Getaran Berbeda
"Maaf..."
"Sakit..."
"Maafin aku..."
Ghea menyeka keringat di keningnya, mengatur nafas yang tersengal-sengal, dan menyeka sisa air mata di sudut matanya. Dia berharap tidak ada yang menyadari ketakutannya setelah terbangun dari mimpi buruk itu. Hari sudah siang, dan dia berada di tengah keramaian kelas.
Namun, entah mengapa mimpi itu selalu membuat sekujur tubuh Ghea mengigil ketakutan. Rasanya seperti mimpi itu bukan sekadar mimpi buruk, melainkan kejadian yang sesungguhnya terjadi. Tetapi Ghea yakin dia tidak pernah mengalami hal buruk seperti itu.
Siapa sebenarnya anak kecil dalam mimpinya? Ghea tidak pernah bisa melihat wajahnya dengan jelas. Yang pasti, anak laki-laki itu juga menangis dengan sedih, suaranya bergetar ketakutan, persis seperti dirinya yang merasakan ketakutan yang sama.
Mimpi aneh ini membuat Ghea merasa takut, meskipun sudah siang dan dia berada di tengah keramaian kelas. Entah apa yang membawa mimpi ini datang, seperti sebuah trauma yang terikat dan tidak pernah bisa Ghea hilangkan.
Tapi mengapa dia harus memiliki trauma jika kehidupannya selama ini selalu baik-baik saja? Ghea bingung dengan perasaan ini. Dia menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran-pikiran gelap yang menghantuinya.
Namun, saat itu, Ghea terkejut ketika Dion, si anak baru yang baru masuk hari ini, duduk di sebelahnya setelah menggeser sekotak s**u ke hadapannya. Dion bahkan bicara begitu santai, seolah mereka adalah teman lama yang telah akrab, meskipun dia tidak sedang tersenyum saat ini.
"Gak seharusnya kamu tidur di kelas. Kamu mimpi buruk?" Dion bertanya dengan santai, tatapannya penuh perhatian.
Ghea hanya tertegun, terkejut bahwa Dion menyadari bahwa dia tidur dan mengalami mimpi buruk. Dia merasa sedikit tidak nyaman dengan perhatian Dion, tetapi ada kehangatan yang terasa dari tatapannya.
"Aku gak suka s**u," Ghea menolak dan langsung mengembalikan sekotak s**u itu.
Ghea merasa ada perasaan aneh yang membuatnya tidak nyaman saat melihat s**u, dan kehadiran Dion semakin memperkuat ketidaknyamanannya. Ada sesuatu yang tidak biasa dengan Dion, yang mendekat tanpa basa-basi.
"Selera kamu udah berubah," gumam Dion sambil memainkan sekotak s**u di tangannya.
Ghea merasa semakin bingung dengan pernyataan Dion. Apa yang Dion maksud dengan perubahan selera? Dan mengapa dia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehadiran Dion?
Pertanya-pertanyaan itu menghantui pikiran Ghea saat dia mencoba memahami arti dari mimpi buruk yang terus menghantuinya dan kehadiran Dion yang misterius. Dia merasa ada rahasia yang tersembunyi di balik semuanya.
"Aku emang gak suka s**u dari kecil," sahut Ghea dengan sedikit rasa kesal karena Dion terlihat sok tahu.
"Jijik!" Ghea langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tanpa sadar kekesalannya membuatnya bicara sembarangan yang mungkin akan membuat Dion tersinggung, padahal Dion mungkin hanya mencoba mencari teman baru.
"Maaf, aku selalu ngerasa mual setiap kali lihat s**u," jelas Ghea sambil menjelaskan alasannya.
"Gak perlu minta maaf," ucap Dion sambil langsung memasukkan sekotak s**u ke dalam sakunya agar tidak terlihat oleh Ghea. Tindakan Dion itu cukup membuat Ghea merasa tersentuh.
Namun, Dion menunjukkan senyuman kecewa di akhir kalimatnya, membuat Ghea merasa semakin bersalah.
Mimpi buruk itu mengacaukan mood Ghea, membuatnya bersikap dingin terhadap Dion.
"Sejujurnya, aku juga gak suka s**u," jelas Dion dengan singkat, tapi Ghea tidak tahu bagaimana harus menanggapinya.
Suasana di antara mereka menjadi hening setelah itu.
Ghea tidak memiliki minat untuk mengobrol, ketakutan masih memeluknya hingga saat ini karena mimpi buruk yang mengganggunya.
"Mimpi apa?" Dion kembali bertanya, membuat Ghea sekali lagi tertegun. Ia menatap wajah tampan Dion yang saat ini menatap lurus ke depan kelas, tidak seperti sebelumnya.
"Bukan apa-apa. Cuma mimpi biasa," jawab Ghea singkat sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.
"Mimpi biasa apa yang bisa buat tubuh kamu masih gemetaran sampai sekarang?"
"Aku cuma syok..."
"Karena aku tiba-tiba duduk di sini?"
Pertanyaan Dion yang terus terang membuat Ghea semakin penasaran tentangnya.
"Salah satunya itu, tapi lebih karena ini pertama kalinya aku tidur di kelas."
"Sebaiknya emang jangan."
Semakin mereka berbicara, semakin Ghea tidak mengerti. Dion terasa seperti sengaja duduk di sebelahnya, karena murid-murid di kelas sekarang hanya laki-laki, dan beberapa dari mereka bahkan diam-diam menatapnya seakan mengawasinya.
"Kepalaku sakit, niatnya cuma mau istirahat bentar supaya pusingnya hilang, tapi malah ketiduran."
Dion kemudian menoleh, menatap Ghea sekali lagi. "Masih sakit?" tanya Dion dengan lembut.
"Udah lumayan membaik, makasih karena kamu duduk di sini sampai aku bangun, jadi gak ada yang gangguin aku."
"Sama aku gak takut?"
"Ya?"
"Bisa aja aku ngelakuin hal yang buruk sama kamu."
Sorot mata Dion dan senyuman penuh makna yang ditunjukkannya membuat Ghea sulit bernafas.
Bunyi bel sekolah yang berdering menandakan akhir istirahat terasa seperti penyelamat bagi Ghea karena Dion langsung pergi ketika Nindy, sahabatnya, datang dan langsung mengomel setelah duduk di sebelahnya.
"Loe kenapa gak dateng ke kantin? Gue udah pesen dua porsi bakso. Seporsi buat loe, seporsinya buat gue niatnya, tapi loe gak nongol-nongol, akhirnya kan gue makan semua sendiri! Naik sekilo ini mah gue!"
"Maaf..." Hanya satu kata singkat yang bisa Ghea ucapkan karena kedua matanya tidak bisa melepaskan pandangannya dari Dion setelah apa yang dikatakan oleh pria itu dengan dinginnya. Tapi Dion langsung menunjukkan senyumannya begitu kedua mata mereka bertemu.
Ghea tidak bisa menahan terlalu lama tatapan yang seolah merindu itu, hingga ia hanya bisa memalingkan wajahnya sambil meremas-remas kuat-kuat roknya di bawah mejanya demi meredam kegugupannya karena jantungnya langsung terasa seperti meledak-ledak.
...