Part 25

2116 Kata
“Duh, lapar.” Vina memegangi perut ratanya yang mendadak demo ingin segera diisi. Perhatiannya yang awalnya fokus pada televisi di kamar Anggi beralih pada pemilik kamar itu yang duduk tepat di sampingnya. Mereka berdua memang sedang menonton film horror bersama demi mengisi waktu kosong dan mengusir kebosanan. “Di rumahmu ada yang bisa dimakan, nggak?” Anggi yang masih fokus menatap layar televisi sambil menyembunyikan sebagian wajahnya dengan selimut karena rasa takutnya pada sosok hantu yang akan muncul di layar persegi itu, ia memang suka menonton film horror namun di saat yang bersamaan juga merasa takut dengan sosok hantu yang senantiasa muncul dan membuatnya berteriak ketakutan dan terkadang bersembunyi di balik punggung Vina yang memang selalu ia temani untuk menonton film horror bersama sepulang sekolah. “Kebetulan masih ada pudding di kulkas sisa tadi pagi.” “Asyik.” Mendengar jawaban Anggi yang tentunya menguntungkan baginya, Vina segera turun dari ranjang dan ingin cepat-cepat ke dapur mengambil pudding dan menikmatinya bahkan sebelum si pemilik rumah menawarinya. Bagi orang tidak tahu malu sepertinya memang tidak tahu bagaimana cara bersikap sopan dan malah menganggap rumah orang lain sebagai rumahnya sendiri apalagi ia memang sudah akrab dengan kedua orang tua Anggi yang tentunya tidak keberatan dengan kunjungannya di rumah itu setiap saat. “Mau kemana?” Alvin yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya sambil bersandar di pinggiran ranjang menoleh pada adiknya yang tampak terburu-buru menuju pintu. Ia tentu tak bisa mengabaikan begitu saja sikap adiknya yang kurang sopan berkeliaraan di rumah orang lain meskipun itu Anggi sendiri. Dekat atau tidak mereka harus tetap bersikap sopan saat berkunjung di rumah orang lain. “Mau ke dapur,” jawab Vina santai tak menghiraukan raut wajah kakak kembarnya yang tampak menegurnya dengan halus. Bukannya ia tidak tahu namun ia hanya berusaha untuk mengabaikannya dan pura-pura tidak tahu karena lebih memikirkan soal perutnya yang minta diisi saat ini. Ia segera membuka pintu dan bersiap untuk melangkah keluar saat suara Alvin kembali menghalangi langkahnya. “Buat apa? Jangan bersikap nggak sopan di rumah orang, Na. Ingat, kita cuma tamu di sini.” Alvin memberikan penegasan dalam kalimatnya disertai tatapan tajamnya yang membuat Vina cemberut di samping pintu yang terbuka lebar. Anggi yang mengetahui perdebatan dua saudara kembar itu jadi merasa bersalah dan berusaha untuk menengahi keduanya sebelum perang besar terjadi di antara keduanya. Ia sudah cukup sering melihat pertengkaran dua saudara itu baik pertengkaran biasa yang terkesan seperti candaan mau pun pertengkaran serius yang membuat siapa pun yang sedang menyaksikan pertengkaran keduanya merasa tidak nyaman. “Nggak apa-apa, Vin. Lagipula yang nyuruh Vina ke dapur itu aku. Kebetulan aku juga lagi pengin ngemil tapi terlalu malas untuk bergerak dan Vina dengan senang hati mau mengambilnya untuk kita berdua di kulkas.” Mendengar Anggi yang membelanya membuat raut wajah muram Vina menjadi kembali cerah. Tidak salah ia mempunyai sahabat sebaik Anggi dan tentu saja kakak kembarnya tidak salah dalam memilih pacar yang selain cantik juga hatinya baik. “Tuh, dengar sendiri ‘kan apa kata Anggi?” Tanpa menghiraukan raut wajah Alvin yang masih berusaha ingin menegurnya, ia segera pergi dari sana menuju dapur untuk mengambil pudding yang pastinya sangat enak untuk mereka nikmati di siang hari yang panas seperti saat ini. Melihat kepergian adiknya yang tentunya tak bisa ia cegah, Alvin menoleh pada Anggi yang masih menikmati film horror di depannya sambil menyembunyikan wajah bagian bawahnya yang hanya bisa menampilkan kedua matanya yang mengintip di balik selimut tebal yang ia gunakan untuk melindungi matanya dari melihat sosok menyeramkan yang sangat ia takuti hingga terkadang tidak bisa tidur sendirian di malam hari dan minta ditemani oleh ibunya yang memang kebetulan ia adalah anak tunggal di keluarganya. “Jangan terlalu manjain Vina, Nggi. Kamu tahu sendiri ‘kan bagaimana anak itu jadi semena-mena sama kamu. Dia bahkan nggak bisa membedakan antara di rumah orang atau di rumah sendiri.” Anggi menurunkan selimutnya yang sejak tadi menutupi sebagian wajahnya, rasa takutnya akibat film horror yang sedang ditontonnya saat itu menguar seketika. Ia menolah pada Alvin yang juga sedang manatapnya saat ini. “Nggak apa-apa kali, Vin. Lagipula mamah sama papahku nggak keberatan, kok. Mereka malah senang kalau Vina ada di rumah karena ia bisa menghidupkan suasana dan rumah juga jadi lebih ramai karena dia.” “Tapi aku takut kalau Vina jadi kebablasan, Nggi. Kamu tahu sendiri ‘kan bagaimana sikapnya Vina?” Alvin menghela napas di sela-sela tangan kanannya yang mengacak rambutnya dengan pelan, game yang sejak tadi ia mainkan sudah game over sejak tadi dan ia tidak berniat untuk melanjutkan memainkannya lagi. Anggi tersenyum melihat wajah frustasi pacarnya. “Aku tahu, kok. Justru karena aku tahu makanya aku membiarkannya bersikap apa adanya di rumahku. Karena aku yakin Vina tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuatku dan kedua orang tuaku marah padanya.” Matanya beralih pada pintu kamarnya yang menjeblak terbuka dan menampakkan Vina yang sedang membaca sepiring pudding yang masih banyak ke dalam kamarnya. Wajah Vina tampak sumringah saat membawa pudding cokelat yang tampak sangat enak dan menggugah seleranya itu. “Tada, puddingnya sudah datang,” serunya ceria kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Alvin yang hanya bisa pasrah dan tentu saja ikut menikmati pudding milik keluarga Anggi bersama adik dan pacarnya. ***** “Jadi begitu cara kerjanya,” jelas Alvin sambil memandangi wajah Bayu dan Adit bergantian. Dua sahabatnya itu tampak mendengarkan penjelasannya dengan tenang dan penuh konstentrasi melihat bagaimana ia menjelaskan sambil mengerjakan salah satu contoh soal Matematika. Bukan tanpa alasan mereka belajar dengan giat karena setelah jam istirahat nanti bakalan diadakan ulangan mendadak dari Pak Rudi berdasarkan infromasi dari Anggi yang sudah melewatinya beberapa menit yang lalu dan itu cukup membuat gadis manis itu kerepotan juga, beruntung ia selalu belajar di rumah jadi ia masih bisa menyelesaikan sepuluh soal tanpa kesusahan, berbeda dengan Angga, Bagas dan Danu yang hanya bisa menyelesaikan beberapa soal dan itu pun hasil dari mencontek kanan kiri. Vina menguap lebar karena rasa kantuk yang menderanya terlebih lagi melihat soal Matematika di depannya membuatnya bosan setengah mati. Ia bahkan tidak panik mendengar informasi yang dibawakan Anggi ke kelas mereka soal ulangan dadakan yang akan dilakukan Pak Rudi, karena baginya mau belajar atau tidak hasilnya akan tetap sama, ia tetap tidak akan bisa mendapatkan nilai tinggi yang selalu diidam-idamkan semua orang. “Soalnya lumayan susah nggak?” Bayu bertanya pada Anggi yang juga ikutan fokus mendengarkan penjelasan dari Alvin. Meskipun ia termasuk yang mudah mencerna pelajaran dengan baik namun ia tetap akan kesusahan jika mengikuti ulangan mendadak. Ia harus belajar minimial satu hari sebelum ulangan agar tetap bisa menjawab soal dengan baik dan tenang. Anggi menggeleng. “Nggak susah, sih. Apalagi semua soal yang masuk sudah pernah diajarkan Pak Rudi sebelumnya.” Ia mengambil ponselnya dan membukanya saat menerima sebuah pesan singkat dari ayahnya yang mengatakan tidak bisa menjemputnya pulang sekolah nanti karena akan lembur di kantor bersama teman kerjanya. “Salah kalau kamu bertanya sama orang pintar, Yu.” Adit memutar matanya. “Bagi orang pintar seperti Anggi dan Alvin itu nggak ada apa-apanya, beda sama kita yang punya otak pas-pasan kayak gini.” Ia kembali mencoba menyelesaikan contoh soal yang diberikan Alvin berdasarkan penjelasan pemuda tampan itu. “Benar, Yu. Dan itu artinya kita nggak usah belajar karena sudah tahu bagaimana hasilnya nanti.” Vina memainkan ponselnya dengan santai, ia benar-benar malas untuk belajar saat ini apalagi ia tahu otaknya tidak akan sanggup mencerna apa pun dengan perut kosong. Gara-gara ulangan mendadak itu mereka semua jadi terpaksa harus melewatkan makan siang di kantin. “Perhatikan, Na. Belajar dengan benar, nanti kamu juga yang susah kalau nggak bisa jawab soal.” Alvin merebut ponsel Vina di sampingnya dan berusaha membuat adik kembarnya itu untuk fokus. Ia tidak mungkin membiarkan adiknya itu mendapatkan nilai jelek di saat ia bisa mengajarinya dan membantunya seperti ini. Apalagi di rumah ia juga pasti akan diomeli habis-habisan oleh ibu mereka jika tahu Vina mendapatkan nilai jelek lagi dan tentunya ia juga tidak tega jika melihat adiknya itu dibanding-bandingkan dengan dirinya. “Aku bosan, Vin. Lagipula nggak akan ada yang masuk di otakku.” Vina merebut kembali ponselnya dari tangan Alvin yang untungnya pemuda tampan itu tidak berusaha menjauhkannya. Ia lebih memilih untuk membuka media sosial dan membaca-baca informasi tentang idolanya yang terbaru dan lebih seru untuk ia ketahui daripada harus belajar dalam keadaan terpaksa. “Justru karena itu, Na. Setidaknya kalau kamu belajar tapi tetap dapat nilai jelek itu nggak apa-apa selama kamu sudah berusaha.” Alvin berusaha sabar membujuk adik kembarnya yang tentunya akan sangat keras kepala jika menyangkut masalah belajar. Jangankan ulangan mendadak, belajar untuk ujian kenaikan kelas saja gadis itu tidak mau dan tentunya harus dipaksa lebih dulu oleh orang tuanya. “Buat apa coba? Ngapain buang-buang waktu untuk hal yang sudah kita tahu hasilnya.” Vina memutar matanya dengan kesal dan kembali ingin fokus pada ponselnya saat ekor matanya menangkap sosok pemuda yang sudah sangat ia kenali itu melewati kelasnya. Sekonyong-konyong ia berdiri dan langsung berlari mengejar langkah pemuda itu dan tentu saja mengabaikan panggilan Alvin di belakangnya. “Keenan, tunggu.” Vina tak menghiraukan jika panggilannya pada pemuda di depannya menarik perhatian siswa lain yang berjalan atau berkumpul di depan kelas masing-masing. Ia tersenyum melihat Keenan yang memelankan langkahnya tanpa menoleh, namun ia tahu bahwa pemuda itu sengaja memelankan langkahnya agar ia bisa mengejar langkah lebar pemuda itu. Saat sudah berjalan di samping pemuda itu Vina bisa melihat senyum tipis di bibirnya yang membuat hatinya senang tidak karuan. Mereka berdua berjalan tanpa mengucapkan sepatah kata pun menuju atap sekolah yang memang sudah seperti markas pribadi mereka yang tentunya hanya bisa dikunjungi oleh mereka berdua. Saat mereka tiba di atap sekolah, mereka segera mengambil posisi duduk bersandar di dinding menikmati angina sejuk yang menyegarkan. “Katanya tadi di kelas kalian ada ulangan mendadak dari Pak Rudi?” Vina mengeluarkan suaranya melihat Keenan menguap dan memejamkan matanya dengan posisi duduk bersandar pada dinding dan kedua tangan yang menyilang di dadanya. Meskipun pemuda itu sedang memejamkan matanya namun ia tahu bahwa pemuda itu belum tidur dan masih mendengarkannya dengan baik. Keenan mengangguk masih dengan memejamkan kedua matanya. “Benar,” jawabnya singkat namun tentu saja dengan nada yang lebih ramah dari saat mereka pertama kali kenal. Beberapa hari ini memang hubungan keduanya sudah mulai membaik dan lebih sering menghabiskan waktu berdua bersama. “Susah nggak?” Vina bertanya dengan jari-jarinya yang sibuk bermain di atas layar ponselnya, ia sedang bermain game offline yang memang sering ia mainkan di kala bosan selain berselancar di dunia maya. Matanya fokus pada benda mati itu dan tak menyadari tatapan Keenan yang kini mengarah padanya. “Nggak, sih. Biasa aja.” Keenan mengangkat bahunya santai, seolah yang dikatakannya adalah hal yang normal, namun tentu saja cukup mengejutkan bagi gadis cantik di sampingnya yang kini menatapnya dengan tatapan terkejut. “Serius? Aku nggak tahu kalau kamu ternyata pintar.” Vina kembali fokus pada game di ponselnya karena hampir saja ia mendapatkan dua kata sakral yang ditulis dengan huruf kapital seolah mengejeknya tidak becus dalam bermain game. “Tahu begitu aku bawa bukuku ke sini dan minta diajar sama kamu. Daripada belajar di kelas bikin bosan.” “Aku nggak sepintar itu, kok. Maksudku, aku cuma menjawab yang aku bisa, yang nggak bisa kubiarkan kosong. Santai, sih, mau dapat nilai jelek atau bagus nggak ada bedanya buatku.” Keenan kembali menguap dan kini merebahkan kepalanya di atas paha Vina yang tidak keberatan dengan sikap lancangnya itu. Ia langsung memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur meskipun telinganya masih berusaha untuk mendengarkan apa pun yang akan dikatakan Vina padanya. Vina mengangguk setuju dengan ucapan Keenan yang sepaham dengan prinsipnya. Matanya masih fokus menatap layar ponselnya dan terkadang berseru senang tanpa suara saat bisa melewati level yang cukup sulit untuk ia taklukkan. “Iya, kan. Aku juga berpikir begitu. Makanya aku malas belajar dan malah lari ke sini.” Ia tertawa pelan. “Aku malas belajar karena hasilnya akan tetap sama saat nggak belajar. Jadi bagiku belajar adalah hal yang sia-sia.” Keenan tersenyum mendengar penuturan jujur dari Vina. Ini salah satu yang membuatnya nyaman dengan gadis cantik itu karena kejujurannya yang sama sekali tidak dibuat-buat. Ia selalu mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya dan tidak perduli apakah hal itu bisa membuatnya terlihat buruk atau tidak. “Aku juga benci belajar,” akunya jujur tanpa berusaha menarik perhatian gadis cantik itu. “Ihh, kok sama, sih? Jangan-jangan kita jodoh.” Vina tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri. Ucapan bercanda sekaligus doa yang ia harapkan benar-benar terjadi pada mereka berdua. Begitu pun dengan Keenan yang hanya tertawa mendengar ucapannya. Setelah kalimat terakhir Vina, mereka berdua lebih banyak diam dan menikmati waktu dengan cara mereka masing-masing sebelum harus kembali masuk ke dalam kelas dan mengikuti pelajaran yang membosankan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN