Suasana pagi menjelang siang hari ini terasa berbeda. Awan mendung terlihat membumbung namun, sepertinya tidak kunjung turun hujan. Hawa panas membakar setiap orang yang ada di bawah. Gerah juga haus
Angin yang berhembus pun terasa panas. Sesekali terasa sejuk namun tidak lama berhembus angin cenderung kering
Jaka baru saja sampai di ruangannya. Rio yang sudah sedari tadi langsung menyusul Jaka masuk
"Dari mana aja lu Jak?" tanya Rio sambil meletakkan beberapa dokumen di sana
"Ada lah, ada apa? Pertemuan sama Mr. amverick kan masih nanti?" jawab Jaka langsung sambil membuka beberapa dokumen dan membacanya
"Ya gak apa, tuh dokumen yang lu minta kemarin. Ada yang harus segera dapet tanda tangan elu" jawab Rio sambil duduk di depan meja
Jaka tidak menjawab ia fokus melihat dokumen yang baru diantar.
"Lu baca ada dulu, kalau udah bilang aja"
"Hn"
"Oh iya Jak, kemarin adek gue nanya sesuatu sama gue"
Jaka langsung menatap Rio dang mengacuhkan dokumen di depannya. Jaka menaikkan satu alisnya bertanya
"Jadi ya waktu kejadian kemarin dia tanya, kok bisa kebetulan gue dateng dan sebelumnya Dokter Ifan juga. Waktunya terlalu pas aja"
"Trus lu jawab apa?"
"Yah gue bilang aja kebetulan mau ngambil berkas penting sekalian beli makan, baru inget pemadaman listrik jam segitu dan elu teriak"
Jaka menganggukkan kepalanya dan kembali fokus dengan dokumennya
"Habis gitu dia diem dan pergi"
"Ya udah lah gue balik ke depan" tambah Rio berbalik pergi
Jaka hanya diam dan kembali menekuri laporan dimejanya
Beberapa saat Jaka fokus dengan laporan namun, sekilas ingatannya membawa ia saat terjebak di lift dengan Nana kemarin malam
Wajahnya yang kemas juga tidak berdaya membuat hati Jaka sakit. Rasanya ia hampir meledakkan lift itu. Tapi, apa daya kekuatannya masih belum pulih benar
Tapi, anehnya setiap dekat dengan Nana ia seperti tidak kehilangan energi dalam tubuhnya. Pemulihan dirinya saat di rumah sakit beberapa waktu lalu juga cukup cepat meski tidak sselenuhny
Kemarin saat ia bertemu Ifan, dia malah berpikir sepupunya ini menekan dirinya. Ah entahlah
Ketukan di pintu membuat Jaka mendongak sebentar dan menyahut
"Masuk"
Tak lama pintu tersebut terbuka, Rio masuk bersama dengan beberapa orang
"Pak Jaka, ini ada beberapa ketua divisi" ucap Rio sopan
Jaka mendongak dan melihat ketua divisi dari perusahaannya
"Silakan duduk" ujar Jaka sambil beranjak dan mempersilakan duduk di sofa depan mejanya
Jaka memberikan kode pada Rio untuk segera keluar. Rio mengerti dan pergi keluar kembali ke mejanya
Jaka berdiri dan berjalan mendekat. Duduk di salah satu single sofa. Menatap mereka sebentar
"Selamat siang semua" sapa Jaka
"Siang Pak"
"Sebelum saya mulai, untuk Pak Rudi dari divisi pengembangan, tolong izinkan Nana tidak masuk hari ini" ucap Jaka
Rudi hanya mengangguk "Baik Pak"
"Lalu, saya ingin evaluasi tiap divisi. Silakan presentasikan" ucap Jaka sambil bersandar
"Maaf Pak, tapi kami belum membawa berkas pendukungnya" ucap salah satu dari mereka
"Oh tidak masalah. Kalian langsung saja, pasti tau apa saja yang sedang dan sudah dikerjakan divisi kalian masing-masing. Terutama menjelang peluncuran game terbaru kita" jawab Jaka sedikit panjang
Jaka bisa melihat beberapa wajah terlihat tenang ada juga yang seperti kebingungan
"Silakan bisa di mulai"
Salah satu orang berdiri "Baik, saya dari divisi pemasaran"
Jaka menganggukkan kepalanya. Ia sudah tau bahkan membaca laporannya tapi ia ingin tahu bagaimana mereka memaparkan hasil kerja masing-masing.
Tiba saatnya ketua divisi pengembangan. Jaka tersenyum miring
"Saya dari divisi pengembangan"
"Di sini saya ingin memaparkan progres perkembangan hasil akhirnya. Sebenarnya sudah kirimkan hasil akhirnya namun, ada koreksi untuk di perbaiki"
"Bagaimana perbaikannya? Saya belum menerima sejak kemarin" ucap Jaka di sela-sela
"Masih dalam pengerjaan pak"
Jaka hanya diam. "Lalu, sampai kapan pengerjaannya? Pak Alex dari pemasaran dan Pak Eric dari penjualan, kalau hari ini belum selesai hasil akhir desainnya. Apakah bisa di undur untuk peluncurannya?" tanya Jaka
"Tidak bisa Pak" jawab Eric langsung
"Namun pengerjaannya belum selesai dari divisi pengembangan?"
"Kami usahakan nanti sebelum jam pulang kerja bisa selesai Pak Jaka" sela Rudi
Jaka menatap Rudi sebentar dan tersenyum miring. "Baiklah kita tunggu"
"Baik rapat selesai. Terimakasih semua" ucap Jaka mengakhiri
"Baik pak, kami permisi"
. . . .
"Jak, kurang greget lu" komen Rio
Mereka tengah makan siang di sekitar kantor mereka
"Hn"
"Tapi, tadi gue udah lihat wajah-wajah lega sama resah. Terutama si Rudi. Gila bisa buat keok orang kayak gitu lu Jak"
"Perlu di kasih pelajaran sih tu orang. Bisa-bisanha hampir ngejual hasil akhir projek kita" inbuh Rio sambil menyuapkan sesemdok makanannya
"Makan aja sih Yo"
Rio mendengus dan melanjutkan aksi makannya
"Oh Jak gue baru inget, kemarin lu tanya soal Nana sama Raffa kan?! Mereka tuh satu sekolah dulu, trus Raffa pernah di tolong sama Nana. Gue lupa nanyainnya"
Jaka hanya diam mendengarkan Rio bercerita sedari tadi.
Ia seperti menikmati makan siangnya namun, pikirannya lebih pada seseorang yang ia semakin penasaran
"Jak!?"
"Oii nglamun apaan lu??" panggil Rio yang melihat Jaka menatap satu titik sedari tadi
Jaka menatap sekilas Rio, menyelesaikan makannya dan beranjak pergi
Rio yang melihat Jaka menyudahi makannya segera menyelesaikan porsi makannya dan beranjak pergi
Melihat penjual es krim keliling Jaka menghampirinya
"Lah ngapain tuh bocah??!" gumam Rio yang hendak menghampiri Jaka
"Pak satu ya bungkus" ucap Jaka yang di dengar Rio
"Saya juga pak, pakai roti ya" timpal Rio
Jaka melirik Rio yang sudah berdiri di sampingnya
"Siap, di tunggu"
Jaka memperhatikan sekitar. Matanya tidak sengaja melihat aura yang keluar dari tiap orang yang ada. Bahkan suara pikiran mereka terdengar.
"Berisik!!" gumam kesal Jaka terdengar si bapak penjual dan Rio
"Ha? Apaan lu Jak"
Jaka hanya menggelengkan kepalanya pelan. Bapak penjual menyerahkan es krim pesanan Jaka kemudian Rio
"Gak usah Bang"
Rio mengkerutkan keningnya. "Loh Pak kami kan beli"
"Udah di bayar sama Pak Jaka" ujar bapaknya tersenyum kecil dan segera mendorong gerobaknya
Rio melihat Jaka yang sudah jauh berjalan sampai masuk ke lobi kantor.
"Cepet banget tuh kaki!" ucap Rio mencoba menyusul Jaka
Sampai di lobi, Rio melihat Jaka duduk di sofa lobi. Rio menghampiri Jaka duduk di sana
"Kenapa lu Jak?" tanya Rio mengawali
Menatap ke depan Jaka melihat lalu lalang beberapa karyawannya juga orang lain.
"Gak ada" jawab Jaka singkat
Jaka memakan es krim dengan santai. Rio mengkerutkan keningnya
Ada yang salah nih sama temennya satu ini
Mereka duduk santai mengawasi sekitar. Tak lama seseorang datang sambil mengobrol seru.
Jaka tersenyum miring. Rio melihat orang yang datang tersebut melebarkan kelopak matanya
"Gue paham maksud lu Jak"
Mereka berdua duduk santai tanpa mereka sadari.
"Hampir ketahuan gue tadi, gimana kapan duitnya di transfer? Gue langsung kirim proposalnya nanti"
Rio tercengang. Jaka hanya diam dan asyik dengan es krimnya
"Gampang, atur aja. Buruan sini gue ada kerjaan lagi"
Jaka tersenyum kecil. Menghabiskan es kirimnya dan membuangnya ke tempat sampah bungkusnya.
Beranjak berdiri dan berjalan melenggang dengan santai.
Rudi juga orang tersebut kaget dengan kedatangan Jaka namun ia hanya berjalan santai
Rio berjalan setelahnya. Dia diam dan melirik mereka berdua saat berjalan melewati mereka
Jaka tersenyum miring melihat keduanya dan pintu lift tertutup.
Rudi langsung panik. "Gawat!" ucapnya dengan raut ketakutan
"Ngapa lu?! Buruan elu mau duit gak??"
"Gue hubungin lagi elu, dah pergi aja sana dulu" ucap Rudi yang terburu naik ke lift satunya
"Apaan sih?!"
Orang tersebut pergi dengan marah. Hampir saja ia bisa mendapatkan proyek tersebut.
Sedangkan itu Jaka juga Rio sudah sampai di ruangan dengan santai
"Gila!! Ternyata elu mau nonton drama. Tau gitu gue beli cemilan yang lain tadi" komen Rio sambil duduk di kursi depan meja Jaka
"Eh Jak gimana sama si Rudi itu??" tanya Rio
"Lihat aja nanti"
Jaka kembali sibuk dengan file di mejanya. Pertemuannya dengan Maverick di undur nanti malam.
"Ntar elu sendiri atau gue kudu ikut?" tanya Rio setelah ingat pertemuan dengan pihak Amerika
"Gue sendiri aja. Elu urus dia" ucap Jaka dengan nada santai
Rio menganggukkan kepalanya paham.
"Gue balik aja deh. Ada berkas lagi"
Rio beranjak berdiri dan pergi keluar ruangan
. . . .
Malam menggantikan siang, matahari mulai berganti menyinar bagiani bumi yang lain
Hawanya masih terasa panas cenderung gerah. Kesejukkan angin malam perlahan terasa menginjak pukul tujuh malam
Jaka sudah duduk di salah satu meja private di dalam ruangan. Mulanya ia akan memesan di warung dekat rumahnya tapi, karena Rio yang sudah memesankan meja di salah satu restoran ini mau tidak mau ia akhirnya kemari
"Sorry Jak gue telat"
Jaka menoleh dan mendapati Alex Maverick di sana. Baru datang bersama denganapelayan yang menanyakan penyajian makanannya
"Ya, makanannya sekarang" jawab Jaka mengiyakan
Pelayan tersebut keluar.
"Gimana Jak? Udah tau kan?"
"Sudah"
"Lu eksekusi kayak biasanya gak?" tanya Alex penasaran
"Males gue. Masih gue pantau buat jebak tuh orang" ucap Jaka sedikit malas
"Seru nih kayaknya" komen Alex sambil tersenyum miring
Jaka tidak berkomentar lagi
"Oh gue baru inget, progresnya udah gue terima udah gue baca juga. Gue puas hasilnya"
"Oke, peluncurannya elu dateng gak?"
"Gue harus balik besok. Kemarin aja dadakan. Ntar gue kabari"
Tak lama pelayan kembali masuk dengan troli berisi makanan
Satu persatu poring berisi makanan di letakkan di depan Jaka juga Alex
"Lu pesen banyak Jak?!" komen Alex melihat lumayan banyak makanan yang di sajikan
Pelayan tersebut keluar. Jaka hanya menggelengkan kepalanya kecil
"Kerjaan temen gue nih" ucap Jaka
"Biasanya lu ngajak gue di warung tenda. Makanya gue pakek kaos gini eh sama pelayan depan suruh ganti ya udah gue ngambil jas"
"Sama Lex. Udah makan aja"
Mereka berdua makan dengan lahap. Sesekali Alex bertanya dan di jawab Jaka.
"Besok balik jam berapa lu?" tanya Jaka ketika mereka selesai menyantap makanannya
"Pagi, penerbangan pertama"
"Oh"
"Eh Jak gue boleh minta tolong gak sama elu"
Jaka menatap Alex.
"Apa?!"