“Hai.”
Vina memberikan senyumnya yang semanis mungkin di hadapan pemuda yang sedang menatapnya dengan tatapan datar. Meskipun tanpa ekspresi namun Vina bisa melihat dengan jelas raut wajah terganggu dari pemuda di depannya yang kini kembali menyantap makanannya menganggap ia tidak ada di sana.
Vina menatap mangkuk bakso di depannya dengan wajah bersemangat kemudian menikmati makanannya dalam diam meskipun sesekali ia melirik pemuda di depannya yang benar-benar mengabaikan dirinya, sementara dari arah belakang punggungnya ia dengan jelas bisa merasakan tatapan marah dari Alvin namun ia berusaha mengabaikannya. Lagipula tidak ada yang salah jika ia ingin berteman dengan Keenan karena berteman dengan siapa pun itu adalah haknya dan siapa pun tidak ada yang bisa melarangnya termasuk Alvin sendiri.
Terlebih lagi pemuda itu sudah mengizinkan dirinya untuk berkenalan atau berkencan dengan laki-laki, meskipun pemuda di depannya menarik perhatiannya saat ini namun itu belum bisa memastikan bahwa mereka berdua akan berkencan suatu hari nanti.
“Oh iya, ngomong-ngomong aku Vina.” Vina mengulurkan tangannya ke depan, tatapannya tampak berbinar menunggu pemuda itu menerima uluran tangannya. Namun beberapa menit berlalu dan pemuda di depannya hanya melirik singkat tanpa minat ke arah tangannya dan kembali menikmati nasi gorengnya.
Vina hanya tersenyum canggung sambil menarik kembali tangannya yang mulai pegal diabaikan begitu saja oleh Keenan. Ia sebenarnya merasa sedikit kesal dengan pemuda itu yang terlihat tidak suka dengannya namun ia bukanlah Vina jika tidak keras kepala dan mundur sebelum menyerah. Ia hanya ingin berteman dengan pemuda itu yang benar-benar menarik perhatiannya karena sudah menolongnya.
Saat sedang menyendokkan satu bakso ke dalam mulutnya ia melirik pada Keenan yang menatap lurus pada satu arah. Ia menoleh karena penasaran apa yang bisa membuat pemuda itu menatap tanpa berkedip dan tampak sedang menahan amarahnya, dan saat ia menoleh ia bisa langsung menemukan jawabannya. Ia bisa melihat kakak kelas tempo hari yang menabraknya dan hampir menamparnya sedang memesan makanan.
Melihat sosok angkuh itu membuat emosi Vina juga ikut memuncak dan tidak sengaja menggenggam gagang sendoknya dengan tenaga yang keras sehingga buku-buku jarinya bisa terlihat dengan jelas. Ia tentu tidak bisa begitu saja melupakan bagaimana sikap arogansi pemuda itu yang hampir saja mencelakainya dan mempermalukannya di depan umum, terlebih lagi tempatnya adalah di kantin itu sendiri.
Vina menghela napas berusaha untuk menahan emosinya, bayangan saat ia berlari dan menerjang kakak kelasnya itu sudah berkeliaraan di kepalanya dengan nakal dan berusaha ia hapus sebisa mungkin. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kemudian menatap pada Keenan yang ternyata sudah kembali menikmati makanannya seolah-olah ia tidak pernah marah atau menunjukkan emosinya sedikit pun tadi.
“Katanya kamu jarang masuk sekolah, ya?” tanyanya yang tentu saja masih diabaikan oleh pemuda di depannya. Ia mengelus dadanya berusaha menahan amarahnya. “Sabar, sabar,” bisiknya pada dirinya sendiri.
“Btw, kemarin kamu nggak ketahuan ‘kan? Aku nggak ngelaporin kamu sama sekali kok.” Kembali tidak ada jawaban dan kini kesabaran Vina sudah mulai menipis namun ia masih tetap berusaha untuk menahannya. Beruntung yang ada di hadapannya saat ini adalah Keenan, jika saja itu Adit, Bagas atau Danu mungkin ia sudah mengamuk saat ini seperti orang gila.
“Ka-“ ucapannya terputus begitu saja saat seseorang sedang berjalan di belakangnya tidak sengaja menabrak dan mendorong kursinya sehingga tubuhnya maju ke depan dan hampir saja wajahnya masuk ke dalam mangkuk baksonya yang kuahnya masih mengeluarkan asap panas jika saja Keenan tidak cepat-cepat menahannya dengan menutupi wajahnya dengan telapak tangannya yang besar.
“Eh, maaf.” Siswi yang tidak sengaja menabrak kursinya dengan keras akibat becanda dengan temannya itu memberikan tatapan menyesalnya.
Vina memberikan senyumnya meskipun sebenarnya dalam hatinya ingin memaki-maki saat ini. Namun ia tentu harus memberikan kesan yang baik di hadapan Keenan. Ia baru saja ingin membalas ucapan gadis itu namun terhalang oleh ucapan Keenan yang terlebih dahulu berbicara dengan siswi tadi.
“Kamu itu nggak punya mata atau bagaimana? Lagipula kalian bukan anak kecil lagi yang main dorong-dorong di tempat ramai seperti ini. Kalau ada yang celaka gara-gara perbuatan kalian bagaimana? Mau tanggung jawab?”
Vina tidak bisa menahan kekagumannya pada pemuda di hadapannya yang sedang membelanya saat ini. Ia tidak berpikir bahwa pemuda itu perduli padanya dengan sikap cueknya tadi yang selalu dengan sengaja mengabaikan kehadirannya. Lagipula sejak pertama kali melihat pemuda itu ia sudah tahu bahwa di balik ekspresi datar dan sikap dinginnya itu ia perduli pada orang-orang lain. Buktinya ia sudah menolongnya dua kali padahal mereka sama sekali tidak saling kenal.
“Maaf, aku benar-benar nggak sengaja.” Sekali lagi siswi itu meminta maaf dengan tulus, bahkan ia melakukannya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajahnya dengan ekspresi penuh penyesalan.
“Nggak apa-apa, kok.” Vina memberikan senyumnya. “Lagipula nggak terjadi apa-apa.”
“Nggak terjadi apa-apa bagaimana?” Suara Keenan cukup meninggi yang membuat Vina sedikit kaget dibuatnya. “Wajah kamu tadi itu hampir terkena air panas, kalau saja aku tidak sigap mungkin saja wajah kamu sudah melepuh sekarang.”
Siswi itu dan kedua temannya hanya mampu terdiam, mereka cukup malu terlebih lagi karena mereka sudah menjadi pusat perhatian sekarang. Melihat mereka sudah menjadi pusat perhatian, Vina berusaha menenangkan Keenan yang masih menatap tajam pada siswi yang menabrak kursinya tadi.
“Udah, nggak udah dipikirin. Aku juga sudah memaafkan dia. Lagipula nggak enak dilihatin orang-orang.” Ia berbalik pada siswi tadi yang tampak wajahnya sudah memerah menahan air matanya yang sebentar lagi akan mengalir. Mendadak ia jadi tidak enak dan seperti orang jahat yang menindas yang lemah. “Nggak apa-apa, kalian sudah bisa pergi sekarang.”
Isakan kecil lolos dari bibir siswi itu yang kini mulai ditenangkan oleh kedua temannya. “Aku benar-benar minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi.”
Vina mengangguk dengan senyuman sambil memperhatikan ketiga siswi tadi meninggalkan meja mereka dan tentu saja beberapa pasang mata yang sejak tadi memperhatikan mereka kini mulai kembali pada rutinitas mereka masing-masing. Saat ia kembali menatap pemuda di depannya yang ia dapatkan adalah tatapan datar pemuda itu yang menatapnya dengan tatapan mencemooh.
“Kenapa kamu selalu mendapat s**l, sih? Apa kamu pembawa s**l atau sejenisnya?”
Vina mengeraskan kepalan tangannya di samping mangkuk baksonya yang masih tersisa banyak sambil masih berusaha tersenyum. Ia menyesal sempat memuji pemuda itu baik dan hangat tadi melihat sikapnya yang kembali menyebalkan dengan ucapan pedasnya.
*****
“Kenapa kamu selalu s**l, sih, Na?”
Pertanyaan dari Adit setelah dirinya memasuki kelas membuat mood Vina yang sudah buruk semakin memburuk. Hari ini ia sudah mendapatkan pertanyaan yang sama dari dua orang yang berbeda dan tentu saja itu sangat menyebalkan baginya. Ia bersiap melayangkan pukulan pada lengan atas Adit namun pemuda itu dengan cepat bisa menghindarinya.
“Eits, nggak kena,” ejek Adit dengan wajah yang menyebalkannya yang benar-benar memancing amarah Vina yang sedikit lagi meledak.
“Menyebalkan, jangan menghindar, dong.” Vina kembali ingin memukul Adit yang kini kembali mengejeknya dengan menjulurkan lidahnya layaknya anak kecil. Ia yang sudah di puncak amarah kini mengejar pemuda itu mengelilingi kelas dan menabrak siapa saja yang menghalangi langkahnya.
“Tapi kalau kulihat kayaknya yang membawa s**l itu si Keenan deh, Na.” Bayu dengan santai duduk di atas mejanya sambil memperhatikan tingkah dua sahabatnya yang saling mengejar tanpa rasa malu sedikit pun itu.
Mendengar ucapan Bayu membuat langkah Vina yang sudah hampir mendapatkan Adit terhenti. Ia menoleh pada pemuda itu dengan ekspresi wajah yang seolah-olah meragukan kewarasan pemuda itu. “Kenapa kamu bisa berpikir begitu?”
“Semua orang juga pasti bakalan berpikiran yang sama, Na. kamu sudah dua kali ketemu dia dan selalu mendapat sial.” Adit yang lelah bermain kejar-kejaran dengan Vina memilih untuk duduk di bangku paling depan dekat dengan meja guru sambil mengatur napasnya yang tersengal-sengal akibat berlari, namun saat melihat ke arah Vina ia heran karena napas gadis itu tampak normal seolah-olah aksi kejar-kejaran mereka tadi tidak ada apa-apanya baginya.
Vina memberikan tatapan melototnya pada Adit yang jaraknya memang lumayan jauh dari posisinya yang berada di tengah-tengah kelas, ia benar-benar mengabaikan beberapa teman kelasnya yang lain yang juga berada di sana dan bertingkah seolah-olah hanya ada mereka bertiga di sana tanpa Alvin yang sedang ke kantor untuk menemui Pak Rudi di ruangannya.
“Enak aja kalau ngomong. Kalian nggak tahu kalau ada yang namanya kebetulan di dunia ini? Itu hanya kebetulan tahu. Karena Allah tahu kalau aku lagi bersama dengan sosok pahlawanku makanya dia mengujiku dengan sebuah masalah.” Vina mengibaskan ujung rambutnya dengan centil dan perasaan bangga pada apa yang sedang ia ucapkan.
Adit memperlihatkan ekspresi muntah yang dramatis atas tanggapan ucapan Vina yang menurutnya terlalu berlebihan. Ia melihat gadis itu saat ini tak ubahnya seperti perempuan genit yang tidak tahu malu. “Ada obat mual, nggak? Aku mau muntah rasanya,” ledeknya masih menampilkan wajah ingin muntahnya yang menyebalkan di mata Vina.
“Tuh, ada lem tikus di tas aku. Lumayan bikin mual kamu hilang.” Vina menyilangkan kedua tangannya di d**a sambil duduk bersandar pada meja salah satu pemuda pendiam di kelasnya yang tentu saja tidak bisa menegurnya dan hanya diam saja melihat buku yang sedang dibacanya sedikit diduduki oleh Vina.
“Lem tikus buat apa? Lagian ada-ada aja kamu bawa lem tikus ke sekolah.” Bayu tergelak sedikit mendengar ucapan Vina yang benar-benar aneh sekaligus lucu baginya, meskipun bagi yang lain mungkin itu terdengar gila.
“Bohong kali, tuh. Vina kok dipercaya.” Adit memberikan tatapan ragu pada ucapan Vina yang menurutnya hanya asal bicara saja hanya untuk menakut-nakutinya.
Vina menampilkan wajah menantangnya. “Nggak percaya? Coba aja cek di dalam tasku.”
Tanpa diduga Adit benar-benar berdiri dari duduknya dan menghampiri meja Vina, ia mengambil tas gadis itu kemudian membukanya dan mengambil botol kecil yang ada gambar tikusnya di luar, hanya dengan melihatnya saja ia sudah tahu apa kegunaan benda itu.
Bayu menatap tidak percaya pada botol yang sedang dipegang oleh Adit. “Kamu beneran bawa, Na?” tanyanya heran. Padahal sebenarnya ia tidak perlu heran jika itu semua berhubungan dengan gadis ajaib bin aneh di depannya. Bertahun-tahun mengenal gadis itu dan menghapal kebiasaannya namun ia tetap saja selalu dikejutkan oleh hal-hal kecil seperti saat ini sehingga ia menganggap bahwa ternyata ia baru mengetahui setengah dari kepribadian aneh gadis itu.
“Kan aku udah bilang.” Vina memberikan senyum bangganya. Ia masih tampak santai di posisinya dan tidak menyadari bahwa pemuda yang sedang membaca di belakangnya mulai risih dan terganggu atas kehadirannya di sana, terlebih lagi saat gadis itu bergerak-gerak yang membuatnya tidak fokus untuk membaca bukunya. Ia beberapa kali ingin meberanikan diri menegur Vina namun tidak punya cukup keberanian untuk melakukannya, bahkan teman-temannya yang lain menggelengkan kepala ke arahnya sebagai tanda peringatan bahwa ia tidak boleh melakukannya jika tidak ingin diamuk oleh gadis cantik namun galak itu.
Kening Adit berkerut, masih dengan memegang botol di tangannya. “Buat apa sih, Na?” Ia memandangi dengan seksama botol di tangannya yang ia ragukan berisi lem tikus beneran yang artinya itu hanya botolnya saja dengan isi yang berbeda, namun saat ia membuka tutupnya ia bisa dengan jelas mencium aroma menyengat dari benda cair dan lengket di dalamnya.
“Ya buat nangkap tikus lah, apalagi coba?” Vina mulai berdiri yang membuat si pemilik meja yang ia duduki sebelumnya akhirnya bisa bernapas lega. Ia kemudian berjalan menuju meja Bayu dan beralih duduk di sana. Ia duduk di kursi Bayu sambil merogoh laci pemuda itu yang ternyata sebungkus biskuit rasa selai strawberry dan membukanya tanpa meminta izin yang punya dan memakannya tanpa rasa bersalah.
Bayu yang melihat Vina memakan biskuitnya tanpa izin terlebih dahulu tidak berniat untuk menegurnya dan malah duduk di kursi milik Alvin dan ikut menikmati biskuit miliknya yang memang ia beli kemarin tapi tidak sempat memakannya saat pejalaran dimula dan ia juga lupa untuk membawanya pulang.
Adit kembali menatap botol di tangannya dan Vina secara bergantian. “Di kelas mana ada tikus.”
“Ada.” Vina menahan tangannya untuk menyuapi mulutnya dengan sekeping biskuit. “Ada, tikusnya yang sedang memegang botol lem tikus saat ini.”
“Ih, gila masa aku disamain dengan tikus.” Adit menyimpan kembali botol lem tikus itu ke dalam tas Vina dan mengamankannya di posisinya semula. Ia duduk di kursi milik Vina dan ikut mencomot biskuit yang masih dipegang gadis itu namun tangannya segera ditepis oleh Vina.
“Cuci tangan dulu sebelum makan. Jorok banget, sih.” Vina tak ubahnya seperti ibu-ibu yang sedang memarahi anaknya yang nakal tidak mencuci tangan sebelum makan setelah bermain yang tentunya di tangannya terdapat sekumpulan kuman yang bahaya untuk kesehatan mereka.
“Kamu juga makan tanpa cuci tangan, kok. Jangan sok bersih, deh.” Adit mendelik kesal karena perlakuan Vina yang berbeda padanya dan pada Bayu yang bahkan juga tidak mencuci tangannya namun tidak mendapatkan teguran sama sekali. “Si Bayu juga nggak cuci tangan,” protesnya.
Tatapan Vina tajam layaknya ibu-ibu julid yang menceritakan keburukan tetangganya. “Ya beda lah, tangan kami bersih dan suci beda sama kamu yang habis pegang lem tikus. Mau keracunan?”
Adit baru sadar dan melihat tangannya, jelas ada tercium sedikit bau aneh di tangan kanannya itu yang sejak tadi memegangi botol lem tikus. “Iya juga, ya. Tunggu aku, jangan habisin biskuitnya sebelum aku kembali.” Ia segera berlari keluar dari kelas tanpa menyadari bahwa biskuit di tangan Vina sudah hampir habis dan tentu saja keduanya tidak akan mau menunggu kedatangannya.
“Jujur, deh, Na. Aku benar-benar penasaran, kamu bawa lem tikus ke sekolah itu buat apa?” Bayu mengambil botol minum yang memang selalu ia bawa dari rumah dan meneguk isinya.
“Sebenarnya aku juga nggak tahu kenapa benda itu bisa masuk ke dalam tasku.” Vina mengangkat bahunya tampak santai. “Mungkin aku lagi ngigau tadi malam dan nggak sengaja masukin lemnya ke dalam tas.” Ia tertawa di akhir kalimatnya atas tebakannya sendiri yang menurutnya sendiri cukup konyol untuk dipercayai, namun ia benar-benar tidak tahu kenapa lem tikus itu ada di dalam tasnya dan ia baru menyadarinya saat mengambil buku di pelajaran pertama tadi.
Bayu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyum di bibirnya. “Ada-ada saja.”
*****