Part 21

1106 Kata
Keenan menatap gadis cantik di sampingnya yang hanya duduk bersandar pada dinding sambil mendengarkan musik melalui earphone yang tersambung di ponselnya. Hanya dengan melihat sikap dan ekspresi gadis itu saat ini ia bisa menyimpulkan bahwa sikapnya kemarin masih belum cukup untuk membuat gadis cantik itu menyerah untuk mengganggunya. Ia menghela napas merasa lelah dengan sikap Vina yang benar-benar keras kepala lebih dari dugaannya. Niat hati ingin membuat gadis cantik itu jera malah membuat dirinya sendiri yang menyerah. Ia sudah lelah dan tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk membuat gadis itu berhenti mengganggunya. Padahal sikap kasarnya yang memukul meja kemarin itu sudah cukup kasar dan tentu saja membuat malu karena telah menjadi pusat perhatian, namun nyatanya itu tidak ada artinya bagi gadis itu. "Terserahlah, lakukan apa pun yang kau mau," ujarnya sambil membaringkan tubuhnya di lantai atap sekolah yang bersih dan tidur dengan posisi menyamping yang tentu saja membelakangi gadis yang masih asyik mendengarkan lagu di ponselnya. Ia menyerah dan akhirnya bisa pasrah saja dengan kehadiran Vina yang memang selama ini tidak pernah melewati batas hal yang wajar. Gadis itu jika bersamanya juga jadi lebih sering diam saat ia abaikan dan tidak pernah benar-benar mengganggunya sehingga membuatnya terganggu dan kesusahan. Jadi ia pikir tidak ada salahnya membiarkannya menikmati waktu luang bersama, lagipula selama ia bersekolah di sana baru kali ini ada yang mau berteman dengannya terlepas dari rumor buruk dan sikap kasarnya. Jadi ia anggap ini sebagai awal yang baik untuk hari-harinya di sekolah ke depannya. Vina yang merasa mendengar suara dari arah sampingnya membuka matanya dan melepaskan satu earphone-nya, ia menoleh pada Keenan yang ternyata sudah tidur dengan posisi membelakanginya. "Kamu tadi ngomong sesuatu?" tanyanya sekadar ingin memastikan bahwa telinganya tidak salah menangkap suara. Lama ia melihat tidak adanya tanggapan dari pemuda di depannya yang bahkan tidak bergerak seinchi pun membuatnya yakin bahwa ia hanya salah dengar. Ia kemudian mengangkat bahu dan kembali memasang earphone-nya dan kembali menikmati lagu favoritnya yang berasal dari negeri Ginseng yang meskipun ia tidak tahu apa artinya namun ia hanya berusaha mengetahui maknanya dengan penghayatannya. ***** "Lho? Aku nggak salah lihat 'kan?" Bagas mengucek matanya dengan dramatis sambil kembali memandangi wajah Vina yang sudah kusut di hadapannya. Bukan tanpa sebab ia bercanda seperti itu mengingat sudah beberapa hari ini gadis cantik itu sudah tidak pernah mengunjungi rumah Bayu dan berkumpul bersama mereka lagi. Di sekolah saja mereka sudah jarang melihatnya saat di kantin karena kesibukan gadis itu mengejar cinta pertamanya. "Aku juga tadi sempat berpikir kalau lagi mimpi, Gas." Danu menimpali dengan senyum sarkastiknya. Beberapa hari tidak melihat gadis cantik itu cukup membuatnya rindu akan tingkah heboh dan cerwetnya. "Kupikir tadi karena sangking kangennya aku jadi berhalusinasi kalau di depanku benar ada Vina." Ia kembali fokus pada permainan catur di hadapannya sebelum Angga menegurnya karena telah membuat pemuda itu menunggu lama dan akhirnya mendapatkan protes. Meskipun Angga terkenal sebagai pemuda pendiam dan tidak banyak bicara namun saat mengomel ia tidak ubahnya seperti ibu-ibu yang saat mengomel tidak ada putusnya. Alvin tertawa melihat reaksi sahabatnya yang melihat kedatangan Vina di sana, sejujurnya ia juga lumayan merindukan momen di mana ia bisa jalan bersama adiknya itu lagi, ia mengacak pelan rambut adik kembarnya itu dan menghampiri sofa di mana Adit dan Bayu sedang bertanding bersama di depannya. Di depan rumah tadi ia sempat memperhatikan bagasi mobil yang kosong yang membuatnya yakin bahwa kedua orang tua Bayu saat ini sedang tidak ada di rumah. Sambil mengeluarkan ponselnya dan bermain dengan ponsel pintar itu ia berbaring di sofa yang empuk dan nyaman tanpa menghiraukan adiknya yang masih cemberut berdiri di depan pintu. Ia lebih memilih untuk mengirim pesan pada sang kekasih yang sudah lama tidak ia ajak keluar. Vina semakin memajukan bibirnya yang sudah tampak seperti bebek. "Kalian itu seharusnya bersyukur aku masih ingat kalian." Ia melangkah dan duduk di depan sofa, bersandar pada benda berwarna cokelat itu dan mengambil bantal yang memang tersedia di depan sofa, kakinya ia selonjorkan dengan santai sambil menikmati jalannya permainan yang sedang dilakukan Adit dan Bayu. "Iya, deh yang sudah punya gebetan dan akhirnya lupa teman." Adit menanggapi sambil matanya tetap berfokus pada layar LCD di depannya. Ia tentu tidak ingin mengambil resiko kalah dari Bayu jika mengalihkan perhatiannya sedetik saja. Terlebih lagi mereka malam ini lagi-lagi membuat peraturan aneh yang tentunya membuat dirinya kapok dan berusaha agar tidak kalah. Ia tidak bisa membayangkan dirinya kembali memakai gaun princess malam ini dengan fotonya yang dijadikan sebagai stiker grup mereka. Vina memukul bantal dalam pelukannya dengan kesal, ia menolak untuk melemparkan benda empuk dan nyaman itu ke kepala Adit karena ia tahu pemuda itu pasti akan menghindarinya yang malah membuatnya rugi dua kali. Pertama, ia tidak bisa melampiaskan amarahnya karena lemparan yang meleset dan akhirnya membuatnya tambah emosi dan kedua ia hanya akan kehilangan bantal yang sudah terasa nyaman dala pelukannya. "Ih, kok kalian gitu, sih? Si Angga juga punya gebetan 'kan, tapi kenapa cuma aku yang dihakimi?" "Lha, kok bawa-bawa aku?" Angga yang merasa dirinya tidak bersalah dan tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini melayangkan protesnya. Padahal dari tadi ia hanya diam saja dan hanya fokus bermain catur bersama Danu tapi namanya malah dibawa-bawa. "Ya beda lah, Na." Bayu menoleh singkat pada Vina yang duduk tepat di belakangnya, ia dengan jelas bisa melihat wajah cemberut milik gadis cantik itu. "Angga meskipun punya gebetan dan bahkan sudah pacaran sekarang, tapi dia nggak pernah meninggalkan sahabatnya. Buktinya dia tetap ada kumpul bersama kita." "Betul banget, tuh." Bagas yang sejak tadi asyik makan keripik singkong di samping Adit menimpali dengan semangat. Saat ia berbicara remahan keripik yang masih ia kunyah ikut keluar dan mengenai wajah Adit yang membuat pemuda kurus itu memberikan tatapan melototnya, namun Bagas tampak tidak peduli dan hanya berfokus pada Vina yang kini sedang menatapnya. "Setidaknya Angga masih setia kawan," lanjutnya kembali mengunyah keripik singkong pedasnya. Alih-alih merasa tersinggung dengan ucapan Bayu dan Bagas, Vina malah lebih fokus pada keripik singkong pedas di depan Bagas yang memang menjadi salah satu makanan favoritnya. Ia merangkak maju mendekati pemuda itu yang tampak tidak tenang dan menutup matanya saat Vina mengangkat tangan kanannya. Vina menatap Bagas yang tampak bersiap menangkis serangan dari musuhnya dengan satu alis yang terangkat. "Kamu kenapa, Gas? Kayak ada yang mau nyerang aja." Bagas yang sudah bersiap dengan posisi bertahannya membuka matanya perlahan, ia lihat gadis di depannya sedang membuka sabungkus keripik singkong yang baru dan menikmatinya dengan wajah senang. Ia berdehem singkat menyadari kebodohannya yang mengira bahwa gadis cantik itu akan memukulnya gara-gara ucapannya tadi, namun ternyata ia hanya mengincar keripik singkongnya. Ia mendorong beberapa camilan rasa lainnya semakin dekat di depan Vina yang membuat gadis itu semakin senang. "Makan yang banyak, Na," ujarnya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN