Dua minggu berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Kak Dion. Untungnya tidak ada luka yang serius. Jadi, hari ini dia sudah bener-bener pulih dan sehat. Hari ini adalah hari yang ditunggu tunggu, yaitu hari wisuda mahasiswa semester akhir tahun ini.
Pagi ini aku sudah berada di gedung pertemuan dekat kampus. Aku mau ikut hadir dalam acara wisuda calon suamiku, Mas Wawan dan juga dua sahabatku Kak Dion dan Kak Andi.
Kulihat penampilan Mas Wawan hari ini memang tampak berbeda. Dia semakin terlihat gagah dan tampan dengan baju toga hitam. Tubuhnya yang tinggi berkulit putih serta kacamata menambah modis penampilan. Hadir juga mama dan papa Mas Wawan serta Adik laki-lakinya, Hadi.
Disebrang sana ada Kak Andi bersama Bundanya dan pacar setianya Aida. Lalu aku melihat ke arah Kak Dion yang terlihat lebih formal dengan baju toga hitam, tubuhnya yang kekar dan terbiasa berpakaian santai kini terlihat berbeda, terlihat lebih keren. Namun, sayangnya tak ada satu pun perwakilan dari keluarga yang mengantarnya.
Kak Dion memang sudah yatim piatu, dia tinggal bersama pamannya, paman Hendro. Sebulan yang lalu paman Hendro pindah dinas ke Surabaya , sehingga hari ini tak bisa menemaninya wisuda.
Tiba-tiba Kak Dion menatapku, pandangan kami beradu, sorot matanya teduh. Aku merasa ada desiran di d**a karena tatapan mata elangnya. Antara rasa iba atau apalah aku gak mengerti.
"Mas," kataku sambil menarik tangan Mas Wawan.
"Hem, iya. Ada apa, Sayang?" tanyanya setelah menoleh ke arahku.
“Bolehkah aku menemani Kak Dion?“ tanyaku spontan. Entah kenapa aku berpikir seperti itu, tetapi Mas Wawan sedikit terkejut dengan permohonanku. Lelaki berkulit putih itu kemudian mengalihkan pandangan ke arah Kak Dion yang berdiri seorang diri beberapa meter dari tempat kami berdiri.
"Kasihan kak Dion, Mas. Dia sudah tak punya orang tua. Pamannya juga barusan pindah ke Surabaya. Dia sendirian. Bagiku Kak Dion sudah seperti Bang Baim, abangku satu-satunya. Semenjak Bang Baim kuliah di Kairo, Kak Dionlah yang menjadi penggantinya. Dia selalu ada setiap aku membutuhkan," jelasku sambil menunduk. Aku tak berani melihat ekspresi wajah calon suamiku itu setelah mendengar permintaanku.
.
"Di saat-saat penting dan bersejarah bagi kehidupannya. Aku tidak tega melihat Kak Dion sendirian. Itu jika kamu mengizinkan, Mas," lanjutku lirih. Ada buliran kristal bening yang jatuh di kedua pipiku karena tak tega dengan kesendirian Kak Dion.
"Ya sudah. Pergilah, Sayang! Aku percaya padamu," balas Mas Wawan. Akhirnya mengizinkan aku.
"Makasih, Mas" ucapku dengan mata berbinar. Tak percaya jika Mas Wawan mengizinkanku menemani Kak Dion. Aku bergegas menuju ke tempat Kak Dion berdiri, setelah sebelumnya aku pamitan pada kedua calon mertuaku dan juga calon adik iparku.
"Bolehkah aku menemani Kakak?" tanyaku membuat Kak Dion terkejut.
"Apa Wawan tidak marah?" Kak Dion menatap dalam wajahku. Sejak kecelakaan itu, selera humor Kak Dion seolah hilang di telan bumi, sorot matanya terlihat teduh dan penuh kesedihan. Sebenarnya siapa, sih, cewek yang udah nyakitin cowok sebaik Kak Dion, sampai dia patah hati dan berubah seperti ini? Berkali-kali aku tanya ke Aida dan Kak Andi tapi mereka berdua enggan bercerita.
"Mas Wawan udah ngizinin kok, Kak. Dia gak papa," jawabku sambil melempar senyum semanis mungkin. Kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya.
Acara wisuda berjalan dengan lancar siang itu benar-benar hari bersejarah di mana calon suamiku dan dua sahabatku menyandang gelar sarjana.
"Selamat ya Mas, akhirnya tercapai cita-citamu," ucapku pada calon suamiku ketika acara telah usai.
"Iya, Sayang. Makasih ya! Semua juga berkat doa kamu." Lelaki di depanku ini melempar senyum manis.
"Kamu mau langsung pulang atau--"
"Bentar, Mas. Aku mau ngumpul-ngumpul dulu sama teman-teman. Mas pulang dulu aja, ya!"
"Ya udah hati-hati ya, Sayang!" Mas Wawan tersenyum manis kemudian berbalik meninggalkanku. Aku berjalan menuju tempat di mana Aida, kak Andi dan Kak Dion berkumpul.
"Ra, makasih udah menemaniku, sekalian aku mau pamit pada kalian semua," ucap kak Dion dengan ekspresi sedih, matanya berkaca-kaca.
"Emang kamu jadi ke Surabaya, Yon?“ tanya kak Andi.
"A-apa ... Kak Dion mau ke Surabaya?“ tanyaku gugup. Tiba-tiba aku seperti kehilangan sesuatu.
"Aku ada panggilan kerja di Surabaya, Ra," ucapnya lirih, tetapi cukup membuat hatiku seperti diremas-remas.
"Yahh, kita gak bisa kumpul-kumpul berempat lagi, dong," ucap Aida. Sepertinya dia juga terlihat kecewa.
"Kita masih bisa bercanda lewat grup whats app. Iya kan, Yon?“ Kak Andi menepuk bahu Kak Dion dan mencoba menetralkan suasana.
"Semoga sukses di sana kak." Hanya itu yang bisa kuucap. Aku mencoba bersikap wajar meski jujur aku kehilangan sosok kakak seperti dia. Belum lagi Bang Baim pulang dari Kairo, tapi Kak Dion sudah akan pergi. Aku merasa sangat sedih.
"Mungkin aku gak bisa hadir di pernikahanmu, Ra. Aku doakan semoga kamu bahagia, ya!" Kak Dion menggenggam tanganku, Aida dan Kak Andi ikut meneteskan air mata.
"Jangan segan menghubungiku bila kamu membutuhkan, Ra. Oiya, satu lagi jika Wawan menyakitimu, maka dia akan berurusan denganku," ucap Kak Dion sambil mempererat genggaman tangannya seolah enggan melepas.
Kualihkan pandangan ke pintu gerbang gedung ini, terlihat di kejauhan Mas Wawan memperhatikanku. Ternyata dia belum pulang. Apa dia akan marah? Aku tak peduli.
"Ra, boleh aku peluk kamu? Mungkin untuk yang terakhir kali." Kak Dion menatapku sayup. Aku terkejut mendengar permintaannya dan tidak tahu harus menjawab apa selain hanya mengangguk pelan. Tak berapa lama kemudian, aku sudah jatuh dipelukan kak Dion. Aku menangis, ada rasa kehilangan, seorang sahabat, seorang Kakak yang sangat kusayang.
Kulihat jauh disana Mas Wawan masih memperhatikanku. Maafkan aku, Mas. Rasa sayangku pada Kak Dion hanya sebatas sayang seorang sahabat dan kakak. Kuharap kamu tidak salah paham.
***
"Terus terang aku cemburu, Sayang. Lelaki mana yang rela kekasihnya dipeluk pria lain," ucap Mas Wawan sambil mengacak rambutnya. Malam itu kami dinner di restoran langganannya. Besok sore Mas Wawan akan terbang ke Singapura karna tugas dari kantor.
Ya ... memang sebelum lulus, Mas Wawan sudah bekerja di kantor teman papanya sebagai marketing di sebuah perusahaan asuransi, karirnya sudah cukup bagus. Jadi, malam itu kami diner untuk perpisahan sementara kami.
"Maafkan aku Mas, perasaanku pada kak Dion hanya sebatas sahabat, tidak lebih, Mas. Kamu tau kan dia sudah seperti Abangku?" Aku mencoba memberikan penjelasan pada calon suamiku itu.
"Aku percaya perasaan kamu sebatas itu, tapi tidak dengan Dion."
"Maksudnya apa, Mas? "
"Dion mencintaimu," jawab Mas Wawan membuatku terkejut. Apa benar yang diucapkan calon suamiku itu?
"Malam itu setelah aku melamarmu, aku ke cafe dengan Hadi dan Roni, aku ingin merayakan hari bahagia bersama mereka berdua karna kau menerima lamaranku. Ternyata di sana, aku bertemu Dion." Mas Wawan terdiam sejenak dan menyruput juice jeruk dihadapannya. Aku hanya terdiam mendengar ceritanya.
"Dion mengancamku supaya tidak menyakitimu, karena dia juga mencintaimu." Mas Wawan memegang kedua tanganku.
"Dia rela melepasmu asal kau bahagia, malam itu dia pulang dengan pikiran kalut dan terjadilah kecelakaan itu," jelas Mas Wawan panjang lebar.
Apa? Jadi, cewek yang bikin Kak Dion patah hati adalah aku? Pantas saja disaat tak sadarkan diri dia terus menyebut namaku. Kenapa dia tak pernah terus terang padaku?
"Sayang, sekali lagi aku bertanya kepadamu, apa kamu mencintaiku? Bagaimana perasaanmu pada Dion?" Pertanyaan Mas Wawan seolah menghakimiku.
"Mas, tentu aku mencintaimu. Kalau tidak, mana mungkin aku terima lamaranmu," jawabku seraya membalas genggaman kedua tangan kekar Mas Wawan.
"Tentang Kak Dion, aku sudah berulang kali bilang, aku menyayanginya sebagai sahabat dan kakak, apa perlu ku ulang lagi ucapanku?"
"Tidak perlu! Aku percaya, Sayang." Mas Wawan mencubit hidungku.
"Oiya, besok kamu mau mengantarku ke bandara? Mungkin sekitar semingguan aku disana utk pelatihan marketing. InsyaAllah aku akan pulang dua hari menjelang pernikahan kita. Hadi akan mempersiapkan semua, kamu gak usah khawatir, ya. Semua urusan pernikahan sudah kuserahkan pada Hadi."
"Iya, Mas. Besok insyaAllah aku antar kamu ke bandara. Wah, aku bakalan kangen nie sama kamu," godaku.
"Nanti tiap hari kita video call, ya! Biar ngrasain juga jadi pengantin yang dipingit." Mas Wawan tertawa lebar.
Malam itu, harusnya hatiku terasa bahagia, pernikahanku sudah di depan mata. Tapi entah kenapa perasaanku gak enak, ah semoga perjalanan Mas Wawan lancar dan selamat sampai kembali ke Indonesia.