(Pov Aira) Pagi ini sudah dua minggu semenjak Mas Azzam mengkhitbahku untuk menjadi istrinya. Sekarang Bang Baim dan Mas Azzam sudah duduk di ruang tamu rumah Paman Hendro ditemani si tuan rumah. Tadinya aku hampir berniat menerima khitbah Mas Azzam, tetapi setelah mimpiku waktu itu, aku jadi merasa kalau Mas Dion masih hidup. Entah kenapa aku begitu yakin, meskipun pasti semua anggota keluarga tidak akan percaya. Dengan langkah berat, kakiku melangkah menuju ruang tamu untuk menemui Mas Azzam. Akhirnya kuutarakan jawaban atas istikharahku kepadanya. Bagi sebagian wanita mungkin aku dianggap bodoh karena melewatkan begitu saja kesempatan menjadi istri seorang lelaki yang shalih, tampan dan mendekati sempurna seperti Mas Azzam. Namun, itulah kata hati keciku. Aku tidak bisa karena bayang

