Bab 3-Kecelakaan

1068 Kata
Malam ini aku duduk sendirian di teras rumah. Aku termenung, teringat kejadian sore tadi waktu Mas Wawan datang kerumah ini bersama kedua orang tuanya untuk melamarku. Aku benar-benar tidak menyangka kalau lelaki itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Yah ... meski terkesan mendadak dan buru-buru, tetapi alasannya benar adanya. Kalaupun kami kelamaan pacaran justru takutnya malah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sebenarnya Abah masih berat menerima lamaran itu. Abah ingin aku fokus dengan kuliah dulu, tapi Mas Wawan berhasil meyakinkan Abah kalau aku akan tetap bisa kuliah meskipun kami menikah. Kuliahku akan baik-baik saja sampai wisuda nanti. Sebenernya aku ragu dengan keputusan ini. Aku sudah berulang kali melakukan salat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah. Apakah Mas Wawan adalah jodoh terbaik buatku. Bulan depan aku akan melepas masa lajangku. Aku akan menyandang status sebagai seorang istri. Meskipun Mas Wawan berjanji akan memberiku kebebasan dan tidak mengekangku, tetapi rasanya tetaplah beda. Ah, rasanya terlalu cepat. Apakah aku siap dengan konsekuensi itu? Aku juga belum lama mengenal Mas Wawan. Hanya saja menurutku dia baik dan tulus. Kalau memang dia tidak serus terhadapku, mana mungkin dia mengajak menikah? Bisa saja dia memebiarkan kami tetap pacaran tanpa kejelasan mau dibawa ke mana. Aku menganggap itu sebuah keseriusan yang perlu aku acungi jempol. Keberaniannya menemui Abah bersama kedua orang tuanya untuk menghalalkan hubungan kami memang perlu aku hargai. Hanya saja entah kenapa jauh di lubuk hatiku masih ada keraguan. Meskipun secara finansial, Mas Wawan sudah mandiri karena meskipun masih kuliah, dia sudah bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Aku menghela napas panjang. Bila ini sudah takdirku, bismillah akan kujalani dengan ikhlas. "Assalamualaikum," sapa Aida dan Kak Andi hampir bersamaan. Keduanya turun dari dua motor metik. Tumben, ada angin apa mereka berdua kemari? "Wa alaikum salam," jawabku sambil beranjak dari duduk. "Wah ... tumben, nih berduaan saja. Kak Dion mana?“ tanyaku setelah bersalaman serta cipika cipiki dengan Aida. Aku pun mempersilahkan keduanya duduk di kursi yang ada di teras rumah. Kak Andi menolak saat aku meminta keduanya masuk. "Memangnya Dion gak kesini, Ra?" Kak Andi malah balik bertanya membuatku heran. Aku mengerutkan kening, lalu menggelengkan kepala. "Dari tadi aku duduk di sini dan gak liat ada Kak Dion datang," jawabku saat melihat ekspresi Kak Andi yang seolah tidak percaa. "Beneran dia gak ke sini, Ra? Jangan-jangan kamu umpetin," canda Kak Andi sambil terkekeh. "Ih, apa untungnya aku ngumpetin Kak Dion? Dia kan makannya banyak. Bisa-bisa Umi kualahan masak nanti," balasku sambil tertawa lebar. "Ra, aku serius, nih.Kita ke sini sebenernya nyari kak Dion. Tadi kita kerumahnya, tapi gak ada," ucap Aida dengan nada serius, lalu duduk di sampingku. "Coba aku telepon dulu," ucapku sambil mengambil ponsel, lalu menelepon Kak Dion. Namun, hingga dering terakhir tidak ada jawaban. "Berdering tapi gak ada jawaban, mungkin Kak Dion lagi di jalan," ucapku sambil meletakkan ponsel di meja. "Aku khawatir dengan Dion, Ra," ucap Kak Andi dengan ekspresi wajah yang panik. "Iya, Ra. Kami khawatir banget. Kira-kira Kak Dion ke mana, ya?" tanya Aida ikutan cemas. "Emang Kak Dion kenapa, sih? Kalian kok cemas banget. Dia kan udah gedhe. Siapa tau dia lagi jalan-jalan atau nongkrong-nongkrong dengan teman-temannya dan kebetulah ponselnya gak aktif. Duh ... jangan lebay ,ah," jawabku santai. Aku tak habis pikir kenapa dua sahabatku itu sangat mengkhawatirkan Kak Dion. Namun, Aida dan Kak Andi saling berpandangan, mereka seperti kebingungan. "A-Anu, Ra. Dion lagi patah hati. Aku takut terjadi apa-apa sama dia malam ini. Terakhir ketemu dia tadi di kampus, dia terlihat kacau. Perasaanku gak enak, nih," jelas Kak Andi tampak khawatir. What ... Kak Dion patah hati? Sama siapa coba? Selama ini dia selalu tertutup tentang cewek yang dia suka. Dia juga tidak tampak dekat atau menyukai gadis mana pun. Kenapa tiba-tiba patah hati? Baru mau kutanyakan pada Kak Andi, eh ... ponselku berbunyi panggilan masuk dari Kak Dion. "Kak Dion, panjang umur nie orang," ucapku sambil langsung mengangkat telpon darinya. "Halo, assalamualaikum," sapaku. "Waalaikumsalam," jawab seseorang dari seberang sana membuat jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Suara laki-laki itu seperti bukan suara Kak Dion. "S-Siapa ini?" tanyaku gugup. Jantungku pun seolah hendak melompat. Firasatku mengatakan terjadi sesuatu dengan Kak Dion. "Saya cuma mau beritahukan kalo orang yang punya hp ini mengalami kecelakaan dan sekarang dirawat di rumah sakit Pelita Medika," jawab lelaki di seberang sana membuat kedua kakiku melemas. "Saya menghubungi Anda karena barusan ada telepon masuk dari nomor ini. Saya juga bingung mau menghubungi siapa," ucap lelaki itu lagi. "I-Iya terima kasih. Saya akan segera kesana," jawabku gugup sambil menutup panggilan di ponsel. "Dion kenapa, Ra?" tanya kak Andi dengan ekspresi khawatir. Aku yang masih syok hanya terdiam tanpa menjawab. "Jawab, Ra," tambah Aida yang ikut tegang. "Kak Dion kecelakaan," jawabku lirih.Tiba-tiba air mataku tumpah, ada rasa sesak di d**a mendengar lelaki yang menjadi sahabatku itu tertimpa musibah. Kami bertiga bergegas menuju rumah sakit Pelita Medika. *** RS. PELITA MEDIKA "Aira ...." Kalimat pertama yang diucap Kak Dion, tapi belum sadar dari pingsannya. Dia memanggilku? Benarkah dia memanggilku? “Dokter, tolong periksa Kak Dion! Dia terus mengigau," mohon Aida saat memanggil dokter. Dengan sigap lelaki berseragam putih dan berkacamata itu memeriksa kondisi Kak Dion. Dalam pingsannya, Kak Dion selalu memanggil namaku. Entah kenapa bisa begitu. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa aku begitu berarti di hatinya? Aku bingung dalam pikiranku sendiri. "Bagaimana keadaan teman saya, Dok?“ tanya Kak Andi yang sudah tidak sabar menanti penjelasan dokter. "Pasien masih koma. Adakah diantara kalian yang bernama Aira?“ tanya dokter sambil melihat satu persatu kami bertiga. Aku terkejut mendengar pertanyaan lelaki berseragam putih itu. Sedangkan Aida dan Kak Andi langsung kompak memandangku. "Saya Aira, Dok," jawabku lirih. "Begini, Mbak Aira. Saya harap, Mbak Aira bisa menemani pasien hingga siuman, karena sedari tadi pasien mengigau memanggil nama Anda. Mungkin dengan keberadaan Anda di samping pasien, bisa mempercepat kesembuhannya," jelas dokter. "Oh, begitu. Insya Allah saya akan menemani Kak Dion, Dok," balasku. Dokter tersenyum kemudian berpamitan meninggalkan ruangan Kak Dion. Sementara itu, Kak Andi mencoba menghubungi Paman Hendro, seorang kerabat yang merawat Kak Dion semenjak kedua orang tuanya meninggal. Kak Dion memang sudah yatim piatu sejak kecil dan diasuh oleh adik dari almarhum ayahnya. Aku masih termenung, begitu berartinya aku untuk Kak Dion hingga di alam bawah sadarnya dia masih menyebut namaku. Apa karna dia sudah yatim piatu dan saat ini hanya aku yang selalu dekat dengannya? Ah, entahlah. Apapun itu, aku hanya berharap yang terbaik untuk Kak Dion. Ya Allah, sembuhkan Kak Dion. Entah mengapa aku merasa sangat kehilangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN