Part 29

1393 Kata
Suara ketukan di pintu kamarnya tak membuat Vina bergeming dari posisinya, ia tahu betul siapa yang mengetuk dan membuka pintunya tanpa harus berbalik dan melihat orangnya langsung. Ia terlalu lelah dan malas untuk sekedar membalikkan badannya dan menyambut kakak kembarnya yang kini memasuki kamarnya dan duduk di tepi ranjangnya. Ia bisa merasakan tatapan Alvin yang tertuju padanya di balik punggungnya. “Makan malam sudah siap. Kamu nggak mau makan?” Alvin bertanya dengan tatapan yang lurus mengarah pada adiknya yang berbaring menyamping dan punggungnya yang menghadap ke arahnya. Gadis cantik itu tidak melakukan apa pun, ia hanya menatap lurus pada dinding kamarnya yang sama sekali tidak menarik untuk dilihat dan Alvin jelas tahu apa penyebab dari sikap adiknya yang tidak biasanya itu. Ia tidak mungkin lupa bagaimana sakit hati dan kecewanya gadis itu saat melihat laki-laki yang ia sukai ternyata sudah memiliki kekasih. “Na?” Melihat tidak adanya respon dari sang adik, Alvin memanggil namanya dan ingin bertanya kembali sebelum Vina mengeluarkan suaranya dengan suara serak, hanya dengan mendengar suaranya saja Alvin bisa menebak bahwa adiknya itu habis menangis sejak tadi. “Aku nggak lapar,” ujar Vina tanpa menoleh sedikit pun. Ia masih setia dengan posisinya dan tidak ingin Alvin melihat wajahnya. Ia tidak mungkin memperlihatkan wajah menyedihkan sekaligus memalukan miiknya saat ini di hadapan kakak kembarnya itu. Sepulang sekolah tadi ia memang langsung mengurung diri di kamar dan menangis sepuasnya di sana tanpa suara dan kini matanya sembab dan memerah. “Aku bawakan makanan ke sini mau?” Alvin tidak mungkin membiarkan adiknya itu kelaparan dan berusaha untuk menawarinya untuk membawakan makanan ke dalam kamarnya, berharap adiknya yang memang sangat suka makan itu akan menyetujui tawarannya. Namun yang ia dapatkan malah gelengan kepala pelan yang menandakan bahwa gadis cantik itu sedang tidak ingin apa pun saat ini. “Nggak usah. Aku masih kenyang.” Tangan Vina bergerak untuk meraih selembar tisu yang memang ia simpan di samping kepalanya untuk membersihkan hidungnya yang berair. Sementara ponselnya masih berada di dalam tasnya dan belum pernah ia keluarkan dari sana sejak pulang sekolah tadi siang. Ia benar-benar tidak ingin diganggu saat ini dan hanya ingin menyendiri memikirkan nasibnya yang s**l. Alvin menghela napas. “Tapi kamu belum makan apa pun sejak pulang sekolah tadi, Na. Dan itu membuat mamah dan papah khawatir karena tidak biasanya kamu bersikap seperti ini.” Tatapan mata Alvin penuh iba, ia tidak tega melihat adiknya seperti itu. Inilah alasan terbesar kenapa ia melarang Vina untuk mengenal cinta karena ia tahu hati adiknya itu begitu rapuh dan mudah patah apalagi jika bertemu dengan laki-laki yang salah. “Aku lagi nggak nafsu makan, Vin. Dan tolong jangan lupa tutup pintunya kembali saat kamu keluar nanti.” Vina menarik selimutnya untuk menutupi seluruh tubuhnya meskipun ia merasa tersiksa sendiri karena hawa panas yang menyergapnya. Namun itu ia lakukan karena ia benar-benar tidak ingin diganggu saat itu. Ia ingin sendiri dan ingin menenangkan diri dan perasaannya tanpa diganggu oleh siapa pun. Melihat penolakan halus dari adiknya, Alvin hanya bisa pasrah dan perlahan meninggalkan kamar bernuansa merah muda itu. dengan mata yang tetap tertuju pada gadis cantik yang bergelung di balik selimut di atas ranjang, pintu di hadapannya perlahan ia tutup memberikan ruang bagi Vina untuk menikmati waktunya sendiri tanpa gangguannya mau pun dari orang lain. ***** “Vina nggak datang, Vin?” Mata Bayu menatap lurus ke belakang pemuda tampan yang baru saja memasuki rumahnya, namun ia tidak menemukan sosok ceria yang selalu datang dan membuat heboh rumahnya. Meskipun akhir-akhir ini gadis cantik itu sudah jarang datang ke rumahnya, namun kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda tanpa kehadiran Vina, terlebih lagi saat melihat raut wajah lelah Alvin yang baru kali ini ia lihat kembali. Danu yang mendengar nama Vina disebut oleh sang tuan rumah menolehkan kepalanya yang sedang asyik adu gulat bersama dengan Bagas yang sudah menyerah di bawah kungkungannya. Ia menatap Alvin dengan alis yang terangkat masih dengan lengan besarnya yang menjepit leher Bagas yang sudah meminta dilepaskan sejak tadi. “Iya, Vin. Di mana Vina? Kenapa dia nggak ikut?” tanyanya mengabaikan Bagas yang sudah meronta-ronta di bawahnya. “Dan, tolong, aku sesak.” Bagas berusaha menepuk-nepuk lengan Danu yang masih belum mau melonggarkan jepitan lengannya di lehernya. Ia berusaha meminta tolong pada Angga dan Adit namun kedua sahabatnya itu pura-pura tidak melihatnya karena mereka tentu tidak ingin menjadi korban selanjutnya. ‘Benar-benar teman durhaka,’ batinnya kesal. Danu menatap Bagas yang masih berusaha meminta belas kasihnya. “Bagaimana? Sudah nyerah sekarang?” tanyanya yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bagas. “Jadi bilang apa?” “Ampun, Dan, aku nyerah. Sumpah nggak akan panggil kamu gajah lagi.” Bagas menunjukkan jari kelingkingnya di depan wajah Danu. Ia benar-benar mengaku salah dan berjanji dalam hati untuk tidak akan mengejek sahabatnya itu dengan sebutah gajah lagi. Padahal biasanya pemuda yang memang lebih tinggi dan bertubuh besar itu jarang bereaksi marah saat diejek seperti itu, lagipula yang biasa mengejek Danu dengan sebutan gajah bukan hanya dirinya melainkan Adit juga sering ikut-ikutan, namun kali ini pemuda kurus itu malah berkhianat padanya. “Sumpah, kali ini aku serius.” Ia kembali berusaha meyakinkan Danu agar melepaskannya karena tenaganya jelas kalah jauh dibanding sahabatnya itu. Danu tersenyum puas dan serta merta melepaskan jepitan lengannya pada leher Bagas yang wajahnya sudah memerah, lagipula sejak tadi ia hanya bercanda dan tidak benar-benar marah dengan sahabatnya itu. Ia tidak merasa bersalah sedikit pun melihat Bagas yang kini terbatuk-batuk akibat ulahnya dan malah bersiul pelan memeriksa ponselnya menantikan jika ada pesan atau notifikasi penting yang masuk, namun sayangnya ia tidak menemukan satu pun. “Gila kamu, Dan. Tadi aku benar-benar hampir mati tahu, nggak?” Bagas memberikan protesnya di sela-sela batuknya, ia berlari menuju cermin yang memang sengaja ditempelkan ibu Bayu di samping televisi untuk memudahkannya jika ingin bercermin dan malas untuk ke kamar lagi. Bagas memeperhatikan lehernya yang sedikit memerah akibat tangan besar Danu. “Lihat, leherku jadi merah begini.” “Yang penting kamu nggak mati, ‘kan?” Danu memutar matanya, ia jengah melihat sikap berlebihan Bagas atas candaannya tadi. Alvin yang tidak ada minat sama sekali dengan perkelahian antara Bagas dan Danu duduk di atas sofa yang kemudian diikuti oleh Bayu. Ia menyandarkan punggungnya yang terasa lelah padahal ia tidak pernah melakukan pekerjaan berat apa pun hari ini. Naik motor ke rumah Bayu juga hanya ia tempuh dengan jarak yang dekat dan tidak menghabiskan tenaga yang lebih besar. “Kamu nggak tahu, Bay?” Angga menatap Bayu dengan wajah serius. “Ada kejadian heboh di sekolah tadi siang.” Mendengar ucapan Angga tentang kejadian heboh di sekolah, membuat Danu dan Bagas langsung mendekat dan duduk berhimpitan di sofa. Mereka tentu tidak ingin ketinggalan info dan berita apalagi jika menyangkut tentang salah satu sahabat mereka yaitu Vina. Bayu melirik Alvin melalui ekor matanya, hanya ingin melihat respon pemuda tampan itu tentang ucapan Angga. “Aku sudah tahu, apalagi kejadiannya di depan kelas. Tapi aku yakin Vina nggak selemah itu.” “Vina nggak lemah, Bay.” Alvin mengeraskan rahangnya. “Tapi cowok itu yang kurang ajar.” Adit mengangguk setuju. “Makanya sejak awal aku nggak suka sama cowok itu. Berpura-pura polos padahal ternyata aslinya busuk. Padahal dia sudah punya cewek cantik, malah sok deketin cewek lain.” Raut wajahnya tampak serius dengan ucapannya barusan, ia yang biasanya terlihat jenaka baru kali ini menunjukkan keseriusannya. Karena ia jelas tidak akan diam begitu saja jika salah satu dari sahabatnya terluka. “Aku yang sekelas sama dia aja nggak suka.” Angga menimpali. Sejak awal melihat wajah Keenan ia memang merasakan aura negative dari pemuda itu. meskipuan ia tahu tidak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja, juga ia tidak boleh terpengaruh dengan rumor jelek tentang pemuda itu, namun ia tidak bisa mengabaikan firasatnya yang mengatakan bahwa Vina tidak cocok dengan Keenan yang hanya akan membawa rasa sakit pada gadis cantik itu. Alvin mengusap wajahnya dengan kasar. “Ini lah alasan kenapa aku nggak mau Vina dekat-dekat sama Keenan.” Wajahnya tampak frustasi, padahal ini semua bukan kesalahannya. Bayu mengusap punggung sahabatnya itu dengan pelan berusaha menenangkannya. “Tenang, Vin, Vina juga nggak tahu akan seperti ini jadinya. Cuma yang perlu kita syukuri karena Vina tahu faktanya lebih awal sebelum mereka benar-benar menjalin hubungan.” “Bayu ada benarnya juga.” Danu mengangguk. “Setidaknya kebusukan cowok itu terbongkar sebelum Vina benar-benar jatuh ke dalam perangkapnya.” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN