Part 32

1101 Kata
“s****n si Danu, leherku jadi memerah begini.” Adit sibuk mengomel sembari berusaha menyembunyikan lehernya yang memang terdapat warna merah di sana. Ia tentu tidak ingin jika ada siswa lain yang berpikiran tidak-tidak mengenai tanda merah yang terdapat di lehernya tersebut, terlebih tandanya lebih terlihat seperti cupang yang menyebar di berbagai area di lehernya. Bayu hanya tertawa melihat tingkah Adit yang selalu berusaha menutupi lehernya dengan menaikkan kerah lehernya agar berdiri yang membuatnya malah terlihat konyol seolah ingin menyaingi anak punk yang biasa mereka temui di jalanan saat akan berangkat ke sekolah. “Salah sendiri mancing kemaharan orang. Udah tahu Danu paling nggak suka kalau berat badannya dikomentarin, eh malah disebut gajah. Wajar, dong kalau Danu marah.” “Eh, Dit. Itu kerah bajunya diturunin, ntar ditegur guru loh.” Salah satu pemuda yang berasal dari kelas sebelah berusaha menegur melihat gaya berpakaian Adit yang tentu saja tidak sesuai dengan ketentuan sekolah. Adit mendelik kesal. “Terserah aku, dong mau pakai baju dengan gaya apa aja,” ketusnya berlalu meninggalkan pemuda tersebut yang hanya bisa mematung meratapi nasibnya, menduga-duga bahwa ia mimpi apa tadi malam sampai harus mendapatkan balasan seperti itu dari Adit yang biasanya ramah pada siapa saja. “Maklumin aja, dia lagi sensi hari ini.” Bayu menepuk pundak pemuda tersebut sebelum akhirnya mengikuti langkah kaki Adit menuju kelas mereka yang memang sudah berada tepat di depan mata. Saat ia melangkahkan kaki memasuki kelasnya dan melihat kursi Alvin dan Vina yang masih kosong. Ia tak begitu menghiraukannya dan segera berjalan menuju mejanya sendiri di mana Adit sudah duduk di sana dengan kekesalan yang masih tampak jelas di wajahnya. “Alvin sama Vina tumben-tumbennya belum datang.” Bayu bergumam lebih kepada dirinya sendiri. Ia hanya merasa heran dua saudara kembar tersebut belum menampakkan diri saat ini sementara jam pelajaran pertama di mana Pak Rudi yang mengajar sebentar lagi akan masuk. Beruntung tidak ada tugas sama sekali hari ini sehingga ia tidak merasa khawatir jika Vina datang terlambat hari ini, gadis cantik itu memang selalu melupakan tugas dan tentu saja akan berakhir mendapatkan hukuman sama seperti teman sebangkunya tersebut. Adit yang memang duduk persis di samping Bayu tentu bisa mendengar dengan jelas gumaman sahabatnya tersebut yang meskipun digumamkan dengan suara yang sangat pelan sekali pun. “Biasalah, kayak nggak tahu Vina aja, dia ‘kan memang ratunya datang terlambat.” “Enak aja! Aku nggak pernah datang terlambat tahu!” Vina muncul dari ambang pintu dengan wajah kesal akibat dituduh yang tidak benar oleh Adit. Wajahnya cemberut menenteng ranselnya dengan tangan kanan dan menaruhnya di atas meja dengan tenaga yang lumayan kuat, sedangkan Alvin baru saja muncul dengan wajah yang tak kalah lusuhnya. “Eh, Na. Udah datang, ya.” Adit berpura-pura ramah menyambut kedatangan gadis cantik itu, ia benar-benar tidak menyadari kehadiran Vina yang ternyata sudah tiba di dalam kelas dan bisa mendengarkan apa yang ia katakana. Ia hanya takut jika gadis cantik itu mengamuk dan menambah warna merah di lehernya yang bahkan belum pulih berkat tenaga kuda Danu. Vina mencebikkan bibirnya menanggapi senyum konyol Adit yang jelas sekali berusaha menahan emosinya. “Belum, ini masih di rumah dan baru aja mau berangkat,” balasnya ketus yang malah membuat Bayu tertawa di samping Adit. Sementara Adit hanya bisa balas mencebikkan bibirnya, malas menanggapi mood Vina yang tentunya sedang jelek hari ini, ditambah lagi ia juga masih kesal dengan perlakuan Danu padanya tadi malam. Bayu menatap Alvin yang tampak menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi miliknya, dari raut wajahnya terlihat bahwa pemuda tampan itu sedang berusaha melepaskan rasa lelahnya. Keningnya berkerut. “Kenapa, Vin?” tanyanya tanpa basa-basi karena tidak biasanya sahabatnya itu datang dengan wajah lelah ditambah mood Vina yang buruk. “Itu.” Alvin menegakkan kembali tubuhnya dan setengah berbalik pada Bayu dan Adit yang ternyata ikut penasaran dan ingin mendengarkan ceritanya. “Tadi di lampu merah Vina bertengkar dengan salah satu siswi dari SMA Harapan. Pertengkaran yang panjang dan bikin pusing.” Tangan kanan Alvin bergerak menyentuh pelipisnya dan memijatnya perlahan. “Bikin malu, Bay, sumpah.” “Salahnya sendiri ngapain dempet-dempet sama kita padahal udah tahu jalanan luas.” Vina menyilangkan kedua tangannya dengan wajah kesal yang semakin menjadi-jadi saat mengingat kembali wajah siswi dengan bibir mengkilap itu saat sedang menunggu lampu merah di perjalanan tadi. “Lihat.” Ia menunjuk sepatu hitamnya yang seharusnya bersih namun kini terdapat noda tanah di sana yang tentunya mengganggu mata. “Sepatuku jadi kotor gara-gara diinjak sama cewek menyebalkan itu.” “Tapi dia ‘kan nggak sengaja, Na.”Alvin berusaha menahan amarah Vina yang saat ini kembali menggebu-gebu, ia tentu tidak ingin jika adiknya itu kembali emosi dan membuat satu kelas menjadi korban amarahnya. “Lagipula jalanan waktu itu lagi ramai-ramainya, terus posisinya juga dekat dari motor kita jadi wajarlah kalau sepatunya nggak sengaja mengenai sepatumu.” Vina memutar matanya, bibirnya masih cemberut. “Memang dasarnya dia aja yang genit. Jalanan ramai dijadikan alasan buat nempel sama kamu.” Ia menepuk meja dengan pelan dengan posisi tubuh yang menghadap pada kakak kembarnya tersebut. “Kamu nggak lihat bagaimana tatapannya saat ngelihatin kamu, Vin. Dia jelas-jelas sengaja mengambil posisi yang dekat dengan kita hanya karena ingin melihat wajah kamu.” “Makanya, Na. Kalau dibonceng itu duduknya menyamping aja, jangan duduk kayak cowok. Kalau nggak, aku yakin sepatumu pasti akan aman dari noda tanah itu saat ini.” Adit menimpali dengan nada sedikit bercanda. Lagipula ia juga terkadang merasa heran melihat Vina yang menolak untuk duduk menyamping seperti halnya perempuan lain terlebih saat ia sedang memakai rok pendek dengan alasan ia tidak terbiasa dan terkadang merasa akan jatuh dengan posisi duduk seperti itu. “Suka-suka aku, dong mau duduk dengan gaya apa aja.” Vina menanggapi ucapan Adit dengan nada kesal yang semakin menjadi-jadi. Dengan sikapnya yang tomboy itu ia memang sangat tidak terbiasa dengan gaya feminin yang selalu menjadi ciri khas perempuan. “Sudah-sudah, jadi siapa yang menang?” Bayu berusaha mengalihkan perhatian Vina dengan menanyakan perihal pertengkarannya dengan siswi dari sekolah lain, yang tentu saja berhasil melihat wajah murung Vina yang tiba-tiba berubah sumringah, sedangkan Alvin hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tentu saja aku, dong.” Vina menunjuk dirinya dengan bangga. Selain kesal, ia juga merasa cukup senang karena berhasil membuat siswi itu malu dan pergi dengan wajah memerah. Ia hanya tidak habis pikir bagaimana ia bisa mengagumi laki-laki lain di saat ia sedang berboncengan dengan seorang pemuda yang ternyata adalah pacarnya sendiri. Bayu menepukkan kedua tangannya. “Keren, Na.” Dan dengan berakhirnya kalimatnya itu Pak Rudi tiba-tiba muncul di dalam kelas yang membuat Vina kembali menghela napas karena harus menghadapi pelajaran Matematika yang menyebalkan baginya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN