“Kamu itu maunya apa, sih, Na?” Tatapan Alvin mulai melembut. Ia yang tadinya berdiri kini mulai kembali duduk, genggaman tangannya pada adiknya kini ia lepaskan. Ia tahu bersikap keras pada adiknya saat ini tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah, ditambah lagi ia tahu betul bagaimana watak Vina yang memang lebih cocok dilembutin dibandingkan harus dikasarin karena ia akan membalas lebih keras lagi.
“Justru yang harusnya bertanya itu aku, Vin.” Vina menghela napas panjang dengan pandangan yang menerawang ke depan. Ia juga sebenarnya benci jika harus bertengkar seperti ini dengan kakaknya yang selalu ada untuknya sejak kecil, bahkan Alvin selalu mendahulukan ia dibanding Anggi pacarnya sendiri. “Aku bingung kenapa kamu harus bersikap seperti ini jika itu menyangkut tentang cowok. Padahal ‘kan itu hal yang wajar, kamu saja bisa berpacaran sama Anggi lalu kenapa aku tidak?”
“Aku bukannya ingin melarang kamu-“
“Lalu apa?” Vina tak memberikan kesempatakan kepada kakaknya untuk menyelesaikan kalimatnya yang belum selesai. Ia sudah terlanjur marah dan kesal dengan sikap Alvin yang begitu mengekangnya, padahal ibunya saja tidak keberatan dengan hal itu.
Alvin menghela napas panjang, lama-lama lelah juga menghadapi sikap keras kepala adiknya yang memang tidak ada obatnya itu. “Terserah kamu saja,” ujarnya kemudian mulai pasrah. “Yang penting aku sudah memperingatkan kamu soal ini.”
Tak disangka Vina malah tersenyum manis mendengar ucapan pasrah kakaknya yang memang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi. Seolah-olah ia memang sudah tahu bahwa cepat atau lambat kakaknya itu pasti akan mengalah padanya. Ia merangkul lengan kakaknya dengan manja dan senyum manis yang selalu sukses membuat Alvin tak bisa melanjutkan amarahnya. “Nah, gitu dong dari tadi. Terima kasih kakakku sayang.”
Alvin tak bisa menyembunyikan senyumnya melihat tingkah manja adiknya yang memang hanya ia yang tahu sisi manis adiknya itu. tangan kanannya terangkat untuk mengacak pelan rambut adiknya yang merasa tak keberatan dengan hal itu. “Tapi ingat, jangan asal pilih cowok. Kamu harus tetap jual mahal. Dan pilih cowok yang baik-baik saja, lebih bagus lagi kalau ia pintar.”
“Iya, iya, kayak kamu ‘kan? Aku sudah tahu, kok. Lagipula kamu ‘kan tahu sendiri standarku bagaimana.” Vina menyandarkan kepalanya di bahu Alvin dengan perasaan bahagia, ia sudah tidak sabar menantikan kapan Adit akan mengenalkannya dengan teman laki-lakinya.
*****
Vina menatap bosan beberapa foto yang dikirimkan Adit ke ponselnya, alisnya terangkat satu seiring tatapannya memerhatikan setiap wajah yang ia lihat di layar ponselnya. Ia dan Adit saat ini sedang berada di kantin dengan meja yang terpisah dari Alvin dan lainnya. Ia tidak ingin diganggu saat mencari calon pacar masa depannya.
“Serius kamu mau kenalin aku sama cowok kayak gini, Dit?” Vina menatap Adit dengan wajah tidak percaya sekaligus herannya. Padahal tadi Adit dengan jelas-jelas begitu membanggakan teman laki-lakinya yang katanya tampan dan pintar-pintar dan yang pastinya sangat cocok dengan kriteria laki-laki yang disukainya, namun yang ia lihat malah sebaliknya.
Adit mengangguk antusias dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ia benar-benar percaya bahwa para pemuda yang ia kenalkan pada gadis di depannya adalah pilihan yang terbaik dari yang terbaik. “Iya, dong. Gimana? Mereka keren-keren ‘kan?”
“Keren palamu.” Satu jitakan sayang dilayangkan Vina pada pemuda di depannya yang segera menampilkan wajah kesakitan, meskipun Vina itu adalah perempuan namun tenaganya jelas tidak bisa diragukan. Benar-benar sosok strong woman yang sebenarnya. “Masa iya kamu mau kenalin aku cowok-cowok kutu buku kayak gini?”
“Lho, apa yang salah?” Adit masih mengusap-usap keningnya yang masih meninggalkan tanda kemerahan akibat perbuatan Vina beberapa detik yang lalu. “Kamu ‘kan maunya yang pintar, jadi aku kasih yang juara kelas.”
“Tapi nggak kayak gini juga penampilannya.” Vina mendecak kesal, ia sudah antusias untuk hal yang seharusnya tidak perlu. Ia bersandar sambil menyilangkan kedua tangannya, menatap tajam pada Adit. “Aku maunya yang pintar, baik, berpenampilan keren dan tentunya ganteng. Bukan yang memakai kacamata tebal dan tubuh tambun. Bahkan tingginya saja aku yakin aku lebih tinggi dari mereka semua.”
“Jangan mimpi, Na.” Kini giliran Adit yang mencibir, ia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran gadis di depannya yang sudah seperti sosok Putri yang menantikan Pangeran berkuda putihnya. “Di dunia ini mana ada cowok yang sempurna kayak gitu.”
“Ada, kok.” Tangan kanan Vina menjulur ke depan menunjuk ke arah meja di mana kakak kembarnya sedang duduk bersama Anggi, Bayu dan Angga. “Itu buktinya.”
Adit mengikuti kemana arah telunjuk Vina, alisnya bertaut. “Ya jelas beda lah, Na.”
“Apanya yang beda? Alvin ganteng, pintar, keren dan tentunya baik.” Vina menyebutkan semua kebaikan yang ada pada diri kakanya dengan menghitungnya menggunakan jari-jari lentiknya, ia tak sadar bahwa ia sudah membanggakan kakaknya dengan sombong saat ini. Itu semua karena ia begitu kagum dengan kakak kembarnya itu yang di matanya memang merupakan sosok boyfriend material yang tentunya menjadi incaran para perempuan di luar sana, ia juga tahu kalau kakaknya banyak yang suka di sekolah di mereka.
Kalau saja Alvin belum mempunyai pacar ia yakin di laci mejanya setiap hari pasti bakalan banyak cokelat maupun surat dari para penggemarnya, karena saat ini pun kakak kembarnya itu terkadang menemukan satu cokelat di lacinya yang tentunya menjadi rezeki tersendiri baginya, karena yang menikmati cokelat manis itu tentu saja adalah dirinya.
“Ya karena Alvin itu cuma ada satu di dunia ini. Tidak mungkin ada Alvin lainnya ‘kan.” Adit memutar matanya jengah, gadis di depannya sepertinya sudah menjadi korban novel roman picisan yang selalu membuat karakter tokok utama laki-lakinya menjadi sosok yang sempurna, sosok fiksi yang tentunya tidak akan ada di dunia nyata. Karena sejauh ini yang ia tahu hanya Alvin yang mendekati sosok sempurna itu, hanya mendekati karena ia tidaklah sesempurna itu. Adit dan yang lainnya tahu bagaimana sosok Alvin mempunyai kebiasan unik saat tidur dengan memeluk dan mencium teman di dekatnya yang membuat teman-temannya tidak ada yang mau tidur berdekatan dengannya, jika sudah dipeluk maka jangan harap bisa lepas sebelum pemuda tampan itu bangun dengan sendirinya. Jika mengingat tentang kebiasaan unik sahabatnya itu membuat bulu kuduknya berdiri karena memang ia sudah pernah menjadi salah satu korbannya.
“Aku yakin pasti ada.” Vina ternyata masih belum mau menyerah. “Dan aku yakin aku pasti akan menemukannya suatu hari nanti.” Pandangan mata Vina menerawang menatap ke langit-langit kantin, suara bising yang diciptakan para pengunjung di sana tidak membuyarkan hayalannya mengenai laki-laki idamannya yang ia harapkan akan muncul suatu saat nanti di hadapannya.
“Terserah kau saja lah.” Adit membuka kunci layar ponselnya yang langsung menampilkan wajah cowok berkacamata dengan senyum yang lumayan manis namun di mata Vina biasa saja. “Jadi kamu tidak mau dikenalin sama salah satu dari mereka, nih?” tanyanya sekadar ingin memastikan jika saja gadis cantik itu mengubah pikirannya saat ini.
Vina menggeleng dengan tegas. “Tida, terima kasih. Aku akan mencarinya sendiri.”
“Lagipula aku heran, Na.” Kedua siku adit bertumpu pada permukaan meja dan menyenggol sedikit mangkuk baksonya yang mienya sudah mengembang akibat diabaikan sejak tadi, ia bahkan lupa jika tadi sudah memesan makanan gara-gara terlalu serius membahas tentang laki-laki yang akan ia kenalkan pada Vina. “Kamu kenapa tiba-tiba jadi penasaran begini soal cowok? Biasanya malah kayak yang benci banget sama cowok.” Pertanyaan ini sebenarnya sudah sangat ingin ia tanyakan sejak di kelas tadi pagi mengenai sikap Vina yang berubah tiba-tiba.
Vina mengangkat bahunya. “Entahlah, aku juga bingung. Tapi hati ‘kan bisa berubah kapan saja.”
*****