Part 28

1590 Kata
“Kenapa nggak bisa?” Vina menatap lurus pada Keenan yang sibuk mengunyah permen karet sebagai pelampiasan saat ia ingin menikmati rokok, berkat Vina pemuda itu kini memilih untuk menikmati permen manis yang sedikitnya bisa mengalihkan perhatiannya dan rasa inginnya untuk menikmati benda mematikan yang membunuhnya secara perlahan itu. Keenan berbalik menatap Vina, gadis cantik itu tampak begitu penasaran kenapa ia menolak untuk mengajarinya padahal ia ternyata adalah siswa pintar yang selalu mendapat rangking dua di kelasnya setelah Anggi yang tentunya baru diketahui oleh Vina hari itu juga. “Bukan nggak bisa, tapi aku lagi malas. Lagipula bukannya kamu sendiri yang bilang kalau nggak suka belajar?” Vina mengalihkan pandangannya ke depan, menghindari tatapan Keenan yang masih tertuju padanya. Ia lebih memilih untuk menikmati angin sepoi-sepoi yang membuat rasa kantuk menderanya ingin segera tidur siang, namun mengingat waktu istirahat sebentar lagi berakhir membuatnya berusaha menahan kantuknya itu. “Habisnya aku bosan, nggak tahu mau ngapain. Mau tidur juga tanggung sebentar lagi masuk.” “Bukannya belajar malah bikin tambah bosan dan mengantuk?” Keenan menaikkan satu alisnya tidak mengerti, baginya sendiri belajar adalah kegiatan yang membosankan dan sangat jarang ia lakukan. ia hanya beruntung bisa memiliki otak yang encer sehingga ketika belajar sedikit sudah bisa mengusai pelajaran tanpa membuatnya harus bergadang lebih dulu untuk menatap buku-buku membosankan. “Iya sih.” Vina menghela napasnya sambil menyilangkan kedua tangannya. Ia tidak sedang membawa ponselnya hari ini karena bangun kesiangan dan terlambat seperti biasa, namun bedanya kali ini ia melupakan ponselnya yang biasanya tidak pernah ia lupakan meskipun ia dalam keadaan buru-buru. “Tapi bosan juga kalau nggak ada kegiatan kayak gini.” Ia merogoh saku roknya yang terdapat earphone putih yang memang selalu ia siapkan di sana malam sebelumnya sama seperti saat ia menyiapkan buku-buku pelajaran yang akan ia pelajari di sekolah esoknya. “Lah, biasanya juga kita kayak gini terus di sini. Beruntung aku nggak tidur dan ninggalin kamu mati kebosanan sendirian.” Keenan menggeleng-gelengkan kepalanya merasa bingung dengan sikap gadis itu hari ini. Padahal biasanya ia selalu meninggalkan gadis cantik itu menikmati waktu sendiri sementara dirinya tidur dengan tenang dan damai sampai waktu istirahat selesai yang tentu saja dibangunkan oleh Vina. Vina menggaruk kepalanya mendengar ucapan Keenan yang ada benarnya juga, padahal biasanya ia malah suka menikmati waktu di sana tanpa adanya kegiatan berarti. Keenan yang tidur dan dia yang sibuk dengan dirinya sendiri. Tapi ketidak hadiran ponselnya hari ini membuatnya baru menyadari rasa bosan itu, maklum ia memang termasuk orang yang tidak bisa lepas dari ponsel. Beberapa jam tanpa ponsel saja rasanya ia sudah bisa mati kebosanan. “Iya juga, sih. Tapi ah sudahlah sebentar lagi juga masuk.” Ia melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Sudah mau masuk, nih, kembali ke kelas, yuk.” Keenan yang awalnya berniat untuk merebahkan tubuhnya dan memejamkan kedua matanya sejenak mengurungkan niatnya saat mendengar ajakan Vina yang mengajaknya untuk kembali ke kelas. Mendadak rasa malasnya meningkat yang membuatnya merasa enggan untuk kembali ke kelas dan berniat untuk membolos saja. Lagipula selama sebulan ini ia sudah cukup menjadi siswa teladan yang selalu masuk setiap hari dan mengikuti pelajaran secara penuh tanpa pernah sekali pun membolos. “Kau saja yang pergi, aku masih mau di sini.” “Jangan bilang kamu mau membolos?” tebak Vina tepat sasaran yang membuat Keenan tidak bisa mengelak. “Ingat, Nan, kalau kamu bolos sekali lagi Pak Darto bakalan hubungi orang tua kamu. Kamu tidak mau itu terjadi ‘kan?” Selama mengenal Keenan beberapa Minggu terakhir ini ia memang sudah cukup tahu lebih banyak tentang pemuda itu yang tentu saja itu semua diceritakan sendiri oleh Keenan atau ia tak sengaja mengetahuinya dari orang lain. Dirinya juga lah yang membuat Keenan tetap masuk sekolah dan tidak membolos seperti yang biasa ia lakukan, jadi ia menemani pemuda itu salah satunya juga karena ia ingin agar pemuda tampan itu menjadi lebih baik lagi, semata-mata juga ingin menunjukkan pada orang lain bahwa Keenan tidak seburuk yang mereka pikirkan. Keenan mengacak rambutnya frustasi, keinginannya untuk membolos tentu langsung diruntuhkan oleh gadis cantik di sampingnya. Namun ia juga tidak bisa mengabaikan rasa kantuknya yang tinggi itu, terlebih lagi tadi malam ia habis bergadang menemani ibunya yang sakit sehingga ia tidak cukup tidur. Namun memikirkan tentang perkataan Vina membuatnya ragu, ia tidak mungkin membiarkan Pak Darto menghubungi ibunya di rumah dan mengatakan bahwa ia membolos di saat keadaan ibunya sedang tidak baik-baik saja sekarang. “Baiklah, ayo.” Ia segera berdiri dan melangkah mendekati pintu yang segera diikuti oleh Vina. Vina tersenyum melihat sikap pasrah Keenan yang terlihat lucu di matanya. “Nah, gitu dong.” Ia dengan senang hati berjalan beriringan bersama pemuda itu menuju kelas mereka yang hanya dipisahkan oleh tembok. Saat sudah semakin dekat dengan kelasnya, ia mengerutkan keningnya melihat kerumunan yang terjadi di sana. Dengan tubuhnya yang tinggi ia cukup mudah melihat sosok yang menjadi pusat perhatian di sana adalah seorang perempuan dengan penampilan mencoloknya. Ia berpikir cukup keras mengingat wajah gadis itu yang tidak pernah ia temui selama bersekolah di sana. Sehingga pembicaraan dua siswi yang ia lewati menjelaskan kebingungannya. Ternyata gadis cantik dengan wajah blasteran itu adalah siswi pindahan dari Amerika yang baru saja masuk hari ini. Ia mendekat pada Keenan dan berbisik pada pemuda itu. “Wah ada siswa baru, cakep lagi.” Ia tertawa di akhir kalimatnya tidak menyadari tubuh Keenan yang menegang di posisinya berdiri sambil menatap lurus pada gadis cantik yang tertawa ramah diajak berkenalan oleh siswa-siswi lama di sana. Melihat Keenan yang terdiam di tempat dan tampak tidak ingin melanjutkan langkahnya, Vina juga ikut berhenti. Ia menatap Keenan di sampingnya yang terdiam cukup lama menatap siswi baru yang menjadi pusat perhatian itu. Tatapannya ikut terpaku pada gadis cantik dengan rambut hitam panjang yang perlahan-lahan mulai menyadari keberadaan mereka. Ia sedikit bingung saat gadis cantik itu menatap ke arah mereka, lebih tepatnya ke arah Keenan yang berdiri di sampingnya dengan wajah senang. Vina yang bingung menoleh pada Keenan ingin meminta penjelasan namun belum sempat ia bertanya, siswi pindahan itu sudah berlari ke arah mereka dan memeluk Keenan dengan erat. Vina terpaku melihat pemandangan di hadapannya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Keenan yang juga balik menatapnya dengan tatapan antara senang dan bingung. Kini mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi di sana termasuk Alvin dan Anggi yang baru saja kembali dari perpustakaan untuk meminjam beberapa buku. “Keenan, aku kangen banget sama kamu.” Siswi pindahan itu melepaskan pelukannya dari tubuh Keenan dengan senyum yang tidak pernah meninggalkan wajahnya. “Akhirnya setelah dua tahun aku bisa ketemu kamu lagi. Kamu juga kangen sama aku ‘kan?” tanyanya mengabaikan tatapan terkejut Keenan yang menurutnya wajar karena ia memang pindah ke sekolah itu untuk memberi kejutan pada kekasihnya yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia temui karena bersekolah di Amerika. Keenan berusaha menyingkirkan rasa terkejutnya dan akhirnya bisa mengeluarkan suaranya. “Laura? Aku tidak tahu kalau kamu sudah kembali dari Amerika.” Matanya memandangi seragam gadis cantik di depannya yang ternyata juga memakai seragam yang sama dengannya. “Kamu sekolah di sini ini juga? Sejak kapan?” “Kejutan!” Laura berseru riang merasa berhasil membuat kejutan pada kekasih yang sangat ia rindukan itu. “Aku sudah kembali satu minggu yang lalu dan baru masuk hari ini karena nggak enak badan, mungkin tubuhku masih berusaha beradaptasi di lingkungan baru lagi.” ia tersenyum yang menampilkan lesung pipi kembarnya yang cantik dan menawan. “Maaf, ya, Nan. Selama di Amerika aku nggak bisa mengabari kamu karena ponselku hilang dan aku benar-benar nggak bisa menghubungi kamu karena nomormu dan nomor teman-teman yang lain ikut hilang juga, ditambah lagi aku nggak hapal. Aku bingung mau hubungi siapa.” Wajahnya mendadak murung seketika. “Andai saja waktu itu aku turutin kata kamu untuk hapal nomor ponselmu biar lebih mudah hubungi kamu kalau ada apa-apa.” Keenan tersenyum, ia mengusap rambut gadis cantik bernama Laura yang merupakan kekasihnya sejak SMP itu dengan lembut. “Nggak apa-apa, Ra. Aku juga setahun belakangan ini jarang pegang hp. Aku tidak pernah berpikiran buruk tentang kamu karena aku sudah kenal kamu sejak kecil. Untunglah tinggal di luar negeri selama beberapa tahun tidak mengubah sikap jujurmu ini.” Laura tersenyum puas, ia benar-benar senang pemuda yang sangat ia cintai itu ternyata tidak berubah meskipun mereka sudah lost contact selama dua tahun lebih. “Aku tahu kamu akan bilang begitu. Makasih sudah jadi pacarku yang tidak pernah berubah dan selalu setia sama aku.” Vina yang sejak tadi menjadi saksi bisu di antara perbincangan keduanya mendadak merasakan tubuhnya tidak memiliki tenaga saat itu juga. Ia tidak menyangka pemuda yang selama ini ia dekati sudah memiliki sosok istimewa di hatinya dan tidak pernah mengatakan apa pun padanya. Ia seperti sudah dibohongi namun tidak bisa melakukan apa pun terlebih marah pada pemuda itu karena memang ialah yang selalu mendekatinya dan bukan pemuda itu. Keenan yang menyadari bahwa ada Vina di sana kembali merasa sangat bersalah, ia tidak pernah bermaksud untuk membohongi gadis cantik itu karena ia sendiri bingung dengan status hubungannya bersama Laura yang sempat kehilangan kabar dan ia menganggap mungkin saja kekasihnya itu sudah memiliki orang lain di sana. Namun kenyataannya mereka berdua kembali dipertemukan di saat ia mulai membuka hatinya pada orang lain. Ia membuka mulutnya ingin mengucapkan sesuatu, namun ia urungkan melihat tatapan penuh kecewa Vina padanya ditambah lagi saat itu Laura masih memeluknya mencurahkan segala rasa rindunya. Ia hanya diam saja saat Vina melangkah menjauh dari sana menuju kakaknya yang menyambutnya dengan tatapan simpati dan ia juga tidak bisa mengabaikan tatapan tajam yang dilayangkan Alvin padanya karena telah membuat adiknya kecewa. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN