Pertemuan Pertama
"Sudah kamu pikirkan kembali, 'kan, Van?" Yonas menatap putranya itu dengan lekat.
Suara dentingan sendok yang tengah beradu di piring seketika langsung berhenti. Revan menoleh, membalas tatapan Yonas, namun tanpa bicara sepatah kata pun.
Inna yang merasakan keheningan, akhirnya ikut membuka suara. "Kenapa harus buru-buru sih, Pa? Lagian, Revan juga pasti butuh waktu buat mikirin ini semua," katanya. Berusaha membela sang anak yang sedari tadi hanya diam saja.
Yonas menghela napas berat. “Bagaimanapun juga, Revan sudah rehat terlalu lama, Ma. Sudah saatnya dia kembali bekerja."
Yonas kembali menatap putranya itu dan berkata, "Revan, Papa cuma mau kamu kembali bertugas di unit VVIP rumah sakit keluarga kita. Cuma kamu seorang saja keturunan di keluarga ini dan Papa berharap kamu bisa mengembangkan rumah sakit kita ini."
Ada harapan besar yang muncul di dalam hati Yonas. Dia berharap putranya itu bisa memenuhi keinginan keluarga yang memang sedari dulu sudah tercipta.
Revan terdiam, sungguh dia bimbang. Ada puzzle ingatan yang enggan sekali diulang. Trauma masa lalu, membuat Revan jadi berpikir berkali-kali untuk kembali bertugas.
Walau di dalam hati kecilnya, Revan juga ingin memenuhi harapan Yonas, sebagaimana janjinya dulu.
“Belum tahu, Pa," jawabnya singkat.
Jawaban Revan tadi tidak memuaskan Yonas. Pria setengah baya itu tampak mengerutkan keningnya, “Mau sampai kapan kamu terus aja berkutat sama ketakutan di masa lalu?”
Revan yang mendengar pertanyaan ayahnya itu, seketika langsung menatap Yonas.
“Sudah cukup rasanya, Van. Sekarang sudah saatnya bagi kamu buat kembali,” tambah Yonas.
Mendengar itu, Revan memilih diam. Sungguh, memangnya siapa yang mau terus-terusan dihantui oleh trauma masa lalu?
Revan juga tidak mau. Dia ingin menghentikan semua bayang-bayang itu dan kembali menjalani kehidupan serta kewajibannya seperti dulu.
Sebuah tepukan hangat mendarat di pundak Revan, Inna berusaha menguatkan putranya itu sambil tersenyum dan berkata, “Papa benar, Van. Mama juga berharap kamu bisa segera kembali bertugas. Kami berdua bukannya mau memaksa, tapi ini juga demi masa depan kamu sendiri.”
Revan terdiam sejenak, benar perkataan ibunya itu.
Jika Revan terus saja diam karena dihantui oleh rasa trauma, maka dia pasti akan terus menetap di zona yang dipenuhi dengan rasa takut. Demi mimpinya dan juga keluarganya, Revan harus melangkah walaupun diawali dengan paksaan.
***
Sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang. Revan yang tengah mengemudi, tampak cemas.
Bagaimanapun juga ini adalah hari pertama ia kembali bekerja di unit VVIP. Ada perasaan gelisah dan juga kalut yang muncul di dalam hatinya.
Walaupun berkali-kali Revan sudah mencoba untuk meyakinkan diri bahwa pilihannya itu tepat.
Kaki Revan menekan rem perlahan ketika matanya itu menangkap kerumunan di depan. Dia mengerutkan kening karena merasa heran. "Ada apa di depan? Kok macet, sih?" gumamnya bingung.
Suara klakson yang dibunyikan oleh beberapa kendaraan kini juga terdengar mengiringi kerumunan yang ada di depan sana.
Revan melirik ke arah arloji yang melingkar tepat di pergelangan tangannya, ini masih cukup pagi dan rasanya aneh jika sudah macet, kecuali memang ada sesuatu yang mendadak.
Revan menurunkan kaca mobilnya, dia melirik ke arah seorang tukang parkir yang baru saja keluar dari kerumunan.
"Pak! Di depan ada apa, ya? Kok macet?"
Mendengar pertanyaan Revan, tukang parkir itu pun segera berhenti melangkah. Napasnya naik turun tak menentu dengan peluh yang mengalir di pelipisnya.
"Ada kecelakaan, Pak. Plang di pinggir jalan sana jatuh, pas banget jatuhnya menimpa ke anak kecil yang mau nyebrang," jelasnya.
Revan terhenyak, ada sekelebat bayangan tentang peristiwa itu. Hanya dengan membayangkannya saja, Revan jadi merinding.
Tentu saja ini bukan kecelakaan kecil. Hati Revan mulai tergerak, dia segera menepikan mobilnya di area terdekat. Lalu turun dengan tergesa-gesa, dia harus turun tangan.
Setelah Revan mendekat ke kerumunan, dia kini bisa melihat seorang anak kecil tengah terbaring di tepi jalan dengan keadaan ditimpa sebuah tiang.
Anak kecil itu terlihat meringis kesakitan, dia berusaha meminta tolong. Tapi tentu saja tidak sembarang orang mau untuk mendekat karena bisa saja menambah masalah.
"Telepon ambulance!" Seorang wanita yang berada tepat di samping anak kecil itu berteriak dengan raut wajah dipenuhi air mata, dia adalah ibu kandungnya.
Sebagai seorang ibu tentunya dia merasa sangat ketakutan ketika melihat putranya terluka.
Revan meremas tangannya perlahan, dia meminta celah supaya bisa mendekat. “Permisi, tolong beri jalan! Saya ingin membantu korban,” pintanya.
Beberapa orang seketika langsung membuka kerumunan, membiarkan Revan mendekat.
Revan berjongkok tepat di dekat anak kecil itu. “Napasnya masih teratur, kita sekarang harus mengangkat plang besi ini dulu. Tapi hati-hati karena kemungkinan besar tulang bagian kakinya retak, bahkan bisa saja patah.”
Sang ibu mengangguk pelan sambil mengusap air matanya. “Apa yang harus saya lakukan? Tolong, tolong selamatkan anak saya,” lirihnya.
Sebelum Revan bisa bicara, tiba-tiba saja seorang wanita ikut berjongkok di sampingnya. wanita itu tanpa banyak bicara langsung membuka tasnya. Tapi sedetik kemudian, dia berbalik menatap sengit Revan.
“Bisa minggir? Posisimu membuatku sulit membantu.”
Hah?
Revan hampir melongo dibuatnya. wanita ini tiba-tiba saja datang, lalu kini tanpa malu mengusirnya. Namun, Revan memilih untuk diam. Sebab wanita yang bersikap sembrono ini telah menunjukkan kemampuannya.
Wanita itu mengeluarkan peralatan pertolongan pertama yang dibutuhkan. Dia membalut kaki anak kecil tadi dengan hati-hati dan membantunya untuk tetap tenang, supaya patah kakinya tidak semakin parah.
Pandangan Revan tidak beralih sedari tadi. Tingkah wanita itu membuatnya jadi tertarik.
Ini pertama kalinya bagi Revan melihat seseorang bertindak dengan cepat, namun tetap berhati-hati. Ketelitian wanita itu membuatnya tertarik. Diam-diam, ada perasaan menggelitik yang muncul di dalam hati Revan.