“Berhenti tertawa kalian.” Adit bersungut kesal melihat Vina dan Bayu yang masih berusaha menahan tawanya. Mereka berempat sudah berada di kantin saat ini namun keduanya masih belum bisa melupakan wajah memerah Adit yang dipermalukan oleh Pak Rudi saat jam pelajaran tadi.
Mereka berdua tak mungkin bisa lupa begitu saja saat Pak Rudi menegur leher Adit yang memerah serta menyarankannya untuk memakai lotion pengusir nyamuk agar ia tak digigit nyamuk lagi saat malam hari yang sontak saja mengundang tawa dari teman-teman sekelas mereka.
Adit yang tidak bisa menungkapkan yang sebenarnya hanya bisa terdiam dengan wajah memerah menahan malu akibat ucapan polos Pak Rudi yang sebenarnya berniat baik namun tidak tahu masalah yang sebenarnya sedang dihadapi anak muridnya tersebut.
“Maaf, Dit, habisnya lucu, sih. Ngomong-ngomong saat pulang nanti jangan lupa singgah ke minimarket untuk membeli lotion yang disarankan Pak Rudi, ya.” Vina hampir saja menumpahkan minumannya saat tidak sengaja menyenggol gelasnya karena tidak bisa menahan tawanya. Menggoda Adit saat ini benar-benar menyenangkan baginya, bahkan ia sudah melupakan kekesalannya mengenai kejadian di lampu merah tadi pagi
“Udahlah, nggak usah dibahas lagi. Kasian Adit.” Alvin sebenarnya tak berniat untuk membuat Adit semakin kesal, justru sebaliknya ia ingin membuat perasaan sahabatnya yang memang terkenal suka marah-marah itu menjadi lebih baik. Namun ternyata ucapannya justru membuat Adit semakin kesal.
Adit mendecak kesal. Karena kekesalannya yang memang sudah ia bawa sejak dari rumah tadi membuat nafsu makannya berkurang sehingga ia lebih memilih untuk tak memesan makanan apa pun dan hanya ikut meramaikan suasana di kantin bersama para sahabatnya. “Nggak usah sok perduli kalau ujung-ujungnya cuma pengin ngetawain, Vin.”
Alvin mengangkat alisnya bingung. “Siapa yang pengin ngetawain kamu, Dit? Itu aku ngomongnya bersungguh-sungguh, kok.” Ucapan Alvin berhenti saat ia melihat Anggi yang berjalan menghampiri meja mereka, ia menatap wajah kekasihnya itu dengan senyum yang segera melebar menyambut gadis cantik dengan kulit sawo matang itu. “Baru selesai, Nggi?” tanyanya memperhatikan kekasihnya tersebut mengambil posisi duduk tepat di sampingnya.
“Iya, nih. Bu Susan kebiasaan kalau udah curhat tentang kehidupan pribadinya yang sama sekali nggak ada sangkut pautnya dengan materi yang ia ajarkan, bakalan susah berhentinya.” Anggi mengeluh dengan wajah masam, tak habis pikir dengan guru-guru yang suka bercerita tentang urusan pribadi mereka yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran, yang bahkan membuatnya bingung harus memetik hikmah apa dari cerita tersebut yang kebanyakan hanya bercerita tentang kehidupan masa lalu yang jelas berbeda dengan masa sekarang.
“Loh, aku malah suka kalau yang mengajar Bu Susan, soalnya aku jadi bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus ketahuan.” Vina tertawa mengingat kembali saat-saat ia selalu tidur dan tidak pernah ketahuan oleh Bu Susan karena begitu serius bercerita. Tidak bisa dipungkiri bahwa ia menjadikan Bu Susan sebagai guru kesukaannya karena alasan tersebut, dengan Bu Susan bercerita ia seperti sedang mendengarkan dongeng yang membuat kelopak matanya terasa berat untuk tetap terbuka.
Adit yang sifatnya hampir sama dengan Vina menimpali dengan semangat. Ia juga merupakan salah satu siswa yang suka tidur di dalam kelas saat guru Bahasa Indonesia itu sedang mengajar. Selain karena ia suka bercerita, gurunya itu juga sangat baik dan lembut. “Aku juga suka kalau Bu Susan yang mengajar, tidur jadi lebih enak tanpa khawatir.” Ia menepukkan telapak tangannya dengan telapak tangan milik Vina karena kebiasaan buruk mereka yang sama.
Alvin, Anggi dan Bayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Vina dan Adit yang memang memiliki kesamaan dalam hal ini. Menyadari sesuatu, Alvin kemudian mengedarkan pandangannya. “Danu, Bagas sama Angga nggak ke kantin, Nggi?” tanyanya tak melihat kehadiran ketiga sahabatnya itu yang memang berada di kelas yang sama dengan Anggi.
Anggi ikut melihat ke arah pintu kantin yang kosong, ia mengangkat bahunya. “Nggak tahu, padahal tadi aku pikir mereka ada di belakangku. Kami sama-sama keluar dari kelas, kok.”
“Lagi ke toilet mungkin,” timpal Vina yang acuh tak acuh dengan ketidakhadiran ketiga sahabatnya itu. Ia dengan santai memakan kembali baksonya yang sudah mulai dingin. Perioritasnya saat ini adalah perutnya yang perlu diisi ketimbang harus memikirkan ketiga ketiga sahabatnya tersebut.
“Memangnya kalian para cewek yang kalau ke toilet harus rombongan?” Bayu menelengkan kepalanya tak habis pikir. Ia bahkan kadang suka heran kenapa para perempuan saat ingin ke toilet harus beramai-ramai dan tentunya akan lama kembalinya, padahal menurutnya sendiri tidak ada yang istimewa dari sebuah toilet yang hanya mengeluarkan bau.
“Loh, apa yang salah? Siapa tahu aja mereka bertiga kebeletnya bersamaan. Lagipula nggak semua cewek suka ke toilet beramai-ramai begitu. Buktinya aku nggak suka, tuh.” Vina meneguk minumannya dan menghabiskannya segera tepat setelah ia menghabiskan baksonya. Ia sempat ingin memesan lagi mengingat perutnya masih ada tersisa sedikit ruang di sana, namun ia urungkan saat melihat mangkuk dan piring yang lainnya sudah hampir bersih dari makanan, bahkan Anggi saja yang baru tiba itu sudah hampir menghabiskan makanannya.
“Aku juga nggak.” Anggi mengangkat tangannya tanpa mengalihkan perhatiannya dari piring nasi gorengnya. Jam istirahat yang tertunda selama kurang lebih dua puluh menit membuatnya seperti orang yang kesetanan saat melihat makanan saat ini, bahkan ia tak perduli jika Alvin menertawainya. Perut laparnya lebih penting daripada image-nya yang selalu disebut sebagai perempuan anggun saat ini.
“Makan yang pelan, Nggi. Nggak bakal kami tinggal, kok.” Alvin yang menyadari kekasihnya makan dengan cara terburu-buru berusaha menenangkannya, karena yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah pacarnya itu sedang takut ditinggal mengingat ia datang terlambat di saat mereka semua sudah hampir menyelesaikan makanan mereka.
“Iya, Nggi, nggak usah terburu-buru. Kalau mau aku temenin, deh. Aku ikhlas pesan semangkuk bakso lagi buat nemenin kamu.” Vina memasang wajah prihatinnya sambil di dalam hatinya berharap agar Anggi menerima tawarannya tersebut. Sejujurnya saat ini ia lebih butuh daripada Anggi itu sendiri.
Ucapan dari Vina itu sontak membuat Anggi terbatuk-batuk sehingga ia harus menepuk-nepuk dadanya. Ia dengan segera meraih segelas air yang diberikan Alvin padanya dan meneguknya. Saat ia merasa batuknya sudah mulai reda ia memandangi wajah polos Vina yang terlihat berharap dan lebih butuh ditemani dibanding dirinya sendiri. “Bilang aja kalau kamu pengin pesan makanan lagi, Na. Nggak usah jadiin aku sebagai alasan.”
Vina hanya menyengir lebar sebagai tanggapan, ternyata rencananya bisa dibaca dengan mudah oleh Anggi dan lainnya. “Yah ketahuan, deh.”
***