Bab 6-Bertemu Mantan

1071 Kata
(Pov Wawan) Sore itu menjadi hari yang berat bagiku, karena aku akan terbang ke Singapura untuk mengikuti pelatihan marketing. Yah ... pekerjaan menuntutku harus profesional meski aku berat berpisah dengan Aira. Seminggu akan terasa lama bagi kami mengingat minggu depan kami akan menikah. Segala keperluan pernikahan sudah dipersiapkan oleh adik semata wayangku, Hadi. "Aku pasti bakal kangen sama kamu, Sayang," ucapku sore itu saat Aira mengantar ke bandara. "Aku juga, Mas," jawabnya sambil tersenyum manis sekali. Iya ... senyum yang selalu membuatku kangen bila sebentar saja tak bertemu. "Mas jangan lupa meneleponku sesampainya di sana, ya!" lanjutnya sambil mengusap matanya. Gadis mungil ini tampak meneteskan air mata. Meski dia berusaha mengukir senyum. "Pasti, Sayang. Jaga diri baik-baik, ya! Jangan lupa makan, gak usah diet," candaku sambil mencubit pipi mungil gadis ini. Aira memang memiliki postur tubuh yang kecil dan mungil, tingginya hanya sebatas pundakku. Itu yang bikin aku gemas sama dia dan juga jatuh cinta, "Udah sana berangkat, Mas. Nanti ketinggalan pesawat loh," ucapnya mengingatkan. "Iya, iya ...." kudaratkan kecupan di keningnya membuat gadis itu terkejut. Kedua pipinya merona, lalu aku berbalik sambil menyeret koperku. Entah kenapa sepertinya aku terasa berat ninggalin Aira, seperti tak kan bisa ketemu lagi. Semoga perjalananku lancar. Kutoleh Aira yang masih tersenyum manis dengan melambaikan tangannya. Akupun tersenyum lalu menghilang diantara kerumunan penumpang lain. Jam 7 malam ketika aku tiba di Singapore Changi Airport. Malam itu terasa dingin menusuk. ku melanjutkan perjalanan dengan kereta api MRT untuk sampai ke kota Singapura. Badanku sudah cukup lelah dan ingin segera beristirahat di hotel. Hanya butuh waktu sekitar 10-15 menit aku sudah sampai di kota Singapura. Ini bukan kali pertama aku berkunjung ke negeri singa. Dulu aku pernah beberapa kali kesini saat masih menjadi kekasih Dewi. Kami sering menghabiskan waktu berdua di tempat-tempat yang romantis. Dewi, aku ingat kalau dia juga tinggal disini. Kisah cintaku dengan Dewi adalah kisah cinta yang terlama jika dibandingkan dengan pacar-pacarku yang lain. Yah ... aku memang play boy. Sudah berkali-kali aku gonta-ganti pacar. Tapi semua tiada yang aku seriusi selain Nimas dan Dewi. Nimas meninggal dunia karena kecelakaan, padahal sebulan lagi kami berencana menikah. Sedangkan Dewi, kami hampir menikah juga beberapa bulan lalu. Namun, saat mamanya Dewi bertemu papaku dan ada masa lalu diantara mereka serta tanpa aku tahu apa masalah mereka, tiba-tiba papa Dewi tidak menyetujui hubungan kami dan pernikahan batal. Dewi dibawa ke Singapura supaya tak berhubungan lagi denganku. Sementara kuliahnya di Jogja terpaksa harus putus. Sungguh dua kali kehilangan wanita pujaan hati membuatku frustasi, hingga akhirnya aku bertemu Aira. Gadis mungil itu langsung menarik perhatianku. Aku belum tahu apakah yang kurasakan padanya itu adalah cinta, tetapi yang jelas aku merasa sangat bahagia saat ada di dekatnya. Aku tidak ingin kehilangan wanita yang kusayangi untuk yang kesekian kali. Jadi, aku putuskan untuk mengajak Aira menikah. Awalnya Abah tidak mengizinkan, tetapi dengan dalih supaya terhindar dari perbuatan zina, akhirnya beliau setuju. Memang abahnya Aira seorang ustadz dan pemuka agama di kampungnya. Tiba-tiba ada seorang wanita menabrakku. Aku tak menyadari karena sedari tadi memang melamun. "I'm sorry, Sir!" ucap wanita dengan baju hangat dan kacamata hitam yang menabrakku itu. "it's okey" jawabku singkat tanpa melihat ke arah wanita itu. Namun, ketika aku hendak berlalu dari hadapan wanita itu, dia malah memegang lenganku. "Wawan?" ucapnya penuh tanya sambil membuka kacamata hitam dan meletakkannya di atas kepala. " D-Dewi?" tanyaku tergugup. Aku benar-benar tak percaya kalau akan bertemu Dewi di sini. Wanita yang pernah menjadi penghuni hatiku itu langsung memelukku dan akupun tak bisa menolaknya. Aku membalas pelukannya. Desiran di hati kami menyertai detak jantungku yang berpacu kencang. Dewi, apa aku masih mencintaiku? Saat aku larut dalam pelukan Dewi, tiba-tiba bayangan Aira, gadis mungilku berkebat di dalam anganku dengan senyum manisnya. Aku segera melepaskan pelukan Dewi. "Kamu kenapa, Wan? Kamu gak kangen sama aku?" tanyanya kecewa. "Maaf, Dew. Kita gak bisa seperti dulu," jawabku tanpa membuatnya tersinggung. "Apa kamu sudah punya pacar lagi?" tanya Dewi. "Iya, aku sudah punya pacar dan kami akan menikah minggu depan." Mendengar ceritaku, Dewi terlihat syok. "Its okey, Wan. Tapi kita masih bisa berteman, bukan?" tanya Dewi sambil menyeka butiran bening yang mengalir dari kedua pelupuk matanya. Dia terlihat kecewa. Aku tau dia masih mencintaiku. Aku pun sebenarnya merasakan hal yang sama tapi semua itu harus berakhir, sudah ada Aira yang menungguku. Aku tak mau mengkhianati cintanya. Lagipula Om Alex, papa Dewi menentang keras hubungan kami. Ya sudah. Aku putuskan cukup sampai disini saja hubunganku dengan Dewi. "Kita minum kopi di sana sebentar yuk, Wan! Sebentar saja," mohon Dewi penuh harap. Aku mengangguk dan mengekor Dewi menuju Cafe di sebrang jalan, lalu kami berbincang banyak hal. Hari-hari terus berlalu, pagi hingga petang aku mengikuti pelatihan marketing di sebuah gedung di negeri singa ini dan tiap malam aku nongkrong di cafe dengan Dewi dan teman temannya yang juga orang Indonesia. Sudah tak ada perasaan canggung antara aku dan Dewi. Dia bisa menerima dengan Pilihanku. Akupun tak lupa setiap hari video call dengan Aira. Gadis kecilku yang selalu kurindukan. Malam itu, terakhir kali aku berada di negeri singa ini karena besok siang aku harus terbang ke Indonesia. Teman teman Dewi membawa minuman beralkohol untuk merayakan perpisahan denganku. "Kita party malam ini, Gaesss," kata Han, salah satu teman Dewi sambil mengangkat gelasnya. "Bersenang-senanglah gaess, tapi maaf aku gak bisa ikut minum," tolakku tanpa bermaksud menyinggung mereka. "Sedikit saja, Wan! Kamu tak akan mabuk," ujar Dewi membujukku. "Nanti kalo kau sudah jadi menantu Pak Ustadz, kau tak kan bisa minum-minum lagi, Wan. Sudah nikmati saja malam ini," kata Andre sambil menepuk bahuku. "Gak usah tegang Wan, santai aja. Nikmati malam terakhir kebersamaan ini. Lagi pula sebentar lagi kamu nikah, kan?" tanya Karina sambil meraih tanganku dan menyerahkan segelas minuman bir. Ada benarnya juga apa yang mereka ucaplan. Akhirnya, aku pun minum segelas dan lagi dan lagi hingga aku mabuk berat. Kulihat seorang wanita yang seperti Aira memapahku pulang sampai hotel tempatku menginap. Dia membaringkan tubuhku di atas ranjang. Namun, ketika dia hendak keluar, kuraih tangannya. Dia lalu mendekat. Kami lupa diri, akhirnya malam itu aku dan Dewi merasakan puncak kenikmatan dunia. Keesokan harinya aku terkejut ketika bangun, sudah ada Dewi yang tidur di sisiku. Kami berdua hampir tidak memakai sehelai pakaianpun. "Tidak ... apa yang terjadi semalam, Dewi?" Kubangunkan Dewi yang masih tertidur pulas. Dia pun terkejut dan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos. Ya Allah apa yang terjadi semalam? Aarrghhhh ... aku tidak ingat sama sekali. Apa semalam aku dan Dewi?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN