“Keenan itu sosok yang bagaimana sih, Ngga?” Vina memandangi Angga yang duduk di depannya dengan wajah serius meminta penjelasan dari pemuda manis itu. “Maksud aku, dia di kelas bagaimana? Termasuk siswa yang pintar atau bukan?” Ia tidak mungkin lupa dengan pembicaraannya dua hari yang lalu bersama Keenan di atap sekolah di mana pemuda tampan itu mengatakan dengan mudah bisa menyelesaikan soal ulangan mendadak dari Pak Rudi seolah-olah itu bukan hal yang besar.
Dirinya saja yang awalnya merasa santai dan menganggap belajar itu tidak penting pada akhirnya malah menyesali keputusannya untuk tidak belajar bersama di kelas waktu itu, karena akhirnya ia merasakan sendiri bagaimana memusingkannya harus berhadapan dengan soal rumit yang sama sekali tidak ada bayangan bagaimana menyelesaikannya, yang tentu saja ia berakhir dengan nilai tiga puluh dan mendapatkan tawa paling keras dari Adit yang berhasil mengalahkannya dengan nilai lima puluh.
Angga yang sedang fokus dengan mainan ular tangga di depannya dan sedikit mengumpat tanpa suara gara-gara terpaksa harus turun karena berhenti di ekor ular yang panjang mendongak pada gadis cantik di depannya yang kini melakukan gilirannya. “Biasa saja, sih,” ujarnya sambil memperhatikan Vina yang melangkah jauh di atasnya gara-gara kesialannya tadi. “Aku bahkan kadang nggak ingat ada dia di kelas gara-gara lebih banyak tidur. Kenapa? Bukannya kamu lebih tahu soal dia?”
“Karena sering bersama belum tentu jadi lebih tahu kepribadiannya bagaimana ‘kan?” Vina memperhatikan Angga yang hanya mendapatkan kesempatan untuk melangkah satu kali, ia tersenyum melihat pemuda manis itu lagi-lagi mengumpat kesal gara-gara s**l. Bukan tanpa alasan juga sahabatnya satu itu kesal dan tidak tenang melihat kekalahan sudah di depan mata, karena mereka bermain sambil mempertaruhkan uang seratus ribu dan satu action figure spiderman-nya yang paling ia sayang. Ia tidak mungkin bisa ikhlas menyerahkan benda berharganya itu pada orang lain.
“Ya sama, kita memang sekelas tapi bukan berarti aku jadi bisa tahu kepribadiannya bagaimana. Lagipula di kelas dia nggak punya teman dan satu-satunya yang terkadang mengajaknya bicara cuma ketua kelas. Dia juga lumayan dingin orangnya ditambah rumor buruk tentang dia membuat orang-orang malas mengajaknya berteman.” Angga tersenyum sumringah menatap Vina yang kini bergantian mengumpat karena mendapatkan ekor ular yang membuatnya harus turun. “Yes, nggak jadi kalah,” serunya mendapatkan kepercayaan dirinya kembali.
Vina mendelik kesal melihat wajah senang Angga yang seolah-olah sudah memenangakan permainan padahal perjalanan mereka masih sangat jauh. “Jangan senang dulu,” kesalnya. Ia memperhatikan dengan seksama saat Angga mengocok dadunya dan melemparnya ke lantai, dalam hati ia berdoa agar pemuda manis itu hanya mendapatkan angka satu yang membuat jarak di antara mereka berdua tidak terlalu jauh karena kini ia berada di belakang Angga. Ia sedang mempertaruhkan poster aktor kesayangannya saat ini dan tidak akan pernah ikhlas jika poster yang ia beli dengan uang hasil menabung selama beberapa bulan yang bahkan sudah mendapatkan tanda tangan asli di atasnya itu berpindah tangan.
Ia langsung tersenyum senang saat doanya terkabulkan karena kini Angga mendapatkan angka satu yang membuktikan bahwa doanya tadi sedang dikabulkan, namun belum sempat mengeluarkan suara untuk mengejek sahabatnya itu, matanya langsung melotot melihat Angga malah mendapatkan tangga yang membuatnya bisa naik satu tingkat di atasnya. “s**l,” umpatnya kesal dengan wajah yang benar-benar kusut. “Sekarang giliranku,” ujarnya mengambil alih dadu dan mengocoknya keras berharap tindakannya itu bisa membuatnya mendapatkan angka enam.
Angga tertawa melihat Vina yang hanya mendapatkan angka tiga, ia benar-benar sudah berada di atas awan sekarang karena merasa dirinya sudah semakin dekat dengan kemenangan. “Kasian kamu, Na,” ejeknya dengan wajah menjengkelkan yang membuat Vina hampir saja melemparkan dadu ke wajahnya. “Oh iya, kalau nggak salah Keenan itu termasuk siswa yang pintar loh.” Melihat raut wajah marah gadis cantik di depannya membuat Angga berusaha mengalihkan perhatiannya dan ia tahu betul bahwa pembahasan mengenai pujaan hatinya itu pasti akan ampuh untuk mengalihkan rasa marah gadis itu.
“Beneran?” Wajah Vina yang tadinya murung kini bersinar kembali yang membuat Angga bersorak dalam hati karena triknya berhasil. “Aku juga berpikirnya begitu, sih. Eh tapi, bagaimana kamu bisa tahu kalau dia pintar?” Gara-gara pembahasan mengenai Keenan, ia bahkan kini sudah tidak memperhatikan jalannya permainan dan merasa biasa saja saat Angga berhasil maju enam langkah di depannya yang membuat sahabatnya itu tinggal maju beberapa langkah lagi untuk menuju finish.
“Beberapa kali ia ketahuan tidur dan dihukum untuk mengerjakan soal di depan atau bahkan diberikan pertanyaan mendadak sama guru, tapi anehnya meskipun dia dari tadi tidur dan tidak memperhatikan pelajaran sama sekali tapi dia bisa menjawab dengan mudah loh. Itu apa namanya coba kalau bukan pintar?” Angga tidak bisa menyembunyikan rasa irinya saat mengingat momen di mana Keenan yang ingin dihukum oleh guru malah membuat kagum karena bisa menjawab dengan cepat dan benar tanpa harus mencontek terlebih dahulu. Sedangkan dirinya yang memperhatikan penjelasan guru dari awal sampai akhir saja belum tentu bisa menjawabnya dengan benar.
“Sudah kuduga.” Vina menjentikkan jarinya merasa puas dan bangga padahal bukan dirinya yang sedang dipuji. “Pantas saja dia bilang bisa menjawab dengan mudah soal ulangan mendadak dari Pak Rudi. Tahu begitu aku minta diajarin sama dia waktu itu.” Ia cemberut dan sedikit malu mengingat betapa pedenya ia menyamakan dirnya dengan Keenan yang ia pikir sama dengan dirinya, malas belajar dengan nilai yang jelek. Padahal aslinya pemuda itu tanpa belajar sekali pun bisa menyelesaikan soal dengan baik dan benar.
Angga mengerutkan keningnya. Ia pikir mungkin Vina pernah melihat pemuda itu mengerjakan soal dengan mudah tanpa melihat contoh penyelesaiannya terlebih dahulu, namun ternyata alasannya lumayan sederhana. “Kamu curiga dia pintar cuma gara-gara itu?” Lawan bicaranya mengangguk dengan wajah polos. “Ya nggak salah juga, sih. Lagipula memang ada siswa yang kayak gitu, malas belajar tapi otak encer dan dapat nilai tinggi terus. Bikin iri aja.”
Danu yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya namun diam-diam memperhatikan Vina dan Angga yang seperti sedang membahas sesuatu yang serius di sudut ruang tamu Bayu tidak bisa mengabaikan rasa penasarannya. Ia bangkit dari tidurnya yang sedang rebahan santai di samping Bagas yang sedang bertanding bersama Bayu. Ia menoleh pada Alvin yang sudah menyelami mimpi semenjak kedatanganya di rumah itu bersama Vina sebelum beranjak dari tempatnya dan mendekati Vina dan Angga yang masih serius memainkan permainan ular tangga mereka. “Lagi bahas apa, sih? Kayaknya seru banget, deh.” Ia mengambil posisi duduk di samping kanan Angga yang langsung menoleh padanya.
“Biasa, lagi bahas pujaan hatinya Vina.” Angga menjawab dengan nada santai tak menyadari wajah Danu yang mendadak keruh mendengar nama pemuda yang entah kenapa ia benci itu disebut. Angga kembali memperhatikan Vina yang maju enam langkah setelah sekian lama, namun ia tidak merasa terancam karena kini sisa lima langkah lagi baginya untuk mendapatkan kemenangan.
Vina melempar Angga dengan dadu di tangannya merasa tidak terima saat Keenan disebut sebagai pujaan hatinya, karena ia tidak menganggapnya demikian dan mendekati pemuda itu karena rasa tertariknya saja, karena ia sendiri masih bingung dengan perasaannya yang sebenarnya ia rasakan untuk pemuda itu. hanya berawal dari rasa penasaran karena telah menolongnya hingga akhirnya membuatnya ingin berteman dan terus bersama pemuda tampan itu. “Pujaan hati apaan? Jangan ngaco, deh.”
Angga menangkap dengan mudah dadu yang dilempar Vina sebelum mengenai wajahnya. Ia cukup terkejut dengan gerak refleksnya itu yang tidak ia sangka akan berhasil. “Loh, memang benar ‘kan? Kamu setiap hari ngejar-ngejar dia dan nyari kabar tentang dia terus. Dan sepertinya di dalam otakmu cuma ada sosoknya Keenan.” Ia menampilkan wajah mengejeknya setelah menyelesaikan kalimatnya yang membuat gadis cantik di depannya kembali ingin melemparnya namun tidak punya sesuatu untuk ia lemparkan.
“Kenapa dengan Keenan?” Danu mengeluarkan suaranya setelah beberapa saat diam, ia hanya ingin menunjukkan pada kedua sahabatnya itu bahwa ia masih ada di sana, karena melihat Vina dan Angga yang sibuk berinteraksi berdua seolah-olah tidak ada dirinya di sana saat itu. Kepalanya kemudian menoleh ke tempat di mana Bayu sedang bermain bersama Bagas di depan televisi saat wanita paruh baya memanggil Bayu untuk ke dapur mengambil camilan untuk mereka semua. Jujur saja, hampir setiap hari mereka berkunjung ke rumah itu, namun sangat jarang bisa melihat wajah ibu dan ayah Bayu yang memang lebih sibuk di luar kota daripada di rumah bersama anak semata wayangnya. Sehingga ia, Bagas dan Adit lah yang sering menginap di sana untuk menemani Bayu agar tidak kesepian di rumahnya yang besar dan sepi.
“Asyik ada makanan.” Vina berbisik di depan wajah Angga saat Bayu mengikuti langkah ibunya ke dapur untuk mengambil camilan yang dimaksud ibunya, sementara Adit yang ditinggal sendirian terpaksa dibantu oleh Alvin yang memang sengaja dibangunkan oleh Bayu agar tidak mengganggu jalannya permainan mereka. Ia memang sejak tadi sudah menunggu untuk ditawarkan makanan atau minuman oleh tuan rumah, ia tentu tidak bisa bersikap santai seperti biasanya di rumah itu dan mencari makanan sendiri di dapur Bayu mengingat kedua orang tua sahabatnya itu sedang ada di rumah saat ini.
Angga menggeleng pelan melihat sikap tidak tahu malu gadis cantik di depannya yang hanya memikirkan soal makan selain Keenan tentunya. “Makanan saja yang ada di dalam kepalamu, Na. Tapi anehnya itu badan nggak gemuk-gemuk juga.” Ia benar-benar heran kemana perginya semua makanan yang masuk ke dalam tubuh gadis cantik itu melihat tubuhnya yang kurus. Padahal makannya tidak pernah sedikit dan selalu mengemil setiap saat seolah-olah tidak bisa hidup tanpa mengemil sesuatu.
“Iya, Ngga. Heran, deh, kemana perginya semua makanan yang dia makan, ya?” Danu juga tak habis pikir kenapa tubuh Vina tetap kurus seperti orang yang tidak pernah makan padahal porsi makannya lebih banyak dibandingkan mereka yang laki-laki. Sedangkan dirinya saja, berat badannya bisa naik walau cuma minum air putih. Beruntung badannya tinggi sehingga bisa mengimbangi berat badannya itu, meskipun ia tetap saja merasa tidak nyaman dengan badannya yang sedikit lebih besar dari kelima sahabatnya itu. Meskipun bagi Angga yang bertubuh kecil, badan seperti Danu adalah impiannya sejak kecil namun sayang ia tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi dan bertahan dengan tinggi yang sama dengan Vina sehingga membuatnya terlihat paling kecil di antara kelima sahabatnya yang lain.
Vina tersenyum dengan wajah centil dan sok imutnya mendengar pertanyaan heran dari kedua sahabatnya itu. “Itu karena aku sempurna.” Ia mengibaskan rambutnya yang memang sengaja ia gerai karena habis keramas sebelum ke rumah Bayu dan membiarkannya kering dengan alami. Menyadari rambutnya sejak tadi tergerai bebas, ia tiba-tiba saja merasa gerah dan bergegas mengambil ikat rambut yang memang ia siapkan di saku celana denimnya. Beruntung rambutnya itu sudah kering sehingga ia bisa mengikatnya tanpa merasa khawatir rambutnya itu akan rusak karena diikat saat masih basah.
“Sempurna dari Hongkong?” Danu menoyor kening Vina dengan telunjuknya dengan gemas melihat kepercayaan diri gadis cantik itu yang terlalu tinggi. Ia tentu melakukannya dengan pelan dan tidak ada niatan sedikit pun untuk menyakiti gadis cantik yang selain sahabat juga merupakan sosok adik baginya karena perbedaan usianya yang memang lebih tua tiga bulan dari gadis itu.
Sedangkan Vina yang ditoyor oleh Danu hanya tertawa tanpa merasa marah sedikit pun. Bahkan ia sama sekali tidak memperhatikan Angga yang saat ini sedang melakukan gilirannya, ia bahkan juga lupa kalau kekalahannya sudah di depan mata. Gara-gara makanan, perhatiannya jadi teralihkan dari jalannya permainnya bersama Angga yang mempertaruhkan poster berharganya.
“Yes, aku menang!” Angga berseru senang sambil mengangkat tangannya ke udara yang membuat Vina langsung melotot memandangi bidak Angga yang sudah berada di garis finish. Akibat teriakan mendadak Angga itu jelas membuat para sahabatnya yang lain langsung menoleh penasaran ke arahnya, meskipun hanya sebentar mengingat mereka juga sedang bermain saat itu.
“Ihh, kok bisa, sih?” Vina tampak tidak terima dengan kekalahannya, mendadak ia memikirkan nasib poster berharganya yang harus berpindah kepemilikan. Ia tidak ikhlas dan tidak akan pernah ikhlas melepaskan barang berharganya itu kepada orang lain meskipun itu sahabatnya sendiri. Padahal itu adalah idenya sendiri saat mengajak Angga bermain ular tangga yang mempertaruhkan benda paling berharga milik mereka berdua.
Angga mendecak kesal. “Ya, bisa lah. Intinya sekarang aku menang. Jadi mana duitnya?” Tangannya menengadah ke depan, di depan wajah Vina yang masih tampak keberatan dan tidak bisa menerima kekalahannya yang sudah di depan mata.
Dengan berat hati dan wajah yang cemberut, Vina menyerahkan uang lembar seratus ribu kepada Angga yang menerimanya dengan wajah bahagia. “Nih, posternya besok, ya,” ujarnya antara ikhlas dan tidak ikhlas. Dengan terpaksa dan berat hati ia harus menyerahkan poster kesayangannya pada pemuda manis itu esok hari di sekolah.
Angga mengangkat wajahnya dengan ekspresi menyebalkannya. “Iya, dong. ‘kan sesuai perjanjian.”
Danu yang sejak tadi memperhatikan keduanya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Ia tidak menyangka permainan sederhana yang biasanya dimainkan oleh anak kecil itu mempertaruhkan barang pribadi masing-masing. “Kalian berdua ada-ada saja, deh,” ujarnya sebelum beranjak dari duduknya menuju Bayu yang baru saja keluar dari dapur dengan makanan di tangannya.
*****