Jantung Vena berdebar kencang dengan tangan terasa dingin menunggu ucapan Adam selanjutnya. Sudah lebih dari tiga menit, Adam tidak kunjung bersuara lagi. Vena merasa cemas. Pria itu sepertinya menjadi bimbang. Berulang kali dia menyesap kopinya. Adam menarik napas dan mengalihkan pandangan ke arah Gisella yang masih berdiri dengan penuh percaya diri. Gisella sepertinya sangat yakin ucapannya tadi bisa mempengaruhi Adam dan menghentikan niatnya untuk merekrut dirinya. “Terima kasih, dengan cepat kamu sudah memberikan informasi mengenai kehidupan Vena padaku. Aku akan mempertimbangkannya. Namun aku perlu bicara secara pribadi dan berdua saja dengannya saja. Jadi, akan pergi dari tempat ini dan mengantarnya pulang. Kamu, pulang dengan naik taksi saja, ya?” tanya Adam pada Gisella. “Oh, iy

