(Pov Wawan) "Wan, maafkan aku ya," ucap Dewi sesaat setelah pesawat yang membawa kami ke Singapura lepas landas. "Maaf untuk apa, Dew?" tanyaku sembari membetulkan posisi duduk Daniel yang sudah tertidur pulas. "Aku selalu membuatmu gagal bersatu dengan Aira." Dewi menundukkan kepalanya. Buliran cairan bening mulai keluar dari pelupuk matanya. Aku merangkul pundak Dewi dan mendekatkan kepalanya dengan leherku. "Sudah jangan menangis, mungkin benar kata Aira. Kami memang tidak berjodoh. Jangan terlalu merasa bersalah, Dew! Aku menyayangimu juga Daniel. Kita mulai dari awal, ya. Semoga kali ini papamu merestui," ucapku lembut sambil mempelai rambut Dewi. "Terima kasih, Wan. Aku janji akan menjadi istri yang baik buat kamu." Pandangan kuedarkan keluar jendela. Entah kenapa aku jadi

