Part 4

1141 Kata
Derap langkah kaki yang terdengar buru-buru menggema mengisi kedamaian yang ada di dalam rumah minimalis itu. Gadis dengan seragam yang kusut serta rambut acak-acakan berlari keluar dari kamarnya menuju ruang makan di mana ayah, ibu dan kakak kembarnya sedang menyantap sarapan pagi dengan tenang. Napasnya terengah-engah sementara ransel yang dari tadi di sampirkan di bahu kanannya ia lemparkan begitu saja di atas kursi kosong. "Mamah kenapa nggak bangunin aku, sih?" tanyanya lantang. Dengan bibir cemberut ia duduk di samping kakaknya yang tersenyum puas melihat penampilannya yang kacau. Perempuan paruh baya yang sedang asyik menyendokkan nasi ke dalam piring suaminya menoleh dengan kening berkerut. "Mamah sudah berulang kali bangunin kamu, tapi kamunya aja yang nggak bisa dibangunin." "Tapi mamah seharusnya mencoba terus sampai Vina bangun. Mamah 'kan tahu sendiri Vina nggak bisa dibangunin kalau cuma dipanggil sekali atau dua kali." Masih dengan bibir cemberutnya, Vina menyantap sarapan di depannya yang sudah terlebih dahulu disiapkan oleh ibunya. Sambil sesekali ia masih membenahi penampilannya yang berantakan akibat terburu-buru. Beruntung ia masih sempat mandi, hanya lupa untuk menyisir rambutnya dan memakai riasan sedikit. Wajahnya saat ini benar-benar polos tanpa polesan bedak sedikit pun. "Eh, bocah. Kamu itu mau dibangunin pakai toa masjid pun nggak bakalan bisa bangun. Makanya kalau tidur itu jangan kayak orang nggak bernyawa." Vina mendelik kesal. Matanya melotot menatap kakaknya yang tidak berhenti tertawa. "Eh, kalau ngomong jangan sembarangan, ya. Aku itu tidur kayak putri tidur, makanya butuh pangeran tampan yang memberiku ciuman cinta sejati dulu baru bisa bangun." Alvin mengambil selembar roti tawar dan memasukkannya ke dalam mulut Vina yang terbuka. Ia tertawa puas melihat wajah murka adik kembarnya yang selalu sukses membuatnya terhibur. "Makan tuh ciuman dari roti." Vina meletakkan roti yang sudah dia makan sedikit itu dengan bantingan yang cukup keras di atas meja. "Alvin! Dasar kakak nggak tahu diri! Senang banget bikin aku kesal!" Tangannya sudah bersiap untuk memukul Alvin dengan penuh cinta, namun sayang suara deheman lembut dari arah depannya membuat gerakannya terhenti. Ia menatap ayahnya yang menatap tajam pada keduanya. Nyalinya seketika menciut. Ayahnya memang terkenal humoris, namun saat serius seperti saat ini kucing tetangga pun bakalan lari ketakutan. "Sudah selesai berantemnya?" Danar menatap dua buah hatinya yang terdiam di depannya, sementara Shafira hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak kembarnya yang memang selalu melewati hari-hari dengan bertengkar. Ia berdehem sekadar mencairkan suasana. "Cepat makan dan berangkat sekolah. Nggak baik berantem depan makanan. Pamali." Melihat ayahnya yang kembali fokus menyantap makannya,Vina melirik sebentar pada Alvin masih dengan rasa kesal yang besar. Matanya melotot saat kakak kembarnya itu balik menatapnya dengan seringaian. Dengan gerakan bibir tanpa suara ia mengancam, "awas saja kau nanti." Sementara yang diancam hanya mengangkat bahunya tak acuh. Seolah-olah ancaman dari Vina sama sekali tak mengganggunya. ****** "Semalam kamu tidur jam berapa sampai mukamu kusut begitu, Na?" Bayu yang baru saja masuk ke dalam kelas menghampiri Vina yang sedang cemberut dengan tangan menopang dagu. Lingkaran hitam di sekitar matanya menunjukkan bahwa ia benar-benar kurang tidur ditambah lagi Mood-nya sedang buruk gara-gara kekesalannya belum terlampiaskan pada kakaknya dan wajahnya semakin kusut saat mendengar pertanyaan bernada ejekan yang dilontarkan Bayu padanya. Sementara di depannya ada Alvin dan Adit yang sudah asyik dengan ponsel di tangan mereka. Tipikal anak laki-laki pada umunya yang tak bisa lepas dari game. "Nggak usah ditanya. Tuh mukanya udah kusut jangan dibikin kusut lagi. Setrika di rumah lagi rusak nggak bisa dipakai." Dengan berakhirnya ucapan Alvin, satu pukulan sayang mengenai lengannya. Ia mengaduh tanpa suara sambil mengusap lengannya yang terasa perih. "Sembarangan! Memangnya mukaku ini baju pakai disetrika segala?" "Memangnya bukan?" Kembali Vina memberikan pukulan sayang pada Alvin, namun kali ini pemuda itu berhasil menghindar hingga yang menjadi korban adalah Adit yang asyik bermain game di samping pemuda itu. Pemuda itu refleks memegang bahunya yang terkena pukulan sedangkan wajahnya penuh tanda tanya. "Sorry, Dit. Nggak sengaja. Aku niatnya mau mukulin si Alvin kakakku tersayang yang laknat itu tapi malah kamu yang kena." Vina menyengir. Tangannya membentuk lambang damai. "Sorry, ya." Adit hanya mengangguk tanda mengerti tanpa mengeluarkan suara, sementara Alvin dan Bayu menahan tawa ditempatnya. Vina baru saja ingin memukul kedua pemuda itu namun kemunculan Pak Rudi di ambang pintu menyurutkan niatnya. ****** "Kemarin bapak ada kasih tugas, kan?" Pak Rudi mendorong kacamatanya yang melorot sambil memperhatikan siswa-siswi di depannya. Sorot matanya yang tajam jelas membuat siapa pun yang berada di ruangan itu tak berkutik. "Iya, pak!" Semua siswa tampak membongkar tas mereka dan mengeluarkan buku tugasnya masing-masing. Dengan aba-aba dari pak Rudi mereka maju ke depan untuk menyerahkan buku tugas mereka. Sementara Vina dengan wajah paniknya menoleh pada Alvin di sampingnya. Mulutnya terbuka melihat pemuda itu mengeluarkan buku tugasnya dengan wajah sombong yang membuat Vina semakin kebakaran jenggot. Ia lupa kalau ada tugas dan belum mengerjakannya sampai sekarang. "Kok kamu nggak kasih tahu kalau ada tugas?" tanyanya sambil berbisik sementara pemuda di sampingnya semakin melebarkan seringaiannya. "Buat apa? Melihatmu dihukum jauh lebih menarik." "Dasar setan." Vina hampir saja membuat suara keras dan memaki-maki kakak kembarnya itu jika saja ia tidak sadar di depan sedang ada pak Rudi yang memeriksa tugas siswa lainnya. "Siapa lagi yang belum mengumpulkan tugasnya? Silakan bawa ke depan sekarang." Alvin berdiri dari duduknya dengan senyum penuh kemenangan. "Bye-bye." Dengan memamerkan buku tugasnya ia berjalan dengan angkuhnya ke depan meja pak Rudi yang menerima buku tugasnya dengan senang hati. "Siapa lagi yang Belum?" Pak Rudi mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas dan kemudian matanya terhenti pada Vina yang terduduk dengan wajah pusat pasi, tampak sekali bahwa gadis itu sedang gugup. Ia memicingkan matanya yang membuat gadis itu semakin gemetaran. "Vina? Di mana tugasmu? Cepat kumpul ke depan sekarang." Vina memejamkan matanya, meringis dalam diam. Jika saja yang ada di depannya saat ini bukan pak Rudi sang guru galak dan cerewet yang senang menghukum siswanya, ia pasti akan selamat dengan memberikan alibi seperti biasanya. Ia menggaruk pipinya. "Itu, pak. Buku saya ketinggalan di rumah." "Alasan macam apa itu? Kamu tidak bermaksud membohongi bapak, kan?" Terdengar suara tawa tertahan di samping kanan dan belakangnya. Vina tahu betul siapa orang-orang itu, siapa lagi kalau bukan Alvin, Bayu dan Adit yang memang senang melihatnya menderita. Ia memaksakan senyumannya yang justru tampak aneh. "Maaf, pak. Saya lupa mengerjakannya," jawabnya pada akhirnya dan ia sudah siap dengan konsekuensi yang akan dihadapinya setelah ini. "Loh, kenapa bisa lupa? Teman-teman kamu semuanya menyelesaikan tugasnya, kakak kamu si Alvin juga bahkan selesai, padahal kalian tinggal serumah. Tapi kenapa cuma kamu sendiri yang tidak mengerjakannya? Apa karena kamu menganggap materi bapak ini membosankan dan tidak penting makanya kamu sengaja tidak mengerjakannya?" Vina hanya mampu mengutuk dalam hatinya. Wajahnya sudah semerah tomat sekarang. Rasa malu yang ia rasakan saat ini benar-benar membuatnya ingin menenggelamkan diri di kolam renang sekolah. Terlebih lagi mendengar ocehan pak Rudi yang tak ada habisnya di depan sana membuat kepalanya semakin pusing. Dalam hati ia berteriak, "hukum saja aku secepatnya!" ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN