Part 18

2435 Kata
“Tadi di kantin dia nggak ngapa-ngapain kamu ‘kan?” Alvin bertanya dengan mata yang terpusat pada layar televisi di hadapannya. Satu tangannya memegang remote televisi yang sedang mengganti-ganti siaran demi mencari acara tontonan yang menarik untuknya, sementara tangan satunya lagi bersandar pada sandaran sofa. Vina yang asyik bermain ponsel sambil tiduran dengan beralaskan paha kakaknya sebagai bantal tampak mengerutkan keningnya. “Dia siapa?” Ia memperbaiki posisi kepalanya yang mulai tidak nyaman sambil sesekali melirik layar televisi yang kini menampilkan sinetron yang tengah digandrungi ibu-ibu yang tentu saja bukan gayanya. “Dih, nonton sinetron. Kayak nggak ada siaran lain aja,” ledeknya pada Alvin yang kembali mengganti siaran yang lain. “Itu lho, cowok yang selalu kamu kejar-kejar itu.” Jempol Alvin berhenti menekan tombol yang ada di remot televisi saat menemukan acara komedi di salah satu channel televisi yang lumayan menarik perhatiannya. Lelucon yang dilontarkan para pemainnya terlihat lucu dan alami sehingga bisa membuang rasa bosannya sedikit demi sedikit. Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya, mereka berdua tidak berkunjung ke rumah Bayu karena pemuda itu sedang ada kegiatan keluarga di rumah neneknya bersama kedua orang tuanya dan berencana akan bermalam selama satu hari. Mereka sebenarnya bisa saja jalan-jalan ke tempat lain untuk menikmati waktu malam minggu, namun mereka berdua cukup malas untuk melakukan hal itu dan lebih memilih untuk malam mingguan di rumah saja. Lagipula mereka juga sudah cukup jarang berkumpul bersama kedua orang tuanya di malam hari. “Ih, siapa juga yang ngejar-ngejar? Aku cuma mau berteman dengannya, itu saja.” Vina mendumel tanpa suara, namun matanya tak pernah lepas dari layar ponselnya. Saat ia tidak sengaja menemukan nama Keenan di salah satu media social miliknya, matanya melebar seolah-olah ingin melompat dari tempatnya karena rasa antusiasnya yang tinggi. Tanpa membuang-buang waktu ia segera membuka profil pemuda tampan itu dan melihat-lihat status atau foto-foto yang diunggahnya, namun yang ia dapatkan hanyalah foto-foto gambar bola basket serta beberapa pasang sepatu yang terlihat mahal.  Ia kecewa karena berharap menemukan beberapa foto tampan milik pemuda itu, namun setidaknya Keenan masih menggunakan fotonya sebagai foto profil sehingga orang-orang masih bisa mengenali bahwa itu adalah akun miliknya. Ia segera mengunduh foto milik pemuda itu dengan senyum di bibirnya yang terlihat seperti orang gila dan tentu saja ternyata hal itu semua disadari oleh Alvin. Alvin menggeleng sambil menghela napas melihat kelakuan adiknya yang menggambarkan ciri-ciri perempuan yang sedang kasmaran dan seperti melupakan harga dirinya sendiri. “Menyimpan foto pribadi orang tanpa izin itu illegal, lho. Lagipula sikapmu sekarang itu sudah cukup membuktikan bahwa kamu benar-benar ngejar dia.” Mengetahui Alvin mengintip ponselnya, Vina segera menyembunyikannya di dadanya. Matanya melotot tajam melihat pemuda tampan itu yang tampak mengabaikannya dengan memusatkan perhatiannya pada layar televisi dan sesekali tertawa mendengar guyonan yang diucapkan salah satu host di sana. “Nggak sopan ngintip ponsel orang,” protesnya. Ia mengganti posisi berbaringnya menjadi duduk dan sengaja menjaga jarak dari Alvin di sampingnya agar pemuda tampan itu tidak bisa melihat ke layar ponselnya lagi. “Aku ‘kan cuma menyimpan fotonya. Lagipula ini tidak bisa disebut mencuri atau illegal karena sang pemilik foto sendiri yang memajangnya di media sosial di mana semua orang bebas melihat dan mengunduhnya. Aku yakin selain aku pasti ada cewek lain yang mengunduhnya juga.” Alvin menghirup udara dan mengeluarkannya dengan pelan. “Terserah kamu lah, aku capek berdebat.” Kemudian ia beranjak dari poisinya berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa buah pisang yang tampak segar di dalam piring serta tak lupa membawa sebotol air minum yang dingin. Ayahnya sedang di ruang kerjanya mengerjakan pekerjaannya yang memang sengaja ia bawa pulang ke rumah daripada lembur di tempat kerja, sementara ibunya sedang menemaninya di sana sambil melakukan perawatan wajah yang memang rutin ia lakukan di malam hari. “Aku nggak suka pisang.” Vina menggeleng keras saat Alvin menawarkan satu buah pisang padanya yang sudah ia kupas terlebih dahulu. Ia hanya suka pisang jika sudah diolah seperti digoreng atau dibuat olahan makanan lainnya, namun untuk memakannya mentah seperti itu membuatnya mual. “Dicoba dulu, Na. Ini enak lho dan pastinya sehat.” Alvin kekeh menawarkan adiknya untuk memakan pisang yang memang menjadi buah kesukaannya selain semangka. Ia benar-benar tak habis pikir dengan orang-orang yang membenci pisang padahal buah itu sangat lezat dengan beragam manfaat. “Bagimu yang suka pisang memang enak, tapi bagiku jelas nggak. Apa nggak ada buah lain di dapur.” Vina menatap pada pintu dapur yang terbuka namun ia begitu malas untuk bergerak dari posisinya dan mencari apa saja yang bisa ia makan di dalam sana. “Ada.” Alvin menggigit pisang yang sudah ia kupas untuk Vina tadi dan mengunyahnya dengan tenang. “Tadi kalau nggak salah lihat masih ada tomat sama paprika,” lanjutnya santai yang segera mendapat cubitan di pahanya yang membuatnya segera memekik tertahan karena tidak ingin orang tuanya mendengarnya. “Kamu apaan, sih, Na?” Tangan kirinya yang bebas mengusap-usap pahanya yang perih dan ia yakin kulitnya kini merah kebiruan hasil dari tangan nakal adik kembarnya itu. “Tega banget nyuruh adik sendiri makan tomat sama paprika.” Cemberut, Vina menyilangkan kedua tangannya di d**a. Matanya fokus ke arah televisi namun tak bergeming saat mendengar lelucon sang pembawa acara yang menurutnya tidak lucu sama sekali dengan keadaan hatinya yang sedang kesal saat ini. Alvin hanya bisa memaklumi sikap gadis di sampingnya yang memang terkadang susah ditebak. Gadis itu bisa menjadi gadis galak yang mandiri dan seperti tidak butuh bantuan dari siapa pun termasuk dirinya, namun bisa juga menjadi gadis manja yang suka cemberut seperti saat ini. “Makanya makan pisang biar sehat.” “Nggak mau.” “Ya udah.” ***** “Kamu masih ingat namaku ‘kan?” Vina menyamakan langkahnya bersama pemuda tinggi yang sedang berjalan dengan langkah lebar di sampingnya. Meskipun ia termasuk gadis yang tinggi dengan kaki jenjang namun ia masih susah untuk mengikuti langkah Keenan yang membuatnya jadi setengah berlari. Ia yang baru saja keluar dari kantin tidak sengaja melihat pemuda itu melewatinya dan tentu saja langsung berinisiatif untuk mengikutinya dan tentu saja Alvin tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah melihat tingkah adiknya itu. Tidak mendapatkan jawaban, Vina tidak ingin menyerah. Ia sudah cukup tahu kepribadian pemuda tampan itu yang cuek dan dingin tidak hanya padanya namun juga pada semua orang, bahkan guru pun ia tidak perduli. Makanya ia dengan sekuat tenaga ingin memenangkan hati pemuda itu, siapa tahu saja ia adalah satu dari sekian gadis yang bisa meluluhkan dinginnya hati pemuda itu dan bisa membuatnya membuka diri pada orang lain. Ia tersenyum saat membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Ia kembali berlari kecil mengikuti langkah Keenan yang sudah cukup jauh di depannya karena hayalan tingkat dewanya yang memalukan. “Kamu mau kemana, sih?” Masih tidak ada jawaban, bahkan pemuda di sampingnya tampak enggan untuk menatapnya sedikit pun, Vina sebenarnya cukup sadar diri bahwa sikapnya sekarang itu pasti benar-benar mengganggu privasi pemuda itu, namun meskipun ia sadar ia tidak mau mundur dan tetap mengganggunya seolah-olah ia tidak punya rasa malu. “Kenapa sebelumnya kamu jarang masuk sekolah? Oh iya, kamu kenal Anggi cewek paling pintar di kelasmu? Dia pacar kakakku sekaligus sahabatku. Selain Anggi, masih ada Angga, Danu dan Bagas juga di kelasmu dan tentu saja mereka bertiga adalah sahabatku juga.” Vina bercerita tanpa henti sambil mengabaikan tatapan tajam yang dilemparkan pemuda di sampingnya, ia berpura-pura tidak melihatnya dan tetap bercerita panjang meskipun pemuda tampan itu enggan menanggapi ucapannya. “Kami sering kumpul bareng di rumah Bayu, oh ya Bayu itu berada di kelas yang sama dengan aku, dan jug-“ Vina menghentikan langkahnya saat pemuda di depannya berhenti, mereka sudah berada di depan tangga yang Vina yakini sebagai tangga yang menghubungkan lantai paling atas yaitu atap sekolah, yang selama ia bersekolah di sana ia tidak pernah mengunjunginya satu kali pun karena yang ada dalam bayangannya adalah tempat itu pasti akan kotor, tidak terawat dan tentunya tidak menarik untuk dikunjungi. Keenan menoleh padanya dengan raut wajah yang sarat akan kekesalan, tampak sekali bahwa pemuda itu sedang menahan amarahnya saat ini. Namun bukan Vina namanya jika ia menunjukkan rasa takut dan berlari dari sana, melainkan ia hanya tersenyum karena akhirnya pemuda itu menyadari keberadaannya dan menatap tepat pada matanya. “Kamu bisa nggak, sih, nggak gangguin aku sehari saja?” Keenan menekankan tiap katanya demi membuat gadis di depannya sadar bahwa ia merasa terganggu dengan kehadiran gadis itu dan berharap ia berhenti untuk mengganggunya. Sejujurnya ia cukup menyesal sudah menolong gadis cantik itu di kantin tempo hari, jika saja ia tetap diam dan pura-pura tidak melihat meskipun gadis itu diganggu oleh Dodi kakak kelas yang memang sejak memasuki sekolah itu sudah menjadi musuh bebuyutannya gara-gara pacar pemuda itu mendekatinya. Padahal sudah jelas-jelas pacarnya yang terlalu gatal mendekati laki-laki lain dan ia juga mengabaikan pacar Dodi seperti halnya gadis di depannya namun malah ia yang kena getahnya. Dari dulu ia memang benci dengan perempuan yang selalu mendekatinya seolah-olah mereka tidak punya harga diri sebagai perempuan, ditambah lagi kejadian bersama pacar Dodi itu membuatnya menjadi semakin membenci orang dengan tipe yang sama seperti gadis di depannya yang bukannya menjauh malah tersenyum menanggapi kekesalannya. “Maaf, tapi aku nggak bisa. Lagipula apa salahnya, sih kalau aku mau dekat sama kamu sebagai teman?” Vina memberikan ekspresi wajah yang benar-benar santai dan seolah-olah ia tidak melakukan perbuatan yang mengganggu yang bisa membuat pemuda di hadapannya memperlihatkan sikap benci padanya. “Kalau mau berteman cari orang lain saja.” Keenan kembali berjalan menaiki anak tangga yang lumayan panjang demi mencapai atap sekolah yang memang selalu menjadi tempat favoritenya saat ingin menenangkan diri jika tidak bolos sekolah seperti hari ini. Ia baru saja dipanggil lagi ke ruang BK karena ketahuan membolos kemarin dan ia cukup jera untuk melakukannya lagi karena ancaman guru BK yang akan memanggil orang tuanya jika ia ketahuan sekali lagi. Jadi mau tidak mau ia hanya bisa melampiaskan kebosanannya di atap sekolah yang tenang tanpa gangguan siapa pun, namun entah mendapat mimpi buruk apa ia waktu itu sehingga harus bertemu dengan orang menyebalkan dan pantang menyerah meskipun dikasari olehnya seperti gadis yang masih mengekor di belakangnya saat ini. Ia jadi yakin hari-hari tenangnya di sekolah hari ini akan berakhir dengan hadirnya gadis pengganggu dan cerewet itu. “Tapi aku cuma mau berteman sama kamu.” Vina menapaki anak tangga dengan santai meskipun ia sebenarnya sudah cukup lelah karena itu. Ia jarang berolah raga sehingga tubuhnya mudah lelah dengan napas yang tersengal-sengal meskipun ia cukup menguasai beberapa jenis cabang olahraga yang sering dipraktekkan di sekolahnya. Namun kata Adit ia malah seperti sosok wonder woman yang tidak mengenal kata lelah. Keenan tak menjawab, percuma meladeni gadis seperti itu yang pantang menyerah dan akan terus mengganggunya meskipun ia membentaknya sekali pun. Ia hanya pasrah saat gadis itu tetap mengikutinya hingga akhirnya mereka tiba di atap sekolah. Berusaha mengabaikan sosok di belakangnya ia segera mengambil posisi duduk bersandar pada dinding yang sedikit teduh, tempat yang memang selalu ia ambil jika berkunjung ke sana. Vina yang baru pertama kali mengunjungi atap sekolah lumayan terkesan dengan pemandangan di atas sana. Tempat yang ia pikir akan kotor dan tidak terawatt ternyata cukup bersih tak ubahnya seperti rooftop yang sering dikunjungi para aktor dan aktris di drama Korea yang sering ia tonton. Ia berjalan mendekati pagar dan menatap pada lapangan olahraga di bawahnya terlihat cantik jika di lihat dari posisinya berdiri saat ini, angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan helai-helai rambutnya yang memang sengaja ia gerai. Matanya terpejam menikmati angin yang menerpa wajah cantiknya, berdiri di sana saat ini benar-benar membuatnya serasa berada di dalam adegan drama terlebih ia bersama sosok pemuda yang memang lumayan menarik perhatiannya beberapa hari ini. Ia tersenyum seolah mereka sedang berkencan padahal kehadirannya di sana jelas-jelas tidak dianggap oleh Keenan. Inilah akibat menjomlo sejak lahir sehingga ia bisa berbunga-bunga hanya karena momen-momen kecil sekali pun. “Ternyata menikmati waktu istirahat di sini enak juga.” Ia menoleh pada pemuda di belakangnya yang tampak memejamkan matanya, namun Vina yakin ia tidak tidur dan tetap bisa mendengarkananya. Ia kembali tersenyum dan kini menatap ke atas langit yang cerah, teriknya matahari yang menimpa kulit putihnya tidak bisa membuat rasa kagumnya pada tempat itu pudar. Dalam hati ia sudah menetapkan tempat itu sebagai tempat untuk menghabiskan waktu istirahat ke depannya. Baru beberapa menit menikmati momen di sana, suara bell yang menandakan bahwa waktu istirahat telah selesai berbunyi. Vina mendecak kesal mendengar suara yang mengganggu telinganya itu. Padahal belum hilang rasa lelahnya menaiki anak tangga yang lumayan banyak dan sekarang ia harus melewatinya lagi. ia kembali menoleh pada Keenan yang tampak tidak terganggu sama sekali oleh suara bell yang menggema di seluruh sekolah. “Kamu nggak mau masuk kelas?” Keenan membuka matanya dan menatap lurus padanya. Alih-alih berdiri dari duduknya, ia malah membaringkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur siang tanpa ada niat sedikit pun mengikuti pelajaran selanjutnya. “Kau saja yang pergi.” “Bolos?” Tidak ada jawaban, namun Vina sudah tahu jawabannya. Ia hanya mengangkat bahunya dan kembali melihat ke bawah di mana para siswa lainnya sedang berlarian menuju kelas mereka masing-masing begitu pun dengan yang sedang menikmati waktu istirahat dengan bermain bola atau basket di lapangan. Ia ingin segera pergi dari sana dan berlari menuju kelasnya juga, namun entah kenapa kakinya terasa berat untuk meninggalkan tempat itu. Mendadak ia ingin bolos juga. Ia tersentak saat mendengar dering ponselnya yang memang ia simpan di saku rok abu-abunya. Dengan cepat ia mengambil ponsel pintarnya itu dan mendapatkan nama Alvin sebagai pemanggil di sana. Ia segera menyambutnya dan bersiap-siap mendengarkan ocehan pemuda itu yang pastinya menanyakan keberadaannya yang belum di kelas saat ini. [Kamu di mana?] Belum sempat ia mengeluarkan suara untuk menyambut panggilan itu, ia sudah diberikan pertanyaan mendesak dari Alvin yang tentunya kalang kabut tidak bisa menemukan dirinya saat ini. Vina menoleh singkat pada Keenan yang tak bergeming dari posisinya, ia pikir pemuda itu mungkin sudah tidur sekarang dan tentu saja ia tidak ingin mengganggunya. “Aku lagi jalan ke kelas sekarang,” jawabnya tak ingin mengatakan bahwa ia sedang di atap sekolah bersama Keenan, bukan karena takut kakak kembarnya itu tahu tentang mereka yang sedang bersama namun ia hanya tidak ingin ada orang lain lagi yang tahu tentang tempat itu selain mereka berdua. Meskipun sebenarnya ia sendiri tamu tak diundang di sana. Ia takut jika orang-orang tahu dan mulai membuat ramai tempat yang seharusnya hanya menjadi rahasianya bersama Keenan. [Cepatlah sebelum Bu Amelia masuk.] “Iya, bawel.” Setelah memutuskan sambungan telepon, Vina segera pergi dari sana meninggalkan Keenan yang ternyata hanya pura-pura tidur dan diam-diam mendengarkan semuanya. Tentu saja melihat kepergian gadis itu membuat kelegaan tersendiri di hatinya, akhirnya ia bisa menikmati waktu sendiri tanpa adanya gangguan dari orang lain. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN