Part 2

1187 Kata
Hari Minggu memang selalu menjadi hari yang paling ditunggu para anak sekolah. Apalagi untuk Vina yang selalu menantikan dan tak pernah absen untuk menonton acara kartun di televisi di hari itu. Vina asyik mengulum lollipop rasa s**u cokelatnya sambil sesekali tertawa melihat tingkah tokoh kartun favoritnya mengalami kesialan. Sedangkan Alvin sibuk dengan ponselnya sambil berbaring di atas sofa yang disandari adiknya. Seperti biasa ponsel tak pernah lepas darinya. Shafira datang sambil membawa pisang goreng kesukaan dua bersaudara itu dan meletakkannya di atas meja. Seperti yang ia duga, kedua anak kembarnya itu langsung menyerbu piring yang ia bawa bahkan sebelum ia mempersilakan mereka untuk memakannya. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anaknya itu. "Pisang goreng mama memang yang terbaik!" seru Vina dengan mulut penuh pisang goreng. Lollipop-nya sudah hilang entah ke mana. Sedang Alvin menikmati dalam diam sambil matanya memandang layar televisi tanpa minat, acara kartun jelas bukan gayanya. Shafira tersenyum, ia mengusap rambut Alvin dan Vina bergantian sebelum beranjak menuju ruang kerja suaminya dengan membawa sepiring pisang goreng lainnya. "Mama ke ruangan papa kamu dulu, ya." Alvin dan Vina hanya mengangguk sebagai jawaban. Mereka berdua terlalu asyik menikmati pisang goreng buatan ibunya sambil menonton televisi. Bahkan terkadang mereka akan bertengkar hanya untuk memperebutkan sebuah pisang goreng yang lebih besar dari lainnya. "Ini punyaku." Vina menjauhkan tangannya dengan pisang goreng besar dalam genggamannya. Pisang goreng terakhir yang mereka miliki dan tentu saja merupakan yang paling besar dan enak. Alvin mendecak. "Aku yang memegangnya duluan. Jadi itu punyaku." Vina menggeleng tegas. "Nggak. Ini punyaku. Titik." Alvin baru saja akan membalas ucapan adiknya itu saat mendengar nada pesan masuk di ponselnya. Ia melupakan untuk merebut pisang goreng terakhir di tangan adiknya dan mengelap tangannya dengan tisu. Kemudian meraih ponselnya dan membaca pesan yang baru masuk. "Heh." Ia menyenggol lengan Vina. "Bayu menyuruh kita untuk ke rumahnya. Mereka semua ada di sana sekarang." Vina menatapnya dengan mata bulatnya. "Ayo. Siapa tahu di sana ada makanan." "Dasar. Sepertinya yang ada di dalam otakmu itu hanya makanan." "Memang." *** "Kamu masih belum selesai juga?" Vina menoleh saat mendengar pertanyaan Alvin. Pemuda itu sedang bersandar di daun pintu yang terbuka lebar sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. Vina bisa melihat raut kekesalan di wajah kakaknya itu yang menandakan ia sudah lelah menunggu berjam-jam. Padahal kenyataannya ia baru saja menunggu kurang dari sepuluh menit. "Sebentar lagi." Vina memberi sentuhan terakhir di bibirnya dengan lip tint sebelum memasukkan benda tersebut ke dalam tas yang akan dibawanya. "Ayo," ajaknya sambil berjalan keluar melewati Alvin yang menghela napas lega, menunggu adalah hal yang paling dibencinya setelah acara kartun. "Mah, pah, kami berangkat dulu!" Vina mengetuk pintu ruang kerja ayahnya yang sedetik kemudian terbuka, menampilkan wajah ibunya dengan wajah bertanya-tanya. Sedangkan ayahnya sibuk di depan laptop di balik meja. "Kalian mau pergi ke mana?" Ibunya menatap mereka berdua secara bergantian. Tidak seperti biasanya kedua anaknya itu keluar di pagi hari begini. Biasanya mereka lebih memilih untuk keluar saat sore hari dan tak kembali hingga jam sepuluh malam. "Ke rumah Bayu, mah. Mungkin kami akan pulang malam lagi." Alvin meraih tangan ibunya mengikuti tindakan Vina sebelumnya dan mencium punggung tangannya. "Tapi jangan pulang terlalu larut dan jaga adikmu baik-baik. Bawa motornya juga jangan kencang-kencang, bahaya." Alvin mengangguk. "Iya, mah, Alvin mengerti." Mereka kemudian berjalan beriringan menuju motor Alvin yang terparkir di depan rumah. Vina membuka pagar agar Alvin bisa mengeluarkan motornya dan kemudian menutupnya kembali. Diraihnya sebuah helm yang disodorkan Alvin padanya dan memakainya segera sebelum naik ke atas motor Alvin yang cukup tinggi untuk ukuran tubuhnya yang kecil. Saat motor Alvin sudah berjalan menjauhi rumah, Vina memeluk pinggang Alvin dengan erat sambil menyandarkan kepalanya di punggung pemuda itu. Menikmati setiap sentuhan angin yang menyentuh kulitnya. Matanya terpejam menikmati perjalanan singkat yang menyenangkan itu hingga perasaan ngantuk mulai menderanya tanpa diundang. "Hei, turun, kamu mau sampai kapan tidur di atas motor?" Vina membuka matanya, pandangannya menyebar ke segala arah dengan perasaan bingung, ia tak menyadari bahwa motor Alvin sudah berhenti di depan rumah Bayu yang dipenuhi oleh beberapa motor milik temannya yang lain. Seingatnya ia hanya sebentar memejamkan matanya dan sekarang mereka sudah tiba, padahal rumah Bayu cukup jauh jaraknya dari rumah mereka. Setelah kesadarannya berangsur-angsur sempurna ia kemudian menyerahkan helm yang dipakainya pada Alvin dan berjalan duluan memasuki rumah Bayu. Kebisingan suara orang-orang berbicara langsung menyambutnya saat ia melangkahkan kaki memasuki rumah itu. "Halo, semuanya. Aku datang!" Semua orang yang berada di ruangan itu menoleh padanya. Mereka kompak menjawab sapaan Vina. Heboh dengan kehadiran gadis cantik itu yang memang menjadi primadona dan mood booster bagi mereka. Satu-satunya anggota perempuan dalam kelompok mereka yang begitu mereka sayangi dan jaga selayaknya saudara kandung. "Yo, kau telat, Na." Adit menyapanya sambil matanya menatap ke layar LCD di depannya yang menampilkan sebuah permainan game yang sedang terkenal saat ini. "Apa yang aku lewatkan?" Vina memilih duduk di atas sofa di samping Angga yang sibuk dengan ponselnya, pemuda itu menyapanya sebentar sebelum kembali berbalas pesan dengan pacarnya. Beberapa menit setelah ia mengistirahatkan tubuhnya di sofa, Bayu muncul dari dapur dengan membawa beberapa kaleng minuman. Ia membagikan minuman itu kepada yang lainnya kemudian memberikannya pada Vina yang menerimanya dengan senang hati karena memang itulah yang ia harapkan dari kunjungannya itu. "Danu kalah telak dan harus menerima hukuman." Bayu menjelaskan sambil duduk di samping Vina yang sudah menyeruput minumannya dengan khidmat, ikut menonton pertandingan game yang terpampang di layar LCD. Sesekali ia berseru heboh saat Adit hampir bisa mengalahkan Bagas. Sementara itu Alvin baru saja muncul di ambang pintu, tangan kanannya sibuk mengacak-acak rambutnya yang lepek sehabis memakai helm. Pemuda itu menyapa teman-temannya kemudian memilih duduk di samping Adit yang sibuk adu kekuatan dengan Bagas. "Oh ya? Apa hukumannya?" Vina bertanya penasaran, minuman rasa cokelat di tangannya sudah hampir habis diteguknya. Rasa dingin dan nikmat yang melewati tenggorokannya yang kering membuatnya tak bisa berhenti untuk terus menikmati minuman tersebut. Bayu menunjuk Danu yang sedang duduk menyendiri di sudut ruangan, ekspresi wajahnya jelas memperlihatkan betapa ia sendiri jijik dan malu dengan penampilannya tersebut namun tidak mempunyai pilihan. Vina yang menangkap sosok Danu sontak tertawa keras melihat penampilan pemuda itu yang sedang cosplay karakter Sailor Moon yang sangat tidak cocok dengan tubuh tinggi besarnya. Di sela-sela tawanya ia mengeluarkan ponselnya dan beranjak mendekati Danu dan mengarahkan kameranya pada pemuda itu yang wajahnya sudah semerah tomat. Sedangkan Alvin hanya tertawa melihat penderitaan temannya yang sedang menderita itu. Ia tak berminat mengabadikan penampilan konyol Danu seperti adiknya dan lebih memilih untuk menunggu giliran bermain bersama Bagas saat Adit menerima kekalahannya. Sekali lagi ia tertawa melihat penderitaan satu temannya yang lain. "s**l! Aku kalah!" Adit menyerahkan stik game pada Alvin yang menerimanya dengan senang hati. "Makanya jangan sombong. Sana pergi terima hukumanmu." Alvin mendorong Adit dan mengambil tempat pemuda itu, bersiap memulai permainan bersama Bagas. "Selamat menikmati hukumanmu." Bagas tersenyum mengejek sementara Adit memberinya tatapan melotot namun sedetik kemudian tubuhnya seperti kehilangan nyawa melihat baju peri yang dibawa Bayu untuknya. Bahkan ia sendiri bingung dari mana sahabatnya itu mendapatkan baju-baju itu. Danu tersenyum puas di sela-sela hukumannya menyambut Adit dengan tangan terbuka. "Selamat datang di dunia Princess, kawan!" Sementara Adit tidak mampu mengelak dan hanya bisa menerima nasib. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN