Vina menatap Adit yang kini bersiap-siap untuk pulang setelah menyelesaikan hukumannya. Ia tidak tinggal diam saat pemuda kurus itu berjalan menuju pintu dan bermaksud meninggalkannya sendirian di sana. Ia segera melompat turun dari wastafel dan mengejar langkah Adit yang memang memiliki kaki yang lebih panjang darinya. “Dit, tungguin, dong.” Ia mencengkeram seragam sahabatnya itu dari belakang yang tentu saja mampu menghentikan langkah Adit dan menoleh padanya dengan salah satu alis terangkat. “Kamu nggak mau ‘kan ninggalin cewek sendirian di sekolah yang sudah kosong ini.” Adit tak menanggapi, ia hanya melepaskan genggaman tangan Vina di seragamnya sebelum kembali melangkah pergi. Vina yang tetap dicuekin seperti itu mendecak kesal, ingin memaki dengan kata-k********r saat ini namun ia

