“Aku lupa ngerjaimn pr lagi,” keluh Vina sambil menyandarkan tubuh bagian atasnya ke atas meja di mana buku-bukunya berantakan di sana akibat ulahnya yang sedang mencari buku tugas Matematika dan mendapati tugas yang diberikan oleh Pak Rudi Minggu lalu belum ia selesaikan. Wajahnya muram ditambah rasa panik karena sudah menebak nasib buruk yang akan menimpanya sebentar lagi.
“Ya ampun, Na. Kenapa kamu nggak bilang?” Alvin yang duduk di sampingnya ikutan panik, jika biasanya ia akan menertawakan dan malah senang kalau adik kembarnya itu dihukum, kali ini ia entah kenapa ia tidak bisa melihat Vina kesusahan. Ia buru-buru mengambil buku tugas Matematikanya di dalam tas dan menaruhnya di depan wajah Vina yang sejak tadi masih murung dan sudah tampak ingin menangis. Meskipun gadis itu terkenal bar-bar namun ia termasuk penakut jika harus berhadapan dengan Pak Rudi yang berdasarkan tebakannya bahwa guru itu membencinya.
“Nih, buruan salin sebelum Pak Rudi datang.” Alvin menggerakkan bukunya tidak sabar di depan wajah Vina yang mekipun panik namun tidak bisa mengalahkan rasa malasnya untuk menulis saat ini, terlebih lagi ia harus menyalin tugas memusingkan itu dengan jangka waktu yang singkat. Ia tidak bisa melakukan sesuatu dalam keadaan mendesak dan buru-buru karena otaknya otomatis akan langsung membeku saat itu juga.
Vina menggeleng lemah dengan punggung yang kini bersandar pada sandaran kursinya. “Aku nggak bisa, Vin. Kamu tahu sendiri kalau aku nggak bisa mengerjakan sesuatu dengan buru-buru.” Ia menunjuk jam dinding yang menempel di atas papan tulis putih yang masih bersih itu. “Lihat, sisa tujuh menit lagi Pak Rudi datang.”
Alvin mendecakkan lidahnya. “Justru karena itu, Na. kamu harus kerjakan sekarang mumpung masih ada waktu. Lagipula soalnya cuma ada lima nomor, kok.” Ia mengambil buku tugas milik Vina, membukanya di lembar terakhir yang masih kosong serta mengambil pena milik gadis itu dan menaruhnya di depan Vina yang masih saja seperti patung yang tidak bergerak sedikit pun. “Buruan, Na. Kamu nggak mau dihukum lagi ‘kan?”
“Tumben kamu baik gini sama aku. Biasanya juga malah senang kalau aku dihukum.” Vina menaikkan alisnya bingung melihat sikap Alvin yang berbeda dari biasanya. Jangankan bersimpati, kakak kembarnya itu justru malah senang kalau ia mendapatkan hukuman dan tidak pernah mengingatkannya untuk mengerjakan tugas.
Alvin menelan ludahnya susah payah karena Vina menyadari perubahan dirinya yang tentu saja membuat siapa pun akan bingung jika berada di posisi gadis cantik itu. Itu tidak lebih ia lakukan karena khawatir Vina akan kembali murung dan tidak bersemangat seperti tadi malam. Ia sudah cukup bersyukur pagi ini adik kembarnya itu kembali menjadi dirinya lagi dan bersikap seolah-olah ia tidak pernah patah hati, padahal semalam ia tak cukup tidur memikirkan Vina yang mungkin saja tidak akan berangkat sekolah dan memilih untuk bolos karena tidak ingin mengingat kejadian kemarin di depan kelas dna tentu saja harus bertemu dengan orang yang sudah membuatnya kecewa. “Itu nggak penting, Na. sekarang lebih baik kamu kerjakan sebelum Pak Rudi datang.”
Adit dan Bayu muncul tiba-tiba di depan kelas dengan napas terengah-engah sehabis berlari. Keduanya memang sering berangkat bersama namun baru kali ini mereka datang lebih lambat dari Alvin dan Vina. Adit yang menyadari buku apa yang sedang terbuka lebar di hadapan Vina membulatkan matanya, ia segera berlari mendekati meja saudara kembar itu dengan ekspresi wajah bersinar dan melupakan rasa lelah yang tadi ia rasakan.
“Ini bukumu, Vin?” tanya Adit pada Alvin yang hanya mengangguk dengan mata yang masih tertuju pada Vina di sampingnya, masih mendesak adik kembarnya itu agar segera menyalin tugasnya. “Aku contek, ya. Kebetulan aku juga belum mengerjakan pr ku.” Tangannya baru saja ingin mengambil buku tugas Alvin namun dicegah oleh Vina yang segera menepuk punggung tangannya dengan kesal.
“Enak aja main ambil. Ini punyaku.” Kedua mata Vina melotot dengan wajah yang dibuat galak berusaha membuat Adit takut dan mundur dari pertarungan, namun pemuda itu malah menampilkan ekspresi biasa saja dan tidak ada rasa takut sama sekali.
“Ah elah, Na. Pelit amat. Bagi-bagi dong, yang punya buku aja nggak keberatan. Please lah, Na. hidupku juga sedang terancam sekarang.” Adit memberikan eskpresi wajah memelasnya berharap agar gadis cantik nan galak di depannya mau memberi rasa iba padanya sedikit saja.
Vina menghela napas menyerah apalagi memikirkan tentang waktu yang terus berjalan dengan cepat. “Oke, tapi kita salinnya sama-sama. Cepat ambil kursi sana,” perintahnya yang tentu saja langsung dituruti oleh Adit yang sudah tidak memikirkan apa pun sekarang selain terhindar dari hukuman.
Bayu yang beruntung sudah menyelesaikan tugasnya tadi malam merasa sangat lega, meskipun ia tidak yakin jawabannya sudah benar atau malah salah, namun yang terpenting ia sudah menyelesaikannya dan mengerjakannya dengan kemampuannya sendiri. Lagipula Pak Rudi juga belum pernah menghukum siswanya hanya karena mengerjakan soal dengan salah. Ia menatap diam pada Vina yang sedang menyalin tugas Alvin sambil sesekali bertengkar dengan Adit karena menarik buku yang membuat konsentrasinya buyar. Bibirnya tersenyum menyadari gadis cantik itu kembali pada dirinya sendiri saat ini, setidaknya itu yang ia pikirkan.
*****
Vina merasakan nafsu makannya menghilang saat melihat sosok yang sudah membuat hatinya kecewa beberapa hari ini muncul di hadapannya bersama belahan jiwanya. Ia memang tidak bisa melakukan apa pun apalagi mencegah pemuda itu muncul di depan wajahnya karena ini adalah kantin sekolah yang siapa pun boleh ke sana. Ia mengunyah makanannya tanpa minat seraya mengaduk-aduk kuah baksonya dengan wajah tidak bersemangat.
Alvin yang menyadari suasana hati adiknya tiba-tiba berubah mengedarkan pandangannya dan mendapati Keenan yang sedang makan berdua dengan siswi baru yang ia ketahui bernama Laura yang juga merupakan kekasihnya. Keduanya tampak tertawa bersama menikmati waktu mereka tanpa memikirkan ada hati yang telah mereka patahkan. Rahangnya menegas serta genggaman tangannya pada sendoknya yang mengeras tanpa ia sadari. Matanya masih terpaku pada Keenan yang tampak tidak santai menikmati makanannya dengan nikmat saat Anggi menyentuh punggung tangannya.
Ia menoleh pada kekasihnya itu yang memandanginya dengan senyum tipis sambil menggelengkan kepalanya pelan, seperti memberi sinyal padanya bahwa ia harus tetap tenang demi menghormati perasaan Vina. Walau bagaimanapun yang lebih sakit hati dan pantas marah saat ini adalah gadis itu dan bukan dirinya. Ia menghela napas berusaha menghilangkan emosi dan amarahnya serta menenangkan dirinya dan kembali menikmati makanannya, bersikap tidak terjadi apa-apa agar Vina juga tidak semakin kecewa.
“Aku sudah kenyang.” Vina meletakkan sendok dan garpunya begitu saja di dalam mangkuk yang membuat suara bising yang khas, padahal ia baru menghabiskan sedikit dari makanan kesukaannya itu namun sudah tidak memiliki nafsu untuk menghabiskannya seperti biasa. Hatinya sakit dan telinganya panas mendengar obrolan dua orang yang masih bisa tertawa bebas di hadapannya.
“Tapi baksomu belum habis, Na.” Anggi menatap Vina dengan tatapan lembut yang penuh keibuan, padahal mereka seumuran namun Vina memang selalu merasa bahwa Anggi sangat dewasa dan memiliki sikap yang tenang tidak seperti dirinya yang kekanak-kanakan.
“Setidaknya habiskan dulu makananmu.” Alvin mendorong mangkuk bakso yang awalnya sudah didorong menjauh ke tengah meja oleh Vina. “Tadi pagi juga kamu melewatkan sarapan ‘kan?” Meskipun Vina tidak bangun terlambat pagi ini, namun entah kenapa adiknya yang sangat suka makan itu tidak mau menyentuh sarapannya pagi ini.
Vina menghela napas panjang, meraih kembali mangkuk baksonya yang terlihat tidak menggiurkan di matanya saat ini. Berusaha untuk memakannya kembali dan menghabiskannya namun ia tidak sanggup, terlebih lagi saat menyadari beberapa pasang mata yang sesekali menatapnya sambil berbisik tentang hubungannya dengan Keenan yang kandas di tengah jalan bahkan sebelum dimulai.
Ia membanting sendoknya di dalam mangkok yang membuat Alvin dan Anggi terkejut, begitu pun dengna Bayu dan lainnya yang makan di meja sebelah mereka. “Aku nggak sanggup habisinnya.” Ia menampilkan wajah datarnya yang tak berperasaan. “Aku kembali ke kelas sekarang,” ujarnya meninggalkan kantin dengan langkah cepat dengan tatapan beberapa pengunjung kantin yang tak hentinya bercerita buruk tentangnya. Serta tak menyadari tatapan Keenan yang seperti menyimpan luka dan rasa bersalah di belakang sana.
*****