Hari ini, Vina lebih memilih untuk menghabiskan waktu di kelas ditemani ponsel yang terhubung dengan earphone yang menempel di kedua telinganya. Ia lebih memilih mendengarkan lagu yang cocok dengan suasana hatinya saat ini dan menikmati waktu sendiri daripada harus berada di tengah-tengah keramaian yang malah membuat suasana hatinya memburuk.
Ajakan Alvin, Bayu dan Adit untuk ke kantin bersama ia lewatkan dan hanya memesan roti dan minuman kemasan untuk mengganjal perutnya yang lapar. Ia terlalu malas untuk kemana-mana sekarang terlebih lagi jika ia harus berhadapan dengan Keenan dan Laura yang akan membuat harinya semakin mendung.
Ia memang sadar bahwa dirinya hanya orang asing yang selalu memaksa untuk masuk ke dalam hidup Keenan, dan ia juga sadar bahwa dirinya sendiri yang membuat keadaan memburuk untuknya. Jika saja ia tidak agresif dan selalu mencampuri hidup pemuda itu, ia dan Keenan akan tetap menjadi orang asing dan ia tentu tidak akan pernah merasakan sakit yang ia rasakan saat ini.
Vina menghela napasnya, matanya yang semula terpejam kini terbuka, menatap lurus pada jendela sekolah yang hanya berjarak satu meja dengannya. Kelasnya yang semula sepi kini kembali ramai saat beberapa temannya kembali dari kegiatan mengisi perut atau bahkan bosan berada di luar kelas. Ia masih merebahkan tubuh bagian atasnya dan memandang kosong pada dedaunan pohon yang rimbun saat merasakan sesuatu yang dingin di pipinya. Ia tersentak dan langsung duduk dengan tegak. Menatap lurus pada Angga yang kini berdiri di depan mejanya sambil memegang sebotol minuman bersoda kesukaannya.
Angga menyerahkan botol dingin yang menyegarkan itu di depan wajah Vina yang tampak linglung seperti orang yang baru bangun dari tidur panjangnya. “Nih, supaya pikiranmu segar.” Angga tersenyum puas melihat Vina meraih minuman pemberiannya dan langsung meneguk isinya dengan segera. “Bagaimana?” tanyanya setelah gadis cantik itu selesai meneguk minumannya, sementara ia kini duduk di kursi kosong yang berada di sebelah meja Vina.
Vina mengangkat bahunya santai. “Lumayan, tapi sayang nggak ada pasangannya.” Ia melepaskan earphone-nya yang masih terpasang di kedua telinganya seraya mematikan musik yang masih mengalun indah melalui ponselnya.
Angga mencibir, sangat tahu dengan maksud Vina yang seolah protes padanya. “Disyukuri aja sih, Na. sudah untung dikasih minum malah minta lebih.” Ia memutar matanya sambil meminum minuman kemasan rasa kopi yang memang selalu ia minum yang ia bawa bersamaan dengan minuman milik Vina. Ia memang makan lebih cepat dari biasanya karena ingin menemani Vina yang ia rasa akan semakin kesepian dan terus-terusan mengingat tentang kesedihannya jika ditinggal sendirian.
“Tapi aku juga lapar, Ngga. Masa gitu aja nggak tahu.” Vina meniup rambutnya yang menghalangi pandangannya di depan wajahnya. Kedua tangannya ia silangkan di depan dadanya, seperti gadis yang sedang merajuk di depan kekasihnya saat ini.
“Ya kalau lapar kenapa nggak ke kantin aja, Neng? Tadi aja pas dipanggil pura-pura nggak lapar, giliran dikasihani malah ngelunjak.” Angga menggeleng-gelengkan kepalanya. “Sudah untung dikasih air buat ngeganjal perut.”
Vina tertawa, ia hanya bercanda dan tidak benar-benar marah seperti yang biasa ia lakukan. Entah kenapa rasa sakit yang diberikan Keenan padanya membuatnya sedikit sadar dan mulai menyadari bahwa dirinya selama ini begitu egois dan selalu mementingkan dirinya sendiri. Seperti mendapat karma, ia kini sadar bahwa ia memang selama ini tidak mau mendengarkan nasehat orang lain. Padahal sudah banyak yang bilang bahwa Keenan bukan cowok baik-baik namun ia malah tutup telinga.
Keenan memang bukan sosok laki-laki yang lebih baik dari kakaknya maupun para sahabatnya, namun pemuda itu juga bukan sosok jahat seperti yang orang-orang selalu bilang. Bisa dibilang selain orang terdekat Keenan, ia termasuk yang bisa mengerti bagaimana watak pemuda itu. Keenan hanya sosok kesepian yang butuh teman di tengah sikapnya yang kaku dan dingin, ia hanya butuh orang yang bisa mengerti dirinya bukan yang hanya bisa menilainya dari luar dan dari ucapan orang-orang lain. Namun hanya satu hal yang ia tidak bisa terima bahwa fakta tentang Keenan yang ternyata sudah memiliki kekasih itu sudah benar-benar keterlaluan.
Setidaknya jika saja pemuda itu jujur dari awal, ia tidak akan menaruh harapan pada pemuda itu dan malah menjadi pihak yang tersakiti seperti ini. Ia tersenyum menyadari betapa bodoh dan konyol dirinya selama ini mengejar cinta yang sia-sia.
*****
“Lapar, nih. Nggak ada yang mau beli makan gitu?” Adit yang tengah rebahan di atas karpet bulu berwarna biru muda di belakang sofa yang tengah diduduki oleh Vina seorang diri mengusap perutnya yang sejak tadi memang sudah beberapa kali terdengar berbunyi sehingga Danu yang mendengarnya tertawa di sampingnya.
Bagas yang sibuk dengan ponselnya dan duduk di sudut ruangan sambil bersandar pada tembok mendongak menatap Adit di tengah ruangan. “Iya, nih. Kebetulan aku juga lagi lapar. Pesan soto satu, ya,” serunya kepada siapa pun yang akan keluar untuk membelikan mereka makanan, padahal kesepatakan belum terjadi di antara mereka semua.
“Aku sate sama nasi.” Adit mengangkat tangannya masih sambil rebahan santai, menikmati lembutnya karpet bulu yang baru saja ibu Bayu beli minggu lalu.
Danu tidak mau kalah, ia juga mengangkat tangannya dengan mata yang fokus pada layar ponselnya. “Aku nasi goreng, nggak puas kalau nggak ada nasi.”
“Kalau aku bakso aja deh.” Alvin ikut menimpali sambil duduk bersandar pada sofa yang ditempati Vina berbaring saat ini. Mereka semua memang lebih sibuk dengan diri masing-masing saat ini karena tiba-tiba saja ada pemadaman lampu malam itu. Padahal mereka sudah berada di tengah-tengah permainan dan tinggal menunggu siapa pemenangnya.
“Tunggu-tunggu.” Bayu yang sibuk menyalakan lilin untuk menerangi ruangan di sana sebagai tuan rumah memandangi sahabatnya satu per satu. “Kalau kalian semua memesan lalu siapa yang bertugas pergi beli makanan?” tanyanya dengan tangan yang masih memegang lilin yang sudah menyala sehingga ia meringis kecil saat lelehan lilin mengalir dan menetes di jari tangannya. Ia buru-buru menyimpan lilin itu di tempat yang seharusnya di atas meja di samping Bagas, beruntung itu adalah lilin terakhir yang akan ia nyalakan karena ruang tamunya sudah cukup terang saat ini bagi mereka.
Vina melambaikan tangannya dengan santai tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponselnya, seperti biasa ia sedang menonton drama dari aktor kesukaannya yang baru saja selesai minggu ini. “Aku nggak pesan makanan jadi bebas.”
Adit mengerutkan keningnya menatap belakang sofa yang sedang ditempati Vina, seolah ia bisa melihat gadis cantik itu menembus belakang sofa yang menghalangi pandangan. “Tumben, biasanya juga kamu yang pesan makanan paling banyak.”
“Memang,” sahut Vina santai. “Tapi kali ini aku lagi diet jadi harus kurangin makan.”
Danu yang mendengar kata diet langsung bereaksi, kata-kata itu seharusnya menjadi miliknya bukan milik gadis kurus yang makan banyak pun tidak bisa menambah berat badannya, meskipun sebenarnya berat badannya sudah ideal dengan tinggi badan yang mencapai seratus delapan puluh centi meter. “Diet apaan? Jangan konyol, Na. Badan kurus kayak tulang begitu apanya yang mau dikurangi?”
“Siapa bilang aku kurus?” Vina duduk dan memandangi tajam Danu yang lebih memilih memandangi ponselnya, bermain game di sana. “Lihat, aku juga punya lemak tahu. Di sini.” Ia menunjuk lengan atasnya yang tak mempunyai lemak bergelambir di sana serta tak lupa menunjuk perut ratanya yang baginya sudah buncit. “Dan di sini.” Ia kembali menunjuk pipinya yang memang sejak kecil sudah bulat dan berisi.
Angga yang sejak tadi hanya diam dan mengamati pembicaraan para sahabatnya menggeleng melihat tingkah konyol Vina. “Na, aku tahu kalau kamu juga pengin kayak cewek-cewek lain yang bisa diet demi mendapatkan tubuh yang bagus, tapi nggak usah halu juga, Na, kasian tubuh kamu.”
“Enak aja bilang aku halu.” Vina melempar bantal sofa pada Angga yang berbaring di depan televisi, menyendiri demi bisa leluasa berkirim pesan dengan kekasihnya yang memang seharusnya di malam minggu ini mereka jalan berdua, namun karena kesibukan Dinda akhirnya kencan mereka batal. “Aku itu gemuk tahu.”
Danu mendecakkan lidahnya kesal, lama-lama ia bosan juga mendengar pembicaraan mengenai berat badan yang seolah-olah mengejek tubuh besarnya. “Kamu tahu arti kata gemuk nggak sih, Na?” tanyanya kesal.
“Iya, Na. Kamu tahu nggak?” Adit ikut bertanya. “Kalau kamu belum tahu, biar aku tunjukkan gemuk itu seperti apa.” Ia duduk dan menunjuk Danu yang masih berbaring di sampingnya dengan kedua tangannya. “Gemuk itu seperti ini, Na. Besar kayak gajah.”
Mendengar kata gajah keluar dari bibir Adit membuat Bagas merinding sendiri. Ia menatap pemuda kurus itu yang masih belum menyadari adanya bahaya di sampingnya. Ia memegangi lehernya sendiri seolah-olah dirinyalah yang akan mendapatkan hukuman saat ini sambil menatap Adit memberi kode pada sahabatnya itu namun percuma karena Adit terlalu fokus pada Vina.
Vina yang menyadari kemarahan di wajah Danu menyembunyikan wajahnya di balik sandaran sofa yang tentu saja mendapatkan pandangan bingung dari Alvin di sampingnya.
“Ada apa?” tanya Alvin yang malah mendapatkan tatapan peringatan oleh Vina yang kini meletakkan jari telunjuknya di depan bibir.
Alvin masih bingung, namun saat mendengar suara heboh Adit yang meminta tolong di balik sofa yang disandarinya ia akhirnya mengerti situasi yang terjadi. Ia bahkan tidak mau repot-repot untuk melihat penderitaan sahabatnya itu, begitupun dengan Bayu yang kini malah pura-pura sibuk memeriksa lilin di ruangan lain yang kiranya perlu diganti. Malam itu, mereka tidak jadi makan dan sudah kenyang menyaksikan penderitaan Adit akibat ulah Danu.
*****