Bab 5-Pengantin Pengganti

1332 Kata
Aku menatap bayangan diri ini di depan cermin. Hari itu akhirnya datang, hari bahagia, hari pernikahanku. Aku bagai seorang putri raja dengan riasan pengantin adat jawa. Sengaja kupilih adat jawa karna aku ingin seperti layaknya putri keraton. Akan tetapi, ada yang mengganjal di hatiku, karna semenjak tadi malam aku hilang kontak dengan Mas Wawan. Nomernya selalu tidak aktif, tapi terakhir menghubungiku kemarin, dia sudah kembali dari Singapura. Aku gelisah, berkali-kali menelepon, tapi hasilnya nihil. "Gimana, Ra? Sudah ada kabar dari Mas Wawan?" tanya Aida sahabat setiaku yang juga merasakan hal yang sama, khawatir terjadi apa-apa dengan Mas Wawan. Aku menggeleng pelan, pernikahan sudah tinggal beberapa jam lagi tapi Mas Wawan belum bisa dihubungi. Apa yang terjadi padamu, Mas? "Wah, cantik sekali princess kecilku," ucap seseorang yang tak asing lagi terdengar ditelingaku. "Bang Baim," teriakku sambil berlari kecil kemudian berhambur memeluk abangku satu-satunya yang baru saja datang dari Kairo. "Aku pikir Abang tidak akan pulang," ucapku setelah melepas pelukan. "Mana mungkin abang tega tidak datang di hari istimewa kamu, Dek," balas Bang Baim sambil mencubit hidungku. "Sebenernya sudah dari kemarin Abang sampai, tapi Abang menginap dulu di Jakarta," jelasnya. "Oalahh begitu." Aku hanya menanggapi lemah. "Eh, ini pengantin kenapa mukanya kusut gitu?" tanya Bang Baim sambil memandangku lekat. Abangku yang satu ini memahami perasaan adik semata wayangnya. Akhirnya kuceritakan padanya kalau Mas Wawan sejak tadi malam hilang kontak, gak bisa dihubungi. "Biar Abang kerumah Wawan untuk memastikan yang terjadi," usul Bang Baim setelah meletakkan tas ranselnya. "Bang Baim kan baru dateng, apa gak capek? Biar Kak Andi yang kesana, Bang!" Aida memberi usulan, Kak Andi mengangguk setuju. "Kita berangkat berdua, An. Ayo!" Bang Ibra bergegas diikuti Kak Andi. Aku kembali panik memikirkan keberadaan Mas Wawan. "Oh iya, ada kejutan juga untukmu, Ra!" Aida mencoba Mengalihkan pikiranku. "Kejutan apa, Da? " tanyaku penasaran. "Barusan Kak Dion chat aku, dia sekarang lagi terbang dari Surabaya ke sini, dia memutuskan untuk menghadiri pernikahanmu," ujar Aida dengan mata berbinar menyampaikan berita itu. "Kak Dion?" Mataku berkaca-kaca. Dua mingguan tak jumpa ada rasa kangen di hati ini. Kuletakkan ponselku di ranjang, lalu mendekati cermin dan menghapus bulir-bulir air mata dengan tisu. Kak Dion, maafkan aku yang tidak peka terhadap perasaanmu, sebentar lagi aku akan menjadi istri orang, kuharap kamu bisa menganggapku sebatas sahabatmu. "Ra, ada pesan whats app dari Mas Wawan," teriak Aida sambil menyodorkan ponselku. Segera kubuka pesannya. [Aira, maafkan aku. Aku tak bisa menjalani pernikahan ini. Aku hina. Aku gak pantas untukmu. Maafkan aku Aira] "Innalilahi wa Inna ilaihi Roji'un, tidaaaakkkkk!" Aku berteriak histeris, Aida langsung mendekat, Abah dan Umi juga kaget dan tergopoh menghampiriku. "Ada apa, Nduk? Umi mengelus kepalaku. Tubuhku lemas, aku hampir pingsan. Aida langsung menelepon Mas Wawan dengan ponselku, tapi nomor sudah tidak aktif. Ya Allah ... Mas Wawan meninggalkanku tepat dihari pernikahan kami. Kenapa dia tega sekali? Apa arti semua ini? Mendadak semua gelap. Aku tak sadarkan diri. *** Samar-samar aku tersadar. Hampir satu jam pingsan, aku melihat Umi dan Aida menangis di sampingku. Aduh ... kepala ini terasa berat, pusing, terdengar sayup-sayup suara banyak orang diruang tamu. "Tamu siapa, Umi?" tanyaku sambil berusaha duduk. "Aira, kamu sudah sadar, Nduk?" Umi memelukku erat kemudian Aida. "Keluarga Mas Wawan kesini Ra, mereka minta maaf sebesar-besarnya atas kejadian ini. Mereka bilang Mas Wawan tiba-tiba hilang dari kamarnya dan meninggalkan ini." Aida menyerahkan secarik kertas, di dalamnya ada tulisan tangan Mas Wawan. [Pah, Mah, maafkan Wawan, Wawan tak bisa jalani pernikahan ini, Wawan gak pantas buat seorang wanita sebaik Aira.] Mas Wawan, kenapa kamu menjadi pengecut seperti ini? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa kau merasa tidak pantas untukku? Air mataku tumpah, Umi dan Aida memelukku untuk menguatkanku. Abah terlihat sangat marah, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. "Kurang ajar betul Wawan, dia benar-benar sudah membuatku malu. Apa yang harus aku katakan pada ratusan tamu undangan yang akan datang beberapa saat lagi?" tanya Abah seraya mengusap kasar wajahnya. Wajah Abah yang sudah mulai menua terlihat penuh amarah. Hadi tiba-tiba berlutut di depan abah. Kami semua serentak melihat ke arahnya. "Bah, izinkan saya menikahi Aira untuk menebus semua kesalahan Mas Wawan dan juga menyelamatkan nama baik keluarga Abah," ucapnya membuat semua yang ada di sana tercengang. "Bicara apa kamu, Hadi. Pernikahan bukan permainan. Mana bisa main diganti begitu saja," balas Abah tidak setuju. Beliau menarik tangan Hadi agar tidak berlutut lagi. "Tapi Bah, saya ikhlas. Semua saya lakukan demi nama baik keluarga Abah dan juga Aira. Saya malu dengan kelakuan Mas Wawan," ucap Hadi lagi. "Tidak, Had. Aku tak mau menikah denganmu," tolakku. Spontan aku berdiri dari tempatku duduk. Meski umur Hadi setahun lebih tua dariku, tapi aku tak mau menikah dengannya. Aku sudah menganggapnya adikku sendiri. Aku mendekati Hadi dan memegang bahunya. "Had, kesalahan Masmu tidak seharusnya kamu yang memikul. Lagi pula aku tidak mau kita menikah tanpa ada rasa cinta. Hanya demi nama baik keluarga. Kita cari solusi yang lain," balasku mencoba setenang mungkin meski sebenarnya hatiku sudah rapuh. Lima belas menit lagi pak penghulu akan datang dan pernikahan ini mungkin akan batal. Aku tak percaya Mas Wawan tega melakukan ini padaku. Abah masih kebingungan, sementara tamu undangan di luar sudah mulai berdatangan. Bang Baim juga terlihat kesal dan berkali-kali memukulkan tangannya ke dinding. Sedangkan Umi masih duduk di ranjangku dengan berderai air mata. "Biarlah Abah batalkan pernikahan ini." Abah bangkit dari tempat duduknya. Wajah tuanya terlihat sedih bercampur marah. "Saya bersedia menggantikan posisi pengantin pria, Bah. Itu jika Aira mau dan Abah mengizinkan." Terdengar suara lantang dari pintu depan rumah. Sontak pandangan kami semua mengarah ke pintu depan. Kak Dion ternyata dia yang baru datang dari Surabaya. "Dion? Sini, Yon," ajak Bang Baim sambil menarik tangan lelaki bertubuh kekar itu dan membawanya mendekat kepada Abah. "Kamu serius dengan ucapanmu, Yon?" tanya Abah sambil menatap Kak Dion yang pelan-pelan duduk di hadapan beliau. "Saya serius Bah," jawabnya yakin. "Ini pernikahan Yon, bukan permainan. Apa kamu sudah benar-benar siap?" Entah mengapa Abah tidak menolak Kak Dion sebagaimana Abah menolak usulan Hadi tadi. "Bah, sebenarnya saya sudah mencintai Aira jauh sebelum Wawan melamarnya. Hanya saja saya belum punya keberanian melamar. Karena saya belum bekerja. Lagi pula saya masih numpang di rumah paman," jawab Kak Dion sambil menunduk. Lelaki itu tidak berani menatap wajah Abah yang seolah menginterogasinya. Aku terharu dengan kejujurannya. "Sekarang saya sudah kerja di Surabaya. Meskipun gaji saya belum seberapa, tetapi saya yakin bisa menafkahi Aira. Saya juga berjanji akan membahagiakan putri Abah sesuai kemampuan saya," tambah Kak Dion membuat Abah bersimpati. "Abah setuju menikahkanmu dengan Aira. Bagaimana dengan kamu, Nduk?" Abah menoleh kepadaku. Aku terkejut, tapi tak tau harus menjawab apa sementara diluar terdengar pak Penghulu sudah datang. "Bah, ijinkan Aira bicara berdua dengan Kak Dion," ucapku. Abah mengangguk. Kak Dion pun mengikutiku masuk ke kamar. Beberapa saat hening. Aku gak tahu, apa yang akan ku katakan padanya. Semua serba mendadak. "Kakak yakin mau menikah denganku?“ tanyaku memulai pembicaraan tanpa berani menatap wajahnya. "Iya, sangat yakin, Ra. Tapi itu jika kamu mau," jawabnya tanpa ragu. "Kakak tau kan bagaimana perasaanku pada Kakak? Aku--" Lidahku terasa beku, tak sanggup melanjutkan kalimatku. Air mata masih menggenang di pelupuk mataku. "Aku tau, Ra. Aku sudah siap menerima resiko itu. Aku yakin suatu saat nanti, kamu pasti akan melupakan Wawan dan belajar mencintaiku," jawab Kak Dion sambil mendekatiku. "Aku akan sabar menunggumu, Ra. Namun, jika ternyata waktu tak bisa membuatmu mencintaiku. Aku rela melepaskan kamu." Hatiku tersentuh dengan ucapan Kak Dion. Begitu besar rasa cinta yang kamu berikan untukku, Kak, sehingga tak ingin memaksaku. Aku juga kasihan pada Abah yang akan menanggung malu karena anak gadis satu-satunya ditinggal lari oleh calon suaminya tepat di hari pernikahan. "Baiklah, Kak. Kita menikah. Terima kasih atas cinta yang kamu berikan padaku. Semoga aku tidak mengecewakan dan bisa membalas cintamu," ucapku kemudian dan kak Dion memegang erat tanganku, kulihat binar bahagia di wajahnya. Mungkin ini jodoh terbaik yang diberikan Allah untukku, padahal setiap malam nama Mas Wawan yang kupanjatkan dalam sholat Istikharahku, tetapi Allah berkehendak lain. Ya Allah semoga ini pilihan terbaik untukku. Semoga pernikahan ini akan membawa kebahagiaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN