bc

Peter Pan Vs Cinderella

book_age18+
24
IKUTI
1K
BACA
billionaire
spy/agent
love after marriage
arrogant
dominant
scandal
CEO
drama
illness
slice of life
like
intro-logo
Uraian

Edgar Mahesa merupakan presiden direktur dari Enhygene Group pengidap sindrom peter pan yang akan menikah diusianya yang ketiga puluh tahun. Akan tetapi sayangnya, sang calon istri harus meninggal dalam sebuah kecelakaan pesawat. Hingga suatu ketika ia bertemu dengan Are, yang memiliki sindrom serupa dengannya. Karena desakan keluarga yang memintanya menikah, Edgar pun memutuskan menikahi Are. Tanpa ia ketahui kalau Are adalah orang suruhan dari pesaing bisnisnya.

Lalu apakah yang akan terjadi, ketika keduanya telah saling jatuh cinta?

chap-preview
Pratinjau gratis
Satu
Seorang pria berkepala tiga, tampak melenggang memasuki sebuah lift dengan setelan jas kantor yang terlihat mahal. Rahang tegas serta rambut-rambut halus akibat kumis dan jenggot yang mulai tumbuh menambah kesan seksi pada pria itu. Tatapan setajam elang yang ia miliki mampu membuat siapa pun merinding karenannya. Aura yang dikuarkan pria itu sungguh bukan main, membuat seorang wanita asing yang berada dalam satu kotak besi besi bersamanya merasa ketar-ketir sendiri. Apa lagi ditambah fakta bahwa pria itu adalah salah satu pewaris tunggal Enhygene Grup. Edgar Mahesa. Siapa pula yang tidak mengenal lelaki penuh wibawa itu. Wajah tampannya itu seringkali muncul di siaran-siaran tv, yang memberitakan tentang betapa gemilangnya prestasinya sebagai penerus bisnis keluarga Mahesa, disertai pula dengan pujian-pujian perihal paras rupawan yang laki-laki itu miliki. Bahkan, banyak sekali perempuan di luar sana yang berharap menjadi pasangan laki-laki itu. Karena bagi mereka itu merupakan sebuah rejeki nomplok. Tidak terkecuali dengan wanita itu. Sehingga diam-diam ia mengeluarkan kamera ponselnya untuk merekam momen itu. Berpikiran bahwa dirinya pasti seketika bisa viral, dan akan ada banyak perempuan yang iri padanya, serta ingin berada di posisi yang sama dengannya yaitu satu lift dengan sang pangeran idaman seluruh kaum hawa. Sekian sekon kemudian, lift tersebut berhenti di lantai enam, lantai tujuan Edgar. Akan tetapi ia tak langsung ke luar dari kotak besi pengap itu. Alih-alih ia membalik badan, dan menatap datar wanita asing berdiri di pojokan. Sementara si wanita sontak dibikin terdiam bagai patung, tak mengira Edgar akan menatapnya sedemikian dingin. “Saya paling nggak suka kalau ada orang yang mengusik privasi saya.” Sebelah kaki berbalut sepatu pantofel mengilap Edgar mundur, mencegah agar pintu lift tak tertutup. “Jadi tolong hapus foto itu selagi saya minta dengan cara baik-baik. Kamu nggak akan mau bayangin apa yang bisa saya lakuin cuma karena foto itu kan?” Wanita asing itu tergugu, kepalanya menunduk tak mampu menatap sosok pria jangkung di hadapannya. Setelah berkata demikian, Edgar lantas pergi dari sana, tanpa mau repot memastikan apakah wanita itu sudah benar-benar menghapus foto tersebut. Lagi pula mudah saja bagi Edgar, kalau sampai fotonya itu tersebar di media masa, Edgar cukup tahu siapa yang harus dia cari. Dan itu adalah hal yang mudah baginya. Sedangkan wanita tadi buru-buru menghapus hasil potretan yang ia ambil, dengan tangan yang masih gemetar ngeri akan suara berat yang laki-laki itu gaunkan. Wanita itu tak menyangka kalau Edgar mengetahui aksi diam-diamnya itu. Sungguh tak menyangka pula kalau sosok Edgar yang selama ini tampak ramah dan menyenangkan di televisi, bisa menjadi sosok yang semenyeramkan itu. Sementara Edgar terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang sepi nan sunyi. Sampai-sampai suara ketukan sepatu pantofelnya terdengar nyaring. Ia kemudian menghentikkan langkah di depan sebuah pintu yang berada paling pojok. Tanpa berpikir panjang, segera memasukan pin, dan pintu itu pun terbuka. Kedua kelopak mata laki-laki itu kontan terpejam begitu aroma rempah-rempah yang menggiurkan serta menggugah selera, memenuhi rongga hidung. Aroma itu menuntunnya menuju area dapur apartemen. Akan tetapi pada langkahnya yang ketiga, sebuah panci nyaris mendarat di atas kepalanya, andai kata Edgar tidak mempunyai refleks yang bagus. Si pelaku tampak membulatkan mata, melepaskan genggaman pada gagang panci, sehingga sekarang Edgar yang membawa panci itu. “Edgar? Kamu ngapain di sini? Nggak ada bilang-bilang. Aku kira kamu tadi maling, tahu. Untung aja aku tadi nggak ngambil tongkat baseball. Coba bayangin kalau aku make itu? Pulang-pulang kamu berkepala dua.” Edgar mengulas senyum lebar. Mendekati wanita berpostur tubuh jauh lebih mungil itu darinya. Lantas tanpa aba-aba menenggelamkan wanita itu pada pelukannya. “Udah ngomelnya? Aku kan mau ngasih kejutan. Jadi, aku berhasil dong nih ya?” Perempuan itu mendengkus sebal. Wajahnya memberengut. Namun kedua tangannya bergerak membalas dekapan itu. “Hum. Tapi, tetep aja, kamu ngapain sih ke sini. Gimana kalau ada yang sampe ngeliat kamu? Nanti malah ada berita yang aneh-aneh lagi.” Tidak ada yang salah ketika perempuan itu berkata demikian. Sebab, setiap kali mereka ingin bertemu atau menghabiskan waktu berdua, mereka akan berjanji di suatu tempat. Yang pastinya tempat itu bukan apartemennya atau pun rumah si lelaki. Lantaran si perempuan tak ingin hubungan mereka sampai terendus publik. Edgar melepas dekapannya, menatap ke dalam manik bambi di hadapannya. Karena perbedaan tinggi yang jauh, Edgar harus menundukkan kepala, sementara si perempuan mendongak. “Kamu lupa aku siapa? Aku Edgar Mahesa, sayang. Mengurus berita-berita seperti itu, masalah kecil bagiku.” “Iya-iya, Tuan Muda Edgar Mahesa.” Perempuan itu cemberut lagi. “Tapi seenggaknya kamu kabarin aku dong. Supaya seenggaknya aku bisa siap-siap dikit. Lihat sekarang. Aku dekil gini, sementara kamu rapi banget make jas begini.” Edgar mengedikkan bahu tak peduli. “Dekil-dekil gini, kamu juga tetep cantik, kok. Aku make jas, ya karena habis dari kantor langsung meluncur ke sini nyari ratuku. Nggak sempet ganti pakaian, di mobil juga nggak ada baju ganti tadi.” Perempuan itu mencebikan bibir, lalu mencubit gemas perut kotak-kotak laki-laki di hadapannya. Hanya sekejap, karena detik berikutnya mimik mukanya berubah jadi panik ketika indra penciumannya dijumpai aroma gosong. Perempuan yang mengenakan apron merah muda itu menepuk keningnya. “Asataga! Masakanku!” Buru-buru lantas ia berlari menuju dapur, dan mendapati ayam pedas manis buatannya sudah berasap dan hitam-hitam. Gosong. Edgar mengikuti dengan santai. Terkekeh kecil mendapati masakan perempuan itu gosong. Si perempuan yang melihat itu sontak mendelik jengkel. “Nggak usah senyum-senyum begitu. Ini itu gara-gara kamu, tahu. Masakanku jadi gosong, mana bisa dimakan kalau gini. Jadi mubazir, kan.” Edgar justru semakin melebarkan senyumannya, sampai menunjukkan deretan giginya yang rapi. Entah mengapa, menggoda salah satu perempuan yang berarti di hidupnya itu sudah menjadi hobi tersendiri baginya. Ekspresi kala Edgar menggoda kekasihnya itu adalah candu yang tidak akan bisa membuat Edgar bosan, meski pun telah tiga tahun berlalu usia hubungan mereka. Yuranya, selalu semenggemaskan itu. “Baby,” panggil Edgar. Yang dipanggil mendengkus. “Nggak usah baby-baby.” “Aku gerah pakai pakaian beginian. Aku mau ganti baju dulu. Tapi karena di sini nggak ada bajuku, aku pinjem punyamu dulu, ya.” “Edgar, kamu nggak usah aneh-aneh deh. Edgar mau ke mana kamu?” teriak Yura begitu melihat laki-laki itu justru beranjak menjauh. “Ke kamarmu lah. Yang ini kamarmu, kan? Aku masuk, ya? Pinjem baju.” Tanpa mendapat izin dari si perempuan, Edgar masuk begitu saja. Lantas buru-buru menutup pintu. Mencegah agar Yura tak ikut masuk. “Edgar! Ih! Kamu nyebelin!” “Aku tahu. Aku sayang kamu juga, baby.” Yura tak menyahut lagi. Ia cuma menghela napas. Kemudian tatapannya jatuh pada sebuah berkas yang teronggok di atas meja tak jauh dari tempatnya berdiri. Entah bagaimana caranya ia harus mengatakan sesuatu mengenai berkas itu pada Edgar. Satu yang ia tahu, bahwa Edgar pasti tak akan menyukainya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook