Vina mematung di tempat, kakinya terasa seperti batu yang tidak bisa ia gerakkan saat ini. Sementara di depan sanaa supir bis sudah membunyikan klaksonnya beberapa kali untuk menyuruhnya menyingkir dari jalanan, serta teriakan-teriakan panik dari orang-orang di sekitar sana mulai menggema memasuki indra pendengarannya yang mendadak tuli dan berdengung tidak karuan. Alih-alih beranjak dari posisinya, saat ini yang bisa dilakukan gadis cantik itu hanya memejamkan kedua matanya dengan erat dan sudah pasrah jika memang tubuhnya dihantam dengan keras dan mungkin saja bisa kehilangan nyawanya saat itu juga. Saat ia berpikir bahwa tubuhnya sebentar lagi hancur, seseorang dengan sigap menarik tubuhnya menjauh dari jalanan dan mengamankannya dalam pelukannya yang aman. Vina masih belum berani mem

