Part 15

2280 Kata
“Tumben kamu mau makan es krim. Kayak orang lagi ngidam aja.” Alvin menyerahkan satu cone es krim rasa cokelat kepada Vina yang menerimanya dengan mata berbinar. Sementara ia menggenggam satu cone rasa vanilla yang memang menjadi kesukaannya, ia duduk di samping adiknya di kursi taman yang memang mereka lewati jika berangkat dan pulang sekolah. Matanya menatap ke sekeliling taman yang sudah mulai ramai dikunjungi oleh beberapa orang yang ingin menikmati sore yang menyenangkan di sana, terlebih lagi ada banyak jajanan yang disediakan oleh para penjual gerobak yang tentu saja menjadi daya tarik sendiri bagi anak-anak. “Lagi pengin aja.” Vina menikmati es krim di tangannya dengan perasaan senang. Menikmati es krim yang dingin dan menyegarkan di siang hari yang panas seperti ini memang adalah pilihan yang sangat tepat untuk dilakukan. Apalagi memang sudah agak lama sejak mereka berdua bisa menikmati waktu berdua seperti ini tanpa kehadiran sahabat mereka yang lain dan entah kenapa ia tiba-tiba ingin menikmati waktu santai bersama Alvin saat pulang dari sekolah. “Aku baru ingat ini pertama kalinya kita jalan berdua lagi sejak beberapa bulan yang lalu.” Alvin tersenyum, menyadari momen berharga yang sudah jarang mereka lakukan bersama yang dulunya selalu mereka lakukan hampir setiap hari. Vina menghabiskan es krim yang sudah meleleh sedikit di tangannya akibat panasnya matahari. “Nah, aku juga berpikirnya begitu. Jadi pas melewati taman ini aku tiba-tiba kangen sama suasana santai di sini yang bikin nostalgia.” Matanya mengikuti langkah seorang bocah laki-laki yang berlari sambil menggandeng tangan anak perempuan seumurannya menuju gerobak penjual aneka gorengan yang tak jauh dari tempat penjual es krim tadi. “Mau beli gorengan?” Alvin yang ternyata menyadari arah tatapan adik kembarnya itu memberikan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan pun ia sudah tahu jawabannya. Ia menghabiskan es krimnya dengan perasaan tidak nyaman akibat lelehan es krim di tangannya yang membuat lengket. Vina tersenyum dengan mata yang berbinar cerah mengalahkan cerahnya sang mentari di atas sana. Saah satu hal yang ia paling sukai dari kakak kembarnya itu adalah tingkat kepekaannya yang sangat tinggi dan selalu tahu apa yang ia inginkan tanpa harus dikasih kode sekali pun. Benar-benar pantas menyandang status boyfriend material yang menjadi incaran para gadis-gadis di sekolahnya. “Tahu aja, sih yang aku mau.” Alvin berdiri dari duduknya dan mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari kantong celananya, beruntung ia masih memiliki sedikit uang hari itu dan bisa menyenangkan adiknya yang memang sangat suka makan itu. “Ya udah tunggu di sini.” Dengan berakhirnya kalimatnya itu ia segera beranjak dari sana menuju gerobak gorengan dengan beberapa ibu-ibu dan anak-anak yang sedang mengantri di depannya. Helaan napasnya terdengar saat menyadari bahwa ia harus menunggu hanya untuk menikmati beberapa buah gorengan yang memang menjadi favorite mereka berdua. “Lho, Vina? Lagi ngapain di sini?” Mendengar suara yang tidak asing dari arah sampingnya itu membuat Vina memutar matanya. Ia menoleh hanya untuk mendapati wajah menyebalkan Danu dan Bagas yang berjalan mendekat ke arahnya, senyum menyebalkan yang mereka berdua tampilkan benar-benar merusak suasana hatinya yang sedang baik hari ini. “Lagi mincing ikan,” jawabanya ketus sambil memainkan ponselnya berusaha mengabaikan Bagas dan Danu yang sudah duduk mengapit dirinya. “Kalau mau mancing ikan itu di kali, Na. mana ada orang mancing ikan di taman.” Bagas tertawa mengejek pada Vina yang hanya memberikan tatapan setajam siletnya namun tentu saja hal itu tidak akan berguna jika berhadapan dengan para sahabatnya yang sama gilanya dengan dirinya. “Ya kalian sendiri ngapain di sini?” Lagi Vina memberikan pertanyaan dengan nada ketusnya, tampak sekali ia begitu terganggu dan tidak mengharapkan kehadiran dua pemuda yang tidak pernah ia sangka bisa ia temui di taman dekat rumahnya. “Jalan-jalan doang, suntuk di rumah terus.” Meskipun Bagas sadar jika kehadirannya begitu tidak diharapkan di sana oleh gadis cantik di sampingnya, namun ia tampak tidak perduli karena sudah hafal dengan sikap dan kebiasaan gadis itu yang memang hanya bersikap manis jika ada maunya. “Sama.” “Ah elah, Na. santai aja kali. Jangan bikin muka cantik kamu itu rusak gara-gara dibikin kusut terus.” Bagas tertawa meskipun saat ini Vina sudah menghadiahinya tatapan melotot dan sebuah cubitan di pinggangnya, rasa perih yang ia rasakan di kulitnya tidak bisa menahan gelak tawanya yang semakin keras melihat respon Vina yang di matanya malah terlihat lucu dan menarik. Danu yang sejak tadi hanya menjadi saksi bisu melihat pertengkaran dua orang di hadapannya hanya geleng-geleng kepala, ia sudah terbiasa melihat Bagas yang konyol dan Vina yang pemarah. Menyadari ada yang kurang di sana ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. “Ngomong-ngomong, Alvin mana, Na? Tumben kalian terpisah?” Tepat setelah Danu menyelesaikan pertanyaannya, Alvin muncul dengan satu kantong plastik bening gorengan di tangannya. Melihat raut wajah pemuda tampan itu sudah bisa ditebak bahwa ia heran melihat dua orang sahabatnya yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Ia duduk di samping Bagas yang memang langsung memberikan tempat untuknya duduk dengan bergeser lebih dekat pada Vina. “Yes, ada gorengan. Rezeki anak sholeh.” Bagas dengan tidak tahu malunya segera menyerbu kantong plastik gorengan di tangan Alvin dan mengambil satu bakwan yang masih mengepulkan asap dan menggigitnya bahkan sebelum yang punya mempersilahkannya. Melihat itu Vina tidak bisa menahan kekesalannya yang semakin memuncak sejak tadi, ia merebut kantong plastik di tangan Bagas dan berusaha menjauhkannya dari pemuda itu. “Nggak sopan makan punya orang sebelum ditawarin.” Ia mengambil satu bakwan dan menikmatinya dengan mata melotot pada Bagas yang hanya mencebikkan bibirnya kesal. “Ya ampun, Na. Jangan pelit gitu. Itu aku belinya banyak jadi cukup lah untuk kita berempat.” “Nggak.” Vina menggeleng. “Kalian berdua baru boleh makan kalau kalian traktir minum.” Vina mengambil satu bakwan lagi dan memakannya dengan sengaja untuk membuat Bagas tergoda. Bagas menelan ludahnya dengan susah payah, ia memang sedikit lapar saat pulang sekolah tadi dan sebenarnya ingin buru-buru pulang ke rumahnya untuk menikmati tempe goreng istimewa yang dimasak oleh ibunya di rumah, namun di pertengahan jalan ia tidak sengaja melihat Vina yang sedang duduk sendirian di taman yang menurut mereka berdua bukan hal yang biasa mengingat gadi cantik itu memiliki bodyguard yang selalu menemaninya dua puluh empat jam. Dan mencium bau gorengan itu membuat rasa laparnya tadi yang sempat ia lupakan kini muncul kembali, apalagi setelah mencicipi satu bakwan sukses membuat salivanya bisa mengalir deras jika tidak ia tahan saat ini. “Tapi aku lagi nggak bawa uang, Na,” akunya dengan wajah kecewa, matanya menatap sosok Danu meminta pertolongan dari sorot matanya yang dibuat sayu dan tampak menyedihkan. Danu menghela napas, lagi-lagi ia menjadi korban oleh Bagas yang memang selalu lupa membawa uang sehingga ia yang harus membayarkan makanannya di kantin sekolah mau pun saat jajan di luar. Entah pemuda itu memang sengaja tidak membawa uang atau ia memang tidak punya uang untuk dibawa ke sekolah. Tapi melihat rumahnya yang besar dan ayahnya yang berpenghasilan banyak dengan bekerja sebagai manejer di sebuah perusahaan yang cukup ternama di kota itu membuatnya berpikir ulang. “Kamu itu kayaknya memang nggak pernah bawa uang, deh, Gas. Setiap hari ditraktir mulu. Heran, padahal orangtuamu kaya. Jadi nggak mungkin kamu nggak dikasih uang jajan setiap hari ke sekolah.” Pertanyaan Vina benar-benar mewakili isi hati Danu yang juga heran melihat sikap sahabatnya itu yang selalu bertingkah seperti orang yang kekurangan, padahal ia berasal dari keluarga yang berada selain Bayu. Bagas tersenyum lebar yang menampilkan deretan giginya yang rapih. “Uang jajanku kutabung untuk beli PS.” “Lho? Bukannya kamu sudah punya, ya di rumah?” Alvin bertanya dengan wajah bingung, seingatnya sahabatnya satu itu baru beberapa bulan yang lalu memamerkan perangkat game yang baru dibelikan oleh orangtuanya dan sekarang mau membeli yang baru lagi, padahal ia yakin yang lama saja masih belum lecet sedikit pun karena mereka lebih sering bermain game di rumah Bayu yang memang menjadi tempat tongkrongan mereka karena orangtua Bayu sendiri sangat suka jika mereka semua berkunjung untuk meramaikan rumah yang sering sepi karena kepergian mereka ke luar kota. “Itu ‘kan sudah lama, aku mau beli keluaran terbaru lagi.” Bagas menjawab dengan santai sambil mengambil satu tahu goreng yang untungnya tidak dihalangi oleh Vina, gadis cantik itu kayaknya sedang dalam suasana yang baik, mungkin karena ingin ditraktir minum. “Minta langsung sama orangtuamu ‘kan bisa.” Danu menimpali, ia benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan sahabatnya itu. Bagas menggeleng dengan percaya diri. “Nggak, aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku harus membelinya dengan uang hasil tabunganku sendiri.” Ia tersenyum puas dengan jawabannya yang tampak keren di matanya seorang. “Sama aja kali, Gas. Uang yang kamu tabung itu ‘kan dari orangtuamu juga.” Vina menggigit ujung bakwan yang masih mengepulkan asap dengan mata memandang lurus pada Bagas di sampingnya. Ia sama sekali tidak ingin menawari Danu makan sebelum ia mendapatkan traktiran. “Tetap beda, dong. Uang yang diberikan oleh orangtuaku berarti sudah menjadi milikku sepenuhnya, jadi uang itu tetaplah uang aku, bukan orang tuaku.” “Terserah kamu sajalah. Lagipula ada-ada saja, demi menabung kamu rela menjadi pengemis di depan teman-temanmu.” Danu menggeleng dengan senyum di bibirnya. “Ya sudah aku yang traktir. Kalian mau minum apa?” “Boba rasa Oreo Milkshake.” Vina mengangkat telunjuknya dengan semangat, rasa kesalnya tadi kini tergantikan dengan rasa senang karena bisa menikmati minuman segar secara gratis. “Aku Thai tea.” Bagas memberikan senyum puasnya. “Kalau aku apa saja yang penting bisa diminum.” Alvin tidak terlalu pusing memikirkan minuman apa yang akan ia beli, lagipula ia tidak begitu haus dan tentu saja ia tidak ingin menyusahkan Danu yang rela mengeluarkan uang demi mereka semua akibat ulah adiknya yang tidak punya rasa malu. “Berarti Aqua boleh, ya?” timpal Bagas dengan senyum jailnya berharap mendapat respon heboh dari Alvin, namun ia lupa bahwa pemuda satu itu sangat berbeda dengan adiknya yang bar-bar. “Boleh, aku nggak masalah.” “Ah, kamu benar-benar nggak asyik, Vin.” Bagas mengeluh sambil berjalan mengikuti langkah Danu untuk membeli minuman pesanan mereka berempat di gerai kopi yang letaknya lumayan jauh dari sana. ***** Vina menajamkan pendengarannya saat melihat Alvin tengah menyambut telepon dari Anggi, meskipun ia sudah terbiasa melihat kemesraan keduanya namun ia tetap saja penasaran dengan apa saja yang akan mereka bicarakan di telepon. Padahal mereka selalu bertemu setiap hari di sekolah dan jarak rumah mereka juga tidak terlalu jauh untuk bertemu langsung. Ekor matanya mengikuti pergerakan Alvin yang berjalan menuju teras rumah demi bisa menelepon dengan nyaman tanpa didengar oleh orang tuanya meskipun ayah dan ibunya tahu perihal hubungannya dengan Anggi yang memang sudah berlangsung dua tahun itu. Namun ia tetap saja merasa tidak nyaman jika harus berbicara dengan kekasihnya itu di telepon apalagi jika ada Vina sang pengganggu yang tidak bisa melihatnya senang sedikit saja. Vina segera berlari menuju pintu dan mengintip di balik jendela sekadar melihat Alvin yang sedang senyum-senyum sendiri sambil berbicara dengan Anggi. Ia tidak tahu persis apa yang keduanya sedang bicarakan, namun ia bisa memastikan bahwa keduanya sedang membicarakan tentang soal yang tentu saja berhubungan dengan tugas Matematika yang sangat dibencinya. “Dasar maniak Matematika,” keluhnya dengan suara pelan lebih kepada dirinya sendiri. Melihat dua pasangan itu membuatnya emosinya naik sendiri, tidak di sekolah mau pun rumah keduanya selalu saja membicarakan tentang pelajaran yang memuakkan di matanya. Ia sendiri terkadang heran kenapa ia bisa tidak memiliki keunggulan sedikit pun di bidang pelajaran seperti kakak kembarnya. Ia curiga mungkin Alvin mencuri kepintaran yang harusnya menjadi miliknya untuk diri pemuda itu sendiri sehingga ia harus terlahir tanpa kemampuan dan kecerdasan sedikit pun. Padahal ibu dan ayahnya termasuk siswa yang pintar dulu di sekolah mereka. ‘Tuhan, kenapa aku berbeda,’ protesnya dalam hati menyadari kekurangannya yang benar-benar berbeda dari keluarganya. “Kamu lagi apa di situ, Vina?” Teguran dari ayahnya mampu membuat tubuh Vina tersentak dan hampir saja menarik jatuh gorden jendela rumahnya jika ia tidak cepat-cepat sadar dan melepaskan genggaman tangannya pada kain motif berwarna cokelat itu. Ia mengelus dadanya sambil menatap ayahnya yang kebingungan dengan ekspresi horror. “Ihh, papah bikin kaget saja,” keluhnya dengan wajah cemberut. Ia benar-benar hampir mendapat serangan jantung di malam hari. “Ya lagian kamu bikin apa coba ngintip-ngintip di jendela kayak mau maling.” “Mana ada, sih, pah orang yang maling di rumah sendiri.” Ayahnya tampak tidak begitu perduli dengan ucapan anak gadisnya dan hanya berlalu dari sana menuju dapur, namun baru beberapa langkah ia kembali menoleh pada anaknya yang kini kembali mengintip di balik jendela. Ia hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh anaknya itu. “Mamah panggil untuk makan malam, panggil kakak kamu juga.” Ia memandang jauh ke luar rumah di mana anak laki-lakinya sedang berbincang-bincang dengan seseorang di telepon. Vina memperlihatkan jempolnya meskipun ayahnya itu tidak bisa melihatnya karena ia terlanjur pergi dari sana. “Siap, pah. Aku panggil Alvin dulu.” Ia kemudian berlari keluar menemui kakaknya yang kebetulan sudah selesai menelepon dengan Anggi. Vina menghela napas mengetahui hal itu karena ia pikir ia sudah punya kesempatan untuk menguping pembicaraan keduanya dengan jarak yang dekat. “Ada apa?” tanya Alvin melihat kehadiran adiknya di sana. Ia tidak sebenarnya tidak heran karena ia sudah tahu sejak tadi bahwa adik kembarnya itu selalu mengintipnya di jendela, namun ia hanya berpura-pura tidak tahu. Lagipula ia tidak punya pembahasan yang sensitif dan pribadi yang tidak boleh didengarkan oleh adiknya itu. “Makan malam sudah siap.” “Ya udah ayok.” Alvin tidak memperdulikan ekspresi wajah adiknya yang kesal karena tidak bisa mengintip pembicaraannya dengan Anggi dalam jarak dekat. Padahal tidak ada pembahasan istimewa yang ia lewatkan dan harus membuatnya kecewa seperti itu. Namun begitu ia tetap terhibur dengan tingkah aneh gadis cantik itu yang bisa menjadi hiburan tersendiri baginya. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN