Part 27

1110 Kata
“Nih, sesuai janjiku kemarin. Ingat, dirawat sebaik mungkin seperti anak sendiri.” Vina menyerahkan gulungan posternya kepada Angga dengan mengunjungi kelas pemuda itu saat waktu istirahat. Raut wajahnya tampak benar-benar tidak ikhlas saat menyerahkan benda berharganya itu, ia sempat ingin mengingari janjinya dan tidak masuk sekolah hari ini namun akal sehatnya menyadarkannya. Sebagai sahabat yang baik ia tetap harus menepati janji yang ia buat, apalagi pada awalnya itu memang idenya sendiri yang menantang Angga untuk bermain ular tangga demi mengusir kebosanan. “Ya ampun itu ‘kan cuma poster, lebay kamu, Na.” Bagas mencibir dengan wajah mengejeknya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana sebuah kertas seperti itu bisa begitu berharga, sementara di matanya itu hanya kertas tak bernilai yang di permukaannya terdapat foto orang yang tidak ia kenali. Padahal itu bisa dicetak di toko percetakan kapan saja. “Eh, jangan salah, ya.” Vina berkacak pinggang di depan meja Bagas yang mendongak menatap tubuhnya yang menjulang tinggi di hadapannya. Raut wajah gadis cantik itu sudah seperti ibu-ibu yang siap mengomeli anaknya saat ini. “Itu tuh benda berharga yang dicetak dengan kertas dan tinta berkualitas tinggi yang tentu saja harganya sangat mahal, ditambah lagi di atasnya ada tanda tangan asli dari oppa-ku.” “Cuma tanda tangan doang mah biasa. Aku juga bisa kali kasih tanda tangan, gratis lagi. Mau?” Bagas membuka penutup pena yang kebetulan ada di atas mejanya yang belum sempat ia masukkan ke dalam tasnya. Bersiap memberikan tanda tangan gratis pada gadis cantik di depannya yang menatapnya geli. Vina menjauhkan tubuhnya dari Bagas yang bersiap menarik tangannya untuk menorehkan tanda tangannya di telapak tangan gadis itu. “Ihh, siapa juga yang mau tanda tangan kamu? Memang situ artis? Sorry, ya, yang boleh mencoret telapak tanganku dengan indahnya cuma oppa-ku yang ganteng.” Angga yang sejak tadi hanya terdiam menyaksikan pertarungan sengit antara Vina dan Bagas hanya bisa bingung karena tidak mengerti sama sekali. Ia menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan wajah polosnya. “Guys, opa itu siapa? Kakek kamu, ya, Na? Tapi kalau lihat fotonya kelihatannya dia masih muda untuk jadi kakek-kakek, deh.” Ia menatap Vina dan Bagas secara bergantian meminta penjelasan dari kebingungan yang menderanya, sungguh otaknya tidak bisa mencerna apa pun dan sama sekali tidak punya gambaran tentang sosok oppa yang selalu disebut-sebutkan oleh Vina, sementara di poster yang gadis cantik itu berikan padanya ia tidak melihat sosok kakek-kakek di sana melainkan foto laki-laki tampan yang terlihat menawan. Sekonyong-konyong Bagas dan Danu yang sejak tadi berusaha untuk tidur namun tidak bisa karena suara berisik yang ditimbulkan Vina dan Bagas langsung tertawa keras. Tidak tanggung-tanggung Bagas malah tertawa terbahak-bahak sambil memukul meja yang membuat kelas semakin bising karena ulahnya, dan tentu saja ia tidak perduli dengan tatapan kesal dari beberapa teman sekelasnya yang merasa terganggu oleh ulahnya. Sedangkan Vina yang mendengar pertanyaan polos Angga tentang sosok idolanya yang dipikirnya adalah sosok laki-laki tua paruh baya yang biasa disebut kakek itu hanya bisa melotot dengan mulut menganga. “Apa, Ngga? Kakek? Bisa-bisanya kamu bilang oppa kesayanganku sebagai kakek.” Tangannya dengan sigap mengambil alih posternya yang sudah menjadi milik Angga itu dan menujukkan wajah tampan aktor kesayangannya di hadapan wajah pemuda manis itu. “Coba lihat, apa cowok ganteng, muda dan mempesona kayak gini bisa disebut kakek?” tanyanya sensi yang membuat Angga meneguk ludahnya, sedangkan Bagas dan Danu masih cekikikan di kursinya. “Ya maaf, aku ‘kan nggak tahu makanya bertanya. Memangnya oppa itu artinya apa, sih? Tolong dijelaskan biar aku nggak salah paham lagi.” Angga cemberut dan itu pertama kalinya Vina melihat raut wajah cemberut pemuda manis itu dengan mata kepalanya sendiri, karena biasanya Angga adalah sosok pemuda yang dewasa dan jarang sekali memperlihatkan sikap kekanakannya di hadapan mereka semua sehingga ia selalu berpikir bahwa pemuda manis itu adalah sosok yang paling dewasa di antara mereka semua selain Bayu tentunya. “Oppa itu artinya kakak laki-laki dalam bahasa Korea. Itu panggilan khusus untuk kakak laki-laki dari adik perempuan.” Tak disangka malah Bagas yang menjawab dengan lancar dan jelas kepada Angga mendahului Vina yang sudah bersiap menjelaskan panjang lebar sambil tak lupa untuk memuji sosok idolanya di hadapan mereka semua. Bagas sudah tahu akhirnya akan bagaimana, makanya sebelum telinganya merasa sakit dan bosan mendengarkan penjelasan panjang Vina dan membuat dirinya mengantuk tidak karuan, ia memutuskan untuk menjelaskannya lebih dulu berdasarkan pengetahuannya tentang Negara Gingseng itu berkat ilmu yang ia dapat dari sepupu perempuannya yang sama-sama penggila Korea seperti Vina. Vina menatap Bagas dengan tatapan kagum, ia tidak menyangka sahabatnya itu bisa tahu dan menjelaskan apa arti kata oppa dengan benar. Karena setahunya pemuda itu begitu anti dengan apa pun yang berhubungan dengan Negara yang terkenal dengan drama-drama berkualitas serta boygroup dan girlgroup yang banyak itu. “Woah, Gas, aku nggak tahu kalau kamu suka korea juga.” Ia menarik kursi yang berada di meja sebelah kiri Bagas yang entah milik siapa dan duduk di sana menumpukan kedua lengannya di atas meja dan menatap wajah Bagas dengan raut wajah antusias miliknya. Ia tentu saja senang saat bertemu dengan teman yang memiliki minat dan hobi yang sama dengannya karena dengan begitu mereka bisa berbagi cerita dan pengalaman bersama. Bagas memutar kedua matanya, mendadak ia menyesal sudah menjelaskan hal itu pada Angga yang malah memancing minat gadis cantik di depannya. Ia tidak suka Korea dan hanya tahu sekilas tentang informasi itu saat sepupu perempuannya menjelaskannya padanya, karena sepupunya yang lebih muda setahun darinya itu suka memanggilnya dengan panggilan oppa yang baginya sangat mengganggu dan menganggap sepupunya itu mengejeknya dengan panggilan opah atau dengan kata lain kakek. “Siapa juga yang suka? Aku cuma tahu gara-gara Siska sepupu aku suka sama oppa-oppa juga. Mana aku sering dipanggil oppa kalau dia datang ke rumah lagi. Ihh, bikin geli tahu nggak?” Bagas memeluk tubuhnya yang tiba-tiba merinding mengingat bagaimana sepupunya suka menggodanya dengan memanggilnya dengan sebutan oppa dengan wajah sok dibuat imut tapi jatuhnya malah menggelikan di matanya. Padahal sepupu dari ibunya itu lumayan manis orangnya namun sikapnya yang sama pecicilannya dengan Vina membuat manisnya hilang. “Oppa.” Mendengar penjelasan Bagas dan bagaimana raut wajah pemuda itu saat menceritakan pengalaman buruknya bersama sepupunya yang bernama Siska itu malah membuat Vina ingin menggoda sahabatnya itu. Ia mencolek-colek lengan atas pemuda itu sambil terus-terusan memanggilnya dengan sebutan oppa yang malah membuat Bagas semakin risih dengannya. “Stop, Na. Geli tahu.” Bagas berlari keluar kelas berusaha menghindari Vina serta tak lupa menutup kedua telinganya agar tidak bisa mendengar kata menggelikan itu kembali. Sementara Vina tentu tidak akan tinggal diam dan mengejar langkah pemuda itu serta terus-terusan memanggilnya, tak perduli orang-orang menatap aneh kepadanya yang sudah seperti orang gila. “Oppa, tunggu aku!” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN