang ogah punya suami kayak lo!" cibir Alya. Kini sebaliknya Rangga-lah yang tertawa mendengar jawaban dari Alya. "Lu kenapa sih nggak mau banget Kalau gua jadi suami lo?" "Lu pikir aja sendiri Angga, ogah banget gua jadi bini lu!" paparnya. "Alasannya? Gue kurang apa coba? Tampan iya, kaya iya, mapan iya, baik iya, royal iya, gua itu definisi cowok nyaris sempurna!" jelas Rangga. Alya menarik nafasnya dalam-dalam dan menatap lekat ke arah Rangga. 'tapi lu nggak pernah lihat gua sebagai sosok cewek, lu datang karena hanya sekedar butuh!' batinnya. "Kalah gitu Kenapa lu nggak nyari cewek lain aja sih. Di luar sana banyak loh cewek yang lebih cantik ah pokoknya segalanya deh. Apalagi kalau buat jadi pacar bayaran! Mau cewek yang kayak gimana juga lo pasti dapetin!" Rangga menggelengkan kepalanya, "nggak mau, gua cuman pengennya lo!" Ucap Rangga. "Terserah lu deh, gua mau pulang. Udah malem!" ucap Alya yang kini benar-benar beranjak dari tempat duduknya. Kini Rangga tidak mencegahnya untuk beranjak dari tempat duduknya. Dia pun ikut beranjak dan berjalan menuju kasir, untuk membayar pesanan mereka berdua. "Al tungguin gua, bayar dulu!" Mendengar permintaan Rangga, dia pun menunggu tidak jauh dari jarak Rangga membayar di kasir. Setelah membayar, Rangga segera menghampiri Alya. "Yuk kita balik, udah jam 9 juga." Rangga refleks langsung memegang tangan Alya. Alya mengedipkan matanya, melihat tangannya langsung digenggam oleh Rangga dan menariknya untuk segera keluar dari cafe. "Lu ngapain megang-megang tangan gua?" tanyanya. Rangga langsung menoleh ke arah tangannya yang menggenggam tangan Alya tanpa sadar. Namun bukannya dilepas, Rangga malah memperlihatkan giginya yang putih. "Biar lu nggak kabur, dah ayo ikut aja biarin gue megang tangan lu!" ucapnya yang terus melangkahkan kakinya. Alya hanya membuang nafas kasar, kali ini dia tidak menepis tangan Rangga. Membiarkan tangan Rangga menggenggamnya. Mereka berjalan berdampingan, di mana Rangga ikut memasukkan tangan Alya ke dalam saku jaketnya. Angin malam menerpa wajah mereka, udara saat itu tidak begitu dingin tetapi cukup sejuk. "Al..." "Apa?" "Lu mau nikah umur kapan?" Alia tidak langsung menjawab, dia menoleh ke arah Rangga menatapnya curiga. "Kenapa emangnya?" "Cuman nanya aja, nggak boleh?" Ucap Rangga sambil membalas tatapannya. "Boleh aja sih, cuman gue suka Jadi curiga kalau lu udah nanya kayak begitu. Otak gua langsung mikir pasti ke sana lagi!" paparnya. Rangga terkekeh pelan, kepalanya sedikit menunduk, namun pandangannya lurus ke depan. Terdengar dia menghela nafasnya pelan, seolah beban hidupnya begitu berat. "Lu kenapa?" tanya Alya, yang melihat perubahan sikap dari Rangga. "Nggak apa-apa, gue kayak capek aja. Pengen banget gua pindah dari sini," jelasnya. Alya mengerutkan keningnya, "emang masalah lo berat banget ya kayaknya?" Rangga membuang nafasnya kasar, dia menatap sebentar ke arah langit-langit. Genggamannya begitu erat di tangan Alya. Perempuan itu bisa merasakan, genggaman Rangga yang seperti menyembunyikan sesuatu. Tatapannya pun berubah menjadi sayu, malah ingin dia mengungkapkan semua beban yang ada di dalam pikirannya. "Lu kenapa sih Angga? Kok tiba-tiba melow gini sih?" tanyanya. "Gua nggak apa-apa, cuman kata gue juga lagi capek aja. Pengen liburan, kita liburan bareng yuk?" Alya menautkan kedua alisnya, "gua nggak bisa segampang itu liburan kayak lo. Kayaknya lo lupa kalau gua ini cuman karyawan biasa, emangnya lu pewaris. Gua mah perintis!" cibir Alya. Rangga tertawa pelan, "Makanya kalau gitu lu pindah kerjanya di kantor gua. Jadi sekretaris gua aja gimana mau? Biar kita bisa liburan bareng sekalian, kalau ada kerjaan ke luar kota atau ke luar negeri," tawar Rangga. Alya langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak ah, gua nggak mau dijadiin gosip. Lu tau sendiri kan kayak gimana, kalau jadi sekretaris itu!" Rangga menghentikan langkahnya di dekat rumah Alya. Ia merubah posisi tubuhnya menghadap Alya, ini mereka saling berhadapan. "Lu kenapa sih mikirin banget omongan orang? Hidup lu itu udah terlalu capek Al, nggak seharusnya lu mikirin omongan mereka. Lu cukup ikutin kata hati lo dan otak lo. Gak usah dengerin kata orang lain, tutup telinga lo!" Rangga mengeluarkan tangannya, dari saku jaketnya dan memegang kedua telinga Alya. "Kaya gini!" Saat Rangga dan juga Alya sedang berdiri saling berhadapan. Di sisi lain ada seorang pria yang memakai kemeja hitam berdiri melihat ke arah mereka berdua. "Alya..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN