(Pov Dion)
Pagi itu aku bagai disambar petir di siang bolong. Bagaimana tidak, Aira cewek yang diam-diam kusukai, terang-terangan menceritakan bahwa dia sudah punya pacar bahkan berencana segera menikah. Hatiku terasa nyeri seperti ada tangan tak kasat mata yang meremasnya kuat.
Aku yang biasanya selalu cengengesan tampak mati gaya mendengar berita itu. Apalagi, Aira menceritakannya dengan ekspresi yang penuh kebahagiaan. Untung saja, Andi sahabatku memahami perasaanku sehingga buru-buru dia mengajakku pergi dengan alasan kami ada kelas sepuluh menit lagi. Akhirnya perpustakaan menjadi tempat tujuan kami.
Padahal sedari kemarin aku sudah mempersiapkan diri untuk mengungkapkan perasaanku pada Aira. Selain itu, Andi juga meyakinkanku agar segera mengungkapkannya. Hanya saja aku selalu ragu karena Aira menganggapku sudah seperti kakaknya sendiri.
Aku dan Aira memang dekat, bahkan sering kami bertengkar tapi kemudian akur kembali mirip Tom dan Jerry. Benar kata orang, kalau dua orang yang berbeda gender menjalin persahabatan, tidak akan mungkin akan benar-benar murni bersahabat. Salah satu diantaranya pasti memiliki perasaan yang lebih dari sekadar sahabat. Itulah yang kini aku alami. Aku mencintai Aira sebagai seorang wanita, bukan sebagai sahabat. Namun, sepertinya aku terlambat.
"Kamu gak papa kan, Yon?" tanya Andi. Sepertinya dia khawatir padaku. Kami pun kemudian duduk di bangku perpustakaan.
"Gak papa, An. Mungkin Aira bukan jodohku," jawabku lemas sambil menyadarkan punggungku di kursi perpustakaan.
"Belum ada janur kuning melengkung, Yon. Jangan menyerah. Sebut aja namanya terus dalam doamu." Andi meyakinkan sambil menepuk bahuku berkali-kali. Aku hanya bisa menarik napas panjang. Bisakah aku bersikap seperti biasanya setelah tahu cinta Aira bukan untukku? Aku seperti sudah kehilangan princess kecilku. Ah ... sudahlah.
***
Siang itu, seperti biasa sebelum pulang kami berempat nongkrong di taman belakang kampus.Aku berusaha bersikap sewajar mungkin di depan Aira. Aku tak ingin dia tau perasaanku karena aku tidak ingin merusak kebahagiaannya. Bagiku asal Aira bahagia, aku juga akan bahagia meskipun sakit. Namun, aku sungguh sangat terkejut karena ternyata pacar Aira, yang akan menikahinya adalah Wawan, teman SMAku yang terkenal play boy dan suka mempermainkan cewek.
Mungkin aku bisa tenang kalo Aira dapet cowok yang sholih, alim dan bertanggung jawab. Kenapa harus Wawan, cowok yang suka gonta-ganti pacar dan memutuskan secara sepihak. Bagaimana mungkin Aira bisa jatuh cinta dengan cowok b******k itu?
Aku mengacak rambutku. Gila ... aku gak bisa terima, tapi apa hakku? Aku bukan Abahnya yang bisa melarang dia untuk pacaran dengan Wawan. Akupun bukan Abangnya yang bisa mencegah dia agar tidak berhubungan dengan Wawan. Aku hanyalah sahabatnya. Ya ... hanya sahabat sama halnya dengan Andi dan Aida. Aku hanya bisa berharap, Wawan akan tulus mencintai Aira dan tidak mempermainkannya sebagaimana pacar-pacarnya yang terdahulu.
Malam ini aku tak bisa tidur, bayangan princess kecilku masih selalu muncul di hadapanku. Kenapa aku bisa kalah start dengan Wawan? Padahal sudah hampir setahun aku bersahabat dengan Aira.
Andaikan dari dulu aku berani .... Ah, aku bisa gila.
Kutinjukan kepalan tanganku, dinding kamar yang tak berdosa menjadi sasaran pukulanku. Aku berdiri, kemudian mengambil kunci motor dan kulajukan kendaraanku itu menuju cafe dimana aku biasa nongkrong untuk menenangkan hatiku.
Malam itu cafe lumayan rame, aku memesan segelas cappucino untuk menemani malamku yang dingin dan sepi, sesepi hatiku. Mataku berkeliling melihat segala penjuru cafe. Pengunjung cafe mulai rame berdatangan. Namun, tiba-tiba kedua mataku tertuju pada sosok yang sangat kukenal.
Wawan, dia duduk di pojok cafe dengan dua cowok yang juga kukenal.
Salah satu diantara mereka adalah Hadi yang tak lain adalah adiknya Wawan sedangkan yang lain Roni temanku waktu SMA.
Aku melihat mereka bertiga minum-minum bir seperti merayakan sesuatu. Mungkin perayaan melepaskan masa lajangnya jika nanti Aira setuju menikah dengannya. Wawan akan menikahi Aira. Astaghfirulloh ... kenapa hatiku sesakit ini? Rasanya begitu perih, tetapi tak berdarah.
Roni melambaikan tangan ke arahku. Sial, ternyata dia melihatku. Aku berjalan mendekat ke arah mereka bertiga. Wawan yang melihatku mendekat langsung berdiri mendongak di hadapanku.
Ya ... aku dan Wawan memang tak pernah akur semenjak SMA. Ada saja perselisihan diantara kami. Namun, semua selalu bisa kuatasi. Wawan tidak pernah menang melawan aku, tetapi kali ini aku kalah darinya dalam hal mendapatkan hati Aira.
Setelah mengikis jarak dengan Wawan dan kini kami hanya berjarak tidak lebih dari setengah meter, aku mencengkram krah bajunya bagian depan. Dia menatapku tajam.
"Jangan pernah kamu mempermainan Aira," ancamku seraya mengencangkan cengkraman.
"Santai bro, kita bisa bicara baik-baik," balas Wawan sambil mengangkat kedua tangannya tanda damai. Hadi dan Roni ikut berdiri dari tempat duduknya. Namun, mereka berdua tak berani berbuat apa-apa.
"Aku bisa jelaskan, Yon," lanjutnya. Akupun menurunkan cengkraman tanganku kemudian duduk di kursi. Wawan duduk diikuti Hadi dan Roni.
"Jika kamu berani mempermainkan Aira, maka kamu akan berurusan denganku, mengerti!" gertakku sambil menatap tajam mata Wawan, dia tampak gugup.
"A-aku serius dengan Aira. Sungguh aku akan menikahi dia setelah wisuda nanti." balas Wawan sambil membenarkan krah bajunya yang aku cengkram tadi.
"Lalu Dewi, bukannya kau baru putus darinya? Apa kau juga akan meninggalkan Aira seperti kau meninggalkan Dewi?" tanyaku sambil menatap tajam mata Wawan. Dia mengalihkan pandangan dariku. Sementara Hadi dan Roni hanya terdiam.
"Kurang banyak apa wanita yang jadi korbanmu, hah!" teriakku sambil menggebrak meja. Kedua mataku masih menatap tajam seolah ingin menusuk dua netra Wawan.
"Kau salah paham, Bro. Bukan aku yang meninggalkan Dewi, tetap dialah yang meninggalkanku. Papanya menentang hubungan kami karna alasan yang tidak kumengerti, lalu membawanya tinggal di Singapura," jelas Wawan sambil menunduk.
"Aku ingin memperjuangkan hubunganku dengan Dewi, tetapi apa daya.Om Robert tetap bersikeras menentang. Takdir tidak berpihak pada kami," lanjutnya penuh penyesalan.
Apa benar yang dikatakan Wawan? Secepat itu dia melupakan Dewi dan jatuh hati pada Aira. Apa mungkin Aira hanya tempat pelariannya?
Dewi adalah sahabatku dan juga Wawan sewaktu SMA. Dia sudah seperti keluarga bagiku karna kedekatan keluarganya dengan keluarga pamanku. Aku adalah tempat dia mengadu disaat kedua orang tuanya sibuk dan tak ada waktu untuknya. Namun, perasaanku pada Dewi hanya sebatas seorang kakak terhadap adiknya tidak lebih karena kami juga masih ada hubungan kerabat.
Meskipun begitu, aku juga tidak rela jika Wawan menyakiti Dewi. Aku mengira Dewi pergi ke Singapura karena diputuskan Wawan. Setidaknya itu yang dia ceritakan kepadaku. Ah, aku tidak mengerti. Nanti aku bisa minta penjelasan dari Dewi.
Aku beranjak berdiri, Wawan dan kedua temannya ikut berdiri, berjaga-jaga kalau aku menyerang Wawan lagi. Mereka saling memandang kemudian menatapku.
"Ingat baik-baik. Jangan pernah kau permainkan Aira. Jika kamu memang tidak serius dengannya, sekarang juga tinggalkan dia. Biar aku yang menikahinya, karena aku juga mencintainya," tandasku yakin. Sejenak aku terdiam lalu mendekatkan wajahku hingga tinggal beberapa senti dengan Wawan.
"Tapi, jika kamu serius, bahagiakan dia. Aku ikhlas dia bersamamu," bisikku di telinga Wawan, sambil berlalu meninggalkan mereka bertiga yang masih terbengong dengan ucapanku.
Aira ... princess kecilku, kuharap kamu menemukan kebahagian meski tidak denganku. Sekali lagi bertambah remuk rasa hatiku. Sesak menjalar di d**a. Kulajukan motorku pelan-pelan menembus gelapnya malam, segelap hatiku malam itu.