Part 16

1290 Kata
Vina tak bisa duduk diam saat matanya menangkap sosok pemuda yang baru saja melewati ruang kelasnya. Obrolan seru dari Adit di depannya kini tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam telinganya, karena yang ia pikirkan saat ini hanyalah mengejar Keenan dan berbicara padanya. Ia hanya ingin berterima kasih karena telah menolongnya tempo hari dari amukan kakak kelas yang tidak tahu diri dan itu belum ia lakukan sampai sekarang. Ia hanya memberikan tawanya yang canggung saat Bayu, Adit dan Bagas tertawa karena cerita dari Adit yang ia tidak pahami sama sekali. Kaki kanannya sudah bergerak-gerak tidak tenang sementara matanya tak henti-hentinya menatap ke arah pintu dengan tidak sabaran. Ia melirik singkat pada Alvin di sampingnya kini sibuk pada ponselnya setelah benda hitam itu berbunyi singkat. Melihat adanya peluang karena Alvin sedang tidak memperhatikannya, ia segera berdiri dan bersiap-siap untuk berlari keluar dari kelas sebelum suara berat milik Alvin menghalangi aksinya. “Mau kemana?” Tubuh vina mematung di tempat dengan posisi yang sudah bersiap untuk lari. Ia menolah pada Alvin dan lainnya yang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan bertanya. Kini semua mata tertuju padanya sehingga ia tidak bisa keluar secara sembunyi-sembunyi lagi. ia tertawa sumbang. “Itu, aku mau ke toilet. Iya toilet.” Kedua alis Alvin bertaut, melihat tingkah mencurigakan adiknya itu tentu membuatnya tidak serta merta mempercayai ucapan yang keluar dari bibinya, terlebih lagi saat melihat senyumnya yang aneh dengan gelagat yang seolah sedang menyembunyikan sesuatu. Namun begitu ia tidak mau terlalu ambil pusing dan hanya mengangguk sebagai tanda mengerti. “Pergilah.” Vina bersorak dalam hati namun tetap berusaha menyembunyikan rasa gembiranya itu di depan Alvin sebelum pemuda tampan itu menyadari bahwa ia sedang berbohong. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia segera berlari keluar dari kelas yang membuat Adit dan Bagas berpikir bahwa gadis itu pasti sudah di ujung tanduk saat ini. Saat sudah berada di luar kelas Vina tidak bisa menemukan sosok pemuda yang sedang dicarinya. Kepalanya memutar ke segala arah demi menemukan sosok tinggi kurus itu di antara para siswa lainnya. Ia mendecak kesal sambil terus berlari mengejar langkah Keenan yang masih belum tampak di matanya. “Ini semua gara-gara Alvin, aku jadi harus kehilangan dia ‘kan.” “Kehilangan siapa?” Angga yang baru pulang dari kantin dengan kantong plastik berisi beberapa bungkus camilan di tangannya menatapnya dengan pandangan bertanya. Pemuda manis itu memang dititipi makanan oleh yang lainnya saat berniat untuk membeli air mineral karena merasa haus, kebetulan saat ini mereka semua memang sedang berkumpul di kelas Vina kecuali Anggi dan Danu yang sedang sakit dan tidak masuk sekolah. “Kamu lihat Keenan nggak?” Alih-alih menyembunyikannya, Vina malah bertanya pada pemuda itu tentang sosok Keenan karena ia sudah benar-benar kehilangan jejak pemuda itu. ia masih berusaha mencari dengan wajah panik seolah-olah ia baru saja kehilangan uang satu miliar. Angga tampak berpikir sejenak sebelum ia akhirnya menjawabnya. “Kebetulan tadi kami memang sempat berpapasan di depan kantin.” Ia berhenti sejenak untuk mengingat kemana arah pemuda itu pergi setelah mereka berpapasan. “Kayaknya dia mau ke halaman belakang sekolah, deh. Tapi nggak tahu juga ini benar atau salah soalnya aku nggak bertanya langsung sama orangny-“ “Oke, makasih, ya.” Vina tak membiarkan Angga menyelesaikan kalimatnya yang menurutnya terlalu panjang dan malah membuang-buang waktunya di sana. Ia sendiri heran bagaimana pemuda itu yang biasanya pendiam malah menjadi cerewet seperti tadi mengalahkan ibunya yang kalau sudah mengoceh tidak akan ada hentinya sampai ia lelah sendiri. Ia segera berlari dari sana mengabaikan panggilan Angga yang menanyakannya apakah ia mau ikut makan bersama mereka atau tidak di kelas, karena yang lebih penting saat ini adalah ia harus menemui Keenan dan mengajaknya bicara. Sebelum Alvin datang mencarinya dan menyeretnya kembali ke kelas karena mungkin saja saat ini Angga sudah menceritakan tentang kebohongannya yang izin untuk ke toilet tapi malah mengejar laki-laki yang tidak begitu ia kenali. Mendadak ia menyesal sudah bertanya pada Angga. Saat sudah tiba di belakang sekolah, ia masih sibuk mencari-cari keberadaan Keenan yang masih susah untuk ia temui meskipun tidak ada orang lain di sana. “Mungkin dia sudah bolos,” keluhnya dan berniat untuk pergi dari sana dan kembali ke kelas sebelum ia mendengar suara benda jatuh dari arah kanannya. Ia segera berlari mendekati asal suara itu dan berhasil menemukan Keenan yang sedang berusaha memanjat tembok pagar sekolah. Ia menebak suara benda jatuh tadi pasti berasal dari suara tas pemuda itu yang ia lempar ke luar pagar sebelum akhirnya gilirannya untuk memanjat dengan leluasa tanpa beban berat di punggungnya. “Tunggu,” serunya seraya berlari semakin mendekat. Pemuda yang ia panggil itu hanya menoleh singkat padanya sebelum kembali berusaha untuk memanjat dinding pagar yang tingginya dua ratus sentimeter itu. “Keenan, tunggu! Kalau kamu nggak berhenti sekarang aku akan laporin kalau kamu mau bolos ke guru BK!” Ancamannya itu ternyata cukup ampuh untuk membuat pemuda dengan ekspresi datar itu menghentikan kegiatannya dan menoleh padanya, menatapnya dengan raut datar yang jelas sekali memperlihatkan ketidaksukaannya atas kehadiran gadis cantik di depannya yang hanya membuang-buang waktunya dan tentu saja berpotensi ketahuan oleh guru. “Apa? Kalau tidak ada hal yang penting mending kamu kembali ke kelas saja.” Keenan kembali berbalik pada dinding dan bersiap untuk melompat ke atas sebelum suara Vina kembali menghalanginya. “Aku cuma mau bilang terima kasih untuk yang kemarin.” Vina memberikan senyumnya berharap pemuda di depannya meresponnya dengan hangat, namun justru malah mendapatkan kerutan di kening pemuda itu. “Maaf, mungkin kamu salah orang.” Vina menampakkan wajah kecewanya. Bagaimana pemuda itu tidak mengenalinya dan mengingat sikap heroiknya yang sudah menolongnya dari kakak kelas galak di kantin beberapa hari yang lalu? Memang kejadian itu sudah berlalu beberapa hari dan sudah hampir seminggu, namun ia tidak berpikir pemuda itu bisa melupakannya begitu mudah. “Kamu tidak ingat?” tanyanya. “Itu lho yang waktu di kantin ada kakak kelas yang nggak sengaja tabrak aku sampai minumanku tumpah dan marah-marah.” Vina memperhatikan raut wajah pemuda di depannya yang tampak masih memiliki ekspresi yang sama. “Terus kamu nolongin aku pas kakak kelas itu mau nampar aku. Kamu masih belum ingat?” “Oh itu. Lalu?” Vina rasanya ingin sekali menjambak rambut pemuda sedingin kulkas di depannya saat ini jika saja ia lupa bahwa ia adalah pemuda pertama dan satu-satunya yang berhasil menarik perhatiannya, bukan hanya karena wajahnya yang tampan namun juga karena sikapnya yang baik dan sudah menolongnya itu. Ia menghela napas berusaha untuk menahan kesabarannya. “Ya intinya aku mau berterima kasih sama kamu karena sudah nolongin aku.” “Oke.” Keenan hanya mengangguk singkat sebelum akhirnya melompat ke atas dinding pagar dengan mudahnya dengan tubuh tingginya itu, saat ia sudah berada di atas pagar dan bersiap untuk melompat turun ke luar dari batas sekolah, Vina kembali menghalanginya. “Kamu mau kemana?” Keenan memberikan tatapan tidak sukanya, ia benar-benar benci dengan sikap gadis di depannya yang terlalu mengurusi urusannya padahal mereka tidak saling kenal, kecuali fakta bahwa gadis itu mengetahui namanya. Ia cukup heran namun enggan untuk bertanya yang hanya akan menguras tenaganya. “Bolos,” ujarnya singkat sebelum melompat turun ke arah luar sekolah sehingga Vina tidak bisa lagi melihat sosoknya. “Kalau mau melamporkanku silakan saja!” Vina yang awalnya kecewa dengan kepergian pemuda itu hanya bisa tertawa mendengar kalimat terakhirnya dari balik pagar yang menjulang tinggi di hadapannya. Mendengar suara langkah kaki pemuda itu semakin jauh membuatnya ikut melangkah pergi dari sana, apalagi saat melihat sosok Alvin yang ternyata benar-benar mencarinya hingga ke halaman belakang sekolah. Raut wajah pemuda itu tampak lega saat melihatnya berjalan mendekat dengan senyum di wajahnya. Ia mengapit lengan kakaknya dengan santai. “Ayo,” ujarnya menarik pemuda itu kembali ke kelas meskipun ia tahu bahwa pemuda tampan itu memiliki banyak pertanyaan di kepalanya saat ini. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN