Part 3

1108 Kata
"Ah, s**l! Ini sudah satu jam, woi! Aku kapan bisa lepas bajunya?" Adit bersungut-sungut dengan wajah jijik pada penampilannya sendiri. Ia bahkan tak mau melihat pantulan dirinya di cermin yang disediakan Bayu untuknya dan Danu. Baju Tinkerbell yang ia pakai sangat terbuka di bagian d**a dan paha sampai ia tak tahan dengan rasa dingin AC yang menyejukkan ruangan. Ditambah lagi saat itu sudah malam, sementara yang lainnya tak mengizinkannya untuk menutupi tubuh terbukanya dengan jaket. Replika sayap di belakang punggungnya sudah ia banting ke lantai tanpa perasaan karena kesal. "Santai, Dit. Sebentar lagi kok." Bagas menimpali dengan cengiran lebarnya, merasa geli dengan penampilan Adit dan Danu yang benar-benar lucu berkat hukuman mereka. Ia merasa beruntung menang berturut-turut dan terhindar dari hukuman. Jika tidak, mungkin ia tak akan bisa tertawa lepas seperti saat ini. Adit mendengkus kesal. "Santai bapak kau!" "Ya ampun, Dit. Aku yang dapat hukuman dari dua jam yang lalu aja santai. Tenang, badai pasti akan berlalu." Danu menepuk pundak Adit berusaha menenangkan sahabatnya itu. Senyum di wajahnya memperlihatkan seolah-olah ia merasa tak terganggu dengan penampilannya yang tak kalah konyol dari Adit. Mungkin tadi ia memang merasa seperti itu, namun saat Adit ikut bergabung dengannya membuat percaya dirinya meningkat. Setidaknya ia tak sendiri menerima hukuman konyol itu, bahkan ia menantikan teman lainnya untuk bergabung bersama mereka berdua. Adit tak menanggapi, hanya wajahnya yang muram membuat yang lainnya tertawa melihat penderitaannya. 'Benar-benar teman durhaka!' batinnya. "Jangan murung begitu, Dit. Mau bagaimanapun kamu tetap tampan di mataku." Vina yang sejak tadi duduk diam di atas sofa sambil menonton Alvin dan Bagas bertanding mengeluarkan suaranya. Di tangannya memegang sebuah roti cokelat yang diberikan Bayu padanya, roti yang memang selalu disediakan pemuda tampan dan tinggi itu padanya. Roti tersebut sudah habis setengahnya, sementara mulutnya masih mengunyah. "Kalau aku bagaimana, Na?" celetuk Danu yang tak mau kalah. Kedua alisnya naik turun menggoda Vina yang tertawa menanggapinya. Adit menggelengkan kepalanya, senyumnya sedikit melengkung mendapat pujian yang tidak tulus dari Vina. Meskipun mengetahui fakta itu ia tetap merasa tersanjung. "Sudahlah, aku mau tidur saja." "Yakin?" Bayu bertanya dengan suara keras. "Kalau kamu tidur, aku nggak menjamin wajahmu bisa semulus sekarang." "Jangan macam-macam kalian! Awas saja kalau mukaku kalian coret-coret lagi pakai spidol permanen." Alvin tergelak. "Salahkan Bagas, Dit! Itu idenya dia!" "Heh! Bohong dosa, loh. Itu idenya si Vina." Bagas melempar Alvin yang masih tergelak dengan botol plastik bekas minumnya. Kekesalannya memuncak saat pemuda yang ia lempar berhasil menghindar dengan sempurna. Vina mendelik, tak terima dengan perkataan Bagas ia menunjuk pemuda di sampingnya yang sejak tadi hanya fokus dengan ponselnya. "Itu idenya Angga!" Angga menghela napas panjang dengan pandangan mata yang kembali fokus pada layar ponselnya. "Iya, deh, iya. Itu ideku. Puas kalian sekarang?" Alvin, Vina, Adit, Danu, Bayu dan Bagas tertawa lepas menanggapi ucapan pasrah Angga yang memang terkenal pendiam di antara mereka. *** "Kalian belum mau pulang?" Angga meletakkan ponselnya setelah puas bermain dengan benda persegi itu. Kedua tangannya terangkat ke atas untuk meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah duduk berjam-jam. Matanya melirik Vina yang tidur dengan beralaskan pahanya sebagai bantal. Tangan kanannya terangkat mengusap-usap rambut gadis itu yang sudah terlelap sejak satu jam yang lalu. Ia tak merasa terganggu dengan sikap gadis itu yang menjadikan pahanya sebagai bantal tanpa meminta persetujuan, karena memang mereka semua begitu memanjakan dan menyayangi gadis itu selayaknya saudara mereka sendiri. Alvin menoleh, memperhatikan Danu dan Adit yang sudah mendengkur di lantai. Gaya tidur mereka sangat lucu dan konyol untuk diabadikan menggunakan kamera, namun sayang ia tak memiliki minat untuk melakukan itu saat ini. Danu dan adit sudah mengganti pakaian mereka seperti semula berkat Adit yang mengamuk tidak mau melanjutkan hukumannya lebih lama lagi. "Sekarang sudah jam berapa?" tanyanya yang mengundang perhatian Bagas yang sejak tadi menatap layar LCD. Pemuda itu ikut menoleh menatap Angga dan Bayu, sama-sama menunggu jawaban dari keduanya. "Sudah jam 11 lewat," jawab Bayu memperhatikan layar ponselnya untuk melihat jam, padahal di atas televisi menempel sebuah jam dinding yang besar demi memudahkan mereka untuk melihat waktu. Namun sepertinya benda bulat yang berisi angka dan jarum tersebut tak memiliki arti untuk para remaja itu. Kepala Bayu sedikit menoleh ke belakangnya, di mana Vina tertidur di atas sofa yang disandarinya. "Tuh, Vina juga sudah kelelahan. Kalau mau bermalam di sini, sih, aku nggak masalah. Lagipula orang tuaku lagi ke rumah nenek di kampung dan baru kembali besok pagi. Kamu dan Vina bisa pakai kamar di samping kamarku. Lagipula yang lainnya juga akan bermalam, kan?" Matanya beralih pada Angga yang mengangguk setuju atas pertanyaannya. "Nggak." Alvin menggeleng, merasa bersalah karena tak menyadari waktu. "Aku udah janji untuk pulang lebih cepat sama mama." Kepalanya menoleh pada Bagas. "Kita lanjut besok aja, Gas." "Yoi, bro." Bagas mengangguk sambil merapikan stik game dan tak lupa mematikan televisi. Ia sendiri tak sadar waktu karena terlalu menikmati pertandingannya bersama Alvin. Setelah dua kemenangannya berturut-turut melawan Danu dan Adit ia pikir bisa mengalahkan Alvin yang sang master game, namun ternyata pikirannya salah. Mereka sudah bermain berjam-jam namun belum memiliki pemenangnya. Beruntung ia bisa mengimbangi permainan pemuda itu. "Bangun, Na." Alvin mengusap-usap pipi Vina untuk membangunkannya. Sementara yang dibangunkan hanya bergerak sebentar dan kembali tidur. Gadis itu memang tidak terbiasa tidur larut malam. Seperti malam ini, ia memang selalu menunggu Alvin selesai bermain game sambil tidur. *** Vina membuka pagar rumahnya dengan mata setengah kantuk dan sesekali menguap lebar tanpa memperdulikan imejnya. Ia berdiri sambil bersandar pada pagar besi yang dingin itu sembari menunggu Alvin memasukkan motornya dan memarkirnya di depan rumah, tak lupa pemuda itu memastikan ia mengunci motornya dengan benar sebelum masuk ke dalam rumah. Alvin sudah berada di ambang pintu saat menyadari adik kembarnya tak mengikuti langkahnya di belakang. Ia berbalik hanya untuk menemukan adiknya yang terdiam sambil bersandar di pagar. Kepalanya menggeleng pelan melihat Vina yang sudah dipastikan sedang tidur berdiri. Memang tidak salah jika adiknya itu mengantuk luar biasa karena memang malam ini mereka pulang lebih larut dari biasanya. Ia saja tak bisa menahan kantuknya, beruntung mereka bisa sampai ke rumah dengan selamat. "Woi, Na! Kamu mau tidur di situ sampai pagi?" Vina tersentak dari tidur singkatnya sampai-sampai kepalanya terbentur pagar yang menimbulkan suara gaduh yang cukup mengagetkan anjing milik tetangga. Ia meringis tanpa suara sambil mengusap kepalanya yang habis terbentur dan sepertinya akan benjol sebentar lagi, sementara di depan sana ia bisa mendengar suara tawa tertahan Alvin yang mengejeknya. Dengan bibir cemberut ia menutup rapat pintu pagar dan tak lupa menguncinya dengan gembok, kemudian berjalan melewati kakak kembarnya yang masih menertawainya. Alvin mengikuti langkah adiknya setelah mengunci pintu. Tangannya mengacak-acak rambut Vina yang memang sudah berantakan dengan lembut. "Selamat malam, Na." Satu kecupan ia berikan di kening Vina yang tersenyum dengan mata terpejam. "Selamat malam, Vin." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN