"Yang, adik tingkat kamu tadi..?" "Nana maksud kamu?" koreksi Ve "Iya" "Kenapa?" "Punya trauma ya dia?" "Mas Wira tau?" "Nebak aja sih, bener ya?" tanya Wira "Iya Mas, dulu dia pernah cerita sama aku. Tapi, dia itu berbakat Mas makanya aku pengen rekrut dia" Wira tersenyum dan mengusak rambut Ve pelan, "Semoga dia mau" "Pasti dong" ucap Ve optimis Wira tersenyum melihat istri kecilnya yang ceria dan optimis selalu, di tambah ia dengan sabar dan telaten menjaga putra mereka di kursi belakang. Sedangkan itu, Nana berjalan cepat menuju kantor, jam sudah menunjukkan pukul satu lebih. Bahkan teleponnya terus berdering heboh. Nana berlari terburu masuk ke lobi, baru saja ia berbelok menuju tangga sebuah tangan menariknya. "Saya temani naik lift" Nana yang kaget langsung menoleh, "P

