Part 12

2405 Kata
Alvin berjalan di lorong kelas dengan senyum tipis yang terkadang ia tampakkan jika berpapasan dengan beberapa siswa atau siswi yang ditemuinya. Ia baru saja kembali dari toilet dan ingin segera cepat-cepat menuju kelas saat ini di mana Vina dan Anggi pasti sedang menunggunya. Mereka ada tugas tambahan hari ini dan Vina meminta Anggi untuk ke kelas membantunya padahal gadis itu bisa saja meminta bantuan padanya atau Bayu, namun adiknya itu malah lebih memilih Anggi daripada dirinya. Alisnya bertaut kala tiba di dalam kelas dan hanya menemukan Anggi, Bayu, Adit dan Angga di sana. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kelas namun tetap tidak menemukan adiknya di sana. Bayu yang awalnya sedang berdiskusi soal jawaban matematika di buku di hadapannya bersama Anggi dan Angga menyadari kehadiran Alvin, ia ikut mengedarkan pandangannya mengikuti arah pandangan pemuda itu. “Cari siapa, Vin? Vina?” Alvin menoleh pada Bayu dan mengambil duduk di samping Anggi yang memang merupakan tempat duduknya sendiri. “Vina mana?” tanyanya dengan mata yang mengarah pada pacarnya yang tengah duduk di sampingnya. Ia memang tak bisa jika sedetik saja tidak melihat sosok adiknya di sampingnya, karena meskipun sikap Vina yang sedikit kasar begitu namun hati adiknya itu begitu lembut dan mudah tersakiti. Apalagi ia tidak bisa membayangkan jika adiknya itu diganggu oleh para buaya darat. “Nggak tahu, Vin.” Anggi menggelengkan kepalanya. “Tadi katanya dia mau ke toilet, tapi nggak kembali sampai sekarang.” Gadis manis dengan lesung pipi itu kembali fokus pada soal Matematika di depannya, berusaha menjelaskan langkah-langkah penyelesaiannya yang baik dan benar kepada Angga. “Udah lah, Vin. Nggak usah khawatir gitu, paling juga sebentar lagi dia kembali.” Bayu yang menyadari raut wajah khawatir sahabatnya itu tidak bisa diam saja dan mengabaikannya, karena ia tahu bagaimana pemuda itu jika mengkhawatirkan adik kembarnya yang memang selama ini selalu dalam pengawasannya layaknya anak kecil. “Iya, Vin, aku yakin sebentar lagi Vina juga akan kembali.” Tangan kiri Anggi yang bebas mengusap pelan lengan pacarnya itu demi membuatnya tenang, karena itu juga akan mempengaruhi konsentrasinya untuk mengajari Angga dan Bayu untuk menyelesaikan soal Matematika yang diberikan Bu Susan kepada mereka yang akan dikumpulkan sebelum jam istirahat berakhir. “Eh, ada yang berantem tuh di kantin.” Alvin yang awalnya mengangguk pasrah kini menajamkan pendengarannya mendengar suara siswa yang kebetulan berada di depan kelasnya. Ia menoleh dan mendapati beberapa pemuda yang sedang berbicara serius. “Siapa yang berantem?” “It si Dodi sama anak bermasalah yang jarang masuk sekolah, aku lupa namanya siapa sangking jarangnya masuk.” Melihat beberapa pemuda itu beranjak pergi yang menurut Alvin pasti sedang menuju ke kantin sekarang membuat Alvin juga ikut berdiri dari duduknya. Gerakannya yang tiba-tiba itu membuat para sahabatnya menatap dirinya dengan heran. “Mau kemana, Vin?” Angga yang sejak tadi diam saja mengeluarkan suaranya. Ia terkadang berusaha menyingkirkan kepala Adit yang sedang tertidur di sampingnya. Pemuda itu yang awalnya antusias ikut belajar bersama malah tertidur karena merasa bosan, padahal bukunya masih kosong melompong. Alvin memperhatikan Angga, Bayu dan Anggi bergantian. “Aku mau ke kantin dulu, katanya ada yang berantem di sana.” Bayu mengerutkan keningnya. “Tumben, biasanya juga kamu tidak perduli meskipun ada yang saling bunuh di sekolah.” Tidak heran jika Bayu mengatakan kalimat seperti itu, karena selama ini Alvin selalu tampak tak acuh dengan kejadian-kejadian di sekolah jika tidak menyangkut tentang dirinya sama sekali. Karena baginya itu cuma buang-buang waktu mengurusi urusan orang lain yang jelas-jelas tidak ada manfaatnya baginya. “Entah kenapa aku rasa ini ada hubungannya sama Vina.” Alvin mengusap tengkuknya dengan perasaan tidak tenang, firasatnya dengan kuat mengatakan bahwa adiknya pasti berhubungan dengan pertengkaran yang terjadi di kantin saat ini, terlebih lagi adiknya itu belum kembali juga sejak tadi. “Aku tahu Vina itu orangnya sedikit bar-bar, tapi aku tidak yakin dia akan mencari masalah dengan orang lain tanpa sebab.” Anggi memberikan sedikit senyumnya di akhir kalimat, ia memang tidak bisa mengabaikan fakta bahwa adik dari kekasihnya itu memiliki sikap yang cenderung ceroboh dan suka bertengkar, namun hanya pada mereka yang dekat saja dan ia tidak pernah mencari masalah dengan orang lain. “Aku akan ke kantin sekarang.” Alvin seperti tak mendengarkan apa yang dikatakan kekasih dan sahabatnya, ia tetap pergi menuju kantin dengan perasaan kalut dan khawatir akan adiknya yang mungkin saja sedang dalam bahaya saat ini. Setibanya di kantin ia bisa melihat kerumunan di tengah-tengah ruangan yang ia yakini sebagai sumber kagaduhan, ia berjalan mendekat dan berusaha melewati beberapa orang yang sedang asyik menonton pertengkaran di depan. Seketika matanya tertuju pada sosok gadis yang sedang dilindungi oleh pemuda yang ia tidak kenali wajahnya, firasatnya ternyata benar bahwa adiknya benar-benar ada hubungannya dengan masalah ini. Alvin tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berjalan maju dan meraih tangan adiknya yang terkejut dengan perbuatannya yang tiba-tiba itu. “Alvin?” Vina tampak terkejut melihat kehadiran kakaknya di sana. Ia berusaha menyembunyikan seragamnya yang basah karena siraman air yang membuat bajunya sedikit transparan di bagian atas dadanya. Amarah Alvin mendidih melihat itu. Ia tidak tahu akar dari permasalahan yang sedang terjadi di depannya saat ini, namun yang ia pikirkan hanya membawa adiknya pergi menjauh dari sana. “Kita pergi dari sini,’ ujarnya dengan menyeret adiknya yang hanya pasrah, namun satu yang Alvin tidak ketahui bahwa Vina sejak tadi selalu melirik pada pemuda yang sudah melindunginya tadi. ***** “Kamu itu benar-benar bikin aku khawatir tau nggak, Na? Datang-datang dengan keadaan kacau seperti ini.” Anggi berusaha membersihkan noda minuman di seragam putih milik Vina yang tampak santai sambil bercermin di cermin toilet sekolah. Tidak terhitung sudah ada berapa tisu basah yang ia gunakan untuk membersihkan seragam gadis itu namun tak kunjung bersih juga. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaan terkejutnya saat melihat kedatangan Alvin bersama Vina yang kacau kembali ke kelas. “Lagipula ini kenapa baju kamu bisa kotor begini?” Mata Anggi terfokus pada manik bening milik Vina yang tampak tak terlalu memperhatikan ucapannya sejak tadi. Vina mengangkat bahunya seolah hal itu adalah hal biasanya baginya. “Tadi aku ke kantin dan tidak sengaja bertabrakan dengan kakak senior yang galak itu.” “Kak Dodi maksudmu?” tebak Anggi yang memang sudah mengetahui sedikit masalahnya dari mulut Alvin beberapa saat yang lalu saat menjelaskan perihal keadaan Vina. Vina mengangguk. “Padahal ‘kan aku tidak sengaja tapi dia tiba-tiba marah dan membentak. Aku tidak tinggal diam dong digituin sama dia mentang-mentang senior. Lagipula yang kena tumpahan minumannya juga aku bukan dia.” Vina tampak benar-benar marah saat menceritakan kembali kejadian yang menimpanya di kantin tadi. Apalagi seragamnya jadi kotor dan susah dibersihkan sementara pemuda galak itu bersih dari noda. “Aku sudah minta maaf dan mau gantiin minumannya tapi dia nggak mau dan malah memperpanjang masalah. Parah, beraninya sama cewek. Untung saja ada cowok tadi yang nolongin aku, kalau tidak mungkin sudah ada bekas merah di pipiku.” Vina mengakhiri kalimatnya dengan tertawa kecil, ia seperti tidak begitu terbebani dengan kejadian buruk yang baru saja ia lalui yang bagi sebagian orang sudah pasti meninggalkan trauma, apalagi jika menyangkut Dodi yang memang terkenal dengan sikap kasar dan arogannya bahkan di hadapan perempuan sekali pun. “Ini bukan saatnya untuk ketawa, Na.” Anggi menggelengkan kepalanya dengan sedikit senyum di sudut bibirnya, rasa khawatirnya sedikit berkurang melihat gadis itu yang tampak baik-baik saja padahal ia habis berhadapan dengan kakak kelas yang tentunya sangat dihindari oleh semua siswa di sekolah ini yang bahkan para guru pun tidak ada yang sanggup menjinakkannya. Bahkan ia yakin jika dirinya yang berada di posisi gadis itu tadi mungkin ia sudah menangis dan trauma untuk datang ke sekolah selama beberapa hari. Vina hanya menggaruk kepalanya tak acuh kemudian menatap pantulan dirinya di depan cermin. Ia menyentuh bagian seragamnya yang masih berwarna kecokelatan samar meskipun sudah dibersihkan oleh Anggi. “Kok nggak mau hilang, sih?” tanyanya dengan wajah merenggut kesal, sesekali tangan kanannya menggosok permukaan seragamnya yang kotor itu dengan tujuan untuk menghilangkan nodanya. “Kayaknya memang harus dicuci bersih, deh, Na. Nggak akan hilang kalau cuma dibersihkan pakai tisu.” Anggi ikut memperhatikan seragam Vina yang tidak bersih-bersih sejak tadi. “Terus aku harus bagaimana? Masa iya aku bawa ke laundy. Aku nggak mungkin pakai baju olahraga mengikuti pelajaran Pak Rudi yang super galak dan cerewet itu. Mau pakai ini juga nggak sopan.” Anggi ikut bingung, biasanya ia selalu menyediakan seragam putih cadangan di lokernya namun karena sudah kotor dan bau jadinya ia membawanya pulang untuk dicuci dan lupa membawanya hari ini. Andai saja rumahnya dekat dengan sekolah ia akan kembali ke rumah untuk mengambilnya dan meminjamkannya pada Vina saat ini. “Bagaimana kalau kamu izin pulang saja, Na?” Usulan tak terduga dari Anggi itu membuat mata Vina berbinar-binar cerah. Ia benar-benar suka jika bisa pulang lebih cepat dan bersantai nonton drama di sekolahnya daripada harus mendengar ocehan Pak Rudi yang tidak ada habisnya. Ia heran kenapa guru itu selalu saja menargetkan dirinya padahal masih ada Adit yang juga bodoh dan malas seperti dirinya namun yang selalu mendapat getahnya hanya dirinya seorang, seolah-olah guru itu ada dendam pribadi padanya. “Serius, Nggi? Kayaknya itu memang ide yang bagus.” Anggi menghela napas, menyesal sudah mengusulkan ide yang tentunya disalah artikan oleh sahabatnya itu. “Maksud aku, izin untuk pulang ganti baju saja, Na. Kamu pasti punya seragam lain di rumah ‘kan? Mumpung sekarang masih jam istirahat aku yakin masih sempat apalagi kalau Alvin bawa motornya cepat.” Anggi melirik arloji hitam yang melingkar di pergelangan tangannya untuk melihat waktu. Vina mencebikkan bibirnya mendengarkan usulan lengkap sahabatnya yang tentunya sangat merepotkan untuk ia lakukan. “Kenapa harus memilih yang susah kalau ada yang mudah sih, Nggi?” Ia memutar matanya. “Daripada harus kembali lagi ke sini mending aku izin pulang saja dan nggak kembali lagi, lagipula hanya tersisa dua pelajaran lagi sebelum jam pulang. Bolos sehari nggak akan bikin rugi, kok.” “Terserah kamu sajalah.” Anggi hanya bisa pasrah jika berhadapan dengan sikap keras kepala milik Vina yang tidak ada duanya itu. “Tapi kamu yang izin sendiri, aku tidak mau ikutan bantu.” “Ihh, kok gitu sih?” Vina merenggut manja. “Bantu aku, dong. Pak Rudi itu ‘kan guru favorite kamu dia juga selalu membangga-banggakan kamu di kelas kalau sedang mengajar sementara aku selalu jadi sasaran kemarahannya.” Vina menampilkan wajah kesalnya membayangkan wajah menyebalkan guru sekaligus wali kelasnya itu yang suka sekali mencari-cari kesalahannya saat mengajar. “Jadi aku yakin kalau kamu membantuku meminta izin dia pasti akan kasih.” Anggi menghela napas. Ia tidak akan mungkin menang jika berdebat dengan gadis di depannya itu. “Iya, deh, tapi bayarannya es Boba satu.” “Siap.” Vina menyentuhkan ujung jari-jarinya di atas keningnya memberi hormat pada Anggi yang hanya tertawa melihatnya. ***** “Jadi begitu, Pak.” Anggi menoleh pada Vina yang sedang duduk dengan wajah menunduk di sampingnya, menguatkan alibinya bahwa ia sedang tidak enak badan ditambah seragamnya yang kotor membuatnya semakin yakin jika guru di hadapannya akan memberikan izin padanya. Pak Rudi memperbaiki posisi kacamatanya yang melorot sambil memperhatikan Vina yang seragamnya memang terlihat sangat kotor saat ini. Ia kemudian menoleh pada Anggi yang senantiasa memberikan senyum manis padanya. “Kenapa seragamnya bisa kotor begitu?” Alih-alih bertanya langsung pada yang bersangkutan, guru laki-laki itu malah bertanya pada Anggi seolah-olah orang yang ia tanyakan tidak sedang berada di depannya saat ini. Mengetahui hal itu membuat Vina cemberut merasa dianak tirikan, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena mengeluarkan suara saat ini hanya akan memperburuk keadaan dan tentu saja dirinya terancam tidak diberikan izin untuk pulang meskipun sudah dibantu oleh Anggi sekali pun. “Tuh ‘kan benar Pak Rudi benci aku. Padahal dia bisa tanya langsung sama aku tapi malah nanya kamu,” bisik Vina di telinga Anggi yang membuat Pak Rudi memandangi mereka dengan kening berkerut. Anggi menyenggol Vina agar berhenti berbisik di telinganya, selain karena merasa geli dan tidak nyaman ia juga takut Pak Rudi curiga dengan mereka berdua. Ia tertawa pelan. “Karena tidak tahan dengan sakit perutnya dia jadi tidak fokus jalan dan menabrak tembok saat pulang dari kantin, Pak. Jadinya minumannya tumpah di seragam dia.” Vina memberikan tatapan melototnya pada Anggi di sampingnya yang tak menghiraukan tatapan tajamnya, gadis itu hanya fokus pada Pak Rudi dengan senyum manisnya yang di mata Vina hanya sekadar acting belaka. Meskipun ia tahu gadis manis itu sedang membantunya namun ia tidak terima dianggap ceroboh seperti itu, padahal masih ada alasan lainnya yang bisa ia gunakan seperti ada siswa lain yang tidak sengaja menabraknya misalnya. Pak Rudi menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar kecerobohan Vina melalui cerita Anggi si siswi pintar yang memang selalu ia banggakan atas prestasinya di sekolah. “Bapak, sih tidak heran kalau itu Vina.” Tatapan tajam Pak Rudi tertuju pada Vina yang sejak tadi memegangi perutnya seolah-olah ia sedang sakit perut. “Bapak bahkan yakin dia bisa merobohkan dinding dengan sikapnya itu.” “Aku bukan banteng lho, Pak. Aku juga tidak seceroboh itu.” Vina lama-lama kesal juga karena Pak Rudi seperti selalu mencari kejelekan dirinya yang hanya berujung fitnah. Anggi menyenggol lengan Vina memperingatinya agar tetap jaga sikap di hadapan Pak Rudi jika ia ingin mendapatkan izinnya untuk pulang. “Jadi bagaimana, Pak? Apa Vina diizinkan untuk pulang?” “Iya, bapak izinkan.” Tidak disangka Pak Rudi malah memberikan izin pada mereka dengan mudahnya tanpa syarat-syarat yang tentunya menyusahkan Vina nantinya. “Bapak tidak mungkin melarang siswa yang sedang sakit untuk pulang beristirahat di rumah mereka. Apalagi seragamnya juga sudah kotor begitu.” Vina melebarkan senyumnya, perasaan kesal yang tadinya ia rasakan untuk guru laki-laki di hadapannya itu menghilang seketika. Ia bangkit berdiri dan segera meraih tangan Pak Rudi yang memang ia letakkan di atas meja dan menciumnya. “Terima kasih banyak, Pak. Bapak memang yang terbaik.” Vina menunjukkan dua jempolnya di hadapan Pak Rudi yang membuat Anggi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyolnya bahkan di hadapan guru sekali pun. Mendapat pujian tak terduga itu membuat Pak Rudi berdehem demi menghilangkan perasaan senang yang ia rasakan saat ini. “Iya, tapi besok tetap harus masuk, ya. Jangan membolos.” “Iya, Pak, aku janji.” Anggi berdiri dari duduknya dan menyalami tangan gurunya itu mengikuti jejak Vina yang sudah terlihat segar bugar di sampingnya. “Kalau begitu kami permisi, Pak.” Setelah pamit, keduanya kemudian keluar dari kantor dengan perasaan gembira Vina yang akhirnya bisa pulang cepat. Ia tak menyangka musibah yang tadi ia alami malah membawa keberuntungan untuknya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN