“Pesan nasi goreng satu.” Keenan mengambil dompet cokelatnya dari saku celana sekolahnya dan mengeluarkan uang lembaran dua puluh ribuan. Bersiap untuk membayar makanan yang ia pesan sambil menunggu makanan itu selesai dimasak.
“Saya juga pesan nasi goreng satu, Bu.”
Vina tiba-tiba muncul di samping Keenan yang membuat pemuda itu memutar matanya jengah. Gadis itu selalu saja mengganggunya di mana pun selama ia berada di sekolah. Beruntung gadis itu tidak mengikutinya sampai di rumah yang akan membuatnya semakin tidak suka dan kehilangan kesabaran. Sudah cukup ia diganggu di sekolahan dan ia tidak mau sampai ketenangannya di rumah juga ikut terusik.
Vina menyerahkan uangnya kepada ibu pemilik kantin dan menerima sepiring nasi gorengnya yang mengeluarkan aroma yang menggoda dengan asap yang masih mengepul karena baru saja diangkat dari penggorengan. “Terima kasih, Bu.” Ia kemudian mengikuti langkah Keenan yang sudah duduk di sebuah meja kosong dekat dari pintu masuk dan ikut duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pemuda itu.
Keenan mengangkat wajahnya menatap raut wajah tak bersalah milik gadis cantik di depannya yang seperti tak membuat kesalahan sedikit pun. Ia yang awalnya sudah bersiap untuk menyendokkan nasi ke dalam mulutnya akhirnya berhenti melihat kursi di hadapannya tertarik dan seseorang duduk di atasnya. “Apa kamu nggak bisa sehari saja nggak gangguin aku?”
“Lho? Memangnya kapan aku gangguin kamu?” Vina hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh sembari menikmati sesuap nasi goreng yang terasa enak dan nikmat di lidahnya yang memang belum sempat mencicipi makanan apa pun sejak pagi tadi, gara-gara kembali bangun terlambat yang tentu saja ulah dari kakak kembarnya yang mengganti jam alarmnya yang sudah ia setel di pukul enam pagi menjadi pukul tujuh lewat. Beruntung saja ia masih sempat mandi agar tidak bau jika berhadapan dengan sang pujaan hatinya di sekolah.
“Saat ini juga kamu sedang menggangguku. Apa kamu nggak sadar?” Keenan enggan menyantap makanannya saat ini yang pastinya akan terasa hambar karena kehadiran orang yang sangat tidak ia harapkan, padahal perutnya sudah meronta-ronta ingin diisi saat ini juga karena kelelahan tidur di dalam kelas selama jam pelajaran berlangsung. Melihat gadis di depannya yang ia masih lupa-lupa ingat namanya yang bisa makan dengan lahapnya di depannya membuatnya semakin tidak ingin menghabiskan makanannya, meskipun ia sadar nasi goreng di depannya perlahan-lahan akan mendingin dan membuat rasanya sudah tidak nikmat lagi seperti saat masih panas.
Vina menelan makanan yang ada di dalam mulutnya dengan cepat sebelum meneguk air minumnya yang menyisakan setengah. “Kenapa? Aku ‘kan cuma lagi makan, aku tidak mengganggumu atau apa pun itu. Kamu bisa makan sepuasmu dan aku tidak melarangnya, kok.” Ia kembali menyantap makanannya tanpa mempedulikan bagaimana raut wajah pemuda di hadapannya yang sudah berada di ambang batas kesabarannya, ia benar-benar seperti sosok yang tidak tahu diri dan tidak menyadari kesadaran yang ia perbuat.
Keenan menggebrak meja dengan kepalan tangannya yang membuat Vina segera menghentikan kegiatan makannya, raut wajah pemuda itu sudah seperti tidak bisa mentolerir lagi sikap gadis di depannya yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Tanpa menyentuh sedikitpun nasi goreng yang ia pesan, ia segera beranjak dari sana.
“Mau kemana? Nasi gorengmu masih belum kamu makan.” Vina mendongak menatap Keenan yang sudah berdiri di depannya dan bersiap-siap untuk pergi, ia sadar dengan kemarahan pemuda itu namun ia tidak bisa diam begitu saja.
“Aku mau pergi dan jangan ikuti aku.”
Melihat kepergian Keenan membuat nafsu makan Vina menghilang seketika. Ia menatap nasi gorengnya yang masih tersisa sedikit, ia bukanlah tipe yang suka menyisakan makanan namun kali ini ia merasa tidak sanggup untuk menghabiskan makanannya itu. ia menatap sekelilingnya yang mulai berbisik-bisik akibat penggebrakan meja yang dilakukan Keenan dan bagaimana sikap pemuda itu begitu cuek padanya. Ia menghela napas sebelum akhirnya menyimpan sendoknya kembali ke dalam piring dan meneguk air minumnya hingga habis kemudian keluar dari kantin. Satu hal yang ia tidak tahu bahwa Alvin sejak tadi memperhatikannya bersama Anggi.
*****
Vina hanya mengalihkan sebentar perhatiannya pada Alvin yang baru tiba di dalam kelas sebelum kembali fokus pada ponselnya. setelah dari kantin tadi ia memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahat di dalam kelas saja ketimbang harus mengikuti Keenan yang ia sadar sedang dalam keadaan suasana hati yang buruk saat ini. Ia tentu tidak mau membuat pemuda itu semakin marah dan benci padanya, makanya ia ingin memberikan waktu pada pemuda itu untuk menikmati kesendiriannya hari ini sebelum akhirnya ia akan kembali mengganggunya.
Vina memutar matanya jengah saat menyadari tatapan Alvin yang sudah duduk di sampingnya kini masih memandanginya tanpa mengalihkan perhatiannya ke arah lain sedikit pun. “Apa?” tanyanya kesal karena kakak kembarnya itu hanya memandanginya dalam diam tanpa berniat untuk mengeluarkan sepatah kata pun, dan tentu saja ia merasa muak dan risih jika ditatap seperti itu.
Alvin menghela napasnya, terlihat sekali bahwa ia semakin capek dan tidak bisa mengerti dengan sikap gadis di depannya yang rela menurunkan harga dirinya demi laki-laki yang baru dikenalinya, bahkan saat dirinya ditolak mentah-mentah di hadapan orang-orang pun ia masih tetap kekeh untuk mengejarnya tanpa memperdulikan bahwa rumor jelek tentang dirinya yang mengejar-ngejar laki-laki sudah tersebar luas di sekolah. Dan ia selaku kakak tidak bisa menasehati adiknya itu.
“Aku harap setelah perlakuannya tadi di kantin bisa membuatmu sadar, Na.” Alvin seperti sudah sangat lelah dengan sikap adiknya itu dan ia berharap gadis cantik itu bisa berubah secepatnya. Setelah diperlakukan dengan cara memalukan seperti tadi di depan umum ia berharap Vina bisa sadar bahwa sikapnya itu sudah cukup memalukan dan mengganggu orang lain.
“Apa yang salah, sih? Dia bersikap seperti itu karena ia lagi capek aja.” Vina kembali memainkan game di dalam ponselnya berusaha untuk mengabaikan sosok Alvin di sampingnya, dan berharap pemuda itu tidak melanjutkan ucapannya yang bisa memicu pertengkaran di antara keduanya saat ini. Ia lelah dan ingin menjernihkan pikirannya saat ini dan setidaknya game bisa membuatnya lupa sejenak.
“Sadar nggak sih, Na. dia bersikap seperti itu karena dia nggak suka sama kamu. Kenapa kamu nggak bisa sadar, sih?” Alvin mulai hilang kesabaran, menghadapi sikap keras kepala gadis di depannya cukup bisa membuatnya meninggikan suaranya tanpa sadar. Ia tidak perduli lagi jika teman-teman sekelas mereka semua kini memandangi mereka dengan tatapan bertanya, karena yang ada dipikirannya saat ini hanyalah bagaimana membuat adiknya itu bisa sadar dan berhenti melakukan hal konyol seperti itu lagi.
“Mau kamu apa, sih, Vin?” Vina menghentikan kegiatan bermain game-nya sejenak. Ponsel hitamnya itu ia letakkan di atas meja dengan sedikit melemparnya karena emosi yang mulai menguasainya. Ia bisa melihat melalui ekor matanya bahwa beberapa temannya sudah sibuk menonton mereka berdua seolah tidak ingin memberikan privasi pada mereka. Lagipula ia tidak begitu peduli saat ini, karena memang salah Alvin yang tidak lihat-lihat situasi saat ingin melakukan perdebatan dengannya. “Aku itu udah capek dari kemarin di nasehatin terus. Aku cuma mau dekat sama orang yang aku suka, apa itu salah?”
“Aku nasehatin kamu bukan tanpa sebab, Na. Kamu tahu sendiri reputasi Keenan itu bagaimana di sekolah ini. Di depan umum saja dia bisa menunjukkan sikap kasarnya ke kamu apalagi kalau tidak ada orang.” Suara Alvin semakin meninggi yang tentu saja membuat orang-orang di sekitar mereka sedikitnya bisa menebak apa yang menjadi topik pembicaraan mereka berdua.
Sebenarnya mereka semua bahkan sudah tahu bagaimana Vina mulai jarang berkumpul bersama dengan kakak dan para sahabatnya karena kehadiran sosok laki-laki yang mengubah total sikap gadis cantik itu yang awalnya tampak tidak perduli dengan setiap laki-laki yang mencoba mendekatinya, namun sikapnya sekarang jusru membuatnya terlihat seperti perempuan gatal yang mengejar-ngejar laki-laki bahkan saat ia sudah ditolak berkali-kali.
“Sikap kasar bagaimana? Apa hanya dengan memukul meja saja dia sudah bisa dibilang kasar? Dia bahkan nggak ngelukain aku sama sekali, Vin. Lihat.” Vina menunjukkan kedua tangannya yang putih bersih dan tidak terdapat luka sama sekali di sana yang membuktikan bahwa ia mendapatkan perlakukan kasar dari Keenan yang menurut orang-orang satu sekolah sangat berandal dan kasar. “Apa kamu melihat ada luka? Nggak ‘kan? Aku sudah seminggu berduaan sama dia dan dia nggak pernah sekalipun bersikap kasar apalagi menyakitiku. Meskipun sikapnya cuek seperti itu tapi aku yakin dan percaya kalau dia adalah orang yang baik.”
Alvin mengacak rambutnya frustasi. Ia menatap adik kembarnya itu dengan tatapan yang sarat akan kemarahan. “Baru mengenalnya selama seminggu tidak menjamin kamu sudah mengenalinya dengan baik, Na. Bisa saja itu cuma topeng yang ia tunjukkan ke kamu agar kamu tidak berpikiran buruk tentang dia.”
“Ya sama halnya dengan kamu. Hanya karena semua orang berbicara buruk tentang dia bukan berarti itu sudah menjamin bahwa dia benar seperti itu. Kamu yang hanya berpegang pada rumor tahu apa, sih tentang dia?”
Alvin terdiam mendengar ucapan Vina. Ia ingin menyangkal namun ucapan adik kembarnya itu cukup benar dan sedikit menamparnya pada realita. Ia hanya mengenali pemuda itu dari rumor yang beredar dan langsung mengambil kesimpulan bahwa pemuda itu adalah pemuda yang buruk hanya berdasarkan pada firasatnya yang bisa saja salah. Ia menatap gadis di depannya yang kini sudah kembali bermain game dengan wajah kesal dan tentu saja ia yakin adiknya itu sedang mengutuknya dalam hati sekarang.
Bayu dan Adit yang baru tiba di dalam kelas sambil bercanda satu sama lain merasa athmosphere di sekitar mereka menjadi berbeda, terasa kaku dan dingin di saat yang bersamaan. Mereka berdua saling berpandangan saat menangkap sosok Vina dan Alvin yang saling menatap satu sama lain yang seolah-olah mereka sedang mempersiapkan diri untuk saling menyerang.
“Ada apa kira-kira?” bisik Bayu di telinga Adit masih di posisi mereka yang berdiri di ambang pintu, sehingga orang-orang yang ingin masuk ke dalam kelas merasa terganggu dengan keberadaan mereka berdua di sana. Terkadang mereka mendapat teguran yang membuat keduanya hanya bisa meminta maaf dengan canggung.
Adit ikut berbisik di telinga Bayu sambil matanya tetap menatap pada Vina dan Alvin yang masih tampak diam di posisi masing-masing. “Ya nggak tahu. Kita ‘kan sama-sama baru datang. Aku bukan cenayang yang bisa tahu segalanya.” Adit mengangkat bahunya acuh tak acuh dengan raut wajah menyebalkan yang membuat Bayu tidak tahan dan segera memberikan pukulan sayang di belakang kepalanya.
Setelah memberikan pukulan sayang pada Adit, Bayu segera pergi dari sana. Ia lebih memilih untuk mengunjungi Bagas dan yang lainnya di kelas sebelah daripada harus terjebak di dalam pertengkaran dua saudara kembar yang kembali terjadi. Ia yakin yang memicu pertengkaran keduanya pasti karena kejadian di kantin beberapa waktu yang lalu di mana Keenan memukul meja di hadapan Vina yang membuat satu kantin heboh karena kejadian itu. ia tentu tahu bagaimana perasaan Alvin yang tentu tidak bisa diam saja melihat adik kesayangannya diperlakukan seperti itu di muka umum.
“Mau kemana?” Melihat kepergian Bayu, Adit tidak tinggal diam dan memilih mengikuti langkah pemuda itu karena ia tidak mungkin tinggal diam di sana sendirian menyaksikan pertengkaran Vina dan Alvin yang tentunya sangat tidak seru untuk ia tonton.
“Ke kelas sebelah.” Bayu menjawab tanpa menoleh sedikit pun pada Adit di belakangnya.
*****
Alvin mengetuk pintu kamar Vina yang terbuka dengan buku jarinya seraya memandangi gadis itu yang tengah sibuk dengan ponselnya sambil berbaring menyamping dengan memeluk guling. “Aku mau ke rumah Bayu. Kamu mau ikut?” Ia menyandarkan bahu kirinya pada daun pintu berwarna cokelat yang di permukaannya tertempel nama Vina Salsailla yang ditulis dan dihias secantik mungkin.
Vina hanya melirik sekilas pada pemuda yang berdiri di pintu kamarnya dengan rasa malas. Ia tentu saja masih belum bisa melupakan rasa kesalnya akibat pertengkaran mereka tadi siang di sekolah. Ia mengeratkan pelukannya pada guling dalam pelukannya dengan wajah kesal dan bibir cemberut. “Nggak, males,” ujarnya tanpa menatap pemuda itu yang kini berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjangnya.
“Kamu masih marah?” Tangan Alvin bergerak mengusap rambut adiknya yang teruai dan masih tampak basah akibat setelah keramas dan belum mengeringkannya dengan baik. Ia tersenyum saat adik kembarnya itu tidak berusaha menyingkirkan tangannya meskipun wajahnya menunjukkan ketidak sukaannya.
“Siapa yang marah?” Vina masih mempertahankan wajah cemberutnya yang tentu saja terlihat menggemaaskan di mata Alvin saat ini. Ia tidak merasa terganggu sama sekali dengan sikap Alvin yang mengusap rambutnya karena ia memang sangat suka jika dimanjakan seperti itu oleh kakak kembarnya yang semenjak berpacaran dengan Anggi jadi lumayan sering mengabaikannya dan jarang memanjakannya seperti dulu. Sejujurnya ia rindu dengan sosok hangat kakaknya itu.
“Ini buktinya lagi marah.” Alvin mencubit pipi Vina yang membuat gadis cantik itu memekik tertahan karena rasa perih di pipinya. Melihat penderitaan adiknya itu bukannya bersimpati malah membuat Alvin tertawa. Ia semakin ingin mencubit pipi chubby gadis itu.
Vina segera menepis tangan Alvin yang bertengger manis di pipinya dengan perasaan kesal. Serta merta ia segera duduk dan memandangi kakaknya itu dengan perasaan jengkel dan tentu saja mata yang melotot. “Sakit tahu,” protesnya sambil kembali menepis tangan kakaknya yang masih berusaha mencubit pipinya. Ia sendiri heran padahal tubuhnya kurus namun pipinya terlihat gemuk, mungkin saja lemak yang selama ini ia konsumsi semuanya langsung menuju ke pipinya. “Jangan pegang-pegang.”
Masih dengan senyumannya yang tidak hilang dari wajahnya, tangan Alvin beralih ke rambut Vina yang setengah kering dan mengacaknya hingga berantakan. “Ya sudah aku ke rumah Bayu dulu. Pulang nanti mau dibelikan apa?” tanyanya sambil berdiri dan memandangi adiknya yang kini sedang merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya.
Mendengar dirinya akan ditraktir makanan membuat wajah cemberut Vina menjadi cerah seolah-olah ia tidak pernah marah sebelumnya. “Ayam geprek dan es jeruk,” serunya senang.
Alvin tersenyum.”Siap.” Ia sudah berada di ambang pintu dan bersiap menutupnya sebelum kembali menoleh pada adiknya yang kini sudah berbaring dengan posisinya semula. “Jangan tidur dengan rambut basah, nanti kamu pilek.”
Vina hanya memutar matanya. “Iya bawel. Udah sana pergi, hush hush,” usirnya dengan halus dan kakaknya itu hanya menurutinya tanpa mengatakan apa pun.
*****