Pandangan mata Vina lurus ke depan, di mana menampilkan halaman sekolah yang luas dengan beberapa siswa yang beraktifitas di sana seperti biasa. Helaan napasnya terdengar seiring dengan rasa bosan yang menyergapnya. Sudah hampir sepuluh menit ia berdiri di sana, di atap sekolah yang dulunya selalu menjadi tempat rahasia antara dirinya dan Keenan selama beberapa hari yang lalu, namun kini hanya ada dirinya sendiri di sana tanpa adanya sosok pemuda tampan tersebut. Sesekali ia menoleh pada tempat di mana ia dan Keenan biasa menghabiskan waktu sambil membicarakan sesuatu yang tidak penting atau sekadar duduk diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan kesibukan masing-masing sebelum bel tanda waktu istirahat telah berakhir berbunyi. Sebenarnya ia tak begitu menyukai tempat ini setelah hu

