Part 19

2658 Kata
“Jujur ya, Na. Kayaknya kamu nggak usah dekat-dekat sama cowok itu lagi, deh.” Anggi meletakkan penanya di atas meja di samping bukunya Kimianya yang soalnya baru saja ia selesaikan sebagian dari jawabannya. Besok pekerjaan rumah itu harus ia kumpulkan di jam pertama namun baru kali ini ia merasa malas untuk menyelesaikannya. Padahal biasanya sepulang sekolah ia langsung berkutat dengan buku-bukunya sekadar belajar atau mengerjakan tugas. Vina yang tengah berbaring tengkurap sambil menonton televisi di atas ranjang milik Anggi menoleh dengan ekspresi wajah tidak suka dengan pernyataan gadis manis itu. Raut wajahnya seolah-olah meragukan telinganya menangkap kalimat yang benar-benar tidak ia sangka akan ia dengarkan dari bibir kekasih kakak kembarnya itu. “Maksud kamu apa, Nggi? Kenapa aku nggak boleh dekat-dekat dengan Keenan?” Anggi kembali memusatkan perhatiannya pada buku tugasnya yang terbuka lebar di atas meja belajar di depannya. Soalnya sebenarnya sangat mudah untuk ia selesaikan, namun suara televisi yang menampilkan drama dari negeri Gingseng itu cukup membuat konsentrasinya terganggu. “Yaa, kalau dilihat-lihat dia bukan cowok yang baik buat kamu.” “Tapi kamu belum mengenalnya dengan baik, Nggi. Jadi nggak bisa mengambil kesimpulan seperti itu. lagipula selama ini aku fine-fine aja sama dia.” Vina kembali berfokus pada drama yang ditayangkan di layar LCD di depannya, sesekali ia tertawa melihat aktor kesayangannya muncul dengan sikap konyolnya yang membuat jantungnya berdebar kencang karena ketampanannya. Sejujurnya jika ditanya apa ia mengetahui jalan cerita drama itu ia akan menjawab tidak tahu, karena fokusnya memang hanya pada aktor yang memerankan karakter utama pria saja dan sama sekali tidak peduli dengan alur ceritanya yang baginya lumayan membosankan. “Tapi kamu tahu sendiri ‘kan kalau dia sering keluar masuk ruang BK? Aku sekelas sama dia, Na meskipun nggak akrab dan nggak terlalu kenal dengan kepribadiannya karena dia jarang masuk sekolah. Tapi hanya dengan melihatnya saja kita bisa mengambil kesimpulan kalau dia bukan anak baik-baik. Lagipula selama ini dia cuekin kamu ‘kan? Jadi kenapa harus repot-repot mengejar orang yang nggak welcome sama kamu?” Mata Anggi menatap lurus pada Vina yang tampak tidak begitu memperhatikan apa yang ia katakan, terbukti dengan dirinya yang malah asyik tertawa sendiri dengan tingkah konyol aktor kesukaannya. “Kamu dengar aku ngomong ‘kan, Na?” Vina menghela napas, tak ayal mood-nya mendadak memburuk. Padahal ia baru saja menemukan cowok yang ia sukai namun bukannya mendukung justru banyak yang tidak setuju dan menentang hubungan mereka yang bahkan belum dimulai itu. Ia tidak buta, ia tahu meskipun Keenan disebut anak berandalan oleh semua siswa di sekolah dan bahkan para guru sekali pun, ia yakin bahwa pemuda tampan itu mempunyai kepribadian yang baik di dalam yang tentu saja tidak seburuk yang orang-orang pikirkan. Ia saja sudah ditolong dua kali oleh pemuda itu tanpa pamrih, bahkan di saat mereka berdua tidak saling mengenal yang jarang sekali dilakukan oleh orang lain saat melihat penindasan atau perbuatan yang tidak menyenangkan. “Aku tahu semua rumor buruk tentang dia, kok. Tapi itu semua ‘kan belum tentu benar. Yang orang-orang tahu hanya yang orang-orang lihat saja, mereka tidak benar-benar tahu bagaiaman sikap Keenan yang sebenarnya. Aku saja baru bertemu dengannya beberapa kali dan sudah yakin bahwa dia orang yang baik.” “Justru itu, Na.” Kini giliran Anggi yang menghela napasnya. Ia benar-benar tidak bisa konsentrasi dengan tugas sekolahnya yang hanya terbuka lebar dan terabaikan di atas meja belajarnya. “Kamu baru mengenalnya beberapa hari jadi itu tentu belum cukup untuk menguatkan statement-mu kalau dia orang yang baik. Bisa saja dia hanya pura-pura ‘kan? Hati seseorang nggak ada yang bisa tahu, Na.” “Terus hanya karena kamu sekelas sama dia jadi kamu merasa lebih mengenalnya daripada aku begitu? Statement-mu sama lemahnya dengan aku, Nggi. Lagipula seperti yang kamu bilang hati seseorang nggak ada yang bisa tahu.” Vina mengubah posisi tengkurapnya tadi menjadi duduk, kini ia menghadap tepat pada gadis manis yang duduk di kursi belajarnya dengan tatapan lurus padanya. “Jujur aja, deh, Nggi. Kamu disuruh sama Alvin untuk nasehatin aku ‘kan?” Anggi menghela napas. Sejujurnya ia memang mengatakan itu semua pada Vina semata-mata karena ia tidak tega juga melihat pacarnya yang tampak tidak nyaman dengan sikap adiknya yang seolah merendahkan dirinya di hadapan laki-laki tidak jelas yang dikenal buruk oleh semua orang. Alvin tidak pernah menyuruhnya untuk menegur atau menasehati adiknya itu, melainkan ini inisiatifnya sendiri karena ia sendiri merasa ada yang aneh dengan sikap pemuda itu. “Alvin memang sering curhat sama aku tentang kamu, Na, tapi dia nggak pernah nyuruh aku buat nasehatin kamu. Ini inisiatif aku sendiri karena firasatku sendiri mengatakan kalau Keenan nggak sebaik yang kamu pikirkan. Coba, deh kamu tanya sama yang lain aku yakin jawaban mereka juga pasti sama.” “Aduh, stop, aku nggak mau dengar lagi.” Vina menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya, tampak sekali bahwa ia enggan mendengarkan apa pun hal buruk mengenai Keenan lagi. ia tidak ingin mendengarkan apa pun yang belum pasti mengenai pemuda itu yang hanya berdasarkan rumor tidak jelas saja, lebih baik ia yang mengenali sendiri pemuda itu dan menilainya dengan mata kepalanya sendiri. “Lebih baik kita berhenti membahas tentang masalah ini sebelum kita berdua akhirnya malah bertengkar.” Anggi kembali menghela napas, sudah hapal dengan sikap keras kepala gadis di depannya yang meski harus dinasehati beribu kali sampai mulut berbusa pun tidak akan mau mendengarkan nasehat sebelum ia yang melihat sendiri faktanya. Ia kembali fokus pada pekerjaan rumahnya yang masih tersisa empat nomor yang belum ia kerjakan. “Jangan bilang kami nggak pernah nasehatin kamu ya, Na.” ***** “Mau kemana, Na?” Bayu menatap punggung Vina yang berjalan menuju pintu dengan langkah tergesa-gesa setelah kepergian Pak Rudi beberapa detik yang lalu, gadis itu bahkan tak berniat membereskan buku dan peralatan menulisnya yang masih berantakan di atas mejanya karena tentu saja yang akan membantu membersihkannya adalah kakaknya Alvin. “Keenan lagi?” tebaknya tepat sasaran terlebih lagi saat melihat senyum puas gadis itu atas tebakan beruntungnya. Vina tersenyum lebar sambil menunjukkan jempolnya. “Tepat sekali. Ya udah, bye.” Kemudian ia berlari keluar dari kelas dan sempat bertabrakan dengan teman sekelasnya yang kebetulan ingin keluar dari kelas bersamaan. Gadis itu hanya meminta maaf singkat sebelum kembali berlari dan akhirnya menghilang di balik dinding kelas. “Aku nggak suka cowok itu. Sok ganteng.” Adit menunjukkan wajah tak sukanya melihat kepergian Vina. Ia sebenarnya tidak habis pikir apa yang dilihat gadis cantik itu pada pemuda berandalan yang hanya mempunyai prestasi buruk di sekolah. Siapa pun juga pasti tahu kalau pemuda itu adalah siswa bermasalah di sekolah yang tentunya sulit untuk dikendalikan bahkan oleh guru sekali pun. Setiap saat mereka bertemu yang ia lihat hanya wajah menyebalkan pemuda itu dengan sikap arogansinya. Bayu mengangguk setuju dengan ucapan Adit di sebelahnya, sedangkan matanya menatap lurus pada Alvin yang kini membereskan meja adiknya dalam diam. “Aku setuju dengan Adit. Aku juga nggak suka cowok itu. Meskipun aku nggak begitu kenal bagaimana sikapnya yang sebenarnya namun hanya dengan melihatnya sekilas saja ia seperti cowok sombong yang angkuh. Bukan bermaksud menjelek-jelekkan ya, Vin. Cuma aku nggak nyaman aja sama tatapannya yang seolah nantangin kita. Aku cuma takut dia berniat jahat sama Vina.” “Betul tuh. Songong banget ‘kan. Aku aja sampai heran loh kenapa Vina bisa suka sama cowok kayak gitu, kalau soal ganteng mah gantengan juga aku, iya nggak?” Adit menaik turunkan alisnya dengan percaya diri atas ucapannya yang memuji dirinya sendiri yang akhirnya malah mendapatkan sentilan manis di keningnya yang lebar. “Bayu s****n,” umpatnya pada pelaku p**********n terhadap dirinya di sampingnya, ia ingin membalas namun nyatanya tenaga Bayu lebih kuat darinya. Alvin yang sejak tadi diam saja diam-diam merasa bersyukur bahwa bukan hanya dirinya dan Anggi yang merasakan aura buruk dari Keenan yang tentunya tidak akan pernah disadari oleh adik kembarnya yang sudah jatuh dalam perangkap pemuda itu. Ia sendiri heran bagaimana adiknya bisa jatuh cinta pada pemuda seperti itu. Inilah yang membuatnya takut sejak dulu jika akhirnya adiknya mulai tertarik untuk mengenal kata cinta dan pacaran, karena adiknya itu begitu polos dan mudah jatuh dalam keterpurukan. Namun ia tentu tidak bisa melarang adiknya itu untuk mendekati siapa pun mengingat sikap keras kepala adiknya. Anggi juga tadi malam sudah meneleponnya dan menceritakan soal nasehatnya kepada gadis itu yang malah berujung pada kegagalan. Vina sudah benar-benar buta akan pesona Keenan yang menjadi sosok pahlawan atau pangeran berkuda putih yang selalu ia dambakan sejak mereka kecil. Yang bisa ia lakukan saat ini hanya berdoa agar Keenan benar-benar pemuda yang baik bukan seperti yang orang-orang bilang atau bahkan ia pikirkan. “Woi, Vin diam aja dari tadi. Kamu nggak kasihan sama adikmu itu kalau nanti terjadi apa-apa?” Adit kembali mengaduh kesakitan saat belakang kepalanya berdenyut sakit akibat pukulan telak yang diberikan Bayu padanya atas ucapannya yang menurutnya benar dan tidak ada yang salah. Lagipula pemuda itu juga tadi mennyetujui ucapannya namun kini malah berbalik menyalahkannya. “Jangan asal ngomong makanya. Ucapan tuh disaring dikit biar nggak bikin orang tersinggung dan sakit hati.” Bayu memberikan tatapan melototnya dengan niat agar sahabatnya itu takut dan sadar dengan kesalahannya, ia bukanlah tipe orang yang tidak peka dengan perasaan orang lain terlebih lagi sahabatnya sendiri. Hanya dengan meliriknya singkat saja ia bisa tahu apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh Alvin. Ia tidak bodoh jika hanya sekadar mengetahui bahwa sahabatnya itu sedang pusing dengan kelakuan adiknya yang sudah tidak bisa ia control. “Lha, ucapanku ‘kan nggak ada yang salah. Lagipula kamu juga pasti berpikiran yang sama ‘kan?” Adit menoleh pada Alvin yang tak bergeming di kursinya, ia sedikit merasa bersalah melihat raut wajah pemuda itu yang tampak kelam dan tidak ada cahaya sedikit pun di sana, “Aku ngomong kayak gini bukan karena nggak mengerti sama situasi kamu, Vin. Aku tahu kamu juga sadar Keenan itu cowok kayak gimana. Aku ngomong begini juga karena aku peduli sama Vina, hanya dia yang buta tentang sosok cowok itu yang sebenarnya.” “Tapi bisa saja pikiran kita salah ‘kan dan justru Vina yang benar.” Bayu masih memandangi Alvin yang terlihat masih enggan mengeluarkan suaranya. “Kita berdoa saja semoga apa yang kita pikirkan tentang cowok itu salah.” Meskipun ragu, namun Bayu tetap berusaha untuk berpikiran positif pada sosok Keenan yang hanya ia kenali sampul luarnya saja, mereka juga tidak ada yang tahu bagaimana sikap dan perilaku pemuda itu yang sebenarnya. Jadi dari pada mereka berpikiran negative yang seolah-olah mendoakan hal buruk benar-benar terjadi pada Vina, ia lebih memilih untuk tetap percaya pada firasat gadis itu dan mendoakan yang terbaik untuknya, itu lah yang sebaiknya ia lakukan sebagai sosok teman dan sosok kakak untuk gadis cantik itu. “Semoga aja, sih.” Akhirnya Alvin mengeluarkan suaranya juga setelah lama berdiam diri. “Aku berharap Vina benar-benar bertemu cowok yang benar dan nggak akan terluka karenanya. Karena aku nggak bisa bayangkan kalau sampai dia sakit hati dan terluka sama cowok yang baru ia kenali itu.” Bayu dan Adit saling berpandangan sejenak, mereka seolah-olah sedang berbicara menggunakan telepati dan saling memahami arti tatapan masing-masing. Bayu menyentuh pundak Alvin yang tampak melemah, siapa pun mungkin melihat sahabatnya iatu sebagai sosok yang terlalu berlebihan saat ini, namun ia tentu tidak bisa berpikir seperti itu karena ia tahu bagaimana sayang dan pedulinya Alvin pada Vina yang memang sejak di dalam rahim pun keduanya tidak pernah dijauhkan. Terlebih lagi saat kecil Vina pernah mendapat kejadian buruk di mana ia hampir saja diculik dan dicelakai oleh om-om yang berusaha menariknya menaiki mobil yang untung saja ia dan Alvin ada di tempat kejadia waktu itu sehingga Vina berhasil diselamatkan. Itu tentu menjadi trauma sendiri bagi Alvin dan Vina yang pastinya masih membekas dengan keras hingga detik ini. ***** Vina memainkan ponselnya sambil melirik pemuda yang sedang berbaring di sampingnya dengan mata terpejam. Mereka sudah berada cukup lama di sana dengan kegiatan yang sama dan tidak ada obrolan sama sekali. Ia sebenarnya cukup merasa bosan karena dirinya yang memang terkenal cerewet dan banyak bicara itu harus menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara, takut mengganggu pemuda di sampingnya yang meskipun terlihat sedang tidur namun Vina yakin bahwa ia hanya berpura-pura sebagai tanda pengusiran halus kepadanya. “Ahh, bosan,” keluhnya sambil meregangkan otot tubuhnya yang kaku. Bermain ponsel dengan sosok yang tak ubahnya seperti patung di sampingnya benar-benar kegiatan yang membosankan baginya. Ia menoleh pada Keenan yang masih memejamkan matanya, jari telunjuknya mencolek pipi pemuda itu yang tampak tak bergeming. “Keenan, kamu nggak bosan atau merasa lapar gitu?” tanyanya masih sambil mencolek pipi pemuda itu yang tampak seperti patung yang tidak bergerak sedikit pun. Vina menghela napas, keputusannya untuk menuju atap sekolah tanpa membawa camilan untuk mengganjal perut selama jam istirahat ia sesali sekarang. Perutnya sudah berbunyi pelan sejak tadi dan berharap pemuda di sampingnya tidak mendengarnya yang hanya membuatnya malu jika hal itu benar-benar terjadi. Ia menatap kumpulan awan-awan putih yang berjejeran di atas langit biru yang membentang luas di atasnya. “Tempat ini sebenarnya sangat bagus dan nyaman untuk jadi tempat tongkrongan, tapi cukup membosankan kalau cuma berdua.” Ia melirik pada Keenan yang masih enggan bergerak dan menunjukkan bahwa ia sebenarnya tidak tidur dan hanya berpura-pura sejak kemunculan gadis cantik itu di sana. “Apalagi berdua saja dengan orang yang nggak ada bedanya sama patung.” Ia kembali menghela napas dan dengan wajah cemberut menatap kedua kakinya yang terbalut sepatu hitam, ia sengaja saling menabrakkan ujung sepatunya sekadar pengusir rasa bosan, namun tentu saja rasa bosan yang ia rasakan tidak akan hilang semudah itu. “Bangun, dong. Aku tahu kalau kamu nggak benar-benar tidur.” Vina kembali ingin mencolek pipi pemuda itu namun belum sempat menyentuhnya ia sudah dihentikan oleh suara berat pemuda itu yang tampaknya sudah hilang kesabarannya saat ini. “Berisik, bisa diam, nggak?” Kedua mata Keenan terbuka dan manik matanya yang hitam kecokelatan itu menatap tajam pada Vina yang tentu saja tidak akan ampuh untuk menakuti gadis cantik itu. “Aku sedang berusaha untuk tidur. Kalau kamu nggak suka di sini lebih baik kamu pergi. Aku nggak pernah paksa kamu untuk nemenin aku di sini ‘kan?” Alih-alih merasa tersinggung atau sakit hati dengan ucapan pemuda itu, Vina malah tertawa lebar. “Wow, itu kalimat terpanjangmu buat aku.” Ia menyandarkan punggungnya pada tembok di belakangnya dan menatap lurus ke depan. “Aku memang bosan tapi aku juga nggak mau pergi dari sini. Lagipula kamu ‘kan nggak kebaratan kalau aku ikut kamu ke sini. Kalau iya pasti kamu sudah usir aku dari kemarin-kemarin.” Keenan mendecak kesal. “Itu karena kamu yang keras kepala dan nggak tahu diri. Seharusnya kamu peka, kalau sikap aku ke kamu selama ini sudah cukup menjadi bukti bahwa aku nggak suka kamu dekati, paham?” Matanya semakin tajam dengan penekanan di setiap kata-kata yang ia ucapkan, ia benar-bena berharap gadis cantik itu berhenti mengganggu ketenangannya di sekolah karena hanya di tempat ini lah ia bisa merasa tenang. Vina mengangguk dengan raut wajah yang cukup menyebalkan bagi pemuda di sampingnya, jika saja ia tidak sedang berhadapan dengan seorang perempuan mungkin ia sudah mengambil jalur k*******n saat ini. “Paham, sih. Tapi sayangnya aku nggak mau peka.” Ia tersenyum lebar yang mana membuat Keenan hanya mendengkus kesal kemudian mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping yang tentu saja membelakangi Vina. “Terserah,” ujar Keenan kesal dan kembali ia cuma bisa pasrah menghadapi gadis keras kepala itu, jika bisa ia tidak ingin masuk sekolah dan membolos seperti biasa namun ancama Pak Darto masih terngiang-ngiang di kepalanya yang membuatnya mengurungkan niat buruknya tersebut. Ia hanya tidak ingin melibatkan orang tuanya dalam urusan sekolahnya yang selama tidak diketahui oleh keluarganya selain orang-orang di sekolah. Vina mengangkat bahunya santai kemudian kembali berkutat dengan ponselnya, ia merogoh saku roknya yang memang sudah ia isi dengan earphone tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah dan memasangnya di kedua telinganya. Berusaha menikmati lagu yang ia putar melalui ponselnya sambil menikmati angin segar yang menerpa wajahnya dengan suasana yang damai dan jauh dari suara bising. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN