(Pov Aira) Aku mondar mandir di depan ruang IGD. Lama sekali dokter menangani Mas Wawan, sudah hampir dua jam mereka belum juga keluar dari ruangan. Aku juga menghubungi Om Ferdi dan Tante Amel, kedua orang tua Mas Wawan di Jogja. Sore ini juga mereka meluncur ke Surabaya. Ya Allah, selamatkan Mas Wawan. Entah kenapa aku begitu takut bila terjadi sesuatu dengannya. Mungkin karena dia telah menyelamatkan Khusein. Seandainya khusein yang tertabrak, astaghfirullah. Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya hatiku. Beberapa saat kemudian pintu ruang IGD dibuka. Seorang berpakaian dokter keluar dari pintu sambil membuka maskernya. "Dokter, bagaimana keadaan Mas Wawan?" Aku tak sabar. Aku ingin segera mendengar penjelasan dokter tentang keadaan Mas Wawan. "Pasien masih kritis, dia banyak

